menghargai pertanyaan

Bagi orang yang masih belum memahami atau baru di suatu bidang/objek/materi, tidak bertanya bukan berarti karena tidak mau. Mereka memang tidak tahu apa yang harus ditanyakan. Karena memang belum mengerti. Kalaupun bertanya, kadang pertanyaannya agak aneh / kurang mengena pada permasalahan.

Saya mengenal dua orang dengan karakteristik yang sangat berlawanan dalam memperlakukan newbie yang bertanya.

Salah satu rekan saya, oh saya senang sekali mengenalnya, selalu menghargai pertanyaan saya, pun pertanyaan bodoh. Dia menjawab dengan menjelaskan semuanya, meskipun awalnya pertanyaan saya tidak nyambung. Dari hal-hal terkait pekerjaan, isu-isu global (yang saya ber- o o saja, wong ga ngerti, wkwk), sampai pokemon go. Kemarin iseng saya menanyakan bagaimana memainkan pokemon itu. Dia menjelaskan bahwa Pokemon go menggunakan peta dan data-data nyata dari para pemain game Ingress. Dia membukakan aplikasinya dan menjelaskan cara mainnya. Yes, pokoknya dia tidak membuat saya terlihat bodoh dengan pertanyaan saya.

Tapi ada lagi rekan lain yang ketika saya bertanya, dia berkali-kali, “Apa, te?”, “Maksudnya apa?” dan tidak menjelaskan apa-apa. Berada pada situasi ini, rasanya saya ingin menyublim ke udara karena nampak bodooh sekali. Kembali ke pembukaan, bahwa orang yang tidak mengerti kadang susah menerjemahkan pertanyaan. Tapi ayolah, jika anda yang ditanya, jelaskan saja yang anda mengerti. Tidak harus jelas pertanyaannya. Jelaskan saja secara umum. Pliiis, ini permohonan dari orang yang agak lama memahami suatu hal.

pelajaran dari sahabat

tiba-tiba hari ini aku teringat dengan teman-temanku, yang kepada mereka aku merasa sangat bersalah sekali. terus terang aku punya beberapa pengalaman buruk tentang persahabatan. ya, aku yang buruk. aku tidak mampu menjadi teman yang baik. aku tidak mampu memahami pertemanan yang baik. meskipun itu masa lalu, bahkan sampai sekarang perasaan bersalah itu terus muncul.

ada dua teman di waktu yang berbeda telah kukecewakan dengan sikapku. hiks, maafkan aku. sungguh, ini akan menjadi pelajaran bagiku seumur hidupku.

aku hanya bisa berdoa semoga kehidupan kalian jauh disana selalu dipenuhi kebaikan dan keberkahan. jangankan menyapa kalian, mengingat kalian pun aku merasa malu, malu kok bisa-bisanya aku berbuat seperti itu di masa lalu.

Catatan Penggenap 24

Saya bukan seorang yang suka mensakralkan momen tanggal lahir, tetapi catatan ini sekedar merangkum beberapa momen menujunya dan semoga akan menjadi pelajaran yang menumbuhkan dan mendewasakan. Bismillah, semoga tidak mengganggu keikhlasan.

23 Juni menjadi momen besar bagi saya pribadi. Karena hari itu mengubah status saya menjadi seorang ibu. Kehadiran si kecil ini sangat mempengaruhi saya baik secara fisik maupun emosi. Memutuskan untuk melahirkan anak pertama di perantauan, tidak di rumah orangtua, bagi saya awalnya ringan saja. Tetapi ternyata, krn mungkin persiapan mental saya sendiri yang kurang, itu tidak mudah. Meski dari luar terkesan baik2 saja,  toh orangtua dan mertua kesini juga,  tapi ah.. fisik lelah dan lintasan lintasan pikiran banyak sekali mengganggu. Mungkin ini yang didefinisikan ilmiah dengan baby blues syndrome .  Bismillah selanjutnya saya berusaha positifkan pikiran. Alhamdulillah makin lama pikiran negatif berkurang.  Saya menikmati momen momen bersama si kecil dan selalu berdoa untuk menguatkan keyakinan bahwa kami akan mampu menjadi orangtua yang baik. Berdoa memohon kekuatan dan petunjuk dari Allah.

