Tantangan Komunikasi Produktif

Terus terang, sejak dulu saya bermasalah dengan komunikasi yang baik entah itu produktif, efektif, maupun yang tidak menyakiti. Sering sekali saya kesal dengan lisan sendiri yang terlalu lancang berbicara tanpa seizin hati dan otak. Saya tidak ingin menyalahkan masa lalu, tapi jujur, lingkungan waktu kecil sangat membentuk kebiasaan ini. Oleh karena itu, ketika ada tantangan untuk melakukan komunikasi produktif selama 10 hari di perkuliahan Bunda Sayang Institut Ibu Profesional ini, saya bersemangat sekali. Saya ingin memperbaiki cara berkomunikasi saya, terutama dengan keluarga, dan umumnya untuk semua orang.

Setelah melakukan tantangan tersebut, saya tidak serta merta menjadi ibu penyayang yang selalu baik dalam berkomunikasi dengan anak. Namun alhamdulillah, saya merasa lebih bisa mengendalikan diri ketika berada dalam situasi tertentu. Saya tidak boleh begini, saya mestinya begini – perasaan itu sedikit lebih cepat menghampiri kesadaran daripada sebelumnya.

Yang menjadi hambatan saya dalam melaksanakan tantangan tersebut adalah tidak setiap hari saya berhasil melakukan komunikasi produktif. Masih sering gagal. Sedangkan yang harus ditulis dalam tugas adalah kaidah yang digunakan dalam komunikasi produktif dan bagaimana perubahannya. Artinya, komunikasi yang memang berhasil produktif. Saya masih harus banyak belajar mengendalikan emosi.

Sedangkan yang menjadi tantangan saya adalah aktivitas sehari-hari saya sebagai ibu yang bekerja di luar, mempersempit kesempatan saya untuk berkomunikasi dengan anak-anak (subjek yang saya pilih dalam tantangan ini). Target tiap hari melakukan komunikasi dengan kaidah tertentu, dan kemudian menarasikannya dalam bentuk tulisan, agak membuat saya terseok-seok. Namun alhamdulillah, saya akhirnya menyelesaikan tantangan dasar dengan ada satu hari jeda (mendapatkan Badge Dasar). Bye Badge You’re Excellent dan Outstanding Performance!

Sebenarnya sesempit apapun waktu bersama, komunikasi pasti dilakukan. Tapi untuk menuliskannya, itu berbeda 😁. Maka yang perlu dilakukan agar tantangan dapat diselesaikan adalah meluangkan waktu, mengurangi waktu tidur atau waktu yang kurang kita manfaatkan dengan baik. In a word, manajemen waktu.

Dengan selesainya tantangan level 1 ini, saya semakin bersemangat untuk melanjutkan ke tantangan level 2. Bismillah.

#aliranrasa

#gamelevel1

#komunikasiproduktif

#kuliahbunsayIIP

Advertisements

Sinopsis Novel “The Girl on The Train”

Dari dulu sejak mengetahui sekelebatan tentang novel ini sampai dengan saya membaca sekitar seperempat bagiannya, saya masih berpikir novel ini bergenre horror, karena melihat covernya: judul dengan darah menetes berlatar gambar jendela kereta. Namun begitu membacanya, ternyata tidak ada unsur horror di dalamnya. Ini novel thriller. Tidak ada unsur supranatural atau magic, tapi kasus kejiwaan dan misteri pembunuhan.

Plot dari novel ini,meskipun twist, tapi sebenarnya cukup singkat. Namun entah bagaimana Paula Hawkins bisa menulisnya hingga lebih dari 400 halaman. Menurut saya sedikit bertele-tele, banyak menceritakan scene tidak terlalu penting atau berkaitan dengan alur. Tapi ya, saya tetap membacanya.

Novel ditulis dari sudut pandang tiga orang wanita: Rachel, Megan, dan Anna. Namun yang paling dominan adalah Rachel.

Dimulai dari Rachel, si commuter yang selalu menikmati perjalanan ke tempat kerjanya dengan kereta. Dia terlalu memperhatikan begitu detil rumah tertentu (rumah no 15) yang kebetulan dekat dengan tempat kereta yang-berhenti-karena-persinyalan. Memperhatikan, membayangkan, dan ingin terus mengetahui detil rumah dan aktivitas penghuninya. Kekepoan yang menyeretnya dalam urusan penghuni rumah itu.

