Mengelola Sampah Organik

Belakangan, isu sampah kembali booming. Bermunculan komunitas-komunitas penggagas zero waste yang awalnya terbentuk dari grup-grup WhatsApp yang berkembang ke dalam berbagai bentuk kegiatan offline seperti workshop dll. Semoga ini bukan sekedar tren yang di kemudian hari tergantikan tren lain.

Saya juga mulai membiasakan beberapa aktivitas yang mengarah ke zero waste, meskipun masih jauh sekali dari zero.
1. Membawa tas/kantong sendiri saat belanja
2. Membawa kotak makanan sendiri saat membeli makan.
Ini pun tidak sepenuhnya bisa saya lakukan. Seringnya masih lupa membawa kantong sendiri atau kotak wadah makanan.
3. Memilih minum menggunakan gelas daripada air kemasan dan tidak menggunakan sedotan.
4. Memilah sampah menjadi : daur ulang (botol, kardus, kertas), organik (hanya tumbuh-tumbuhan), tidak terselamatkan (duri ikan / kadang dikasih ke kucing, makanan basi, plastik jajan anak-anak).

Kali ini saya khusus membahas beberapa bagian dari nomer 4.
– Plastik kemasan jajan
Plastik kemasan jajan anak-anak belum bisa saya eliminasi. Tapi setidaknya sekarang saya kurangi, yang awalnya beli jajan kemasan kecil-kecil, sekarang memilih kemasan besar. Selain itu memperbanyak cemilan buah.
– Sisa Organik
Beberapa bulan lalu saya membeli komposter anaerob. Pertama kali menggunakannya, saya memasukkan segalanya ke komposter : sisa potongan sayur, kulit buah, biji, sisa makanan, tulang ayam ikan. Saya juga tidak menambahkan sampah kering ke dalamnya. Akibatnya sampah terlalu basah, bau dan lama terurainya. Akhirnya saya menyerah, semuanya saya kubur ke dalam tanah. Percobaan kedua, saya tidak lagi memasukkan tulang dan kemudian menambahkan daun kering. Tapi karena saya cuma punya satu komposter, cepat sekali penuh sementara penguraian belum selesai. Ujung-ujungnya saya kubur lagi ke tanah dalam keadaan setengah terurai. Yang ketiga ini masih sama seperti kedua.

Kelemahan saya adalah :
– hanya punya satu komposter
– Tidak memiliki starter kompos
– sulit mendapatkan daun kering
– Tidak rutin mengaduk

Maka belakangan, demi efisiensi, saya langsung mengubur sisa organik yang sudah terkumpul beberapa hari di tempat sampah ke dalam tanah tanpa dimasukkan ke komposter. Setelah ditutup tanah, tidak lupa saya injak-injak dan ditutup dengan batu karena pengalaman sebelumnya disasar tikus.

Advertisements

Self Emotional Healing

“Efek workshop gini bertahan berapa lama ya, mbak?” sesembak sesama peserta bertanya kepadaku.
“Ya semoga seterusnya, mbak,” jawabku, yang lebih merefleksikan harapanku.

Dua hari tanggal 19-20 januari lalu saya mengikuti workshop self emotional healing oleh Ibu Safithrie Sutrisno founder roemah emak. Tujuan dari workshop tersebut seperti ini:
-Healing innerchild
-Menemukan jati diri sesungguhnya
-Kemampuan self healing
-Menjadi pribadi yang lebih positif

Diantara yang saya ingat dari workshop kemarin adalah : untuk menjadi positif, keluarkan dulu emosi negatif dan isi dengan emosi positif. ~Yaelah, konsep itu anak kecil juga tau, te~
✌️
Emosi negatif membajak kita hampir tanpa kita sadari (subconsciusmind). Sebagian besar emosi negatif tersebut berasal dari rekaman masa lalu yang di hari ini membentuk pola pikir, kebiasaan, dan perilaku kita.

Meskipun kita sudah berjanji untuk tidak melakukan suatu perbuatan buruk yang menyakitkan kita di masa lampau, namun perbuatan buruk itu bisa spontan kita lakukan. Ada anak kecil dalam jiwa kita yang perlu disembuhkan (innerchild).

Lalu bagaimana memprogram ulang?

– akui emosi tersebut. Namakan. Marah? Kesal? Kecewa? Tarik perasaan kita,
– buang jauh-jauh emosi negatif tersebut
– sebutkan keinginan kita (positif) dengan menyebut secara detail : personal (diri kita), waktunya sekarang, positif, dan passion. >>affirmasi
– visualisasikan.

Untuk menjadi pribadi positif, dapat dilakukan sendiri untuk emosi dari masa lalu maupun masa sekarang (self coaching). Caranya :
– kenali, namakan, dan akui emosi tersebut. Kenali penyebabnya dan apa respon kita
– alirkan emosi tersebut
– melatih bicara kepada diri sendiri
– menyembuhkan diri sendiri.

Tulis dan ucapkan pada diri sendiri.

Untuk menjadi positif, pastikan : you are the master of your minds and your feelings.

Maafkan penyampaian yang tidak utuh dan runtut. Ilmu psikologi tiada, pemahaman juga tak seberapa~

Trus kowe wis berhasil, te?
Ya berproses. Seperti proyek jangka panjang yang hasilnya mungkin baru nampak bertahun-tahun kemudian~
Doain yee gaes.

Kebenaran sebagai dasar pertimbangan

Suatu cerita.
Abu Lukman dalam hendak mengajarkan anaknya tentang kehidupan. Sudatu hari ia mengajak anaknya ke pasar. Untuk itu ia meminta anaknya menyiapkan seekor keledai kemudian berangkat. Abu Lukman menaiki keledainya dan anaknya berjalan di samping keledainya. Beberapa saat kemudian mereka berpapasan dengan beberapa musafir yang berkata, “dasar orang tua enaknya sendiri, anaknya disuruh jalan, dia enak naik keledai.”

Mendengar itu, dia segera turun dan meminta anaknya naik keledai. Beberapa saat kemudian, mereka bertemu lagi dengan rombongan orang yang kemudian berkata, “dasar anak tidak tahu diri. Ayahnya disuruh jalan, dia enak naik keledai.”

Mendengar itu, Abu Lukman ikut naik keledai bersama anaknya. Dan tak lama kemudian bertemu orang-orang menggunjing, “dasar tidak punya belas kasihan, keledai begitu dinaiki berdua.”
Mendengar itu, Abu Lukman turun dan meminta anaknya juga turun dari keledai, lalu menuntun keledai mereka. Tak lama kemudian mereka bertemu orang-orang yang berkata, “lihat, dasar orang-orang yang bodoh, membawa keledai tapi tidak dinaiki.”

Mendengar itu, Abu Lukman berkata kepada anaknya, “sesungguhnya tidak akan terlepas seseorang itu dari perbincangan manusia. Maka orang yang berakal, tidaklah ia mengambil pertimbangan melainkan kepada Allah. Barang siapa mengenal kebenaran, maka itulah yang menjadi pertimbangannya dalam segala hal.”
(dicomot dari kisah berseliweran di Internet dan ditulis ulang dengan bahasa seingetnya).

F.o.k.e.s

“Kowe nek tolah toleh terus tak kon nganggo kocomoto jaran, lho,” kata Pak guru SD memperingatkan saya waktu itu.

Saya terhenyak kemudian mengikuti peringatan beliau. Di zaman 90 an itu, mana ada pemahaman mengenai toleransi untuk sikap-sikap tertentu anak yang dianggap kurang disiplin. Saya pernah dilempar penghapus papan tulis blackboard gara-gara garuk-garuk kepala saat pelajaran. Tapi ya sudah, saya tidak sakit hati, orang tua juga menghormati hak bapak ibu guru dalam mendidik anak-anaknya. Dan sekarang, mengingatnya adalah tentang pengalaman untuk diceritakan.

Btw, kembali ke ‘kocomoto jaran/kacamata kuda’. Terus terang, saya waktu itu tidak paham kenapa biar diam disuruh pakai kacamata kuda. Ya karena di desa tidak ada kuda, sehingga tidak tahu fungsi dari kacamata kuda. Bertahun-tahun kemudian, ketika melihat kuda, baru ‘ooalaah ngono kuwi to’. Ternyata biar fokus, lurus menghadap depan.

Kalau dipikir-pikir, dengan fokus, banyak sekali manfaat yang bisa didapatkan :

– Selalu ingat dengan tujuan.

– Lebih cepat mencapai tujuan.

– Tidak terpedaya oleh hal tidak penting.

– Lebih mudah bersyukur dan bahagia.

Persyaratan awal sebelum bisa menjadi orang fokus dalam hidup adalah adanya tujuan/visi misi hidup. Visi misi hidupmu, opo?

Duka dan Do’a

Hampir dua minggu sejak musibah jatuhnya Lion Air JT610 Jakarta-Pangkal Pinang terjadi, mendung kesedihan masih terasa menggelayut. Apalagi hampir setiap pagi dan sore saya melewati galeri yang memampangkan foto 12 korban yang merupakan saudara-saudari seinstansi ini.

Allah MahaKuasa. Raja dan Pemilik seluruh alam. Dia berkuasa atas hidup dan mati seluruh makhlukNya.

Beberapa hari ini, beberapa jasad telah teridentifikasi. Allahummaghfirlahum warhamhum wa’afiihi wa’fu’anhum. Terimalah mereka di tempat terbaik di sisi Mu, ya Allaah. Berilah kekuatan, kesabaran, dan pahala untuk keluarga mereka atas musibah mereka, dan gantikanlah dengan yang lebih baik.

Ya Allah… Kami pun sedang berada di barisan antrian itu. Ambillah kami dalam keadaan terbaik. Aamiin.

Modal PNS?

“coba tebak, berapa kira-kira biaya bimbingan belajar masuk STAN paling mahal yang kita ketahui?” tanya suami.

“30?” tebak saya, dan dijawab dengan gelengan kepala.

“50?” saya menebak lagi.

“masih terlalu kecil,” jawabnya. Dan kemudian dia menyebut angka 6 kali lipat dari tebakan kedua saya, yang sukses membuat saya melongo.

Berani membayar harga begini besar untuk sebuah bimbingan belajar, pasti ada jaminan lulus atau jika tidak maka uang kembali. Fyuh.

Transaksi ini,

Buat pihak bimbel, sah saja.

Buat customer, sah saja.

Secara material, tidak ada kerugian negara.

Tidak ada unsur suap maupun korupsi.

Tapi hati saya mencelos.

Jika kemudian anak ini lulus, apa yang ingin dia dapatkan dari kuliah dengan mengeluarkan biaya bimbel ratusan juta? Pekerjaan sebagai PNS? Bagaimana dengan ‘modalnya’ yang sudah hilang? Tidakkah dia ingin pengembalian?

Iman anak kita

Anak-anak sehat dan pintar dan nantinya sukses, tentu itu yang kita harapkan. Tapi sungguh, kewajiban kita tidak hanya sampai di situ. Ada tanggung jawab menumbuhkan iman di dada mereka. Dan iman mestinya kita tumbuhkan sedini mungkin. Jangan sampai kita terlena, terlalu santai dalam mendidik anak, membiarkan saja seperti air mengalir. Tidak.

Meskipun itu sungguh tidak mudah.

#

Halo, saya kembali lagi untuk curhat. Apalah daya, uneg-uneg perlu dituntaskan. Dan saya kira media WordPress ini cukup aman buat saya nulis karena cukup jauh dari hiruk pikuk.

Ya, seperti paragraf pembukanya, mengenai anak-anak. Malam-malam begini, melihat mereka lelap itu menyisakan rasa bersalah. Rasa bersalah belum mampu menjadi ibu yang baik bagi mereka.

Ceritanya, saya lagi baper gara-gara si sulung (5 th +) agak sulit diajak shalat. Males lah, bosan lah, begitu alasannya. Huhu…

Menumbuhkan kecintaan dan kebersyukuran kepada Allah sungguh tidak mudah. Oh jangankan itu, saya tidak yakin sudah bisa mengenalkan Allah kepadanya. Terkadang bingung harus bersikap apa kepada anak saat seperti ini. Mmm.. Sepertinya bekal saya jadi orang tua masih sangat kurang. Sedikit sedikit bingung 😭

Bergerak itu berkah 

Merantaulah…

Orang berilmu dan beradab tidak diam beristirahat di kampung halaman.
Tinggalkan negerimu dan hidup asing  (di negeri orang).

Merantaulah…

Kau akan dapatkan pengganti dari orang-orang yang engkau tinggalkan (kerabat dan kawan).
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan..
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, akan keruh menggenang.

Singa jika tak tinggalkan sarang, tak akan dapat mangsa..
Anak panah jika tak tinggalkan busur, tak akam kena sasaran.

Jika matahari di orbitnya tak bergerak dan terus berdiam..
tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang.

Bijih emas tak ada bedanya dengan tanah biasa di tempatnya (sebelum ditambang).
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan.

Jika gaharu itu keluar dari hutan, ia menjadi parfum yang tinggi nilainya.
Jika bijih memisahkan diri (dari tanah), barulah ia dihargai sebagai emas murni. 


Merantaulah…

Orang berilmu dan beradab tidak diam beristirahat di kampung halaman.
Tinggalkan negerimu dan hidup asing  (di negeri orang) 

(Imam Syafi’i) 

“Hujan itu indah bukan karena air yang turun, tapi atas apa yang akan ditumbuhkannya.

Mutasi/promosi bukan tentang siapa dimana, tapi apa yang akan ‘ditumbuhkannya’,”(anonim) 

Selamat mengemban amanah untuk Bpk Kepala Seksi, yang tak lelah memotivasi kami, yang tak henti mengasihi kami. Barakallahu fiik. 

[Book Review] Pengen Jadi Baik 3

IMG-20160825-WA0001

Judul                   : Pengen Jadi Baik 3

Penulis                 : Squ

Penerbit               : Self Publishing

Genre                  : Komik Islami

Tebal Halaman    : 160 hlm.

Tahun Terbit        : 2016

Saya menyelesaikan membaca Pengen Jadi Baik 1 (PJB 1) sekitar dua tahun yang lalu dan PJB2 kira-kira setengah tahun lalu. Dan, langsung menunggu-nunggu komik selanjutnya terbit. Tulisannya ringan tapi tepat ‘kena’ banget karena memang menceritakan kehidupan sehari-hari.

PJB 3, masih senada dengan dua pendahulunya,  menceritakan kehidupan sehari-hari Penulis (Abah –yang  sehari-hari bekerja di instansi pemerintah), istri nya (Mama K), dan putranya (K). Pesan yang disisipkan ke komik ini diantaranya mengenai sunnah-sunnah Rasul saw, bagaimana berperilaku dan berinteraksi dengan orang lain dalam ajaran Islam yang ditulis dengan bahasa yang ringan.Tidak ada penghakiman.  Tidak ada kesan menggurui. Sisi lucu lebih terasa dengan gambar yang ekspresif. Haha. Memang semua komik ekspresif kali ya (#jarangbacakomik). Yup, kekuatan visual. Anak saya (3 tahun) senang sekali membaca komik yang memang cocok untuk semua rentang usia ini. Ya tentunya definisi membaca-nya berbeda dengan definisi umumnya, haha.

Satu bagian favorit saya, yang saya berharap kelak akan mampu melakukannya, adalah

itu sebabnya bagi orangtua harus rajin bertanya tentang sholat anaknya. Misal si anak baru pulang diajak bepergian ama tantenya tanpa kita, atau baru pulang dari kemah jambore pramuka. Maka yang kita tanyakan dulu adalah “Gimana shalatnya tadi?”. Bukan tanya yang lain dulu :”Gimana acaranya tadi, seru gak? Rame gak?”

…Semoga bisa demikian. Aamiin.

Beberapa bagian dibuat sebagai selingan saja tanpa ada pesan yang disampaikan. Selain itu, bagian tentang ‘membunuh tikus’ agak boros halaman. Saya kira bagian itu bisa dipersingkat stripnya. Satu lagi, mungkin perlu dipertimbangkan menggunakan editor selain Penulis sendiri.

Overall, komik ini asik. I would definitely recommend it to you.

refleksi 27

Sering kali di perjalanan berangkat atau pulang kerja, suami dan saya yang berboncengan motor, didahului oleh entah teman saya atau teman suami. Wussh…

“Tenang, bun. Mereka berorientasi hasil, kita berorientasi kenyamanan.” katanya.

Saya ngikik di belakang.

“iya iya, gakpapa kok.” Jawab saya masih sambil terkekeh.

Bisa pergi kerja bersamanya saja syukur. Terlambat sedikit sungguh tidak menjadi masalah.

Lebih-lebih, kalau mau jujur, dalam beberapa kesempatan naik gojek, pernah sekali dapet driver gojek yang ‘ugal-ugalan’ mengendarai motornya yang membuat saya takut setengah mati. Sepanjang perjalanan ke stasiun sore itu, mulut saya tak lepas-lepas menggumamkan istighfar. Sungguh saya takut mati. Sungguh saya takut kesudahan mati. Dalam keadaan demikian saya langsung mengingat-ingat bahwa seharian ini masih sedikit baca Al-Qur’an, shalat rawatib pun tak terpegang. Kemarin, dan selama dua puluh tujuh tahun ini, ibadah hanya begitu-begitu saja. Kalau saya mati bagaimana… Saya tak peduli orang akan menertawakan muka saya waktu itu. Saking khawatirnya, hampir-hampir saya minta berhenti di jalan.

“Ada customer yang mengadu ke perusahaan, bu. Katanya saya ugal-ugalan” kata driver itu. Sungguh i feel you, wahai customer yang mengadu.

Begitu tiba di stasiun, ketakutan saya mereda, menghilang, dan saya lupa akan ibadah saya yang compang-camping itu. Duh…

Kejadian sore itu mengingatkan saya pada sebuah berita. Anda tahu Freddy Budiman, terpidana yang divonis hukuman mati karena kasus narkoba?

Apa yang terjadi pada Freddy? Si terpidana mati diketahui menjelang pelaksanaan hukumannya  lebih sering mendekatkan diri kepada Allah.

“Dari sisi fisik, dia sekarang rajin ibadah, pakaiannya juga lebih agamis, dia berjenggot. Kini Freddy selalu salat dan mengisi waktu luang dengan mengaji,” kata Kepala Humas Dirjen PAS Akbar Hadi pada Januari lalu. (berita detik)

Saya, sama dengan Freddy, takut mati. Bedanya, saya tidak tahu kapan dan dimana akan mati. Bisa jadi saat saya mati -yang karena tidak tahu kapan- jadi tidak lebih baik dari pak Freddy, naudzubillah…jangan ya Allah.

Allahmummar zuqnaa husnul khatiimah. ya Allah, anugerahilah kami akhir yang baik.

Sungguh kematian adalah sebaik-baik nasihat.