Dan kemudian mungkin memang kami sedang ditegur Allah. 1 agustus ayah si kecil jatuh dari motor yang dikendarainya dalam perjalanan menuju kantor. Tidak ada luka serius kecuali ada sedikit retak pergelangan tangan kanan.  Dan saya sendiri tidak menyangka luka ini selanjutnya mesti dioperasi (meski operasi itu pilihan kami juga). Shock, jujur saya iya. Ini terjadi disaat saya sangat sedang butuh dukungan suami untuk merawat si kecil, saat jauh dari orangtua, saat hari raya tidak mudik, saat sebelumnya saya begitu mengandalkannya membantu ini itu. ..tapi kemudian Astaghfirullah, bukankah kita hanya boleh bergantung kepada Allah? Yakin. Yakin. Ikhlas ikhlas. Semoga semua ini akan menjadi penghapus dosa dosa kami.

Dan hei, bukankah ini ramadhan? Apa yang saya ragukan dari kemuliaan bulan ini? Musim kebaikan, musim dimana dijanjikan pahala dan ampunan berlipat. Ahh.. alhamdulillah.

mengenal dan belajar

Belajar tanpa akhir. Aku ingat, kalimat ini dalam padanannya dalam bahasa Inggris, never ending learning, pernah kutemukan dalam tajuk (header) situs blog ifa, temenku.

Akan kuceritakan sekilas mengenai ‘sejarah’ karakter belajarku. Sebagai seorang yang (agak) suka membaca, maka pembelajaran autodidak menjadi hal yang lumayan mendominasi otakku. Meski begitu, aku tetap berprinsip untuk ‘belajar kepada guru, bukan cuma buku’. Dan tentu saja, teman, kau juga tahu, bahwa ‘guru’ yang kumaksud ini bukan ‘hanya’ guru yang mengajar di depan kelas, di tengah forum, atau di ruang2 diskusi. Semua orang yang kita jumpai dalam kehidupan ini bisa menjadi guru bagi kita. Temanku merangkum ini dalam kata-kata yang cantik ‘jika setiap tempat adalah sekolah, maka tiap orang adalah gurunya’.

Jurnal ini kutulis saat jam istirahat kantor, tanggal 27 Agustus 2012. Tiga bulan 9 hari 2 jam beberapa menit sekian detik setelah aku resmi berstatus sebagai seorang istri. Waktu yang, aku tidak menemukan kata yang tepat untuk menggambarkannya. Banyak sekali pembelajaran termampatkan dalam waktu singkat tersebut. Tapi aku juga mengakui, banyak juga hal menjadi tersisihkan karenanya. Kau tau maksudku? Ya, maksudku.. Aku merasa masih keteteran mengalokasikan waktuku untuk aktivitas2 membaca dan upgrading diri. Ah, alasan saja.

Oke. Kita fokus saja pada hal positifnya. Flashback sedikit tentang pernikahanku. Aku menikah dengan seorang yang sekarang menjadi suamiku, tidak lebih dari 4 bulan semenjak aku mendengar namanya, semenjak aku tau bahwa di dunia ini ada seseorang yang mempunyai nama itu. Itupun, sepuluh jariku masih tersisa jika kugunakan untuk menghitung jumlah pertemuan nyata kami (artinya bukan via hp, internet). Maka kau akan bisa menebak sesedikit apa kemengenalan antarkami. Bahkan teman kantorku tidak habis pikir dengan pola pikir dan keputusanku ini. Yaa, percaya lah bekalnya. Percaya padaNya yang tidak akan menyia-nyiakan niatan baik kami.

Sehubungan dengan hal tersebut (tsaaah, aku selalu menggunakan frase ini saat membuat surat dinas), otomatis banyak sekali hal yang sama2 baru saling kami ketahui antarkami. Aku banyak belajar darinya. Termasuk hal-hal yang nampak sepele, yang aku baru menyadarinya beberapa saat setelahnya bahwa aku mengikuti kebiasaannya. Meski tak bisa kupungkiri, aku engkau atau siapapun itu, pasti juga akan menemukan hal yang mungkin kurang berkenan dari pasangan.

Maka benar kata temanku (lagi) kalau masa pengenalan terhadap pasangan itu berlangsung seumur hidup. Tidak hanya di awal-awal saja. Karena kata Ust Cahyadi Takariawan dalam Wonderful Family, bahwa keluarga adalah organisme hidup yang akan terus tumbuh dan berkembang. Jangan pernah berhenti mengenal dan mempelajarinya.