Dia terlalu sibuk terlibat dalam urusan rumah no 15, padahal kehidupannya sendiri berantakan. Dia bercerai dengan suaminya (Tom), karena konon Tom tidak sanggup lagi bersama Rachel yang menjadi pemabuk. Rachel menjadi pemabuk karena stres menginginkan anak. Rachel membenci taman karena membuatnya melihat ibu-ibu yang mendorong stoller anaknya, dia membenci temannya yang dengan mudahnya bercerita kepadanya bahwa baru saja melakukan aborsi dll.

Rachel sudah sampai di tahap kecanduan alkohol, yang membuat hidupnya semakin berantakan : dipecat dari kantor, berseteru dengan temannya dimana dia ngekos di rumah temannya itu. Mantan suaminya (Tom) dan istri baru Tom (Anna) pun begitu membenci Rachel. Tom mengatakan bahwa Rachel setiap malam menterornya dengan gangguan telepon. Rachel tidak mengingatnya karena setiap kali dia mabuk, ingatannya blankspot. Dia tidak ingat apa yang dia lakukan pada waktu-waktu dia mabuk.

Selanjutnya, Megan. Dia mengalami masalah kesulitan untuk tidur. Suaminya, Scott memberikan dia saran untuk bekerja yang mungkin mengurangi kebosanannya yang kemungkinan menjadi penyebab masalah Megan. Akhirnya Megan iseng bekerja di rumah no 23 yang tidak jauh dari rumahnya no 15 sebagai pengasuh bayi. Rumah no 23 itu diitinggali Anna, Suaminya Tom, dan bayi perempuan mereka. Namun Megan bekerja di sana tidak bertahan lama. Beberapa hari kemudian Megan mengundurkan diri. Scott yang mengkhawatirkan Megan yang tidak kunjung membaik masalah gangguan tidurnya, menyarankan Megan untuk terapi ke psikiater Dr Kamal Abdic.

Sesi terapi dilakukan dengan : Megan menceritakan dirinya dan masa lalunya, dan Dr Abdic hanya mendengarkan, mendengarkan cerita Megan yang bahkan tidak pernah diceritakan kepada Scott. Di akhir cerita, pada sesi kesekian, Megan menceritakan bahwa sebelum menikah dengan Scott, dia pernah hamil, kemudian ditinggal oleh lelakinya karena suatu pertengkaran. Megan kemudian mandi berendam bersama anaknya, namun dia tertidur dan anaknya sudah mati di dalam air tertimpa badannya. Itu puncak kejadian yang menyebabkan Megan takut untuk tidur.

Mungkin memang seperti ini, jika kau mengalami masalah, stress, tertekan, tapi tidak tahu bagaimana membuat emosimu lebih baik, perlu kau coba untuk merefleksikan apa yang telah kau lalui, bagaimana perasaanmu, dengan menceritakan kepada seseorang. Itu akan mengeluarkan hal-hal negatif dari diri.

Namun selain sesi terapi, sayangnya Megan dan Dr Abdic juga melakukan hubungan gelap.

Kembali ke Rachel. Keterlibatan Rachel atas kehidupan penghuni rumah no 15 dimulai ketika suatu pagi dari jendela kereta, Rachel melihat Megan (saat itu tentu saja Rachel belum tau nama Megan) berciuman dengan lelaki yang bukan suaminya yang biasa dilihat Rachel. Malamnya, Rachel tidak bisa menahan diri untuk tidak berhenti di stasiun dekat terdekat dengan rumah no 15, yang kebetulan juga dekat mantan rumahnya yang sekarang ditinggali Tom dan istri barunya – rumah no 23.

Malam itu Rachel mabuk. Ketika dia sadar, dia sudah berada di rumah kos nya dengan keadaan luka di kepala dan tangannya. Dia tidak ingat apa yang terjadi. Hanya seperti bayangan-bayangan yang melintas di pikirannya tanpa benar-benar dia pahami.

Esoknya dia melihat berita tentang hilangnya seorang wanita bernama Megan, yang kemudian Rachel ketahui merupakan wanita yang menghuni rumah no 15. Rachel menerka-nerka, ini ada hubungannya dengan lelaki asing yang berciuman dengan Megan kemarin pagi. Rachel merasa kasihan kepada Scott dan berpikir untuk memberikan informasi terkait Megan yang berselingkuh. Rachel juga berinisiatif mendatangi polisi yang menyelidiki kasus itu dan menyampaikan informasi tersebut, meskipun informasi darinya kurang terpercaya mengingat dirinya dikenal sebagai seorang pemabuk yang hidupnya tidak stabil.

