kisahku untukku

Pernah, sekitar setengah tahun lalu, dengan instruksi atasan, saya mengikuti sebuah acara bedah buku yang diselenggarakan oleh instansi sebelah yang masih dalam satu naungan kementerian. Buku yang dibedah dalam acara tersebut adalah Kisah Hidupku yang ditulis oleh ‘Kick’ Andy F. Noya, dengan –tentu saja- menghadirkan penulisnya. Sebagai tambahan informasi tidak penting, jika ada undangan acara hore-hore seperti ini, selalu, atau seringnya saya lah yang diutus datang. Yaa, setidaknya itu bisa menggambarkan bagaimana saya sebenarnya dalam dunia nyata. Hore-hore. -_-

Saya bukan ingin menceritakan tentang Bung Andy atau bukunya. Hanya, mau mencomot sedikit. Waktu itu Bung Andy mengatakan bahwa beliau sebenarnya gundah ketika menerbitkan buku tentang kisah hidupnya itu. Banyak aib masa lalunya yang sangat sedikit orang yang mengetahuinya, yang ia ceritakan dalam bukunya. Namun sebagai seorang jurnalis, ia berprinsip seorang jurnalis harus jujur.

Nah sebenarnya kegundahan ini juga terjadi pada saya (padahal sopo aku, wkwk). Yang saya tulis-tulis di blog selama ini tentu saja sudah saya filter dulu (pencitraan, :p). Namun sebenarnya ada keinginan untuk menuliskan semuanya, termasuk keburukan-keburukan saya, sebagai pengingat agar tidak sampai terulang keburukan yang sama. Hmms, tapi bukankah semestinya jika Allah sudah menutup aib kita, semestinya kita tidak mengumbarnya. Terdengar bisikan, yowis ditulis di buku diary aja, atau di simpan saja di komputer/storage dan dipassword atau visibiliti blognya dibuat password protected aja. Tapi,

Advertisements

berburu buku murah

Im not a bookaholic and i know i dont need to buy book rite now, but what if IT’S ON SALE FOR 5K?

Dua hari ini, bos-bos dan rekan2 kantor ada acara workshop di luar kantor, jadi tinggal 3 orang saja di subdit. Jelang istirahat, teman saya mengajak ke Gramedia di Neo Soho Mall yang katanya sedang diskon menjadi 5 ribuan. Mengingat jarak yang sepertinya tidak begitu jauh, kami kesana. Setelah tiba disana dan plonga-plongo masuk mall baru, akhirnya kami temukan Gramedia yang ternyata tempatnya begitu kecil di dalam tempat mewah dan lega ini.

Rencananya, saya fokus mencari buku buat anak-anak. Sayangnya, buku anak yang nampak hanya sedikit, sudah kusam dan rusak. Mungkin  dulunya digunakan untuk display. Novel-novel cukup banyak meskipun saya banyak yang tidak familiar sama penulisnya (hihi, lagian gw tau sapa seh). Setelah cukup pusing memilih dan memilih, akhirnya hanya 5 buku dibawah ini saja yang dibawa (sebenarnya kurang worth it dibandingkan lelahnya, apalagi setelah nanti mengetahui bagaimana cerita balik ke kantornya. Tapi gakpapalah, pengalaman, ga usah kejar-kejar diskonan buku :D). And here they are :

img_20161130_155456_1480503223355

  1. Serendipity oleh Merry Maeta Sari Saya tertarik dari novel ini dari sinopsisnya. Dan sepertinya ini buku terpuas-yang-saya-beli disana. *riweuh ngomongnya
  2. Jendela oleh Joe Andrianus dkk, yang covernya menarik hati. Salahnya saya adalah, saya buka review2nya (yang rata-rata kurang puas) sekembali dari Gramedia dan sebelum saya baca bukunya. -_- kan jadi males baca.
  3. Mencari senyum sang Nabi oleh Miftah F. Rakhmat. Entahlah apa yang membuat saya mencomot buku ini, sepertinya karena sekilas sinopsisnya menyebut Persia dan Andalusia. Daaaan, saya baru sadar bahwa penulisnya ini adalah anaknya Jalaludin Rakhmat. #tepokjidat.#njukpiye #diwocora
  4. Pelihara rambutmu ala Rasul oleh Herlina S. Hanya ada satu buku yang saya temukan untuk jenis ini. Sayang sekali, padahal bagus.
  5. Planes, Fires and Rescue. Anak-anak pasti suka dengan gambar-gambarnya.

Sekian cerita tentang buku murah bulan ini. Semoga lain kali lebih rajin baca bukunya, bukan hanya belanja buku.

[Book Review] Pengen Jadi Baik 3

IMG-20160825-WA0001

Judul                   : Pengen Jadi Baik 3

Penulis                 : Squ

Penerbit               : Self Publishing

Genre                  : Komik Islami

Tebal Halaman    : 160 hlm.

Tahun Terbit        : 2016

Saya menyelesaikan membaca Pengen Jadi Baik 1 (PJB 1) sekitar dua tahun yang lalu dan PJB2 kira-kira setengah tahun lalu. Dan, langsung menunggu-nunggu komik selanjutnya terbit. Tulisannya ringan tapi tepat ‘kena’ banget karena memang menceritakan kehidupan sehari-hari.

