Duka dan Do’a

Hampir dua minggu sejak musibah jatuhnya Lion Air JT610 Jakarta-Pangkal Pinang terjadi, mendung kesedihan masih terasa menggelayut. Apalagi hampir setiap pagi dan sore saya melewati galeri yang memampangkan foto 12 korban yang merupakan saudara-saudari seinstansi ini.

Allah MahaKuasa. Raja dan Pemilik seluruh alam. Dia berkuasa atas hidup dan mati seluruh makhlukNya.

Beberapa hari ini, beberapa jasad telah teridentifikasi. Allahummaghfirlahum warhamhum wa’afiihi wa’fu’anhum. Terimalah mereka di tempat terbaik di sisi Mu, ya Allaah. Berilah kekuatan, kesabaran, dan pahala untuk keluarga mereka atas musibah mereka, dan gantikanlah dengan yang lebih baik.

Ya Allah… Kami pun sedang berada di barisan antrian itu. Ambillah kami dalam keadaan terbaik. Aamiin.

Advertisements

Liburan ke Situ Gintung?

Setelah sekian lama tidak mendatangi situ gintung, saya penasaran bagaimana kondisinya sekarang.

Awalnya terpikir untuk ke waterpark nya, karena anak-anak pasti senang. tapi begitu membaca ulasan di google, banyak yang mengeluhkan tentang mahal dan tidak pastinya htm sementara kualitas biasa saja. Saya kemudian berubah pikiran. Akhirnya kami memutuskan untuk jalan-jalan di pinggir danau saja.

Harapannya bisa bersantai mengelilingi jalan sepanjang danau. Tapi pas tiba disana, yang dijumpai hanya kelompok-kelompok anak sekolah yang sedang berkemah dan Outbound. Bahkan tidak dijumpai pintu masuk ke pinggir danau, dipagari. Kemudian, begitu menemukan celah, kami langsung menuju danau. Tapi, di jalan pinggiran danau hanya ada motor-motor yang seliweran, seperti ojek. Ini menyebabkan keadaan tidak cukup nyaman untuk pejalan kaki.

Yaudah lah, akhirnya memutuskan keluar saja dari area Outbound dan danau. Oiya, yang saya baru tahu juga, ternyata kebun kumara, klub petani kota yang terkenal di Instagram itu, ada di area Outbound ini juga.

Begitu keluar dari area, kami memutuskan makan siang di bakso boedjangan. Tapi sulit sekali mendapatkan gocar. Mungkin karena lalu lintas di sekitar situ macet sekali. Akhirnya, kami putuskan pakai 2 gojek. Panas-panas. Sabar ya, anak-anak.

Seusai makan siang, kami pesan gocar. Karena kondisi macet, bapak driver meminta kami menuju titik tertentu, yang ternyata itu TIDAK DEKAT. Tengah hari yang terik berjalan di pinggir jalanan macet yang tidak ada trotoarnya, bersama tiga bocah, adalah ujian.

Begitu sampai di titik kesepakatan, si mobil driver malah ternampak di maps menjauh dari titik situ. Walah! Ini berujung pada pembatalan transaksi. – _-. Sabar ya anak-anak.

Begitu mencoba pesan gocar lagi, tidak ada yang mau ambil karena kondisi daerah situ (sekitar UIN Syahid) yang macet cukup parah. Menit-menit berlalu. Demi tersolusikan masalah, kami nekat menggunakan jasa gojek lagi. Dua gojek. Panas-panas. Macet. Dengan jarak yang tidak dekat untuk sampai rumah. Tapi apa boleh buat.

Diantara kami berlima, saya yang paling merasa bersalah. Karena ide bepergian ini berasal dari saya, yang menyebabkan mereka harus berlibur yang

tidak sesuai ekspektasi, dan malah berlelah-lelah seperti ini.

But, ternyata anak-anak itu tidak demikian. Mereka enjoy aja tuh. Hahaha. Masyaallah, barakallahu lakum, Le. Jadilah anak-anak yang kuat mental, fisik, dan terutama iman yaa. ❤️❤️❤️

Modal PNS?

“coba tebak, berapa kira-kira biaya bimbingan belajar masuk STAN paling mahal yang kita ketahui?” tanya suami.

“30?” tebak saya, dan dijawab dengan gelengan kepala.

“50?” saya menebak lagi.

“masih terlalu kecil,” jawabnya. Dan kemudian dia menyebut angka 6 kali lipat dari tebakan kedua saya, yang sukses membuat saya melongo.

Berani membayar harga begini besar untuk sebuah bimbingan belajar, pasti ada jaminan lulus atau jika tidak maka uang kembali. Fyuh.

Transaksi ini,

Buat pihak bimbel, sah saja.

Buat customer, sah saja.

Secara material, tidak ada kerugian negara.

Tidak ada unsur suap maupun korupsi.

Tapi hati saya mencelos.

Jika kemudian anak ini lulus, apa yang ingin dia dapatkan dari kuliah dengan mengeluarkan biaya bimbel ratusan juta? Pekerjaan sebagai PNS? Bagaimana dengan ‘modalnya’ yang sudah hilang? Tidakkah dia ingin pengembalian?

Kekuatan doa (1)

Begitu banyak hal terjadi dalam hidup saya yang membuktikan betapa dahsyat kekuatan doa.

Tahun 2010, waktu OJT (on the job training), saya berkutat dengan masalah aplikasi penerimaan SPT dropb*x. Karena sebagian besar pegawai di tempat itu adalah ibu-ibu separuh baya yang cenderung kurang cepat memahami aplikasi, maka anak-anak muda lah yang paling diandalkan. Maka saat itu saya membatin, ‘seru ya kayaknya bekerja di bagian IT’. Baru bisa pakai aplikasi yang memang user friendly saja sudah pede mau bekerja di bagian IT. 😂😂😂.
Dan benar, penempatan pertama, saya masuk direktorat IT.


Menjelang menikah, entah bagaimana tiba-tiba terbersit bahwa calon suami saya merupakan pegawai di direktorat tertentu. Waktu taaruf dia belum penempatan, dan… Ternyata benar, dia penempatan di direktorat yang terbayang di benak saya.

….
Waktu hampir lulus D4 dan mau penempatan, saya tidak hanya membatin atau membayangkan tentang penempatan, tapi saya benar-benar berdoa, kali ini bukan tentang bidang pekerjaannya, tapi orang-orang di dalamnya. Yaitu agar saya ditempatkan bersama orang-orang baik dan saya nyaman berada di sana.
Dan, benarlah.. Sekarang saya di sini, di Direktorat ini, bagian ini, bersama mereka, dan bahagia berada di antara mereka.


Maka, jangan pernah meremehkan kekuatan doa, bahkan meskipun hanya selintas dalam pikiran.

Nice home work (NHW) #1 Jurusan dalam Universitas Kehidupan

Nice home work (NHW) yang pertama dari mengikuti perkuliahan di IIP berjudul : Jurusan ilmu yang ingin ditekuni dalam universitas kehidupan. Walah, saya cukup ragu untuk mengarahkan jawaban, apakah yang masih abstrak atau sudah konkret. Mestinya sih sudah konkret ya, dan mungkin turunan dari tugas pembukanya yang ‘I have a dream’.

Salah satu atasan di kantor saya sering mengajak mengobrol stafnya tema parenting. Inti dari pesan beliau adalah : kenali passion anak sedini mungkin. Lalu saya menimpali : Lha passion saya sendiri aja belum saya temukan, pak, sambil cengengesan. Jika dilogika, mestinya peran orang tua saya juga berpengaruh. Tapi sudahlah, tidak perlu mencari-cari kambing hitam apalagi orang tua sendiri. Saya hanya perlu memperbaiki saya sendiri agar anak-anak jauh lebih baik dari saya.

Sejauh ini, hal yang ingin saya tekuni adalah berkebun, bercocok tanam, termasuk di dalamnya menjaga lingkungan (mengolah sampah, membuat lubang resapan air tanah dll).

Alasan yang membuat saya ingin menekuninya adalah karena saya bahagia melakukannya. Hehe, kan passion. Dan alhamdulillah passion saya positif untuk lingkungan. Karena kita tahu, bumi semakin tercemar dan rusak. Manusia yang berbuat kerusakan di darat dan di laut. Paling tidak, saya berusaha meminimalisir peran merusak yang saya lakukan, hiks.