Suatu hari ada berita setelah terjadi hujan deras ditemukan mayat Megan yang dikubur sekedarnya di sebuah hutan. Dari berita juga diketahui bahwa Megan sedang hamil dan setelah diperiksa bahwa anak yang dikandung Megan bukan anak Scott.

Hingga suatu saat, kesadaran mulai mendatangi Rachel. Dari bayangan-bayangan di kepalanya, apa yang dirasakannya, serta penjelasan Tom mengenai perbuatan yang telah dilakukan Rachel saat mabuk, semua terlihat tidak sesuai. Ini membawa pada kesimpulan bahwa Tom selalu berbohong tentang apapun, termasuk tentang sifat Rachel yang katanya tidak stabil, sering memukul Tom saat masih menjadi istrinya, dan setelah bercerai setiap malam meneror Tom dan Anna. Semuanya adalah rekayasa Tom. Sedikit-demi sedikit Rachel mengumpulkan bayangan-bayangan ingatannya yang melintas.

Maka kemudian, Rachel ingat bahwa pada malam Megan menghilang:

Rachel bertemu Tom. Tom memukul Rachel, meninggalkan Rachel yang kesakitan, dan masuk ke mobil bersama Megan. Akhirnya Rachel tau siapa dibalik hilangnya Megan. Rachel tidak menunda untuk datang ke rumah Tom dan memberi tahu Anna tentang hal tersebut. Bahwa ternyata, Tom selalu berbohong seumur hidupnya. Kepada siapapun. Anna mulai percaya kepada Rachel karena dia menemukan ponsel dengan nomor yang biasa meneror mereka, yang kata Tom adalah Rachel, ada di tas Tom.

Sayangnya Tom tiba-tiba memergoki pembicaraan Rachel Anna dan menahan mereka semua di rumah. Tom mengakui semua perbuatannya. Bahwa dia selingkuh dengan Megan. Bahwa yang setiap malam meneror Tom bukan Rachel, tapi Megan, karena Tom mulai menghindar dari Megan. Megan hamil, Tom memaksa menggugurkannya tapi Megan tidak mau. Megan ingin ‘bertobat’ dan merawat anaknya apapun yang terjadi, setelah dulu dia melakukan kesalahan yang menyebabkan kematian anaknya. Tom marah dan membunuh Megan.

Dalam penyekapan Tom, Rachel berhasil membawa alat pembuka botol dan memukulkan ke leher Tom. Anna yang tau hal tersebut, bukan menyelamatkan Tom, tapi memperdalam hujaman alat itu ke leher Tom. Tom meninggal. Di depan polisi, Anna menjadi saksi bahwa : Rachel hanya membela diri dari Tom yang akan membunuhnya, dan sayangnya Anna tidak bisa menyelamatkan Tom. Kenyataan bahwa : meskipun Tom melukai Rachel, tapi belum tentu akan membunuh Rachel; dan bahwa Anna membantu mempercepat kematian Tom, disimpan rapat-rapat menjadi rahasia mereka berdua.

Gimana, cukup mengejutkan-tidak siapa pelaku sebenarnya? Saya awalnya menebak pelakunya Rachel atau Scott. Kalau Dr Abdic akan terlalu mudah ditebak.

(Day 10) Mengakui Perasaan

Malam ini begitu pulang belanja, si abang seperti biasa segera meminta jajan yang baru saja saya belikan. Sepertinya, tangannya terkena ujung bungkus snack yang agak lancip yang menyebabkan ada sedikit luka. Dia menangis mengeluh ‘sakit.. Sakit’ tapi tidak mau dilihat oleh budenya. Saya masih cuek. Budenya menyerah dan meninggalkannya. Akhirnya saya dekati.

“Coba sini dilihat abang,”
“Gak mau. Sakit.. Sakit.”
“Sini dikasih propolis,” kata saya mengambilkan propolis. Dia masih menolak dan meraung-raung.
“Sini bunda lihat dulu,” saya agak memaksanya karena mulai kesal, kemudian mengoleskan propolis, pada luka, yang entah bisa disebut luka atau tidak, keciiil sekali hampir tidak terlihat. Bisa dibayangkan, wong hanya terkena ujung bungkus Snack. Dia masih merengek-rengek bilang sakit, saya berusaha menahan emosi.

