Nice home work (NHW) #1 Jurusan dalam Universitas Kehidupan

Nice home work (NHW) yang pertama dari mengikuti perkuliahan di IIP berjudul : Jurusan ilmu yang ingin ditekuni dalam universitas kehidupan. Walah, saya cukup ragu untuk mengarahkan jawaban, apakah yang masih abstrak atau sudah konkret. Mestinya sih sudah konkret ya, dan mungkin turunan dari tugas pembukanya yang ‘I have a dream’.

Salah satu atasan di kantor saya sering mengajak mengobrol stafnya tema parenting. Inti dari pesan beliau adalah : kenali passion anak sedini mungkin. Lalu saya menimpali : Lha passion saya sendiri aja belum saya temukan, pak, sambil cengengesan. Jika dilogika, mestinya peran orang tua saya juga berpengaruh. Tapi sudahlah, tidak perlu mencari-cari kambing hitam apalagi orang tua sendiri. Saya hanya perlu memperbaiki saya sendiri agar anak-anak jauh lebih baik dari saya.

Sejauh ini, hal yang ingin saya tekuni adalah berkebun, bercocok tanam, termasuk di dalamnya menjaga lingkungan (mengolah sampah, membuat lubang resapan air tanah dll).

Alasan yang membuat saya ingin menekuninya adalah karena saya bahagia melakukannya. Hehe, kan passion. Dan alhamdulillah passion saya positif untuk lingkungan. Karena kita tahu, bumi semakin tercemar dan rusak. Manusia yang berbuat kerusakan di darat dan di laut. Paling tidak, saya berusaha meminimalisir peran merusak yang saya lakukan, hiks.

Strategi yang saya lakukan sependek ini baru mulai berkebun sekedarnya di secuplik tanah yang tersisa di rumah, mulai mengkomposkan sampah organik, dan bergabung di chat group zero waste. Tapi sejujurnya saya hampir belum melangkah. Saya belum bisa fokus dan serius melakukannya karena keterbatasan waktu dan ilmu yang saya miliki. Pekerjaan saya sebagai pns kementerian dengan jam kerja senin-jumat 07.30-17.00, apalagi di Jakarta yang saya mesti mengalokasikan waktu perjalanan cukup banyak, membuat saya lebih banyak menghabiskan waktu selainnya untuk bermain-main dengan tiga balita saya. Ok, jadi strategi saya sementara hanya : untuk lebih serius lagi dalam belajar dan mempraktikkannya.

Bagaimana adab dalam mendalami ilmu tersebut. Yang pasti saya harus sabar, bersungguh-sungguh, dan menghargai ilmu yang datang dari mana saja (namun harus tetap selektif dalam mempercayai dan mengamalkannya).

Advertisements

Iman anak kita

Anak-anak sehat dan pintar dan nantinya sukses, tentu itu yang kita harapkan. Tapi sungguh, kewajiban kita tidak hanya sampai di situ. Ada tanggung jawab menumbuhkan iman di dada mereka. Dan iman mestinya kita tumbuhkan sedini mungkin. Jangan sampai kita terlena, terlalu santai dalam mendidik anak, membiarkan saja seperti air mengalir. Tidak.

Meskipun itu sungguh tidak mudah.

#

Halo, saya kembali lagi untuk curhat. Apalah daya, uneg-uneg perlu dituntaskan. Dan saya kira media WordPress ini cukup aman buat saya nulis karena cukup jauh dari hiruk pikuk.

Ya, seperti paragraf pembukanya, mengenai anak-anak. Malam-malam begini, melihat mereka lelap itu menyisakan rasa bersalah. Rasa bersalah belum mampu menjadi ibu yang baik bagi mereka.

Ceritanya, saya lagi baper gara-gara si sulung (5 th +) agak sulit diajak shalat. Males lah, bosan lah, begitu alasannya. Huhu…

Menumbuhkan kecintaan dan kebersyukuran kepada Allah sungguh tidak mudah. Oh jangankan itu, saya tidak yakin sudah bisa mengenalkan Allah kepadanya. Terkadang bingung harus bersikap apa kepada anak saat seperti ini. Mmm.. Sepertinya bekal saya jadi orang tua masih sangat kurang. Sedikit sedikit bingung 😭

Kuliah online melalui Google Classroom

Akhirnya saya memutuskan mengikuti kuliah online matrikulasi Institut Ibu Professional. Sebenarnya saya sudah lama mendengar (membaca) tentang ini dari tulisan-tulisan teman di timeline yang berseliweran di media sosial, namun baru sekarang tergerak untuk ikut.
Saya bergabung pada Batch 6 wilayah Tangerang Selatan. Pembelajaran dilakukan dengan Google Classroom. Saya cukup takjub ternyata Google sangat powerful mengembangkan berbagai fungsionalitas melalui satu akun Google, termasuk Google Classroom ini.
Ini pertama kalinya saya menggunakan Google Classroom. Pada kelas online yang sebelumnya saya ikuti, pada umumnya menggunakan chat group (seperti whatssap). Materi disampaikan di grup, dan evaluasi disubmit di Web khusus. Google Classroom ini menarik karena diskusi maupun task submit bisa dilakukan disana. Selain itu pasti ada fitur-fitur lain yang belum saya ketahui. Bismillah, semoga lancar…

(tjurhaat) utang piutang

Masalah utang piutang sangat berpotensi menimbulkan konflik apabila ada kemacetan/kendala dalam pelunasannya. Apalagi jika terjadi antar saudara.

Itu juga yang terjadi dengan saya. Curhat boleh yaaa…  Ada saudara dekat yang cukup sering meminjam uang. Rata-rata 2 bulan sekali dengan nominal mencapai 6 digit. Duh, saya tau dia butuh uang dan saya ada, tapiii…rasanya gimanaaa gitu. Susaaah mau ikhlas kalau terjadi terus-terusan sementara belum pernah sekalipun dia mengembalikan.

  • Sering pinjam
  • Jumlah tidak sedikit
  • Belum pernah mengembalikan
  • Keluarga muda yang sehat wal afiat suami istri dan anak2nya
  • Belum nampak serius ikhtiar menjemput rizqinya
  • Ibadah masih entah.., bahkan Sholatnya pun jarang, hiks
  • Secara jalur kekeluargaan dekat, tapi secara emosional jauuh. Hampir tidak pernah berkomunikasi. dia menghubungi hanya kalau mau pinjam uang. Itu pun to the point, tidak pernah menanyakan kabar. Bahkan berterima kasih pun hampir tak pernah.

Astahgfirullah… bukannya ngarep di’terima kasih’ i, tapii…

Piutang terdahulu sudah diikhlaskan sih, tapi kalo lagi dan lagi ya sepet juga di hati.

Urusan utang piutang ini memang mesti kita waspadai, gengs. Awalnya memang mubah, tapi bisa mencelakakan, apalagi kalau ada unsur ribanya. Naudzubillaah.

Hari Pajak : Pajak Bertilawah 

​


Saya pernah bertanya-tanya mengapa kata ‘makam’ didahului dengan kata ‘taman’.  “Biar ga serem,” jawab suami asal-asalan, seperti biasanya. 

Mungkin demikian-bertanya-tanya juga orang di luar sana ketika membaca kata ‘pajak’ yang diikuti kata ‘bertilawah’. 

Sebenarnya tidak ada yang aneh sih dengan gabungan kata ‘pajak bertilawah’ itu. Hanya mungkin kata ‘pajak’ terdengar berasosiasi negatif, baik bagi yang tidak mau berkontribusi untuk negara maupun bagi yang meragukan kehalalan pajak. 

Aduh, kok jadi berat. 

Ngomong yang ringan-ringan aja yaa.. 

Sesempit pergaulan saya, instansi pajak ini memang begitu kental nuansa keagamaan (islam) nya. 

“Kurang jauh sih jalan-jalannya, gaulnya sama Itu-itu mulu,” komentar sesuatu di kepala. 

Iya sii~ Tapi emang bener lo, kalau kau datang ke kantor pajak, kau akan temukan pegawai-pegawai (wanita) berbusana syar’i, masjid-masjid kantornya dipenuhi jamaah saat waktu shalat, pengajian-pengajian bergema selepas zhuhur dll. 

Alhamdulillah, betapa bersyukur mendapatkan teman-teman dan lingkungan seperti ini. Jika dengan nikmat seperti ini disebut ‘kurang luas bergaul dan kurang jauh jalan-jalannya’ pun, saya rela 😃. 

Serba Salah

Suatu ketika dalam rangka perpisahan teman-teman Subdit yang promosi jabatan, seperti biasa diadakan semacam farewell party, makan di luar. Begitu selesai makan, ada lebihan nasi banyak. Ada inisiatif untuk membungkusnya, tentu saja dari kaum perempuan. Sebenarnya kami juga tidak tahu nanti akan diapakan. Begitu tiba kembali ke kantor, akhirnya – saya yang kebetulan membawa bungkusan nasi, menyampaikan bungkusan itu ke pantry. Saat itu ada salah satu satpam sedang disana. 

“Pak, ini ada nasi tapi ga ada lauknya,” kata saya. 

“wah bisa buat nasi goreng tuh, mbak,” jawabnya. 

Dari jawaban itu saya asumsikan aman, ada yang mau nerima. 

Beberapa waktu kemudian, saya bertemu satpam satunya. Dia mengatakan, “mbak yang ngasih nasi ya? Sayang kurang satu, lauknya.”
“iya pak, katanya tadi Bisa buat nasi goreng,” kata saya. 

“kalau ada lauknya, pasti habis tu, mbak.”

Saya semakin tidak enak, apalagi bapaknya mengulang2 kata ‘sayang ga ada lauknya’. 

Pokoknya serba salah rasanya. Harusnya mbungkusin (belikan lagi) lauknya. Tapi OB CS dan satpam jumlahnya kan cukup banyak. Huhuhu. 

Oiya kemarin sempat bikin survey kecil-kecilan di instastory, apakah jika ada nasi berlebih seperti itu dibawa pulang atau tidak. 63% bilang iya, 37% tidak. Yang bilang tidak ada yang mengatakan, kalau lebihan nasinya ada di bakul, nanti akan digabung dengan nasi lain untuk disajikan lagi, bukan dibuang. Hoo gitu ya, kirain bakal dibuang makanya sayang kan kalo ga dibawa pulang.

Wisata Cilacap

 

Alhamdulillah, hari libur di idul fitri tahun ini (1439H / 2018 M) cukup banyak. Apalagi saya tambah cuti tahunan 2 hari jadi genap mendapat libur 2 pekan. Saya dan suami sudah sepakati bahwa lebaran ini kami hanya pulang kampung ke Cilacap, rumah orang tua dari suami. Sedangkan bapak ibu ponorogo akan datang ke Jakarta setelah syawalan (7 hari) syawal karena mereka tidak tega 3 cucunya melalui perjalanan jauh ke ponorogo. Saya sempat meyakinkan bahwa kami akan baik-baik saja di perjalanan namun mereka sudah dhawuh ya apa boleh buat.

Nah, selama 2 minggu di cilacap, kami memanfaatkan waktu untuk mengunjungi tempat-tempat wisata di sana (meskipun sebagian sudah rutin dikunjungi sebelumnya, hehe). Apa saja yang kami kunjungi, ini dia.
  1. Pantai Teluk Penyu.
    Kami kesana pagi-pagi sekali dan petugas ticketing belum ada sehingga bisa masuk free. Kalau di jam operasi, harga tiket masuk saat weekend atau libur nasional adalah 7,5 ribu rupiah. Saat kami kesana, ombak sedang besar, laut sedang pasang sehingga anak-anak hanya kami izinkan di pinggiiir pantai dan harus selalu disertai orang dewasa.
    Nafis 5th sangat menyukai bermain di air, sedangkan nawang 3th masih takut-takut dan lebih banyak bermain pasir saja. Pantai ini cukup bersih namun area pepasirannya agak sempit, sudah mepet daratan.
    Area pantai ini cukup terkenal dengan kuliner seafood nya. Jika anda penyuka seafood, jangan ragu untuk mencoba salah satu dari jejeran kedai seafood ini. Selain itu juga anda bisa membawa oleh-oleh ikan asin besar-besar yang di jual di sepanjang jalan bibir pantai.

  2. Benteng Pendem.
    Di area Pantai Teluk Penyu juga ada objek wisata Benteng Pendem. Nah untuk masuk, ada tiket sendiri, tapi saya kurang tahu harganya. Saya pernah masuk kesana 6 tahun lalu dan belum pernah lagi.
  3. Hutan Payau
    Wisata Mangrove ini terletak di kota, dekat sekali dengan rumah mertua saya. Wisata ini diformat seperti jalan beton di tengah hutan bakau membujur dari pintu masuk wisata sampai bibir perairan laut dan dermaga. Kanan jalan beton dibentuk sedemikian rupa untuk penjual makanan dan wahana di atas akar-akar bakau. Tahun lalu ketika kami kesana, lokasi wisata ini sepi dan kurang terawat. Tahun ini sepertinya sudah dilakukan pemugaran.  Ada wahana-wahana baru seperti mandi bola, jaring-jaring dll. Dibangun juga petak-petak untuk disewakan kepada penjual makanan . Rata-rata yang dijual adalah lotek sayur (mirip pecel), tahu masak (tahu dan tauge dengan bumbu kacang), olahan mie-mie instan, mendoan, dan minuman-minuman ringan. Ada juga menara seperti miniatur monas di tengah-tengah jalan beton. Jika enggan berjalan menuju ujung perairan, jangan khawatir, anda bisa naik perahu dayung. Berikut harga-harganya:

    Htm : 6.5rb
    Wahana : bayar +- 5rb
    Perahu : 3rb
    Lotek : 6rb

    Mendoan : 2rb

    Murah kan? Sayangnya, pemugaran terlihat belum optimal. Wahana sepi, sampah masih terlihat di sekitar, dan saat itu ada segerombolan ABG seenaknya menyalakan petasan di perairan sepanjang mereka berjalan. Aduh,

     

  4.  Small world Purwokerto
    Objek wisata ini terletak di Baturraden, Purwokerto. Dari rumah mertua (Cilacap), lokasi ini berjarak sekitar 60km. Kami pergi dengan angkutan online (Go-car). Selama perjalanan, lalu lintas cukup lancar. Namun begitu mendekati lokasi, macet terjadi cukup parah.
    Begitu sampai disana, kami langsung mencari tempat makan berhubung sudah masuk jam makan siang. Warung-warung makan cukup banyak tersedia. Toilet dan mushala juga tersedia. Untuk masuk kesana, HTM dihargai sebesar  20rb untuk weekend/libur nasional.

    Begitu masuk, kami disambut terik matahari yang cukup menyengat. Ini dimanfaatkan oleh pengelola wisata untuk menawarkan jasa penyewaaan payung. Meskipun kami pergi dengan tiga balita, kami tidak menyewa payung karena males bawa-bawa, hehehe. Kesalahan saya adalah saya tidak menyiapkan sunblock baik untuk saya sendiri, dan juga untuk anak-anak. Hufh, untuk pelajaran di kesempatan berikutnya.
    Yang ‘dijual’ objek wisata ini adalah spot-spot yang dibuat instagramable. Lokasi di lereng bukit mendukung landscape objek wisata. Objek utama disana adalah miniatur bangunan-bangunan di dunia, seperti tembok cina, menara eiffel, taj mahal dll, sakura dan tulip (yang sayangnya sintetis), dll. Selain itu ada spot-spot bebungaan yang vintage.
    Kesimpulannya, Objek ini sebenarnya hanya cocok untuk orang-orang yang suka berfoto, bukan untuk orang yang ingin menikmati berwisata.

    IMG_20180618_145426

  5.  Pantai Sodong
 Pantai Sodong terletak di Kecamatan Adipala, cukup jauh dari kota. Pantai ini juga dekat dengan objek wisata lain yaitu Bukit Selok,  yaitu bisa melihat view dari ketinggian. Areal pantai di sini lebih luas daripada Teluk Penyu yang sudah mepet daratan. Htm sangat terjangkau, hanya 5 ribu rupiah. Jika ingin menyewa gubuk untuk berteduh, cukup membayar 10 ribu rupiah. Lapar? jangan khawatir. Warung-warung berjajar di bibir pantai, demikian juga penjaja makanan banyak berkeliling menawarkan makanan. Untuk yang enggan ke pantai namun ingin air, juga ada kolam renang kolam renang di sekitar pantai.

Bawa anak ke kantor, yay or nay? 

​Beberapa waktu lalu, bude yang jagain anak2 mendadak pulang kampung karena ada musibah. Yang artinya, saya perlu memutar otak mengatur strategi untuk 5 hari kerja selanjutnya.

