lintasan asa

Suatu sore, saya dan bude (pengasuh anak-anak) ngobrol ringan seputar tetangga depan yang hendak tugas belajar ke luar negeri, tentang tetangga lain yang cuti besar, juga tentang kawan saya (yang dikenal juga oleh bude) yang resign dari pekerjaannya. (niatnya) bukan ghibah, ya. Niatnya saya mengabarkan ke bude. Meskipun ternyata bude sudah tahu juga, hehe.

Kenapa ya, bun, udah jadi PNS kok malah keluar. Yang ga jadi PNS aja bayar mahal-mahal buat jadi PNS

Kalau misal aku, ya apalagi kalau bukan urusan anak-anak, bude” jawab saya.

saya dulu juga begitu, bun…

Sebelum bekerja disini, bude kerja di dealer motor.

Kemudian dia melanjutkan “… dulu saya kerja pulang sore rasanya nelongso. Ya kepenginnya bisa lihat anak terus. Tapi trus karena keadaan, sekarang kerja jauh, jadi merasa harusnya dulu udah bersyukur masih bisa lihat anak tiap hari. Sekarang udah ga bisa tiap hari… ya nanti lama-lama juga gak gitu kok, bun (maksudnya lama-lama akan lebih ikhlas dan bersyukur)”

Saya hanya mengangguk senyum-senyum saja. Sebenarnya bukan masalah tidak ikhlas atau tidak bersyukur. Tapi bagaimana yaa… sering kali muncul keinginan untuk mendidik atau mengajari anak sesuai keinginan sendiri. Menerapkan prinsip-prinsip tertentu yang mungkin tidak dilakukan oleh pengasuh.  Jika Anda penganut prinsip ‘stay at home mother’, Anda akan punya banyak sekali alasan dan bisa menjelaskannya dengan lebih detil.

Namun keinginan yang muncul itu tidak jarang ditepis oleh kenyataan lain bahwa saya masih seringkali kalah menahan emosi saat menghadapi anak-anak. Ini  menimbulkan pikiran sepertinya mereka tidak lebih baik jika hanya bersama saya. Duh,

Baiklah, saya jalankan dulu peran seperti ini dengan syarat niat: saya bekerja di luar bukan untuk me time, bukan untuk ‘melepaskan’ diri dari kerempongan anak-anak. Bukan, bukan itu. Saya bekerja karena suami saya (saat ini) lebih ridha saya bekerja, meski tidak mengharuskan, orangtua saya juga demikian. Dan tentunya, karena hutang atas nama pendidikan saya ke negara belum tuntas saya tunaikan.  Semoga Allah juga ridha.

Advertisements

Ibu Bekerja dan Lepas Lebaran

Bagi Ibu bekerja, berakhirnya libur lebaran menjadi momok yang cukup menakutkan. Bukan hanya galau karena meninggalkan kenyamanan (bermalas-malas :p) bersama keluarga, namun juga galau apakah si mbak asisten rumah tangga kembali bekerja dengan kita atau tidak.

Demikian juga dengan saya.

Menjelang kepulangannya, si mbak mengatakan akan memberi kabar ke saya bagaimana kelanjutan hubungan kami *Zzzzz. Saya percaya padanya. Dari kesehariannya dia berlaku baik. Saya pegang janjinya untuk mengabari.

Satu pekan libur lebaran berakhir, tidak ada kabar, berarti aman!

Dua pekan hampir terlewati, kembali ke jakarta sudah tinggal menunggu jam, saya ingin memastikan keberbalikannya seraya mengucapkan selamat hari raya. Hanya melalui sms sih.

Sejam. Dua jam. Dua hari. Tidak ada balasan.

“Katanya si mbak ke Depok..” kabar yang saya dengar dari tetangga.