“Sakit ya,bang?” saya mengeluarkan jurus empati.
“Iyaa, sakit.”
“Sakitnya ilang gak kalo abang nangis?”
“enggak,” katanya masih sambil menangis.
“oke. Bunda dan ayah tahu kalau tangannya abang sakit. Abang masih mau menangis?”
Diam.
Alhamdulillah. Ternyata dia hanya ingin diakui kalau dia merasakan sakit.

#day10
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang

(Day 9) Keinginan si Mas

Siang ini, sulung sedang bermain sepeda, saya menemani bungsu di teras.
“Mbrem..mbrem..” si bungsu menunjuk mobil di depan rumah tetangga.
“Bun, semua orang punya mobil. Aku pengen sekali beli mobil,” si mas tiba-tiba mengatakan itu.
Saya sudah membatin dari lama, bahwa suatu saat dia akan membandingkan keadaan keluarganya dengan tetangga/teman-temannya.
“Masa’ sih semua punya mobil? Alhamdulillah loh mas kita punya rumah, motor, makanan, mainan. Banyak loh yang ga punya, ” kata saya.
“Iya, aku tahu,” jawabnya.
“Emang punya mobil buat apa?”
“Jalan jalan”
“Kita bisa pesen gocar, kan”
“Iya sih, hehe,” jawabnya.

Saya tidak yakin dia benar ikhlas menerima apa yang saya katakan. Tidak mengapa. Jangankan anak-anak, orang dewasa saja belum tentu bisa menghindar dari menginginkan apa yang dimiliki orang lain.
Saya tidak tahu, adakah kaidah komunikasi produktif yang saya terapkan kali ini. Sepertinya nasihat yang saya sampaikan tidak simple amat. Hehe.

#day9
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif

(Day 8) Mempercayai Anak

Salah satu cara orang tua untuk menumbuhkan kepercayaan diri anak, salah satunya adalah dengan memberikan ruang dan menghormati zona perkembangan optimal untuk anak. Sederhananya : biarkan mereka berusaha sendiri, jangan dibantu terus. Nah, saya nih sering sekali gatel ingin membantu saat mereka kesulitan melakukan sesuatu.
Seperti kemarin, si abang, setelah selesai urusan BAB/BAK, merengek minta dibantu membalik celananya untuk dipakai.

“Abang sendiri yaa, bunda ajarin.”
“Ga bisa, bun.”
“Bisa,” kata saya sambil kemudian memberikan arahan.
Dia masih kesulitan. Hampir marah.
“Susaah, bun.” katanya dengan emosi.
“Bisa pelan-pelan. Sabar. Ga usah buru-buru,” kata saya sambil mengarahkannya dan menahan diri untuk membantu membalik.

Meski lama dan saya gemes menahan tangan dan mulut, akhirnya berhasil juga.
Saya harus banyak-banyak menahan diri untuk tidak membantu setiap kesulitan yang dihadapi anak, dan mengganti kata ‘tidak bisa’ menjadi ‘bisa’.

#day8
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang

(Day 7) Empati : mengakui perasaan

Pada libur tengah pekan kemarin, anak-anak minta berenang (lebih tepat mainan air) di kolam renang umum dekat rumah. Sepulangnya, si tengah (4 tahun) bercerita :
“Bun, tadi aku prosotan trus blur ke air trus mukaku kena air,”
Anak ini biasanya saat mandi pun tidak mau mukanya diguyur air. Hanya diusap-usap saja pakai air. Meski saya lebih sering tetap mengguyurnya. Hehe
“Wah seru banget dong. Trus berapa kali prosotannya?” tanya saya menimpali.
“Satu doang. Udah trus mandi. Aku takut,” jawabnya.
“Ooh abang takut ya… Oke. Lain kali boleh dicoba lagi,” saya mengizinkannya mengakui perasaannya.

Dulu saya pernah beranggapan, bahwa rasa negatif tidak perlu dituruti. Misalnya jatuh sedikit lali anaknya menangis bilang sakit. Saya akan mengatakan ‘gakpapa udah sembuh’ dan mengabaikan perasaannya dengan harapan agar dia tidak cengeng.