Opsi yang akhirnya dipilih :

Hari 1 : ajak 2 anak ke kantor. Bayi di rumah dengan asisten yang pulang pergi. Kebetulan semua atasan di kantor plus sebagian besar pegawai sedang konsinyering, sehingga saya kira kehadiran 2 bocah ini tidak akan begitu mengganggu.

Hari 2-5: lihat bagaimana hari 1.

Dijalankanlah rencana. Daaan, di akhir hari pertama, saya memutuskan bahwa opsi ini tidak akan saya pilih lagi karena….

Capek, maaak.

Pagi-pagi memasak, memandikan, mempersiapkan anak2, menemani sarapan anak2, menyiapkan bekal, baju ganti, mempersiapkan kebutuhan bayi di rumah dst.

Sampai kantor menyiapkan ‘tempat’ dan mainan buat anak-anak.  Dan baru satu jam berlalu, bocah bosan minta pulang, belum lagi makannya, ke kamar mandinya dll. Baru lima menit di depan pc untuk bekerja, bocah merengek begini begitu minta ini minta itu.  Masih berlanjut, sorenya perjalanan pulang yang melelahkan, sampai rumah belum beres semua, belum mandi belum ada makanan, bayi di rumah juga saatnya diambil alih. Subhanallah… 

Akhirnya esoknya memutuskan di rumah saja, izin dan cuti 3 hari. Biarlah cuti habis. 

Jadi bawa anak ke kantor, buat saya big no! 

Calistung

Sejak kecil, kegemaran nafis dengan baca tulis sudah terlihat menonjol, agak berkebalikan dengan kepercayaan dirinya. 

Dari usia kira-kira 1.5 tahun, tiap saat dia minta dibacakan buku. Pernah suatu ketika dia demam, di tengah malam terbangun, dia minta dibacakan buku hingga tidur, terbangun lagi minta dibacakan lagi dst. Dia juga senang menulis, berhitung, menggambar, tapi tidak terlalu suka mewarnai. Kemampuan motorik halusnya memang masih kurang terasah sehingga ketika mewarnai masih jauh dari rapi.

Kira-kira sejak masuk TK, dia sering sekali minta didikte,

“namanya (cara nulis) kereta gimana, bun?”

“ka e er e te a”

Begitu terus dia menanyakan cara menulis benda-benda yang menarik baginya. Saya, terus terang, jarang mengajarinya calistung (baca tulis hitung) secara khusus. 

“Bun, bukunya ada 7”

Dia menghitung barang-barang di sekelilingnya. 

Hingga di usia 5 tahun kurang 2 bulan, saya takjub, bocah ini sudah bisa membaca dan menulis (tentu bukan kata yang kompleks) serta melakukan penjumlahan bilangan sederhana. Masyaallah, le, barakallahu fiik. 

Bergerak itu berkah 

Merantaulah…

Orang berilmu dan beradab tidak diam beristirahat di kampung halaman.
Tinggalkan negerimu dan hidup asing  (di negeri orang).

Merantaulah…

Kau akan dapatkan pengganti dari orang-orang yang engkau tinggalkan (kerabat dan kawan).
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan..
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, akan keruh menggenang.

Singa jika tak tinggalkan sarang, tak akan dapat mangsa..
Anak panah jika tak tinggalkan busur, tak akam kena sasaran.

Jika matahari di orbitnya tak bergerak dan terus berdiam..
tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang.

Bijih emas tak ada bedanya dengan tanah biasa di tempatnya (sebelum ditambang).
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan.

Jika gaharu itu keluar dari hutan, ia menjadi parfum yang tinggi nilainya.
Jika bijih memisahkan diri (dari tanah), barulah ia dihargai sebagai emas murni. 


Merantaulah…

Orang berilmu dan beradab tidak diam beristirahat di kampung halaman.
Tinggalkan negerimu dan hidup asing  (di negeri orang) 

(Imam Syafi’i) 

“Hujan itu indah bukan karena air yang turun, tapi atas apa yang akan ditumbuhkannya.

Mutasi/promosi bukan tentang siapa dimana, tapi apa yang akan ‘ditumbuhkannya’,”(anonim) 

Selamat mengemban amanah untuk Bpk Kepala Seksi, yang tak lelah memotivasi kami, yang tak henti mengasihi kami. Barakallahu fiik.