Membangun Komunikasi Efektif Suami Istri

Siang ini keputrian kantor mengadakan kajian “Membangun Komunikasi Efektif Suami Istri” dengan pembicara Kisma Fawzia, seorang Konselor yang biasa dipanggil Mbak Zeezee.

Beliau memulai dengan menanyakan bagaimana komunikasi terakhir kita dengan pasangan, apakah berupa kata-kata positif atau negatif. Terus, apa yang kita lakukan saat berpamitan dengan suami hari ini. Apakah cium tangan, cium pipi, cium jidat, dan pelukan. Atau hanya dadabyebye aja. Hubungan dengan suami itu perlu dipupuk. Jangan malu untuk memulai memeluk terlebih dahulu. Tidak perlu gengsi.

Pertanyaan selanjutnya, siapakah diantara kita yang menikah untuk bahagia? Spontan saya mengacungkan tangan, beberapa peserta lain juga. Siapa sih yang tidak ingin bahagia dalam pernikahannya, batin saya. Tapi bukan demikian maksudnya. Jika tujuan menikah itu untuk bahagia, maka kita akan selalu berharap dibahagiakan. Ini yang berbahaya. Banyak yang gagal membina rumah tangga bukan karena gagal menyatunya dua manusia, tetapi karena gagal mengelola ekspektasi. Sejak awal menikah berekspektasi begini dan begitu.

Tidak sedikit diantara kita yang lebih ramah kepada temannya daripada kepada suaminya. Jleb! Itu yang kadang terjadi dengan saya. Karena menganggap suami itu orang yang paling dekat dengan kita, jadi saya tidak merasa sungkan atau canggung untuk ‘semaunya sendiri’. Hiks, naudzubillah.

Dalam komunikasi, konten itu penting, tetapi porsinya hanya 7%, sedangkan intonasi itu 38%, dan yang paling penting adalah gestur/body language (55%).

Beberapa hal yang BIG NO, terlarang dilakukan kepada suami adalah:

Menyalahkan.

Menyudutkan.

Mempertanyakan.

Meragukan.

Membandingkan.

Me-label

Meremehkan.

Melecehkan.

Merendahkan.

Mengabaikan.

Untuk poin terakhir, mengabaikan, beliau memperingatkan terutama untuk yang sudah punya anak. Wanita yang sudah punya anak cenderung lebih memperhatikan anak daripada suaminya. Ternyata suami itu bisa lo cemburu ke anaknya.

Suami kita punya kebutuhan. Dia tidak akan neko-neko di luar jika di rumah sudah kenyang, kebutuhannya sudah terpenuhi. Kebutuhannya apa, ingat Maslow’s hierachy of needs : mulai dari kebutuhan fisik, rasa aman, kasih sayang/cinta, penghargaan, dan aktualisasi diri. Berikan kebutuhan suami akan hal itu, niscaya dia tidak membutuhkan yang lain.

Salah satu kesalahan lain dalam komunikasi adalah listen to reply, yaitu kita mendengarkan untuk membalas ucapan bukan untuk memahami. Tahan diri untuk membalas ucapan orang yang sedang bicara.

Stres, capek, bosan, lelah, frustasi adalah rasa yang wajar. Ungkapkan saja seperti rasanya, bukan diungkapkan dalam bentuk marah. Beliau mengingatkan juga untuk kita yang memiliki anak laki-laki. Jika anak lelaki kita menangis, jangan disuruh diam dan mengatakan bahwa anak lelaki tidak boleh menangis. Lelaki boleh menangis. Menangis adalah ungkapan sedih. Jika dilarang menangis, maka kelak mereka akan mengungkapkan rasa sedih dengan cara yang buruk, misalnya marah.

Jadi, kalau benda mati seperti aplikasi saja perlu diupgrade, apalagi hubungan dengan suami.

Advertisements

Nice home work (NHW) #1 Jurusan dalam Universitas Kehidupan

Nice home work (NHW) yang pertama dari mengikuti perkuliahan di IIP berjudul : Jurusan ilmu yang ingin ditekuni dalam universitas kehidupan. Walah, saya cukup ragu untuk mengarahkan jawaban, apakah yang masih abstrak atau sudah konkret. Mestinya sih sudah konkret ya, dan mungkin turunan dari tugas pembukanya yang ‘I have a dream’.

Salah satu atasan di kantor saya sering mengajak mengobrol stafnya tema parenting. Inti dari pesan beliau adalah : kenali passion anak sedini mungkin. Lalu saya menimpali : Lha passion saya sendiri aja belum saya temukan, pak, sambil cengengesan. Jika dilogika, mestinya peran orang tua saya juga berpengaruh. Tapi sudahlah, tidak perlu mencari-cari kambing hitam apalagi orang tua sendiri. Saya hanya perlu memperbaiki saya sendiri agar anak-anak jauh lebih baik dari saya.

Sejauh ini, hal yang ingin saya tekuni adalah berkebun, bercocok tanam, termasuk di dalamnya menjaga lingkungan (mengolah sampah, membuat lubang resapan air tanah dll).

Alasan yang membuat saya ingin menekuninya adalah karena saya bahagia melakukannya. Hehe, kan passion. Dan alhamdulillah passion saya positif untuk lingkungan. Karena kita tahu, bumi semakin tercemar dan rusak. Manusia yang berbuat kerusakan di darat dan di laut. Paling tidak, saya berusaha meminimalisir peran merusak yang saya lakukan, hiks.

Strategi yang saya lakukan sependek ini baru mulai berkebun sekedarnya di secuplik tanah yang tersisa di rumah, mulai mengkomposkan sampah organik, dan bergabung di chat group zero waste. Tapi sejujurnya saya hampir belum melangkah. Saya belum bisa fokus dan serius melakukannya karena keterbatasan waktu dan ilmu yang saya miliki. Pekerjaan saya sebagai pns kementerian dengan jam kerja senin-jumat 07.30-17.00, apalagi di Jakarta yang saya mesti mengalokasikan waktu perjalanan cukup banyak, membuat saya lebih banyak menghabiskan waktu selainnya untuk bermain-main dengan tiga balita saya. Ok, jadi strategi saya sementara hanya : untuk lebih serius lagi dalam belajar dan mempraktikkannya.

Bagaimana adab dalam mendalami ilmu tersebut. Yang pasti saya harus sabar, bersungguh-sungguh, dan menghargai ilmu yang datang dari mana saja (namun harus tetap selektif dalam mempercayai dan mengamalkannya).

Serba Salah

Suatu ketika dalam rangka perpisahan teman-teman Subdit yang promosi jabatan, seperti biasa diadakan semacam farewell party, makan di luar. Begitu selesai makan, ada lebihan nasi banyak. Ada inisiatif untuk membungkusnya, tentu saja dari kaum perempuan. Sebenarnya kami juga tidak tahu nanti akan diapakan. Begitu tiba kembali ke kantor, akhirnya – saya yang kebetulan membawa bungkusan nasi, menyampaikan bungkusan itu ke pantry. Saat itu ada salah satu satpam sedang disana. 

“Pak, ini ada nasi tapi ga ada lauknya,” kata saya. 

“wah bisa buat nasi goreng tuh, mbak,” jawabnya. 

Dari jawaban itu saya asumsikan aman, ada yang mau nerima. 

Beberapa waktu kemudian, saya bertemu satpam satunya. Dia mengatakan, “mbak yang ngasih nasi ya? Sayang kurang satu, lauknya.”
“iya pak, katanya tadi Bisa buat nasi goreng,” kata saya. 

“kalau ada lauknya, pasti habis tu, mbak.”

Saya semakin tidak enak, apalagi bapaknya mengulang2 kata ‘sayang ga ada lauknya’. 

Pokoknya serba salah rasanya. Harusnya mbungkusin (belikan lagi) lauknya. Tapi OB CS dan satpam jumlahnya kan cukup banyak. Huhuhu. 

Oiya kemarin sempat bikin survey kecil-kecilan di instastory, apakah jika ada nasi berlebih seperti itu dibawa pulang atau tidak. 63% bilang iya, 37% tidak. Yang bilang tidak ada yang mengatakan, kalau lebihan nasinya ada di bakul, nanti akan digabung dengan nasi lain untuk disajikan lagi, bukan dibuang. Hoo gitu ya, kirain bakal dibuang makanya sayang kan kalo ga dibawa pulang.

Lelaki Perempuan

“Yah, tadi makan apa?” tanyaku mematuhi rutinitas dialog yang kami lakukan di perjalanan pulang kantor.

“cendol” jawabnya singkat.

“Itu doang? Kok ga makan nasi?”

“Tadi ayah keluar…”

“Keluar? Kemana? Ngapain sampe ga sempet makan?”

Tidak ada sahutan.

“Tadi makan apa, bun?” tanyanya balik.

Aku diam saja.

“Kok diem, ngantuk yaa..” godanya

“Tadi ditanya keluar kemana ga dijawab.” kataku,  sambil bersungut-sungut.

“Tadi ayah keluar, buuuuun…”

Hening. Kira-kira kemana ya dia pergi. Kenapa tidak bilang. Sampai tidak sempat makan siang. Apa sedang bisnis apa. Apa ketemu teman lama. Atau ada tugas dari atasannya yang harus dilakukan diluar kantor. Ah, kutepis berbagai lintasan kira-kiraku. Sepanjang perjalanan dia mencoba mencairkan suasana, mengomentari ini itu yang ditemui di jalan. Namun rasa-rasanya aku masih enggan berkomentar pun senyum. Pertanyaan kenapa dia tidak cerita apa-apa, terus berkecamuk dalam pikiranku.

