Komunikasi Verbal

Saya ingat film Tucker and Dale, film favorit teman saya, tapi saya gedeg sekali ketika menontonnya. Ihh kesal sekali menonton orang-orang baik dibenci dan diserang hanya karena kesalahpahaman yang selalu gagal dijelaskan karena tidak ada kesempatan untuk berkomunikasi secara verbal. Akibatnya, semakin berinteraksi, kesalahpahaman semakin bertambah rumit.

Qadarullah. Allah menakdirkan saya dilahirkan di keluarga yang sedikit memverbalkan/mengungkapkan perasaan. Bukan berarti sedikit bicara. Tetap banyak bicara, tetapi jarang bicara dari hati ke hati yang melibatkan perasaan. Rasa marah kesal kecewa dsb hanya disembuhkan oleh waktu. The Three magic words itu baru lumrah saya lakukan setelah mengikuti kebiasaan suami. Alhamdulillah dia terbiasa melakukan itu.

Saya pernah dalam hati menyalahkan orang tua atas tidak-memilikinya kebiasaan verbal ini. Tapi bukankah itu tidak lagi berguna. Toh mereka menyayangi anak-anaknya, dan kami menyayangi mereka. Hanya sayang itu tidak pernah disampaikan secara verbal.
Saya sudah memaafkan semua itu. Namun saya tidak ingin mengulangi keTIDAKBIASAan mengungkapkan segala sesuatu secara verbal ini untuk suami dan anak-anak saya.

Rasa perlu diungkapkan. Positif maupun negatif. Sayang, cinta, kecewa, jengkel, jenuh dll. Dan sebagai catatan, kemarahan bukan cara untuk mengungkapkan emosi negatif.

Advertisements

Self Emotional Healing

“Efek workshop gini bertahan berapa lama ya, mbak?” sesembak sesama peserta bertanya kepadaku.
“Ya semoga seterusnya, mbak,” jawabku, yang lebih merefleksikan harapanku.

Dua hari tanggal 19-20 januari lalu saya mengikuti workshop self emotional healing oleh Ibu Safithrie Sutrisno founder roemah emak. Tujuan dari workshop tersebut seperti ini:
-Healing innerchild
-Menemukan jati diri sesungguhnya
-Kemampuan self healing
-Menjadi pribadi yang lebih positif

Diantara yang saya ingat dari workshop kemarin adalah : untuk menjadi positif, keluarkan dulu emosi negatif dan isi dengan emosi positif. ~Yaelah, konsep itu anak kecil juga tau, te~
✌️
Emosi negatif membajak kita hampir tanpa kita sadari (subconsciusmind). Sebagian besar emosi negatif tersebut berasal dari rekaman masa lalu yang di hari ini membentuk pola pikir, kebiasaan, dan perilaku kita.

Meskipun kita sudah berjanji untuk tidak melakukan suatu perbuatan buruk yang menyakitkan kita di masa lampau, namun perbuatan buruk itu bisa spontan kita lakukan. Ada anak kecil dalam jiwa kita yang perlu disembuhkan (innerchild).

Lalu bagaimana memprogram ulang?

– akui emosi tersebut. Namakan. Marah? Kesal? Kecewa? Tarik perasaan kita,
– buang jauh-jauh emosi negatif tersebut
– sebutkan keinginan kita (positif) dengan menyebut secara detail : personal (diri kita), waktunya sekarang, positif, dan passion. >>affirmasi
– visualisasikan.

Untuk menjadi pribadi positif, dapat dilakukan sendiri untuk emosi dari masa lalu maupun masa sekarang (self coaching). Caranya :
– kenali, namakan, dan akui emosi tersebut. Kenali penyebabnya dan apa respon kita
– alirkan emosi tersebut
– melatih bicara kepada diri sendiri
– menyembuhkan diri sendiri.

Tulis dan ucapkan pada diri sendiri.

