refleksi 27

Sering kali di perjalanan berangkat atau pulang kerja, suami dan saya yang berboncengan motor, didahului oleh entah teman saya atau teman suami. Wussh…

“Tenang, bun. Mereka berorientasi hasil, kita berorientasi kenyamanan.” katanya.

Saya ngikik di belakang.

“iya iya, gakpapa kok.” Jawab saya masih sambil terkekeh.

Bisa pergi kerja bersamanya saja syukur. Terlambat sedikit sungguh tidak menjadi masalah.

Lebih-lebih, kalau mau jujur, dalam beberapa kesempatan naik gojek, pernah sekali dapet driver gojek yang ‘ugal-ugalan’ mengendarai motornya yang membuat saya takut setengah mati. Sepanjang perjalanan ke stasiun sore itu, mulut saya tak lepas-lepas menggumamkan istighfar. Sungguh saya takut mati. Sungguh saya takut kesudahan mati. Dalam keadaan demikian saya langsung mengingat-ingat bahwa seharian ini masih sedikit baca Al-Qur’an, shalat rawatib pun tak terpegang. Kemarin, dan selama dua puluh tujuh tahun ini, ibadah hanya begitu-begitu saja. Kalau saya mati bagaimana… Saya tak peduli orang akan menertawakan muka saya waktu itu. Saking khawatirnya, hampir-hampir saya minta berhenti di jalan.

“Ada customer yang mengadu ke perusahaan, bu. Katanya saya ugal-ugalan” kata driver itu. Sungguh i feel you, wahai customer yang mengadu.

Begitu tiba di stasiun, ketakutan saya mereda, menghilang, dan saya lupa akan ibadah saya yang compang-camping itu. Duh…

Kejadian sore itu mengingatkan saya pada sebuah berita. Anda tahu Freddy Budiman, terpidana yang divonis hukuman mati karena kasus narkoba?

Apa yang terjadi pada Freddy? Si terpidana mati diketahui menjelang pelaksanaan hukumannya  lebih sering mendekatkan diri kepada Allah.

“Dari sisi fisik, dia sekarang rajin ibadah, pakaiannya juga lebih agamis, dia berjenggot. Kini Freddy selalu salat dan mengisi waktu luang dengan mengaji,” kata Kepala Humas Dirjen PAS Akbar Hadi pada Januari lalu. (berita detik)

Saya, sama dengan Freddy, takut mati. Bedanya, saya tidak tahu kapan dan dimana akan mati. Bisa jadi saat saya mati -yang karena tidak tahu kapan- jadi tidak lebih baik dari pak Freddy, naudzubillah…jangan ya Allah.

Allahmummar zuqnaa husnul khatiimah. ya Allah, anugerahilah kami akhir yang baik.

Sungguh kematian adalah sebaik-baik nasihat.

fragmen#2

Lokasi : Sebuah Toko Oleh-oleh di Cilacap

Waktu : 14 April 2013, Sekitar pukul 13.30

DSC_0575

Orang dalam gambar : Juru parkir yang sudah sangat tua

DSC_0573

DSC_0574

Hal mengejutkan terjadi. Tiba-tiba si mbah juru parkir mencium tangan lelaki yang menyodorkan uang parkir. Kalian tahu berapa rupiah yang disodorkan itu? Hanya 2 ribu!

….

fragmen#1

Lokasi : Lift

Waktu : 17 april 2013, sekitar setengah 8

Ute           : Waa, bekelnya banyak. Buat pagi sama siang, mas?

Mas-mas : (senyum)

U              : Bangun jam berapa tuh, mas, istrinya masak segitu?

M              : Jam setengah tiga

U              : Subhanallah… kereeeen. Aku mana mau jam segitu bangun masak.

M             : Kan balesannya surga itu, teee. Lagian katanya itu yang bisa dilakukan.

U              : (diem)

 
sumber gambar

Pak Polisi dan Sopir Mikrolet

“… hei yang bener jongkoknya.. terus…”

Saya menoleh ke sumber suara. Oh dari seorang bapak berseragam, kita menyebutnya pak polisi. Dihadapannya sebuah mikrolet yang berhenti di pinggiran seberang. Aa, bagaimana menjelaskannya. Oke, ilustrasi melalui gambar sepertinya lebih mencerahkan.Untitled

(Yang kotak-kotak itu anggap saja mobil :p)

Kira-kira, apa yang dilakukan pak polisi itu? Saya sendiri tidak tahu. Tapi kalau boleh menebak, mungkin seperti ini:

Kondisi jalan menuju persimpangan kereta api di bintaro permai itu hampir selalu macet. Pernah saya dan kangmas terjebak disana 20 menit saat berangkat ke kantor. Ini motor, bung! Nah, saya tidak bisa membayangkan bagaimana orang-orang bermobil itu bisa mengulur usus sedemikian panjangnya menahan supaya bisa sabar melewatinya.

Dan sepertinya kali ini si sopir mikrolet tak sesabar biasanya. Apalagi melihat para penumpangnya yang  sudah tak enak lagi dilihat, membuatnya mengemudikan mikroletnya di luar jalur. Tapi nahasnya, Pak Polisi memergoki ulahnya dan tidak tinggal diam. Si sopir angkot disuruh naik ke kap mobil dan menginstruksikan untuk berdiri-jongkok-berdiri layaknya skotjam sambil melompat.

Oh itu hanya dugaan saya. Atau bisa saja, si sopir mikrolet tidak memiliki SIM dan Pak Polisi memintanya meminggirkan mikroletnya dan menghukumnya. Entahlah.

Banyak hal berseliweran di pikiran saya melihat itu. Sedih, kasihan, miris, marah.. lucu juga. Kalau memang penyebabnya karena macet, maka saya tidak tahu siapa yang mesti disalahkan. Ehm, ya si sopir mikrolet memang salah sih. Tapii..

“Biarkan diriku dalam keadaan shalat agar tidak merasakan sakitnya”

Tentang ‘Urwah bin Zubair

Generasi tabi’in, Lahir pada tahun 23 H pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan

Adik Abdullah bin zubair, putra asma’ bin abu bakar, Cucu abu bakar ash shidiq

Suatu ketika diceritakan ‘Urwah melihat seorang laki-laki yang shalat dengan tergesa dan tidak berdoa seusainya. Kemudian ‘Urwah bertanya kepada lelaki tsb “apa engkau tidak memiliki kebutuhan terhadap Tuhanmu? Padahal aku meminta semua, bahkan garam”

Kebiasaan beliau : setiap kali memasuki kebun selalu membaca QS Al-Kahfi ayat 39

Kebiasaan yang lain : membaca seperempat AlQur’an di siang hari, kemudian dibaca lagi waktu shalat malam. Beliau selalu melakukannya kecuali malam hari saat kaki diamputasi

Cerita tentang sebab kaki beliau diamputasi : Continue reading ““Biarkan diriku dalam keadaan shalat agar tidak merasakan sakitnya””