Malam ini, kejadian sepulang kantor tadi tak lagi menjadi pikiranku. Besok ada acara konsinyering dan ada pekerjaan yang harus kuselesaikan sebelumnya. Selama beberapa tahun bekerja, baru kali ini namaku tercantum dalam surat tugas untuk mengikuti konsinyering. Kebetulan lokasinya di hotel dekat dengan rumah. Kabar baik sekaligus buruk untukku –seorang ibu dengan dua batita (bayi  bawah tiga tahun).  Baiknya, aku bisa berangkat lebih siang daripada hari-hari biasa, aku bisa pulang sejenak di jeda kegiatan. Buruknya, konsinyering selesai jam sembilan malam tiap harinya.

Beberapa hari menjelang konsinyering ini aku cukup uring-uringan. Pasalnya, motor yang sebelumnya biasa kupakai, starternya mati. Dengan ‘standar ganda’ yang sudah tidak ori ini, aku kesulitan ‘nyetandarkan’ motor untuk diselah (kick starter). Yaaah, gimana dong pergi ke hotelnya, dengusku. Masa minta tolong orang terus buat nyetandarin. Kalo mogok di lampu merah gimana, pikiranku melayang-layang.

“Yaaah, tolong panasin dong motornya.” pagi-pagi kuminta suamiku menyalakan motor.

Namun dia tidak beranjak dari tempatnya.

Kira-kira jam setengah tujuh, suami siap-siap berangkat kerja.

“Yaah, tolong motornyaa…” rengekku lagi.

“Ya ayuk diajarin.”

Aku menyerahkan kunci  motor kepadanya.

“Yaudah dicoba.” katanya.

Huh.

Aku pun menuruti sarannya, menekan starter tangan setengah hati.

Ckbreeeeem….

Kaget.” Loh kok bisa?” Aku menatapnya tak percaya. Dia senyum-senyum, “kemarin ayah keluar… bawa motor ke bengkel.”

Cless! Aku tak bisa membayangkan betapa anehnya wajahku saat itu.

“Berangkat ya, bun. Assalamu’alaikum.” katanya meninggalkanku yang masih terbengong-bengong.

banner

(Tulisan ini diikutsertakan dalam mini giveaway pengalaman yang menyentuh dalam rumah tangga)

pelajaran dari sahabat

tiba-tiba hari ini aku teringat dengan teman-temanku, yang kepada mereka aku merasa sangat bersalah sekali. terus terang aku punya beberapa pengalaman buruk tentang persahabatan. ya, aku yang buruk. aku tidak mampu menjadi teman yang baik. aku tidak mampu memahami pertemanan yang baik. meskipun itu masa lalu, bahkan sampai sekarang perasaan bersalah itu terus muncul.

ada dua teman di waktu yang berbeda telah kukecewakan dengan sikapku. hiks, maafkan aku. sungguh, ini akan menjadi pelajaran bagiku seumur hidupku.

aku hanya bisa berdoa semoga kehidupan kalian jauh disana selalu dipenuhi kebaikan dan keberkahan. jangankan menyapa kalian, mengingat kalian pun aku merasa malu, malu kok bisa-bisanya aku berbuat seperti itu di masa lalu.

(reblog) PEREMPUAN SEMPURNA, SIAPAKAH KAU?

———-Sebuah Catatan Kecil Afifah Afra————–

Ketika akhirnya saya dilamar oleh seorang lelaki, saya luruh dalam kelegaan. Apalagi lelaki itu, kelihatannya ‘relatif’ sempurna. Hapalannya banyak, shalih, pintar. Ia juga seorang aktivis dakwah yang sudah cukup matang. Kurang apa coba?

Saya merasa sombong! Ketika melihat para lajang kemudian diwisuda sebagai pengantin, saya secara tak sadar membandingkan, lebih keren mana suaminya dengan suami saya.

Sampai akhirnya air mata saya harus mengucur begitu deras, ketika suatu hari menekuri 3 ayat terakhir surat At-Tahrim. Sebenarnya, sebagian besar ayat dalam surat ini sudah mulai saya hapal sekitar 10 tahun silam, saat saya masih semester awal kuliah. Akan tetapi, banyak hapalan saya menguap, dan harus kembali mengucur bak air hujan ketika saya menjadi satu grup dengan seorang calon hafidzah di kelompok pengajian yang rutin saya ikuti.

Continue reading “(reblog) PEREMPUAN SEMPURNA, SIAPAKAH KAU?”