Belakangan saya tahu itu salah. Ternyata mengakui perasaan itu penting agar anak mengenali perasaannya : takut, cemas, sedih, marah, capek. Karena perasaan jika tidak diakui/dikenali, suatu saat akan menjadi satu emosi saja : marah. Padahal sebenarnya bisa jadi sedih atau kecewa.

Masalah menuruti perasaan akan menjadikan anak cengeng itu sejujurnya hanya asumsi saya saja.

(Day 6) Mengubah perintah menjadi pertanyaan kesiapan

Untuk Ibu dengan tiga anak-anak kecil, dan apalagi saya juga bersiap berangkat bekerja ke kantor, pagi selalu menjadi waktu yang hectic. Bertambah rumit ketika sulung mulai sekolah dan susah dibangunkan pagi-pagi. Ketika sudah bangun pun, dia belum mau langsung mandi. Dia memilih bermain, membaca buku, atau makan snack terlebih dahulu. Dia belum mau menerima pilihan ‘mandi dulu baru yang lain’, dan kalau saya paksa, moodnya akan buruk, dan efeknya panjang, dia tidak mau berangkat sekolah, atau di sekolah ogah-ogahan.

Maka saya menahan diri untuk bersikap atau berkata yang merusak mood paginya. Saya tidak bisa menyuruh dia mandi. Saya hanya bisa menanyakan dan menunggu kesiapannya.
“Mas, sudah siap mandi?” tanya saya.
“Belum.”
“Berapa menit lagi mainnya?”
Diam.
“Nanti saat jarum panjang di angka 12 siap mandi yaa..” saya memberikan arahan.

Hingga tiba waktunya.
“Mas, jamnya sudah di angka 12. Yuk mandi,” ajak saya.
Kali ini dia menurut. Alhamdulillah, meskipun tidak setiap hari trik ini berhasul. Ada kalanya dia masih mengatakan ‘belum siap’. Dan saya menyampaikan memberi waktu satu menit lagi, atau dua menit lagi. Meskipun mengorbankan banyak waktu untuk membujuknya, tapi dia mau mandi tanpa kehilangan mood itu lebih berharga.

Kaidah komunikasi produktif yang saya coba terapkan :

  • ‌mengendalikan Intonasi dan suara ramah
  • ‌mengganti perintah dengan kalimat pertanyaan kesiapan (sudah siap mandi?)

#day6
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang

(Day 5) Abang sayang adik

Abang, si tengah (4 tahun) sering sekali mengusili adiknya, si bungsu (1.5 tahun). Menarik tangannya, menginjak kakinya, jewer telinganya, cubit pipinya, keplak kepalanya, mengejarnya, merebut mainannya dll yang dilakukan hampir tiap menit. Pokoknya apapun dia lakukan untuk mengganggu adiknya sampai adiknya menangis. Saya tahu itu adalah bagian dari caranya mendapatkan perhatian. Kadang saya menahaaan diri, menutup mata, dari keusilannya. Kadang saya menyelamatkan adiknya, membawanya menjauh meski tetap saja dikejar sama Abang. Dan hampir selalu spontan, saya lebih sering memisahkan mereka sambil mengomel-ngomel ke Abang.

Maka malam ini, ketika adik dan Masnya sudah tidur dan si Abang belum tidur, saya mencoba mengajaknya bicara.
“Abang, abang sayang naufal (nama adiknya)?”
“Sayang,” jawabnya.
“Hari ini Abang jagain naufal?”
“Hari ini aku usilin 5 kali,” katanya bangga. Saya rasa harusnya jauh diatas angka itu. Dia belum mengerti perhitungan dengan tepat.
“Kenapa diusilin, katanya abang sayang?”
“Soalnya naufal lucu bangeet,” katanya seperti orang gemes.
“Abang suka kalau naufal nangis?”
“Enggak.”
“Sukanya gimana?”
“Nofal tertawa.”
“Berarti besok naufal dijagain biar tertawa ya.”
“Iya.”

Saya tidak yakin Abang akan benar tidak membuat adiknya menangis. Namanya juga kakak ke adik. Kata suami berdasarkan pengalamannya, berhasil membuat adik menangis adalah kepuasan. Haha. Tidak apa-apa. Seiring berjalan waktu, Insyaallah sifat usil ini akan berkurang dengan sendirinya.

