Tujuan bermedsos. Kamu yang mana?

Ora usah ngeluh neng medsos, netijen ki cuma kepo tok, ora bakal jadi solusi,”

Ndonga kok neng medsos, Gusti Allah ora medsosan,”

Pernah baca orang menulis demikian? Iya sih, mereka benar. Tapi yang mengeluh di medsos, berdoa di medsos, itu juga tidak salah. Maksudku begini. Tujuan orang menulis atau memposting apapun itu tergantung tujuan mereka.

Ada yang menulis untuk tujuan memberi informasi kepada orang lain, bagus!

Ada yang bertujuan memberikan inspirasi, keren!

Ada yang bertujuan mengingatkan akan kebaikan, joss!

Ada yang bertujuan mendokumentasikan memori, sah!

Ada yang bertujuan melatih kemampuan menulis, oke!

Ada yang bertujuan mempengaruhi, boleh!

Ada yang bertujuan untuk komunikasi dan membangun jaringan, sip!

Jika tujuannya demikian, memang penting untuk dibaca dan mendapat komentar / feed back dari pembaca.

Tapi ada juga yang bertujuan untuk self healing atau untuk menjaga kewarasannya sendiri. Dia tidak bertujuan agar orang membaca tulisannya. Dia menulis untuk dirinya sendiri. Lha kenapa kok dipublish untuk umum? Lha biar gampang kalau suatu saat lupa User login dan ingin bernostalgia dengan masa lalu. Masa’ yang seperti ini dibilang tidak bijak dalam bermedsos. Trus awakmu komentar, lha ngopo nek ngeluh kok ora marang Gusti Allah wae. Ndonga iku pasti, tapi mengusahakan cara lain juga boleh kan.

Tapi emang netijen itu sifat dasarnya memang julid sih. Yang penting ndak usah gampang baper jika dinyinyiri.

Advertisements

F.o.k.e.s

“Kowe nek tolah toleh terus tak kon nganggo kocomoto jaran, lho,” kata Pak guru SD memperingatkan saya waktu itu.

Saya terhenyak kemudian mengikuti peringatan beliau. Di zaman 90 an itu, mana ada pemahaman mengenai toleransi untuk sikap-sikap tertentu anak yang dianggap kurang disiplin. Saya pernah dilempar penghapus papan tulis blackboard gara-gara garuk-garuk kepala saat pelajaran. Tapi ya sudah, saya tidak sakit hati, orang tua juga menghormati hak bapak ibu guru dalam mendidik anak-anaknya. Dan sekarang, mengingatnya adalah tentang pengalaman untuk diceritakan.

Btw, kembali ke ‘kocomoto jaran/kacamata kuda’. Terus terang, saya waktu itu tidak paham kenapa biar diam disuruh pakai kacamata kuda. Ya karena di desa tidak ada kuda, sehingga tidak tahu fungsi dari kacamata kuda. Bertahun-tahun kemudian, ketika melihat kuda, baru ‘ooalaah ngono kuwi to’. Ternyata biar fokus, lurus menghadap depan.

Kalau dipikir-pikir, dengan fokus, banyak sekali manfaat yang bisa didapatkan :

– Selalu ingat dengan tujuan.

– Lebih cepat mencapai tujuan.

– Tidak terpedaya oleh hal tidak penting.

– Lebih mudah bersyukur dan bahagia.

Persyaratan awal sebelum bisa menjadi orang fokus dalam hidup adalah adanya tujuan/visi misi hidup. Visi misi hidupmu, opo?

Modal PNS?

“coba tebak, berapa kira-kira biaya bimbingan belajar masuk STAN paling mahal yang kita ketahui?” tanya suami.

“30?” tebak saya, dan dijawab dengan gelengan kepala.

“50?” saya menebak lagi.

“masih terlalu kecil,” jawabnya. Dan kemudian dia menyebut angka 6 kali lipat dari tebakan kedua saya, yang sukses membuat saya melongo.

Berani membayar harga begini besar untuk sebuah bimbingan belajar, pasti ada jaminan lulus atau jika tidak maka uang kembali. Fyuh.

Transaksi ini,

Buat pihak bimbel, sah saja.

Buat customer, sah saja.

Secara material, tidak ada kerugian negara.

Tidak ada unsur suap maupun korupsi.

Tapi hati saya mencelos.

Jika kemudian anak ini lulus, apa yang ingin dia dapatkan dari kuliah dengan mengeluarkan biaya bimbel ratusan juta? Pekerjaan sebagai PNS? Bagaimana dengan ‘modalnya’ yang sudah hilang? Tidakkah dia ingin pengembalian?

(tjurhaat) utang piutang

Masalah utang piutang sangat berpotensi menimbulkan konflik apabila ada kemacetan/kendala dalam pelunasannya. Apalagi jika terjadi antar saudara.

Itu juga yang terjadi dengan saya. Curhat boleh yaaa…  Ada saudara dekat yang cukup sering meminjam uang. Rata-rata 2 bulan sekali dengan nominal mencapai 6 digit. Duh, saya tau dia butuh uang dan saya ada, tapiii…rasanya gimanaaa gitu. Susaaah mau ikhlas kalau terjadi terus-terusan sementara belum pernah sekalipun dia mengembalikan.

  • Sering pinjam
  • Jumlah tidak sedikit
  • Belum pernah mengembalikan
  • Keluarga muda yang sehat wal afiat suami istri dan anak2nya
  • Belum nampak serius ikhtiar menjemput rizqinya
  • Ibadah masih entah.., bahkan Sholatnya pun jarang, hiks
  • Secara jalur kekeluargaan dekat, tapi secara emosional jauuh. Hampir tidak pernah berkomunikasi. dia menghubungi hanya kalau mau pinjam uang. Itu pun to the point, tidak pernah menanyakan kabar. Bahkan berterima kasih pun hampir tak pernah.

Astahgfirullah… bukannya ngarep di’terima kasih’ i, tapii…

Piutang terdahulu sudah diikhlaskan sih, tapi kalo lagi dan lagi ya sepet juga di hati.

Urusan utang piutang ini memang mesti kita waspadai, gengs. Awalnya memang mubah, tapi bisa mencelakakan, apalagi kalau ada unsur ribanya. Naudzubillaah.

berita

Berbicara tentang situs pemberitaan, beberapa tahun lalu, saya sempat menghilangkan situs ‘detik.com’ dari daftar situs yang akan saya buka karena menemukan berita-berita yang ditulis sekenanya saja tanpa dikroscek kebenarannya. Mungkin karena sesuai namanya, detik, dia mengejar kecepatan penayangan berita baru. Tapi kebanyakan yang ditayangkan bukan berita baru, tapi berita yang diulang-ulang dengan hanya mengangsur informasinya sedikit sedikit.

Untuk beberapa lama saya berhenti membaca berita. Hanya sesekali membuka situs republika. Namun belakangan, saya coba buka thejakartapost, sekalian belajar biar tidak semakin merontok kosakata bahasa inggrisnya yang memang tidak seberapa, hehe. Namun lagi-lagi saya merasa kecewa dengan situs berita (ini) khususnya terkait pemberitaan aksi damai 4 november kemarin. Tak satupun dia memberitakan hal positif dari peristiwa tersebut. Bahkan satu kata ‘peace’ saja tak saya temukan. Menyebut FPI sebagai hardline group dan mengutip (seolah mengiyakan) pernyataan aktivis JIL Guntur Romli yang mengatakan bahwa aksi 4 Nov hanya manuver politik di tengah pilgub DKI. Cukup. Mari dicoret saja situs ini, menyusul tayangan televisi METROTV. Dan bukankah kita ingat situs ini memang pada tahun 2014 melakukan hal yang serupa (dengan Ahok yang dibelanya) melalui karikaturnya.

Maka pilihan kembali ke republika, dan sesekali detik.com.

Ada rekomendasi lain?