Strategi yang saya lakukan sependek ini baru mulai berkebun sekedarnya di secuplik tanah yang tersisa di rumah, mulai mengkomposkan sampah organik, dan bergabung di chat group zero waste. Tapi sejujurnya saya hampir belum melangkah. Saya belum bisa fokus dan serius melakukannya karena keterbatasan waktu dan ilmu yang saya miliki. Pekerjaan saya sebagai pns kementerian dengan jam kerja senin-jumat 07.30-17.00, apalagi di Jakarta yang saya mesti mengalokasikan waktu perjalanan cukup banyak, membuat saya lebih banyak menghabiskan waktu selainnya untuk bermain-main dengan tiga balita saya. Ok, jadi strategi saya sementara hanya : untuk lebih serius lagi dalam belajar dan mempraktikkannya.

Bagaimana adab dalam mendalami ilmu tersebut. Yang pasti saya harus sabar, bersungguh-sungguh, dan menghargai ilmu yang datang dari mana saja (namun harus tetap selektif dalam mempercayai dan mengamalkannya).

Iman anak kita

Anak-anak sehat dan pintar dan nantinya sukses, tentu itu yang kita harapkan. Tapi sungguh, kewajiban kita tidak hanya sampai di situ. Ada tanggung jawab menumbuhkan iman di dada mereka. Dan iman mestinya kita tumbuhkan sedini mungkin. Jangan sampai kita terlena, terlalu santai dalam mendidik anak, membiarkan saja seperti air mengalir. Tidak.

Meskipun itu sungguh tidak mudah.

#

Halo, saya kembali lagi untuk curhat. Apalah daya, uneg-uneg perlu dituntaskan. Dan saya kira media WordPress ini cukup aman buat saya nulis karena cukup jauh dari hiruk pikuk.

Ya, seperti paragraf pembukanya, mengenai anak-anak. Malam-malam begini, melihat mereka lelap itu menyisakan rasa bersalah. Rasa bersalah belum mampu menjadi ibu yang baik bagi mereka.

Ceritanya, saya lagi baper gara-gara si sulung (5 th +) agak sulit diajak shalat. Males lah, bosan lah, begitu alasannya. Huhu…

Menumbuhkan kecintaan dan kebersyukuran kepada Allah sungguh tidak mudah. Oh jangankan itu, saya tidak yakin sudah bisa mengenalkan Allah kepadanya. Terkadang bingung harus bersikap apa kepada anak saat seperti ini. Mmm.. Sepertinya bekal saya jadi orang tua masih sangat kurang. Sedikit sedikit bingung 😭

Kuliah online melalui Google Classroom

Akhirnya saya memutuskan mengikuti kuliah online matrikulasi Institut Ibu Professional. Sebenarnya saya sudah lama mendengar (membaca) tentang ini dari tulisan-tulisan teman di timeline yang berseliweran di media sosial, namun baru sekarang tergerak untuk ikut.
Saya bergabung pada Batch 6 wilayah Tangerang Selatan. Pembelajaran dilakukan dengan Google Classroom. Saya cukup takjub ternyata Google sangat powerful mengembangkan berbagai fungsionalitas melalui satu akun Google, termasuk Google Classroom ini.
Ini pertama kalinya saya menggunakan Google Classroom. Pada kelas online yang sebelumnya saya ikuti, pada umumnya menggunakan chat group (seperti whatssap). Materi disampaikan di grup, dan evaluasi disubmit di Web khusus. Google Classroom ini menarik karena diskusi maupun task submit bisa dilakukan disana. Selain itu pasti ada fitur-fitur lain yang belum saya ketahui. Bismillah, semoga lancar…

(tjurhaat) utang piutang

Masalah utang piutang sangat berpotensi menimbulkan konflik apabila ada kemacetan/kendala dalam pelunasannya. Apalagi jika terjadi antar saudara.

Itu juga yang terjadi dengan saya. Curhat boleh yaaa…  Ada saudara dekat yang cukup sering meminjam uang. Rata-rata 2 bulan sekali dengan nominal mencapai 6 digit. Duh, saya tau dia butuh uang dan saya ada, tapiii…rasanya gimanaaa gitu. Susaaah mau ikhlas kalau terjadi terus-terusan sementara belum pernah sekalipun dia mengembalikan.

  • Sering pinjam
  • Jumlah tidak sedikit
  • Belum pernah mengembalikan
  • Keluarga muda yang sehat wal afiat suami istri dan anak2nya
  • Belum nampak serius ikhtiar menjemput rizqinya
  • Ibadah masih entah.., bahkan Sholatnya pun jarang, hiks
  • Secara jalur kekeluargaan dekat, tapi secara emosional jauuh. Hampir tidak pernah berkomunikasi. dia menghubungi hanya kalau mau pinjam uang. Itu pun to the point, tidak pernah menanyakan kabar. Bahkan berterima kasih pun hampir tak pernah.

Astahgfirullah… bukannya ngarep di’terima kasih’ i, tapii…

Piutang terdahulu sudah diikhlaskan sih, tapi kalo lagi dan lagi ya sepet juga di hati.

Urusan utang piutang ini memang mesti kita waspadai, gengs. Awalnya memang mubah, tapi bisa mencelakakan, apalagi kalau ada unsur ribanya. Naudzubillaah.

Hari Pajak : Pajak Bertilawah 


Saya pernah bertanya-tanya mengapa kata ‘makam’ didahului dengan kata ‘taman’.  “Biar ga serem,” jawab suami asal-asalan, seperti biasanya. 

Mungkin demikian-bertanya-tanya juga orang di luar sana ketika membaca kata ‘pajak’ yang diikuti kata ‘bertilawah’. 

Sebenarnya tidak ada yang aneh sih dengan gabungan kata ‘pajak bertilawah’ itu. Hanya mungkin kata ‘pajak’ terdengar berasosiasi negatif, baik bagi yang tidak mau berkontribusi untuk negara maupun bagi yang meragukan kehalalan pajak. 

Aduh, kok jadi berat. 

Ngomong yang ringan-ringan aja yaa.. 

Sesempit pergaulan saya, instansi pajak ini memang begitu kental nuansa keagamaan (islam) nya. 

“Kurang jauh sih jalan-jalannya, gaulnya sama Itu-itu mulu,” komentar sesuatu di kepala. 

Iya sii~ Tapi emang bener lo, kalau kau datang ke kantor pajak, kau akan temukan pegawai-pegawai (wanita) berbusana syar’i, masjid-masjid kantornya dipenuhi jamaah saat waktu shalat, pengajian-pengajian bergema selepas zhuhur dll. 

Alhamdulillah, betapa bersyukur mendapatkan teman-teman dan lingkungan seperti ini. Jika dengan nikmat seperti ini disebut ‘kurang luas bergaul dan kurang jauh jalan-jalannya’ pun, saya rela 😃. 

Serba Salah

Suatu ketika dalam rangka perpisahan teman-teman Subdit yang promosi jabatan, seperti biasa diadakan semacam farewell party, makan di luar. Begitu selesai makan, ada lebihan nasi banyak. Ada inisiatif untuk membungkusnya, tentu saja dari kaum perempuan. Sebenarnya kami juga tidak tahu nanti akan diapakan. Begitu tiba kembali ke kantor, akhirnya – saya yang kebetulan membawa bungkusan nasi, menyampaikan bungkusan itu ke pantry. Saat itu ada salah satu satpam sedang disana. 

“Pak, ini ada nasi tapi ga ada lauknya,” kata saya. 

“wah bisa buat nasi goreng tuh, mbak,” jawabnya. 

Dari jawaban itu saya asumsikan aman, ada yang mau nerima. 

Beberapa waktu kemudian, saya bertemu satpam satunya. Dia mengatakan, “mbak yang ngasih nasi ya? Sayang kurang satu, lauknya.”
“iya pak, katanya tadi Bisa buat nasi goreng,” kata saya. 

“kalau ada lauknya, pasti habis tu, mbak.”

Saya semakin tidak enak, apalagi bapaknya mengulang2 kata ‘sayang ga ada lauknya’. 

Pokoknya serba salah rasanya. Harusnya mbungkusin (belikan lagi) lauknya. Tapi OB CS dan satpam jumlahnya kan cukup banyak. Huhuhu. 

Oiya kemarin sempat bikin survey kecil-kecilan di instastory, apakah jika ada nasi berlebih seperti itu dibawa pulang atau tidak. 63% bilang iya, 37% tidak. Yang bilang tidak ada yang mengatakan, kalau lebihan nasinya ada di bakul, nanti akan digabung dengan nasi lain untuk disajikan lagi, bukan dibuang. Hoo gitu ya, kirain bakal dibuang makanya sayang kan kalo ga dibawa pulang.