Untuk menjadi positif, pastikan : you are the master of your minds and your feelings.

Maafkan penyampaian yang tidak utuh dan runtut. Ilmu psikologi tiada, pemahaman juga tak seberapa~

Trus kowe wis berhasil, te?
Ya berproses. Seperti proyek jangka panjang yang hasilnya mungkin baru nampak bertahun-tahun kemudian~
Doain yee gaes.

F.o.k.e.s

“Kowe nek tolah toleh terus tak kon nganggo kocomoto jaran, lho,” kata Pak guru SD memperingatkan saya waktu itu.

Saya terhenyak kemudian mengikuti peringatan beliau. Di zaman 90 an itu, mana ada pemahaman mengenai toleransi untuk sikap-sikap tertentu anak yang dianggap kurang disiplin. Saya pernah dilempar penghapus papan tulis blackboard gara-gara garuk-garuk kepala saat pelajaran. Tapi ya sudah, saya tidak sakit hati, orang tua juga menghormati hak bapak ibu guru dalam mendidik anak-anaknya. Dan sekarang, mengingatnya adalah tentang pengalaman untuk diceritakan.

Btw, kembali ke ‘kocomoto jaran/kacamata kuda’. Terus terang, saya waktu itu tidak paham kenapa biar diam disuruh pakai kacamata kuda. Ya karena di desa tidak ada kuda, sehingga tidak tahu fungsi dari kacamata kuda. Bertahun-tahun kemudian, ketika melihat kuda, baru ‘ooalaah ngono kuwi to’. Ternyata biar fokus, lurus menghadap depan.

Kalau dipikir-pikir, dengan fokus, banyak sekali manfaat yang bisa didapatkan :

– Selalu ingat dengan tujuan.

– Lebih cepat mencapai tujuan.

– Tidak terpedaya oleh hal tidak penting.

– Lebih mudah bersyukur dan bahagia.

Persyaratan awal sebelum bisa menjadi orang fokus dalam hidup adalah adanya tujuan/visi misi hidup. Visi misi hidupmu, opo?

Kekuatan doa (2) : Kerapuhan angkuh

Setiap kali menghadapi sesuatu yang berat/baru, biasanya saya selalu melibatkan Allah secara intens. Mengiba kemudahan dan pertolongan dariNya. Dan seingat saya, selalu terbukti, Allah selalu memudahkan.

Namun satu saat, entah bagaimana, saya terlalu percaya diri dan sombong akan mampu menangani ini. Saya hanya merapal doa formalitas sekedarnya tanpa benar-benar memohon kepadaNya dari hati. Dan inilah yang terjadi. Dia menjungkirbalikkan kesombongan saya. Saya mengalami kepayahan pada sesuatu yang bagi kebanyakan orang sepele. Hingga saat itu saya sampai pada titik dimana saya merasakan ketakutan luar biasa akan kematian. Ya, saat kematian menjadi terasa dekat.
Astaghfirullah, ampuni hamba.
Semoga ini menjadi pelajaran seumur hidup saya untuk tidak pernah meremehkan apapun dan untuk selalu melibatkan Allah dalam setiap gerak langkah.

(tubbing doang padahal, wkwk)

Kekuatan doa (1)

Begitu banyak hal terjadi dalam hidup saya yang membuktikan betapa dahsyat kekuatan doa.

Tahun 2010, waktu OJT (on the job training), saya berkutat dengan masalah aplikasi penerimaan SPT dropb*x. Karena sebagian besar pegawai di tempat itu adalah ibu-ibu separuh baya yang cenderung kurang cepat memahami aplikasi, maka anak-anak muda lah yang paling diandalkan. Maka saat itu saya membatin, ‘seru ya kayaknya bekerja di bagian IT’. Baru bisa pakai aplikasi yang memang user friendly saja sudah pede mau bekerja di bagian IT. 😂😂😂.
Dan benar, penempatan pertama, saya masuk direktorat IT.


Menjelang menikah, entah bagaimana tiba-tiba terbersit bahwa calon suami saya merupakan pegawai di direktorat tertentu. Waktu taaruf dia belum penempatan, dan… Ternyata benar, dia penempatan di direktorat yang terbayang di benak saya.

….
Waktu hampir lulus D4 dan mau penempatan, saya tidak hanya membatin atau membayangkan tentang penempatan, tapi saya benar-benar berdoa, kali ini bukan tentang bidang pekerjaannya, tapi orang-orang di dalamnya. Yaitu agar saya ditempatkan bersama orang-orang baik dan saya nyaman berada di sana.
Dan, benarlah.. Sekarang saya di sini, di Direktorat ini, bagian ini, bersama mereka, dan bahagia berada di antara mereka.


Maka, jangan pernah meremehkan kekuatan doa, bahkan meskipun hanya selintas dalam pikiran.

Serba Salah

Suatu ketika dalam rangka perpisahan teman-teman Subdit yang promosi jabatan, seperti biasa diadakan semacam farewell party, makan di luar. Begitu selesai makan, ada lebihan nasi banyak. Ada inisiatif untuk membungkusnya, tentu saja dari kaum perempuan. Sebenarnya kami juga tidak tahu nanti akan diapakan. Begitu tiba kembali ke kantor, akhirnya – saya yang kebetulan membawa bungkusan nasi, menyampaikan bungkusan itu ke pantry. Saat itu ada salah satu satpam sedang disana. 

“Pak, ini ada nasi tapi ga ada lauknya,” kata saya. 

“wah bisa buat nasi goreng tuh, mbak,” jawabnya. 

Dari jawaban itu saya asumsikan aman, ada yang mau nerima. 

Beberapa waktu kemudian, saya bertemu satpam satunya. Dia mengatakan, “mbak yang ngasih nasi ya? Sayang kurang satu, lauknya.”
“iya pak, katanya tadi Bisa buat nasi goreng,” kata saya. 

“kalau ada lauknya, pasti habis tu, mbak.”

Saya semakin tidak enak, apalagi bapaknya mengulang2 kata ‘sayang ga ada lauknya’. 

Pokoknya serba salah rasanya. Harusnya mbungkusin (belikan lagi) lauknya. Tapi OB CS dan satpam jumlahnya kan cukup banyak. Huhuhu. 

Oiya kemarin sempat bikin survey kecil-kecilan di instastory, apakah jika ada nasi berlebih seperti itu dibawa pulang atau tidak. 63% bilang iya, 37% tidak. Yang bilang tidak ada yang mengatakan, kalau lebihan nasinya ada di bakul, nanti akan digabung dengan nasi lain untuk disajikan lagi, bukan dibuang. Hoo gitu ya, kirain bakal dibuang makanya sayang kan kalo ga dibawa pulang.

menghargai pertanyaan

Bagi orang yang masih belum memahami atau baru di suatu bidang/objek/materi, tidak bertanya bukan berarti karena tidak mau. Mereka memang tidak tahu apa yang harus ditanyakan. Karena memang belum mengerti. Kalaupun bertanya, kadang pertanyaannya agak aneh / kurang mengena pada permasalahan.

Saya mengenal dua orang dengan karakteristik yang sangat berlawanan dalam memperlakukan newbie yang bertanya.

Salah satu rekan saya, oh saya senang sekali mengenalnya, selalu menghargai pertanyaan saya, pun pertanyaan bodoh. Dia menjawab dengan menjelaskan semuanya, meskipun awalnya pertanyaan saya tidak nyambung. Dari hal-hal terkait pekerjaan, isu-isu global (yang saya ber- o o saja, wong ga ngerti, wkwk), sampai pokemon go. Kemarin iseng saya menanyakan bagaimana memainkan pokemon itu. Dia menjelaskan bahwa Pokemon go menggunakan peta dan data-data nyata dari para pemain game Ingress. Dia membukakan aplikasinya dan menjelaskan cara mainnya. Yes, pokoknya dia tidak membuat saya terlihat bodoh dengan pertanyaan saya.

Tapi ada lagi rekan lain yang ketika saya bertanya, dia berkali-kali, “Apa, te?”, “Maksudnya apa?” dan tidak menjelaskan apa-apa. Berada pada situasi ini, rasanya saya ingin menyublim ke udara karena nampak bodooh sekali. Kembali ke pembukaan, bahwa orang yang tidak mengerti kadang susah menerjemahkan pertanyaan. Tapi ayolah, jika anda yang ditanya, jelaskan saja yang anda mengerti. Tidak harus jelas pertanyaannya. Jelaskan saja secara umum. Pliiis, ini permohonan dari orang yang agak lama memahami suatu hal.

pelajaran dari sahabat

tiba-tiba hari ini aku teringat dengan teman-temanku, yang kepada mereka aku merasa sangat bersalah sekali. terus terang aku punya beberapa pengalaman buruk tentang persahabatan. ya, aku yang buruk. aku tidak mampu menjadi teman yang baik. aku tidak mampu memahami pertemanan yang baik. meskipun itu masa lalu, bahkan sampai sekarang perasaan bersalah itu terus muncul.

ada dua teman di waktu yang berbeda telah kukecewakan dengan sikapku. hiks, maafkan aku. sungguh, ini akan menjadi pelajaran bagiku seumur hidupku.

aku hanya bisa berdoa semoga kehidupan kalian jauh disana selalu dipenuhi kebaikan dan keberkahan. jangankan menyapa kalian, mengingat kalian pun aku merasa malu, malu kok bisa-bisanya aku berbuat seperti itu di masa lalu.

Catatan Penggenap 24

Saya bukan seorang yang suka mensakralkan momen tanggal lahir, tetapi catatan ini sekedar merangkum beberapa momen menujunya dan semoga akan menjadi pelajaran yang menumbuhkan dan mendewasakan. Bismillah, semoga tidak mengganggu keikhlasan.

23 Juni menjadi momen besar bagi saya pribadi. Karena hari itu mengubah status saya menjadi seorang ibu. Kehadiran si kecil ini sangat mempengaruhi saya baik secara fisik maupun emosi. Memutuskan untuk melahirkan anak pertama di perantauan, tidak di rumah orangtua, bagi saya awalnya ringan saja. Tetapi ternyata, krn mungkin persiapan mental saya sendiri yang kurang, itu tidak mudah. Meski dari luar terkesan baik2 saja,  toh orangtua dan mertua kesini juga,  tapi ah.. fisik lelah dan lintasan lintasan pikiran banyak sekali mengganggu. Mungkin ini yang didefinisikan ilmiah dengan baby blues syndrome .  Bismillah selanjutnya saya berusaha positifkan pikiran. Alhamdulillah makin lama pikiran negatif berkurang.  Saya menikmati momen momen bersama si kecil dan selalu berdoa untuk menguatkan keyakinan bahwa kami akan mampu menjadi orangtua yang baik. Berdoa memohon kekuatan dan petunjuk dari Allah.

Dan kemudian mungkin memang kami sedang ditegur Allah. 1 agustus ayah si kecil jatuh dari motor yang dikendarainya dalam perjalanan menuju kantor. Tidak ada luka serius kecuali ada sedikit retak pergelangan tangan kanan.  Dan saya sendiri tidak menyangka luka ini selanjutnya mesti dioperasi (meski operasi itu pilihan kami juga). Shock, jujur saya iya. Ini terjadi disaat saya sangat sedang butuh dukungan suami untuk merawat si kecil, saat jauh dari orangtua, saat hari raya tidak mudik, saat sebelumnya saya begitu mengandalkannya membantu ini itu. ..tapi kemudian Astaghfirullah, bukankah kita hanya boleh bergantung kepada Allah? Yakin. Yakin. Ikhlas ikhlas. Semoga semua ini akan menjadi penghapus dosa dosa kami.

Dan hei, bukankah ini ramadhan? Apa yang saya ragukan dari kemuliaan bulan ini? Musim kebaikan, musim dimana dijanjikan pahala dan ampunan berlipat. Ahh.. alhamdulillah.

mengenal dan belajar

Belajar tanpa akhir. Aku ingat, kalimat ini dalam padanannya dalam bahasa Inggris, never ending learning, pernah kutemukan dalam tajuk (header) situs blog ifa, temenku.

Akan kuceritakan sekilas mengenai ‘sejarah’ karakter belajarku. Sebagai seorang yang (agak) suka membaca, maka pembelajaran autodidak menjadi hal yang lumayan mendominasi otakku. Meski begitu, aku tetap berprinsip untuk ‘belajar kepada guru, bukan cuma buku’. Dan tentu saja, teman, kau juga tahu, bahwa ‘guru’ yang kumaksud ini bukan ‘hanya’ guru yang mengajar di depan kelas, di tengah forum, atau di ruang2 diskusi. Semua orang yang kita jumpai dalam kehidupan ini bisa menjadi guru bagi kita. Temanku merangkum ini dalam kata-kata yang cantik ‘jika setiap tempat adalah sekolah, maka tiap orang adalah gurunya’.

Jurnal ini kutulis saat jam istirahat kantor, tanggal 27 Agustus 2012. Tiga bulan 9 hari 2 jam beberapa menit sekian detik setelah aku resmi berstatus sebagai seorang istri. Waktu yang, aku tidak menemukan kata yang tepat untuk menggambarkannya. Banyak sekali pembelajaran termampatkan dalam waktu singkat tersebut. Tapi aku juga mengakui, banyak juga hal menjadi tersisihkan karenanya. Kau tau maksudku? Ya, maksudku.. Aku merasa masih keteteran mengalokasikan waktuku untuk aktivitas2 membaca dan upgrading diri. Ah, alasan saja.

Oke. Kita fokus saja pada hal positifnya. Flashback sedikit tentang pernikahanku. Aku menikah dengan seorang yang sekarang menjadi suamiku, tidak lebih dari 4 bulan semenjak aku mendengar namanya, semenjak aku tau bahwa di dunia ini ada seseorang yang mempunyai nama itu. Itupun, sepuluh jariku masih tersisa jika kugunakan untuk menghitung jumlah pertemuan nyata kami (artinya bukan via hp, internet). Maka kau akan bisa menebak sesedikit apa kemengenalan antarkami. Bahkan teman kantorku tidak habis pikir dengan pola pikir dan keputusanku ini. Yaa, percaya lah bekalnya. Percaya padaNya yang tidak akan menyia-nyiakan niatan baik kami.

Sehubungan dengan hal tersebut (tsaaah, aku selalu menggunakan frase ini saat membuat surat dinas), otomatis banyak sekali hal yang sama2 baru saling kami ketahui antarkami. Aku banyak belajar darinya. Termasuk hal-hal yang nampak sepele, yang aku baru menyadarinya beberapa saat setelahnya bahwa aku mengikuti kebiasaannya. Meski tak bisa kupungkiri, aku engkau atau siapapun itu, pasti juga akan menemukan hal yang mungkin kurang berkenan dari pasangan.

Maka benar kata temanku (lagi) kalau masa pengenalan terhadap pasangan itu berlangsung seumur hidup. Tidak hanya di awal-awal saja. Karena kata Ust Cahyadi Takariawan dalam Wonderful Family, bahwa keluarga adalah organisme hidup yang akan terus tumbuh dan berkembang. Jangan pernah berhenti mengenal dan mempelajarinya.