Lelaki Perempuan

“Yah, tadi makan apa?” tanyaku mematuhi rutinitas dialog yang kami lakukan di perjalanan pulang kantor.

“cendol” jawabnya singkat.

“Itu doang? Kok ga makan nasi?”

“Tadi ayah keluar…”

“Keluar? Kemana? Ngapain sampe ga sempet makan?”

Tidak ada sahutan.

“Tadi makan apa, bun?” tanyanya balik.

Aku diam saja.

“Kok diem, ngantuk yaa..” godanya

“Tadi ditanya keluar kemana ga dijawab.” kataku,  sambil bersungut-sungut.

“Tadi ayah keluar, buuuuun…”

Hening. Kira-kira kemana ya dia pergi. Kenapa tidak bilang. Sampai tidak sempat makan siang. Apa sedang bisnis apa. Apa ketemu teman lama. Atau ada tugas dari atasannya yang harus dilakukan diluar kantor. Ah, kutepis berbagai lintasan kira-kiraku. Sepanjang perjalanan dia mencoba mencairkan suasana, mengomentari ini itu yang ditemui di jalan. Namun rasa-rasanya aku masih enggan berkomentar pun senyum. Pertanyaan kenapa dia tidak cerita apa-apa, terus berkecamuk dalam pikiranku.

Malam ini, kejadian sepulang kantor tadi tak lagi menjadi pikiranku. Besok ada acara konsinyering dan ada pekerjaan yang harus kuselesaikan sebelumnya. Selama beberapa tahun bekerja, baru kali ini namaku tercantum dalam surat tugas untuk mengikuti konsinyering. Kebetulan lokasinya di hotel dekat dengan rumah. Kabar baik sekaligus buruk untukku –seorang ibu dengan dua batita (bayi  bawah tiga tahun).  Baiknya, aku bisa berangkat lebih siang daripada hari-hari biasa, aku bisa pulang sejenak di jeda kegiatan. Buruknya, konsinyering selesai jam sembilan malam tiap harinya.

Beberapa hari menjelang konsinyering ini aku cukup uring-uringan. Pasalnya, motor yang sebelumnya biasa kupakai, starternya mati. Dengan ‘standar ganda’ yang sudah tidak ori ini, aku kesulitan ‘nyetandarkan’ motor untuk diselah (kick starter). Yaaah, gimana dong pergi ke hotelnya, dengusku. Masa minta tolong orang terus buat nyetandarin. Kalo mogok di lampu merah gimana, pikiranku melayang-layang.

“Yaaah, tolong panasin dong motornya.” pagi-pagi kuminta suamiku menyalakan motor.

Namun dia tidak beranjak dari tempatnya.

Kira-kira jam setengah tujuh, suami siap-siap berangkat kerja.

“Yaah, tolong motornyaa…” rengekku lagi.

“Ya ayuk diajarin.”

Aku menyerahkan kunci  motor kepadanya.

“Yaudah dicoba.” katanya.

Huh.

Aku pun menuruti sarannya, menekan starter tangan setengah hati.

Ckbreeeeem….

Kaget.” Loh kok bisa?” Aku menatapnya tak percaya. Dia senyum-senyum, “kemarin ayah keluar… bawa motor ke bengkel.”

Cless! Aku tak bisa membayangkan betapa anehnya wajahku saat itu.

“Berangkat ya, bun. Assalamu’alaikum.” katanya meninggalkanku yang masih terbengong-bengong.

banner

(Tulisan ini diikutsertakan dalam mini giveaway pengalaman yang menyentuh dalam rumah tangga)

Advertisements

pelajaran dari sahabat

tiba-tiba hari ini aku teringat dengan teman-temanku, yang kepada mereka aku merasa sangat bersalah sekali. terus terang aku punya beberapa pengalaman buruk tentang persahabatan. ya, aku yang buruk. aku tidak mampu menjadi teman yang baik. aku tidak mampu memahami pertemanan yang baik. meskipun itu masa lalu, bahkan sampai sekarang perasaan bersalah itu terus muncul.

ada dua teman di waktu yang berbeda telah kukecewakan dengan sikapku. hiks, maafkan aku. sungguh, ini akan menjadi pelajaran bagiku seumur hidupku.

aku hanya bisa berdoa semoga kehidupan kalian jauh disana selalu dipenuhi kebaikan dan keberkahan. jangankan menyapa kalian, mengingat kalian pun aku merasa malu, malu kok bisa-bisanya aku berbuat seperti itu di masa lalu.

(reblog) PEREMPUAN SEMPURNA, SIAPAKAH KAU?

———-Sebuah Catatan Kecil Afifah Afra————–

Ketika akhirnya saya dilamar oleh seorang lelaki, saya luruh dalam kelegaan. Apalagi lelaki itu, kelihatannya ‘relatif’ sempurna. Hapalannya banyak, shalih, pintar. Ia juga seorang aktivis dakwah yang sudah cukup matang. Kurang apa coba?

Saya merasa sombong! Ketika melihat para lajang kemudian diwisuda sebagai pengantin, saya secara tak sadar membandingkan, lebih keren mana suaminya dengan suami saya.

Sampai akhirnya air mata saya harus mengucur begitu deras, ketika suatu hari menekuri 3 ayat terakhir surat At-Tahrim. Sebenarnya, sebagian besar ayat dalam surat ini sudah mulai saya hapal sekitar 10 tahun silam, saat saya masih semester awal kuliah. Akan tetapi, banyak hapalan saya menguap, dan harus kembali mengucur bak air hujan ketika saya menjadi satu grup dengan seorang calon hafidzah di kelompok pengajian yang rutin saya ikuti.

Continue reading “(reblog) PEREMPUAN SEMPURNA, SIAPAKAH KAU?”