(tjurhaat) utang piutang

Masalah utang piutang sangat berpotensi menimbulkan konflik apabila ada kemacetan/kendala dalam pelunasannya. Apalagi jika terjadi antar saudara.

Itu juga yang terjadi dengan saya. Curhat boleh yaaa…  Ada saudara dekat yang cukup sering meminjam uang. Rata-rata 2 bulan sekali dengan nominal mencapai 6 digit. Duh, saya tau dia butuh uang dan saya ada, tapiii…rasanya gimanaaa gitu. Susaaah mau ikhlas kalau terjadi terus-terusan sementara belum pernah sekalipun dia mengembalikan.

  • Sering pinjam
  • Jumlah tidak sedikit
  • Belum pernah mengembalikan
  • Keluarga muda yang sehat wal afiat suami istri dan anak2nya
  • Belum nampak serius ikhtiar menjemput rizqinya
  • Ibadah masih entah.., bahkan Sholatnya pun jarang, hiks
  • Secara jalur kekeluargaan dekat, tapi secara emosional jauuh. Hampir tidak pernah berkomunikasi. dia menghubungi hanya kalau mau pinjam uang. Itu pun to the point, tidak pernah menanyakan kabar. Bahkan berterima kasih pun hampir tak pernah.

Astahgfirullah… bukannya ngarep di’terima kasih’ i, tapii…

Piutang terdahulu sudah diikhlaskan sih, tapi kalo lagi dan lagi ya sepet juga di hati.

Urusan utang piutang ini memang mesti kita waspadai, gengs. Awalnya memang mubah, tapi bisa mencelakakan, apalagi kalau ada unsur ribanya. Naudzubillaah.

Advertisements

Serba Salah

Suatu ketika dalam rangka perpisahan teman-teman Subdit yang promosi jabatan, seperti biasa diadakan semacam farewell party, makan di luar. Begitu selesai makan, ada lebihan nasi banyak. Ada inisiatif untuk membungkusnya, tentu saja dari kaum perempuan. Sebenarnya kami juga tidak tahu nanti akan diapakan. Begitu tiba kembali ke kantor, akhirnya – saya yang kebetulan membawa bungkusan nasi, menyampaikan bungkusan itu ke pantry. Saat itu ada salah satu satpam sedang disana. 

“Pak, ini ada nasi tapi ga ada lauknya,” kata saya. 

“wah bisa buat nasi goreng tuh, mbak,” jawabnya. 

Dari jawaban itu saya asumsikan aman, ada yang mau nerima. 

Beberapa waktu kemudian, saya bertemu satpam satunya. Dia mengatakan, “mbak yang ngasih nasi ya? Sayang kurang satu, lauknya.”
“iya pak, katanya tadi Bisa buat nasi goreng,” kata saya. 

“kalau ada lauknya, pasti habis tu, mbak.”

Saya semakin tidak enak, apalagi bapaknya mengulang2 kata ‘sayang ga ada lauknya’. 

Pokoknya serba salah rasanya. Harusnya mbungkusin (belikan lagi) lauknya. Tapi OB CS dan satpam jumlahnya kan cukup banyak. Huhuhu. 

Oiya kemarin sempat bikin survey kecil-kecilan di instastory, apakah jika ada nasi berlebih seperti itu dibawa pulang atau tidak. 63% bilang iya, 37% tidak. Yang bilang tidak ada yang mengatakan, kalau lebihan nasinya ada di bakul, nanti akan digabung dengan nasi lain untuk disajikan lagi, bukan dibuang. Hoo gitu ya, kirain bakal dibuang makanya sayang kan kalo ga dibawa pulang.

stuck for ideas

Selain iman, ternyata semangat menulis pun menanjak dan menurun. Menanjak karena waktu luang dan menurun karena kesibukan. Eh.  Apalagi ada instagram, dimana menceritakan gambar bisa lebih mudah dan simple untuk dilakukan. Namun bagaimanapun juga, bagi saya sendiri, kadang butuh ruang yang lebih sepi (sok merasa selebgram yang punya banyak follower :p) seperti di blog ini. ( Lah, kan harusnya ke Allah, lebih sunyi, lebih privasi). Hehe ya iya sih.

So, all i wanna say is i miss writing. Not for an audience, but just for myself. But again and again, i’m completely stuck for ideas, i really want to write but dont know what to write about.

Celoteh Siang

Lagi-lagi, hal yang tidak saya suka di kantor ini, adalah ‘rasan-rasannya’. Mungkin tidak hanya di kantor ini saja sih, dimanapun sepertinya ada. Tidak hanya kaum perempuan, yang lelaki pun tak luput dari kegemaran ini. Entah ngomongin atasan, rekan antar unit, pun rekan seunitnya sendiri juga. Awalnya memang terkait pekerjaan, lama-lama melebar menjadi tidak objektif lagi. Apalagi yang lain semangat menimpali, “oiya, kemarin itu juga.. bla.. bla”. Jadi deh, seperti kompor mbleduk. Udah panas, dikasih minyak, sama kayu kering. Olala.. ngomong apa sih aku.

Sudahlah, mari kita makan saja. Nyamnyam…

18 September Pagi

Engkau yg tinggal di Jakarta dan sekitarnya, pasti sudah tidak asing lagi dengan macet. Seperti sy yg tinggal di pinggiran ibukota, tiap pagi dan petang menyusuri jalanan ceger-gatot subroto. Dan seperti biasa pagi ini kami berangkat sekitar pukul 6.40. Jarak 15-17 km itu kami tempuh minimal dalam waktu 40 menit. Nahasnya, kami terjebak macet di rel Bintaro Permai. Setidaknya 15 menit kami berdiam disana. Akhirnya pasrahlah, bisa dipastikan kami telat. Continue reading “18 September Pagi”

Hei,

Hei,
Kenapa kau lancang sekali?
Kenapa kau begitu mudahnya memanasi bolanya, mengembuni lensanya, membutir keluar, menetes dan mengalir deras – tanpa seizinku?

(percakapan selintas angan, jakarta 12 september 2012)

sumber danbo dari sini