Kecewanya, bukan karena dia tidak kembali. Alih-alih mengabari, sms pun tak dibalasi. Baiklah, mungkin nomer hp nya ganti, dan nomer hp saya tidak tersimpan. Semoga mendapatkan tempat dan hidup yang lebih baik ya, mbak.

masih jauh

rasanya keberbuncahan saya beberapa waktu lalu terlalu prematur. waktu itu saya senang melihat kemampuan menghafal surat-surat al-Qur’an nafis cukup cepat. waktu itu kukira semua akan berlanjut mulus, baik-baik saja. kukira aku akan tetap membacakan surat-surat pendek untuknya, dia menyimak (ya menyimak ala anak-anak sih), dan ketika kuminta dia melafalkan dia mau.

ternyata tidak. kebiasaan membaca surat-surat pendek menjelang tidur sudah mulai digeser dengan buku. ya dia memilih dibacakan buku. merengek-rengek tidak mau mengaji, maunya baca buku saja. baiklah, apa boleh buat. baru ketika sudah lelah baca buku, saya bacakan satu dua surat pendek.

buruknya, sekarang bertambah lagi godaannya. dia sudah bisa buka-buka hape sendiri. setiap malam minta pinjam hp, dia buka sendiri. sejauh ini dia baru bisa buka foto atau video. saya sengaja tidak menginstal game apapun ataupun aplikasi youtube. namun bukankah itu cukup membuatnya enggan membaca buku, alih-alih mengaji.

di satu sisi, adakalanya saya terbantu ketika dia sudah pegang hp, maka kesempatan menidurkan adiknya akan lebih minim gangguan. duh, buruknya mengalihkan anak ke gadget…

pilihan

hai wordpress, lima bulan tidak menulisimu, bukan berarti aku tidak peduli ya. aku selalu mengunjungimu. untuk apa? ya biar ada kekuatan untuk menulis lagi. keinginan sih ada, tapi, oh Tuhaan, susaah sekali memulai. beberapa ide berseliweran, namun akhirnya menguap entah kemana.

akhirnya sekarang kuberanikan diri menulis disini lagi. ehm, menulis apa aja lah, yang penting bisa jadi pancingan tulisan-tulisan berikutnya. hehe.

btw, sudah lebih dari lima bulan aku masuk kembali ke kantor. oh, berarti sejak itu pula aku berhenti tidak menulis apapun. eit, tapi jangan berpikir aku ga menulis karena sibuk yaa. sama sekali tidak. kerjaanku disini sedikit. ssst, tapi jangan bilang-bilang orang yah, hehe.  itu yang sebenarnya membuatku merasa beraaaat meninggalkan anak-anak di rumah. apa yang kulakukan disini sungguh sedikit, tidak sebanding dengan apa yang kutinggalkan di rumah. hiks. makanya beberapa bulan terakhir keinginan untuk re**** kembali menggebu.

jujur, aku mengkhawatirkan anak-anak yang di rumah dengan dua pengasuh. bukan khawatir tidak terawat, malah sebaliknya. aku khawatir anak-anak jadi kurang mandiri. satu anak dijaga satu pengasuh. apa-apa jadi minta dibantuin. minta minum, minta ini itu, ditinggal sebentar saja nangis (yang kecil). hufh, bagaimana mereka bisa mandiri.

namun apalah daya. keuangan keluarga sedang seret karena pengeluaran (boleh disebut investasi lah ya) yang begitu besar akhir-akhir ini. jadi pilihan untuk re**** kembali menjauh. doakan aku ya, wordy.

mengukir cahaya

yahsabu anna ma yahuuu ah a dah

Saya tersentak dan mengamati ocehannya lamat-lamat. Meski lafadznya belum tepat benar, saya bisa menangkap bocah kecil 27 bulan ini mendengungkan potongan surat al-humazah sambil bermain lego. Rasanya seperti setitis air menyejuki rongga kalbu. Saya takjub, karena biasanya yang digumam ‘hanya’ potongan surat al-fatihah dan 3 surat pendek secara acak. Saya kemudian menjadi menyesali bahwa akhir-akhir ini menjadi sedikit berkurang intensitas membacakannya surat-surat pendek. Ini karena bocah ini akhir-akhir ini sering meminta dibacain buku ‘saja’ daripada diajak mengaji (membaca surat-surat pendek) sebelum tidur.

Saya mesti bersyukur dibalik keterbatasan saya memberikan hak asinya sampai 2 tahun, ada hikmah Allah dibaliknya. Sewaktu umurnya 13 bulan, Allah menganugerahkan rizki amanah baru di kandungan saya. Dan puncaknya di usia bocah itu 14 bulan, dia tidak mau lagi menyusu. Bagaimana lagi. Maka, ritual menidurkan dengan menyusu berubah menjadi membacakan surat-surat pendek sambil mengipasinya pelan serta menepuk-nepuk punggungnya perlahan. Dengan cara seperti memang butuh waktu jauh lebih lama untuk menidurkannya. Kira-kira setengah jam. Bahkan kadang lebih. Dan ini dilakukan sehari tiga kali karena waktu itu dia masih tidur siang dua kali. Dan alhamdulillah, ketika saya sedang tidak di rumah (kuliah), maka bude yang mengasuhnya pun cukup kooperatif dengan melakukan cara yang sama untuk menidurkannya, meski kadang diselingi lagu-lagu anak.

Saya tidak sedang berbangga dengan apa yang sudah saya lakukan. Siapalah saya yang hanya memiliki hafalan Quran sekelumit. Bahkan cara yang saya lakukan pun ‘hanya sambil’, sambil menidurkan, bukan program khusus dengan target tertentu. Namun saya hanya sedang mengingatkan diri bahwa mengukir ilmu pada anak itu seperti mengukir di atas batu. Memang akan lebih ringan bagi saya –setelah membacakan buku untuknya, kemudian hanya menepuk-nepuk perlahan punggungnya sambil terdiam sunyi. Ini membuatnya lebih cepat tidur daripada saya membacakan surat-surat pendek setelah membacakan buku. Akhir-akhir ini saya melakukan ini. Sungguh sayang. Tetapi dengan gumaman potongan surat al-humazah tadi seolah-olah kembali menyentak saya, mengingatkan saya bahwa cara sederhana yang saya lakukan tidak sia-sia. Dia merekam. Maka saya kembali yakin harus melakukannya dengan konsisten.

Semoga Allah memampukan kami.

nafis dan nawang

Baik hati atau mempertahankan hak milik

Siang tadi nafis menangis. Sudah hal yang biasa sebenarnya, mainannya dipakai temannya. Dia menangis sambil merebut mainannya yang kemudian direbut lagi oleh temannya dengan kasar sambil mendorong nafis. Nafis pun menangis makin keras dan lari menuju saya. Saya memeluknya dan mengatakan, “gakpapa, nak. Itu mainannya kan dipinjem x. Biasanya nafis juga pinjem mainan x kan”. Di titik ini sebenarnya saya mulai ragu apakah yang saya lakukan benar. Di satu sisi, saya ingin anak saya bisa berbagi, bermain bersama-sama temannya, dan tidak pelit tentunya. Tetapi, jika saya seperti itu dan memintanya ‘legawa’, artinya saya membenarkan tindakan temannya yang merebut mainannya. Dia akan berpikir tidak apa-apa merebut milik orang. Mungkin dia suatu ketika merebut mainan temannya dan saya kasih tahu bahwa itu tidak boleh, dia akan bingung, ibunya tidak konsisten.

Di sisi lain, ada kegundahan saat melihatnya seperti ini, tidak melawan, hanya menangis. Saya khawatir dia tidak survive nantinya. Maka, sebenarnya melihat ini, meski mulut saya menyuruhnya untuk legawa, hati saya berteriak menyuruhnya melawan. Agar dia belajar mempertahankan miliknya. Dan kemudian saya sadari, selain fisiknya yang hampir sepenuhnya mirip dengan saya, ternyata sifat saya juga banyak menurun padanya. Cengeng. Memang dalam titik-titik kehidupan yang saya jalani, saya lebih banyak di posisi bertahan daripada menyerang. Maafkan ibumu nak yang mewariskan sifat kurang baik ini.

Nah kembali ke nafis, pada akhirnya saya hanya mampu memintanya legawa, menjelaskan bahwa kita harus berbagi. Jajan dimakan bareng. Mainan dipakai bersama. Tentunya sambil disampaikan ‘tetapi tidak boleh dengan merebut, kalau pinjam baik-baik ya’

.CAM00892[1]