[Book Review] Pengen Jadi Baik 3

IMG-20160825-WA0001

Judul                   : Pengen Jadi Baik 3

Penulis                 : Squ

Penerbit               : Self Publishing

Genre                  : Komik Islami

Tebal Halaman    : 160 hlm.

Tahun Terbit        : 2016

Saya menyelesaikan membaca Pengen Jadi Baik 1 (PJB 1) sekitar dua tahun yang lalu dan PJB2 kira-kira setengah tahun lalu. Dan, langsung menunggu-nunggu komik selanjutnya terbit. Tulisannya ringan tapi tepat ‘kena’ banget karena memang menceritakan kehidupan sehari-hari.

PJB 3, masih senada dengan dua pendahulunya,  menceritakan kehidupan sehari-hari Penulis (Abah –yang  sehari-hari bekerja di instansi pemerintah), istri nya (Mama K), dan putranya (K). Pesan yang disisipkan ke komik ini diantaranya mengenai sunnah-sunnah Rasul saw, bagaimana berperilaku dan berinteraksi dengan orang lain dalam ajaran Islam yang ditulis dengan bahasa yang ringan.Tidak ada penghakiman.  Tidak ada kesan menggurui. Sisi lucu lebih terasa dengan gambar yang ekspresif. Haha. Memang semua komik ekspresif kali ya (#jarangbacakomik). Yup, kekuatan visual. Anak saya (3 tahun) senang sekali membaca komik yang memang cocok untuk semua rentang usia ini. Ya tentunya definisi membaca-nya berbeda dengan definisi umumnya, haha.

Satu bagian favorit saya, yang saya berharap kelak akan mampu melakukannya, adalah

itu sebabnya bagi orangtua harus rajin bertanya tentang sholat anaknya. Misal si anak baru pulang diajak bepergian ama tantenya tanpa kita, atau baru pulang dari kemah jambore pramuka. Maka yang kita tanyakan dulu adalah “Gimana shalatnya tadi?”. Bukan tanya yang lain dulu :”Gimana acaranya tadi, seru gak? Rame gak?”

…Semoga bisa demikian. Aamiin.

Beberapa bagian dibuat sebagai selingan saja tanpa ada pesan yang disampaikan. Selain itu, bagian tentang ‘membunuh tikus’ agak boros halaman. Saya kira bagian itu bisa dipersingkat stripnya. Satu lagi, mungkin perlu dipertimbangkan menggunakan editor selain Penulis sendiri.

Overall, komik ini asik. I would definitely recommend it to you.

Advertisements

refleksi 27

Sering kali di perjalanan berangkat atau pulang kerja, suami dan saya yang berboncengan motor, didahului oleh entah teman saya atau teman suami. Wussh…

“Tenang, bun. Mereka berorientasi hasil, kita berorientasi kenyamanan.” katanya.

Saya ngikik di belakang.

“iya iya, gakpapa kok.” Jawab saya masih sambil terkekeh.

Bisa pergi kerja bersamanya saja syukur. Terlambat sedikit sungguh tidak menjadi masalah.

Lebih-lebih, kalau mau jujur, dalam beberapa kesempatan naik gojek, pernah sekali dapet driver gojek yang ‘ugal-ugalan’ mengendarai motornya yang membuat saya takut setengah mati. Sepanjang perjalanan ke stasiun sore itu, mulut saya tak lepas-lepas menggumamkan istighfar. Sungguh saya takut mati. Sungguh saya takut kesudahan mati. Dalam keadaan demikian saya langsung mengingat-ingat bahwa seharian ini masih sedikit baca Al-Qur’an, shalat rawatib pun tak terpegang. Kemarin, dan selama dua puluh tujuh tahun ini, ibadah hanya begitu-begitu saja. Kalau saya mati bagaimana… Saya tak peduli orang akan menertawakan muka saya waktu itu. Saking khawatirnya, hampir-hampir saya minta berhenti di jalan.

“Ada customer yang mengadu ke perusahaan, bu. Katanya saya ugal-ugalan” kata driver itu. Sungguh i feel you, wahai customer yang mengadu.

Begitu tiba di stasiun, ketakutan saya mereda, menghilang, dan saya lupa akan ibadah saya yang compang-camping itu. Duh…

Kejadian sore itu mengingatkan saya pada sebuah berita. Anda tahu Freddy Budiman, terpidana yang divonis hukuman mati karena kasus narkoba?

Apa yang terjadi pada Freddy? Si terpidana mati diketahui menjelang pelaksanaan hukumannya  lebih sering mendekatkan diri kepada Allah.

“Dari sisi fisik, dia sekarang rajin ibadah, pakaiannya juga lebih agamis, dia berjenggot. Kini Freddy selalu salat dan mengisi waktu luang dengan mengaji,” kata Kepala Humas Dirjen PAS Akbar Hadi pada Januari lalu. (berita detik)

Saya, sama dengan Freddy, takut mati. Bedanya, saya tidak tahu kapan dan dimana akan mati. Bisa jadi saat saya mati -yang karena tidak tahu kapan- jadi tidak lebih baik dari pak Freddy, naudzubillah…jangan ya Allah.

Allahmummar zuqnaa husnul khatiimah. ya Allah, anugerahilah kami akhir yang baik.

Sungguh kematian adalah sebaik-baik nasihat.

Nasihat pagi ini : Aku ada dimana?

Aku khawatir terhadap suatu masa yg rodanya
dapat menggilas keislaman.
Keyakinan hanya tinggal pemikiran, yang tak
berbekas dalam perbuatan.

Banyak orang baik tapi tidak berakal, ada orang berakal tapi tidak beriman.

Ada lidah fasih tapi berhati lalai, ada yg khusyuk namun sibuk dalam kesendirian.

Ada ahli ibadah tapi Continue reading “Nasihat pagi ini : Aku ada dimana?”

Seringkali kita…

Saya tidak tahu harus memulainya dari mana…
Saya mendapat link komik muslimah ini dari seorang teman.

Rasanya badan ini bukan hanya disentil, tapi seperti dipukul, ditonjok, ditendang, hingga terjerembab dan terjatuh terjungkal-jungkal. Terserah mau bilang lebay, tapi sungguh, saya tidak sedang bergurau.

Saya cuplikkan beberapanya. Semua sumbernya dari sini
***

Kuliah aja ontime apalagi shalat. Kerja aja ontime, apalagi shalat… T.T Continue reading “Seringkali kita…”

Memekai tanda Kebesaran-Nya

“Subhanallah” dia menggumam lirih, sepersekian detik setelah mendengar cerita kehidupan sesorang. Aku tak heran, aku sering ‘menangkapnya’ melakukan hal serupa, sertamerta bertasbih tiap kali mendengar atau membaca sesuatu, yang bahkan kadang menurutku sesuatu itu biasa-biasa saja.

Mungkin inilah yang disebut getar iman. Getar yang sangat sensitif menginderai setiap percik yang menunjukkan kebesaran-Nya. Senantiasa bertasbih memuji kebesaranNya tatkala banyak orang (termasuk saya) masih seringkali bergumam, “wajarlah seseorang itu hebat, karena memang latarbelakangnya bla bla..” atau “wajarlah dia bisa jadi hafizh, lha wong bla bla..”

Seringnya kita (saya) menggumamkan pewajaran (otomatis pemakluman atas ketidakmampuan kita) seperti itu. Bukankah sebenarnya itu adalah bentuk kecil dari kesombongan? Kesombongan untuk agak menahan diri dari memuji-Nya? Na’udzubillah. Semoga kita semua terhindar dari penghalang kebenaran ini.

pict taken from here

menampakkan sikap ‘sesuatu!’

Ternyata ‘gaya-tidak-menulis’ itu mengikuti teori kelembaman juga. Jadi kalau udah terlalu lama tidak-menulis, rasanya kagok kalau tiba2 mau menulis. Hehe, alasan! Sebenarnya sekedar menghindarimenyebut diri males.

OK, mari kita mulai! Kali ini tentang sikap yang ditampakkan ketika menerima pemberian dari orang lain. Saya belajar sikap itu dari seorang teman sekos sewaktu kuliah dulu. Setiap kali menerima sesuatu dari orang lain, sesederhana apapun bentuk pemberian itu, bahkan setidakberguna apapun baginya (karena mungkin sudah punya banyaaak); ia akan berseri2 menerimanya, menunjukkan betapa bahagianya dia menerima pemberian itu, menampakkan dia begitu membutuhkannya, dan berusaha memperlihatkan ‘hei, ini kupake lho!’
Bisa dibayangkan, bagi pemberi, sikap itu adalah sesuatu banget.

Dan sebaliknya, saya pernah memberikan sesuatu kepada seseorang. Dia menerimanya dengan hanya berkomentar ‘Ooh, ya..!’. Huwaaah, menyedihkan bukan sih. Seperti tidak dihargai..