Jadi kaidah apa yang saya terapkan dalam komunikasi kali ini :

  • ‌intonasi dan suara ramah
  • ‌mengatakan yang diinginkan, bukan yang tidak diinginkan

#day5
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang

(Day 4) Rapi Agar Nyaman

Saya, sebagaimana orang tua yang lain, menginginkan anak-anak mulai belajar bertanggung jawab. Misalnya merapikan mainan setelah dipakai bermain. Biasanya saya meminta mereka membereskan mainan yang mereka mainkan sendiri, “ini tadi yang mainan lego siapa yaa… Jangan lupa dibereskan yaa….”
Kadang mereka mau, tapi lebih sering tidak, dengan alasan : capek atau protes ‘kok aku terus yang ngrapiin’.
“Lha kan tadi yang mainan mas,” jawab saya dengan tujuan mereka mengerti tanggung jawabnya masing-masing.
Tapi ternyata mereka menjadi keliru memahami. Ketika saya meminta tolong mereka merapikan sesuatu, menutup pintu atau mematikan TV, mereka mengelak bahwa bukan mereka yang memberantakkan, membuka pintu, atau menyalakan TV. Duh mak! Salah saya.

Maka kemudian, ketika saya meminta tolong mereka melakukan ini itu, saya menekankan, bukan semata karena mengakhiri apa yang mereka mulai (bertanggung jawab), tapi karena membantu membenarkan/merapikan sesuatu agar benar/nyaman. Haha, apa sih maksudnya.

Seperti kemarin :
“Mas, setelah ini, kita bereskan mainan bersama, yuk. Kalo rapi kan nyaman, ” ajak saya saat dia berjalan meninggalkan mainannya yang berantakan. Tidak lupa saya menggunakan nada serendah mungkin, tersenyum, sambil berjongkok di depannya agar tinggi kami setara. Saya ingat kaidah 7-38-55, dimana konten hanya berperan 7% dalam komunikasi produktif, sementara intonasi dan gestur masing-masing memegang 38% dan 55%. Selain itu saya mencoba tidak bicara macam-macam : tangguh jawab lah, karena dia yang memberantakkan lah. Saya mencoba memberikan informasi sesingkat mungkin : merapikan agar nyaman.

Setelah saya menyampaikan itu kepada sulung, saya masih menyelesaikan satu urusan dengan adiknya, begitu selesai, saya terkesan, si mas sudah selesai merapikan mainannya. Padahal biasanya kalaupun dia mau merapikan, tidak lepas dari bantuan orang dewasa. Mungkin ini biasa saja dan saya berlebihan, tapi sekecil apapun perkembangan mereka, sangat saya syukuri.

#day4
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang

(Day 3) Mengkritik Anak

Tadi malam, sambil bermain sepeda du teras, anak-anak bercerita siangnya telah mencelupkan kaki sedalam lutut ke kolam ikan tetangga, dan memasukkan sandal ke dalamnya.

“Trus begitu orangnya mau keluar, aku kabuuuur, ” katanya.
Artinya mereka mencelupkan kaki ke kolam tetangga tanpa izin. Terus terang saya terpancing emosi.
“Kok gitu, boleh ga harusnya kayak gitu,” tanya saya yang gagal mengendalikan emosi.
“Lha nofal duluan tadi,” si tengah (4 th) membela diri dan menyalahkan adiknya (1.5 th).

Saya kembali fokus ke sulung (5.5 th) yang saya kira sudah bisa diajak diskusi.
“Gimana mas? Harusnya kalian melakukan apa?”
“Izin dulu,” katanya berbisik-bisik ke adiknya sambil terkikik.
Saya bingung. Saya belum bisa membuat mereka menyadari bahwa perbuatan mereka salah.

“Betul izin. Tapi, harusnya kalian kasihan sama ikannya. Ikannya bisa mati kalau diobok-obok,” kata saya membayangkan kolam kecil itu.
Mereka masih bermain sepeda sambil terkikik-kikik. Seperti belum mengerti kesalahan mereka.
“Bunda kecewa,” pungkas saya lirih sambil meninggalkan teras. Saya berpikir lebih baik menjauhkan diri daripada menambah omelan yang belum tentu mereka tangkap maksudnya.

Saya ingin memberikan kritik yang jelas kepada mereka. Tapi sepertinya saya belum berhasil menyampaikan pesan itu dengan baik. Saya masih belum tahu bagaimana cara agar anak-anak memahami bahwa yang dilakukannya itu salah.

#day3
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang