Butterfly Effect (Film)

It’s has been said that something as small as the flutter of a butterfly’s wing can ultimately cause a typhoon halfway around the World (Chaos Theory).

Film bergenre psychological science fiction ini menceritakan tentang Evan. Evan, seorang anak laki-laki berumur tujuh tahun yang tinggal bersama ibunya, sering mengalami blankspot memory, beberapa menit dimana dia tidak ingat apa yang terjadi. Begitu dia sadar, hampir bisa dipastikan hal buruk terjadi.
Seorang dokter menyarankan dia untuk menulis jurnal setiap hari tentang apa yang dia lakukan.

Setelah banyak peristiwa buruk terjadi, ibunya mengajaknya pindah ke kota lain.
Selama delapan tahun setelah pindah, Evan tidak mengalami blankspot memory sama sekali.

Hingga pada suatu hari dia membaca jurnal sewaktu kecilnya, tiba-tiba membawanya kembali ke masa itu yang merupakan waktu blankspotnya (seperti time travel). Akhirnya dia mengetahui peristiwa yang terjadi saat itu. Hal yang kemudian Evan ketahui adalah dia bisa melakukan hal yang berbeda pada saat kembali ke waktu blankspotnya. Ini yang kemudian dia lakukan dengan tujuan memperbaiki beberapa kejadian.

Namun, sayangnya, setiap kali dia ingin menyelamatkan satu hal, hal lain terkorbankan. Demikian terjadi secara terus menerus seolah-olah memberitahukan bahwa : kau tidak bisa memperbaiki masa lalumu, namun kau bisa melakukan hal lebih baik untuk masa depanmu.

Seperti dikatakan Chaos Theory tentang butterfly effect. Pernah dengar kan, satu kepakan sayap kupu-kupu di Brazil dapat menyebabkan tornado di Texas. Apapun perbuatan yang kita lakukan saat ini, akan berakibat besar pada waktu selanjutnya. Maka, berhati-hatilah untuk setiap tindakanmu. Dan setelah itu, apapun yang terjadi, adalah kehendak Tuhan yang pasti baik untukmu, jangan disesali.

we can’t change the past all that we can do is try to do better in this time and future

all mistakes we have made is part of us. those which made us being like this. so dont regret it

FYI. Film ini dibuat dengan beberapa alternate ending. Jadi jika kau membaca sinopsis di Internet, bisa jadi berbeda dengan yang kau tonton.

Advertisements

Tujuan bermedsos. Kamu yang mana?

Ora usah ngeluh neng medsos, netijen ki cuma kepo tok, ora bakal jadi solusi,”

Ndonga kok neng medsos, Gusti Allah ora medsosan,”

Pernah baca orang menulis demikian? Iya sih, mereka benar. Tapi yang mengeluh di medsos, berdoa di medsos, itu juga tidak salah. Maksudku begini. Tujuan orang menulis atau memposting apapun itu tergantung tujuan mereka.

Ada yang menulis untuk tujuan memberi informasi kepada orang lain, bagus!

Ada yang bertujuan memberikan inspirasi, keren!

Ada yang bertujuan mengingatkan akan kebaikan, joss!

Ada yang bertujuan mendokumentasikan memori, sah!

Ada yang bertujuan melatih kemampuan menulis, oke!

Ada yang bertujuan mempengaruhi, boleh!

Ada yang bertujuan untuk komunikasi dan membangun jaringan, sip!

Jika tujuannya demikian, memang penting untuk dibaca dan mendapat komentar / feed back dari pembaca.

Tapi ada juga yang bertujuan untuk self healing atau untuk menjaga kewarasannya sendiri. Dia tidak bertujuan agar orang membaca tulisannya. Dia menulis untuk dirinya sendiri. Lha kenapa kok dipublish untuk umum? Lha biar gampang kalau suatu saat lupa User login dan ingin bernostalgia dengan masa lalu. Masa’ yang seperti ini dibilang tidak bijak dalam bermedsos. Trus awakmu komentar, lha ngopo nek ngeluh kok ora marang Gusti Allah wae. Ndonga iku pasti, tapi mengusahakan cara lain juga boleh kan.

Tapi emang netijen itu sifat dasarnya memang julid sih. Yang penting ndak usah gampang baper jika dinyinyiri.

Liburan ke Situ Gintung?

Setelah sekian lama tidak mendatangi situ gintung, saya penasaran bagaimana kondisinya sekarang.

Awalnya terpikir untuk ke waterpark nya, karena anak-anak pasti senang. tapi begitu membaca ulasan di google, banyak yang mengeluhkan tentang mahal dan tidak pastinya htm sementara kualitas biasa saja. Saya kemudian berubah pikiran. Akhirnya kami memutuskan untuk jalan-jalan di pinggir danau saja.

Harapannya bisa bersantai mengelilingi jalan sepanjang danau. Tapi pas tiba disana, yang dijumpai hanya kelompok-kelompok anak sekolah yang sedang berkemah dan Outbound. Bahkan tidak dijumpai pintu masuk ke pinggir danau, dipagari. Kemudian, begitu menemukan celah, kami langsung menuju danau. Tapi, di jalan pinggiran danau hanya ada motor-motor yang seliweran, seperti ojek. Ini menyebabkan keadaan tidak cukup nyaman untuk pejalan kaki.

Yaudah lah, akhirnya memutuskan keluar saja dari area Outbound dan danau. Oiya, yang saya baru tahu juga, ternyata kebun kumara, klub petani kota yang terkenal di Instagram itu, ada di area Outbound ini juga.

Begitu keluar dari area, kami memutuskan makan siang di bakso boedjangan. Tapi sulit sekali mendapatkan gocar. Mungkin karena lalu lintas di sekitar situ macet sekali. Akhirnya, kami putuskan pakai 2 gojek. Panas-panas. Sabar ya, anak-anak.

Seusai makan siang, kami pesan gocar. Karena kondisi macet, bapak driver meminta kami menuju titik tertentu, yang ternyata itu TIDAK DEKAT. Tengah hari yang terik berjalan di pinggir jalanan macet yang tidak ada trotoarnya, bersama tiga bocah, adalah ujian.

Begitu sampai di titik kesepakatan, si mobil driver malah ternampak di maps menjauh dari titik situ. Walah! Ini berujung pada pembatalan transaksi. – _-. Sabar ya anak-anak.

Begitu mencoba pesan gocar lagi, tidak ada yang mau ambil karena kondisi daerah situ (sekitar UIN Syahid) yang macet cukup parah. Menit-menit berlalu. Demi tersolusikan masalah, kami nekat menggunakan jasa gojek lagi. Dua gojek. Panas-panas. Macet. Dengan jarak yang tidak dekat untuk sampai rumah. Tapi apa boleh buat.

Diantara kami berlima, saya yang paling merasa bersalah. Karena ide bepergian ini berasal dari saya, yang menyebabkan mereka harus berlibur yang

tidak sesuai ekspektasi, dan malah berlelah-lelah seperti ini.

But, ternyata anak-anak itu tidak demikian. Mereka enjoy aja tuh. Hahaha. Masyaallah, barakallahu lakum, Le. Jadilah anak-anak yang kuat mental, fisik, dan terutama iman yaa. ❤️❤️❤️

Kuliah online melalui Google Classroom

Akhirnya saya memutuskan mengikuti kuliah online matrikulasi Institut Ibu Professional. Sebenarnya saya sudah lama mendengar (membaca) tentang ini dari tulisan-tulisan teman di timeline yang berseliweran di media sosial, namun baru sekarang tergerak untuk ikut.
Saya bergabung pada Batch 6 wilayah Tangerang Selatan. Pembelajaran dilakukan dengan Google Classroom. Saya cukup takjub ternyata Google sangat powerful mengembangkan berbagai fungsionalitas melalui satu akun Google, termasuk Google Classroom ini.
Ini pertama kalinya saya menggunakan Google Classroom. Pada kelas online yang sebelumnya saya ikuti, pada umumnya menggunakan chat group (seperti whatssap). Materi disampaikan di grup, dan evaluasi disubmit di Web khusus. Google Classroom ini menarik karena diskusi maupun task submit bisa dilakukan disana. Selain itu pasti ada fitur-fitur lain yang belum saya ketahui. Bismillah, semoga lancar…

Wisata Cilacap

 

Alhamdulillah, hari libur di idul fitri tahun ini (1439H / 2018 M) cukup banyak. Apalagi saya tambah cuti tahunan 2 hari jadi genap mendapat libur 2 pekan. Saya dan suami sudah sepakati bahwa lebaran ini kami hanya pulang kampung ke Cilacap, rumah orang tua dari suami. Sedangkan bapak ibu ponorogo akan datang ke Jakarta setelah syawalan (7 hari) syawal karena mereka tidak tega 3 cucunya melalui perjalanan jauh ke ponorogo. Saya sempat meyakinkan bahwa kami akan baik-baik saja di perjalanan namun mereka sudah dhawuh ya apa boleh buat.

Nah, selama 2 minggu di cilacap, kami memanfaatkan waktu untuk mengunjungi tempat-tempat wisata di sana (meskipun sebagian sudah rutin dikunjungi sebelumnya, hehe). Apa saja yang kami kunjungi, ini dia.
  1. Pantai Teluk Penyu.
    Kami kesana pagi-pagi sekali dan petugas ticketing belum ada sehingga bisa masuk free. Kalau di jam operasi, harga tiket masuk saat weekend atau libur nasional adalah 7,5 ribu rupiah. Saat kami kesana, ombak sedang besar, laut sedang pasang sehingga anak-anak hanya kami izinkan di pinggiiir pantai dan harus selalu disertai orang dewasa.
    Nafis 5th sangat menyukai bermain di air, sedangkan nawang 3th masih takut-takut dan lebih banyak bermain pasir saja. Pantai ini cukup bersih namun area pepasirannya agak sempit, sudah mepet daratan.
    Area pantai ini cukup terkenal dengan kuliner seafood nya. Jika anda penyuka seafood, jangan ragu untuk mencoba salah satu dari jejeran kedai seafood ini. Selain itu juga anda bisa membawa oleh-oleh ikan asin besar-besar yang di jual di sepanjang jalan bibir pantai.

  2. Benteng Pendem.
    Di area Pantai Teluk Penyu juga ada objek wisata Benteng Pendem. Nah untuk masuk, ada tiket sendiri, tapi saya kurang tahu harganya. Saya pernah masuk kesana 6 tahun lalu dan belum pernah lagi.
  3. Hutan Payau
    Wisata Mangrove ini terletak di kota, dekat sekali dengan rumah mertua saya. Wisata ini diformat seperti jalan beton di tengah hutan bakau membujur dari pintu masuk wisata sampai bibir perairan laut dan dermaga. Kanan jalan beton dibentuk sedemikian rupa untuk penjual makanan dan wahana di atas akar-akar bakau. Tahun lalu ketika kami kesana, lokasi wisata ini sepi dan kurang terawat. Tahun ini sepertinya sudah dilakukan pemugaran.  Ada wahana-wahana baru seperti mandi bola, jaring-jaring dll. Dibangun juga petak-petak untuk disewakan kepada penjual makanan . Rata-rata yang dijual adalah lotek sayur (mirip pecel), tahu masak (tahu dan tauge dengan bumbu kacang), olahan mie-mie instan, mendoan, dan minuman-minuman ringan. Ada juga menara seperti miniatur monas di tengah-tengah jalan beton. Jika enggan berjalan menuju ujung perairan, jangan khawatir, anda bisa naik perahu dayung. Berikut harga-harganya:

    Htm : 6.5rb
    Wahana : bayar +- 5rb
    Perahu : 3rb
    Lotek : 6rb

    Mendoan : 2rb

    Murah kan? Sayangnya, pemugaran terlihat belum optimal. Wahana sepi, sampah masih terlihat di sekitar, dan saat itu ada segerombolan ABG seenaknya menyalakan petasan di perairan sepanjang mereka berjalan. Aduh,

     

  4.  Small world Purwokerto
    Objek wisata ini terletak di Baturraden, Purwokerto. Dari rumah mertua (Cilacap), lokasi ini berjarak sekitar 60km. Kami pergi dengan angkutan online (Go-car). Selama perjalanan, lalu lintas cukup lancar. Namun begitu mendekati lokasi, macet terjadi cukup parah.
    Begitu sampai disana, kami langsung mencari tempat makan berhubung sudah masuk jam makan siang. Warung-warung makan cukup banyak tersedia. Toilet dan mushala juga tersedia. Untuk masuk kesana, HTM dihargai sebesar  20rb untuk weekend/libur nasional.

    Begitu masuk, kami disambut terik matahari yang cukup menyengat. Ini dimanfaatkan oleh pengelola wisata untuk menawarkan jasa penyewaaan payung. Meskipun kami pergi dengan tiga balita, kami tidak menyewa payung karena males bawa-bawa, hehehe. Kesalahan saya adalah saya tidak menyiapkan sunblock baik untuk saya sendiri, dan juga untuk anak-anak. Hufh, untuk pelajaran di kesempatan berikutnya.
    Yang ‘dijual’ objek wisata ini adalah spot-spot yang dibuat instagramable. Lokasi di lereng bukit mendukung landscape objek wisata. Objek utama disana adalah miniatur bangunan-bangunan di dunia, seperti tembok cina, menara eiffel, taj mahal dll, sakura dan tulip (yang sayangnya sintetis), dll. Selain itu ada spot-spot bebungaan yang vintage.
    Kesimpulannya, Objek ini sebenarnya hanya cocok untuk orang-orang yang suka berfoto, bukan untuk orang yang ingin menikmati berwisata.

    IMG_20180618_145426

  5.  Pantai Sodong
 Pantai Sodong terletak di Kecamatan Adipala, cukup jauh dari kota. Pantai ini juga dekat dengan objek wisata lain yaitu Bukit Selok,  yaitu bisa melihat view dari ketinggian. Areal pantai di sini lebih luas daripada Teluk Penyu yang sudah mepet daratan. Htm sangat terjangkau, hanya 5 ribu rupiah. Jika ingin menyewa gubuk untuk berteduh, cukup membayar 10 ribu rupiah. Lapar? jangan khawatir. Warung-warung berjajar di bibir pantai, demikian juga penjaja makanan banyak berkeliling menawarkan makanan. Untuk yang enggan ke pantai namun ingin air, juga ada kolam renang kolam renang di sekitar pantai.

kisahku untukku

Pernah, sekitar setengah tahun lalu, dengan instruksi atasan, saya mengikuti sebuah acara bedah buku yang diselenggarakan oleh instansi sebelah yang masih dalam satu naungan kementerian. Buku yang dibedah dalam acara tersebut adalah Kisah Hidupku yang ditulis oleh ‘Kick’ Andy F. Noya, dengan –tentu saja- menghadirkan penulisnya. Sebagai tambahan informasi tidak penting, jika ada undangan acara hore-hore seperti ini, selalu, atau seringnya saya lah yang diutus datang. Yaa, setidaknya itu bisa menggambarkan bagaimana saya sebenarnya dalam dunia nyata. Hore-hore. -_-

Saya bukan ingin menceritakan tentang Bung Andy atau bukunya. Hanya, mau mencomot sedikit. Waktu itu Bung Andy mengatakan bahwa beliau sebenarnya gundah ketika menerbitkan buku tentang kisah hidupnya itu. Banyak aib masa lalunya yang sangat sedikit orang yang mengetahuinya, yang ia ceritakan dalam bukunya. Namun sebagai seorang jurnalis, ia berprinsip seorang jurnalis harus jujur.

Nah sebenarnya kegundahan ini juga terjadi pada saya (padahal sopo aku, wkwk). Yang saya tulis-tulis di blog selama ini tentu saja sudah saya filter dulu (pencitraan, :p). Namun sebenarnya ada keinginan untuk menuliskan semuanya, termasuk keburukan-keburukan saya, sebagai pengingat agar tidak sampai terulang keburukan yang sama. Hmms, tapi bukankah semestinya jika Allah sudah menutup aib kita, semestinya kita tidak mengumbarnya. Terdengar bisikan, yowis ditulis di buku diary aja, atau di simpan saja di komputer/storage dan dipassword atau visibiliti blognya dibuat password protected aja. Tapi,

membincang passion 

​Suatu ketika, dalam suatu kesempatan pagi santai, seorang kepala seksi di tempat saya bekerja membicarakan  tentang passion. 

“Tidak sedikit orang-orang di Indonesia memilih jenjang pendidikan untuk menyenangkan orangtuanya, bukan karena passionnya di bidang itu”.

Lantas saya nyeletuk, bagaimana kalau orang tidak menemukan passion, pak? 

“Ah tidak mungkin. Setiap yang terlahir, setiap yang diciptakan didunia ini pasti sudah dibekali sesuatu dari sononya. Masalahnya orang yang dibekali itu sadar atau tidak dengan bekalnya, dibuka tidak bekalnya”. 

Saya masih merenung. Entahlah, hidup sudah setua ini, saya malah seperti lupa memikirkan passion saya. Gemar ini itu sekedarnya saja. Pun jika ditanya keterampilan atau keahlian, saya tidak menemukan jawaban. Saya sungguh merasa hanya seperti buih yang bertebaran di lautan. Halah. Lebih-lebih, si bocah-bocah kecil sangat cukup menyita ruang perenungan daripada passion saya sendiri. 

“Ya kalau sampai saat ini masih gagal menemukan passion, paling tidak anak-anak nya dikenali dari kecil, kecenderungannya apa dan diarahkan,” lanjut beliau seperti membaca lamunan saya.

berburu buku murah

Im not a bookaholic and i know i dont need to buy book rite now, but what if IT’S ON SALE FOR 5K?

Dua hari ini, bos-bos dan rekan2 kantor ada acara workshop di luar kantor, jadi tinggal 3 orang saja di subdit. Jelang istirahat, teman saya mengajak ke Gramedia di Neo Soho Mall yang katanya sedang diskon menjadi 5 ribuan. Mengingat jarak yang sepertinya tidak begitu jauh, kami kesana. Setelah tiba disana dan plonga-plongo masuk mall baru, akhirnya kami temukan Gramedia yang ternyata tempatnya begitu kecil di dalam tempat mewah dan lega ini.

Rencananya, saya fokus mencari buku buat anak-anak. Sayangnya, buku anak yang nampak hanya sedikit, sudah kusam dan rusak. Mungkin  dulunya digunakan untuk display. Novel-novel cukup banyak meskipun saya banyak yang tidak familiar sama penulisnya (hihi, lagian gw tau sapa seh). Setelah cukup pusing memilih dan memilih, akhirnya hanya 5 buku dibawah ini saja yang dibawa (sebenarnya kurang worth it dibandingkan lelahnya, apalagi setelah nanti mengetahui bagaimana cerita balik ke kantornya. Tapi gakpapalah, pengalaman, ga usah kejar-kejar diskonan buku :D). And here they are :

img_20161130_155456_1480503223355

  1. Serendipity oleh Merry Maeta Sari Saya tertarik dari novel ini dari sinopsisnya. Dan sepertinya ini buku terpuas-yang-saya-beli disana. *riweuh ngomongnya
  2. Jendela oleh Joe Andrianus dkk, yang covernya menarik hati. Salahnya saya adalah, saya buka review2nya (yang rata-rata kurang puas) sekembali dari Gramedia dan sebelum saya baca bukunya. -_- kan jadi males baca.
  3. Mencari senyum sang Nabi oleh Miftah F. Rakhmat. Entahlah apa yang membuat saya mencomot buku ini, sepertinya karena sekilas sinopsisnya menyebut Persia dan Andalusia. Daaaan, saya baru sadar bahwa penulisnya ini adalah anaknya Jalaludin Rakhmat. #tepokjidat.#njukpiye #diwocora
  4. Pelihara rambutmu ala Rasul oleh Herlina S. Hanya ada satu buku yang saya temukan untuk jenis ini. Sayang sekali, padahal bagus.
  5. Planes, Fires and Rescue. Anak-anak pasti suka dengan gambar-gambarnya.

Sekian cerita tentang buku murah bulan ini. Semoga lain kali lebih rajin baca bukunya, bukan hanya belanja buku.

[Book Review] Pengen Jadi Baik 3

IMG-20160825-WA0001

Judul                   : Pengen Jadi Baik 3

Penulis                 : Squ

Penerbit               : Self Publishing

Genre                  : Komik Islami

Tebal Halaman    : 160 hlm.

Tahun Terbit        : 2016

Saya menyelesaikan membaca Pengen Jadi Baik 1 (PJB 1) sekitar dua tahun yang lalu dan PJB2 kira-kira setengah tahun lalu. Dan, langsung menunggu-nunggu komik selanjutnya terbit. Tulisannya ringan tapi tepat ‘kena’ banget karena memang menceritakan kehidupan sehari-hari.

PJB 3, masih senada dengan dua pendahulunya,  menceritakan kehidupan sehari-hari Penulis (Abah –yang  sehari-hari bekerja di instansi pemerintah), istri nya (Mama K), dan putranya (K). Pesan yang disisipkan ke komik ini diantaranya mengenai sunnah-sunnah Rasul saw, bagaimana berperilaku dan berinteraksi dengan orang lain dalam ajaran Islam yang ditulis dengan bahasa yang ringan.Tidak ada penghakiman.  Tidak ada kesan menggurui. Sisi lucu lebih terasa dengan gambar yang ekspresif. Haha. Memang semua komik ekspresif kali ya (#jarangbacakomik). Yup, kekuatan visual. Anak saya (3 tahun) senang sekali membaca komik yang memang cocok untuk semua rentang usia ini. Ya tentunya definisi membaca-nya berbeda dengan definisi umumnya, haha.

Satu bagian favorit saya, yang saya berharap kelak akan mampu melakukannya, adalah

itu sebabnya bagi orangtua harus rajin bertanya tentang sholat anaknya. Misal si anak baru pulang diajak bepergian ama tantenya tanpa kita, atau baru pulang dari kemah jambore pramuka. Maka yang kita tanyakan dulu adalah “Gimana shalatnya tadi?”. Bukan tanya yang lain dulu :”Gimana acaranya tadi, seru gak? Rame gak?”

…Semoga bisa demikian. Aamiin.

Beberapa bagian dibuat sebagai selingan saja tanpa ada pesan yang disampaikan. Selain itu, bagian tentang ‘membunuh tikus’ agak boros halaman. Saya kira bagian itu bisa dipersingkat stripnya. Satu lagi, mungkin perlu dipertimbangkan menggunakan editor selain Penulis sendiri.

Overall, komik ini asik. I would definitely recommend it to you.

[Book Review] Mudah-Mudahan Jadi Baik

Judul                     : Mudah-mudahan Jadi Baik

Penulis                 : Tim Edubuku

Penerbit              : PT Vindra Sushantco Putra

Genre                   : Novel Komedi

Tebal halaman   : 172 hlm.

Terbit                    : Juni 2016

ISBN                      : 978-602-72896-1-1

CAM02500

Pertama kali mengetahui buku ini pikiran langsung tertuju pada komik Pengen Jadi Baik. Kok mirip ya. Jadi penasaran. Bedanya ini berbentuk novel. Novel komedi yang diselingi komik strip di antarbabnya. Dan ternyata penulis maupun penerbitnya juga beda, tidak ada sangkutpautnya.

Ada tiga tokoh yang diceritakan novel ini. Andri (yang digambarkan jorok dan pemalas), Zaki (si alim yang culun), dan Ustadz Aziz (ustadz gaul). Meskipun ketiga tokoh digambarkan memiliki karakter khas yang tajam, namun sayangnya mereka diwakili gaya berbahasa yang serupa dan selera humor yang senada  (Ya bisa jadi karena dekatnya hubungan mereka, sifat-sifatnya jadi nular, hehe).

Kocak, itu yang paling saya tangkap dari novel ini. Imaginatif sekali penulisnya. Saking imajinatifnya, kadang terasa agak berlebihan khayalannya. Novel banyak dibumbui imajinasi hiperbolis yang absurd (Yaiya, namanya juga imajinasi wajarlah kalau hiperbolis dan absurd). Asyik dan menyenangkan meski lama-lama jadi agak jenuh karena kenyang absurdnya. Namun jujur, saya berhasil dibuat beberapa kali tertawa.

Pesan-pesan yang ingin disampaikan lebih mengarah ke remaja dan tren yang terjadi masa kini. Nampak jelas dari temanya yang tidak jauh-jauh dari move on, galau, baper, sahabat, instagram, fenomena hijab syar’i dan lain-lain.

Zaki kemudian bergegas ke kamarnya, mengambil jas yang jarang sekali dia pakai. Jas pemberian ayahnya yang hanya dia pakai di acara-acara spesial. Terakhir dia memakainya ketika acara syukuran anak tetangga kos yang sudah bisa tengkurep.

Bagian ini, kesannya seperti melucu, tapi yang saya tangkap adalah sindiran. Hehe, maklum emak baper. #eh.

Secara penulisan, saya masih menemukan beberapa kesalahan. Seperti misalnya yang seharusnya ditulis Andri tapi ditulis Zaki, dan penggunaan tanda baca juga beberapa masih ada keluputan penyuntingan.

Untuk hiburan disaat jenuh, novel komedi ini pas.