PJB 3, masih senada dengan dua pendahulunya,  menceritakan kehidupan sehari-hari Penulis (Abah –yang  sehari-hari bekerja di instansi pemerintah), istri nya (Mama K), dan putranya (K). Pesan yang disisipkan ke komik ini diantaranya mengenai sunnah-sunnah Rasul saw, bagaimana berperilaku dan berinteraksi dengan orang lain dalam ajaran Islam yang ditulis dengan bahasa yang ringan.Tidak ada penghakiman.  Tidak ada kesan menggurui. Sisi lucu lebih terasa dengan gambar yang ekspresif. Haha. Memang semua komik ekspresif kali ya (#jarangbacakomik). Yup, kekuatan visual. Anak saya (3 tahun) senang sekali membaca komik yang memang cocok untuk semua rentang usia ini. Ya tentunya definisi membaca-nya berbeda dengan definisi umumnya, haha.

Satu bagian favorit saya, yang saya berharap kelak akan mampu melakukannya, adalah

itu sebabnya bagi orangtua harus rajin bertanya tentang sholat anaknya. Misal si anak baru pulang diajak bepergian ama tantenya tanpa kita, atau baru pulang dari kemah jambore pramuka. Maka yang kita tanyakan dulu adalah “Gimana shalatnya tadi?”. Bukan tanya yang lain dulu :”Gimana acaranya tadi, seru gak? Rame gak?”

…Semoga bisa demikian. Aamiin.

Beberapa bagian dibuat sebagai selingan saja tanpa ada pesan yang disampaikan. Selain itu, bagian tentang ‘membunuh tikus’ agak boros halaman. Saya kira bagian itu bisa dipersingkat stripnya. Satu lagi, mungkin perlu dipertimbangkan menggunakan editor selain Penulis sendiri.

Overall, komik ini asik. I would definitely recommend it to you.

[Book Review] Mudah-Mudahan Jadi Baik

Judul                     : Mudah-mudahan Jadi Baik

Penulis                 : Tim Edubuku

Penerbit              : PT Vindra Sushantco Putra

Genre                   : Novel Komedi

Tebal halaman   : 172 hlm.

Terbit                    : Juni 2016

ISBN                      : 978-602-72896-1-1

CAM02500

Pertama kali mengetahui buku ini pikiran langsung tertuju pada komik Pengen Jadi Baik. Kok mirip ya. Jadi penasaran. Bedanya ini berbentuk novel. Novel komedi yang diselingi komik strip di antarbabnya. Dan ternyata penulis maupun penerbitnya juga beda, tidak ada sangkutpautnya.

Ada tiga tokoh yang diceritakan novel ini. Andri (yang digambarkan jorok dan pemalas), Zaki (si alim yang culun), dan Ustadz Aziz (ustadz gaul). Meskipun ketiga tokoh digambarkan memiliki karakter khas yang tajam, namun sayangnya mereka diwakili gaya berbahasa yang serupa dan selera humor yang senada  (Ya bisa jadi karena dekatnya hubungan mereka, sifat-sifatnya jadi nular, hehe).

Kocak, itu yang paling saya tangkap dari novel ini. Imaginatif sekali penulisnya. Saking imajinatifnya, kadang terasa agak berlebihan khayalannya. Novel banyak dibumbui imajinasi hiperbolis yang absurd (Yaiya, namanya juga imajinasi wajarlah kalau hiperbolis dan absurd). Asyik dan menyenangkan meski lama-lama jadi agak jenuh karena kenyang absurdnya. Namun jujur, saya berhasil dibuat beberapa kali tertawa.

Pesan-pesan yang ingin disampaikan lebih mengarah ke remaja dan tren yang terjadi masa kini. Nampak jelas dari temanya yang tidak jauh-jauh dari move on, galau, baper, sahabat, instagram, fenomena hijab syar’i dan lain-lain.

Zaki kemudian bergegas ke kamarnya, mengambil jas yang jarang sekali dia pakai. Jas pemberian ayahnya yang hanya dia pakai di acara-acara spesial. Terakhir dia memakainya ketika acara syukuran anak tetangga kos yang sudah bisa tengkurep.

Bagian ini, kesannya seperti melucu, tapi yang saya tangkap adalah sindiran. Hehe, maklum emak baper. #eh.

Secara penulisan, saya masih menemukan beberapa kesalahan. Seperti misalnya yang seharusnya ditulis Andri tapi ditulis Zaki, dan penggunaan tanda baca juga beberapa masih ada keluputan penyuntingan.

Untuk hiburan disaat jenuh, novel komedi ini pas.

[Ulasan] Kembali ke Titik Nol

Judul Buku : Kembali ke Titik Nol

Penulis : Saptuari Sugiharto

Penerbit : Delta SaputraCAM02395

Buku ini, seperti tag line-nya, berisi kisah-kisah inspiratif perjuangan para pengusaha membebaskan diri dari jeratan riba. Jika Anda bergabung di Grup Facebook Belajar Wirausaha Bareng Saptuari dan mengikuti update-nya, maka Anda mungkin telah membaca beberapa kisah yang  dituliskan dalam buku ini. Namun itu tidak membuat ‘membeli dan membaca’ buku ini tidak menjadi worth it lagi. Saya sendiri merasakan feel yang berbeda ketika membaca apa-apa di media sosial dengan membaca langsung di bukunya.

Mas Saptuari memulai bukunya dengan menjelaskan konsep rezeki melalui ilustrasi sederhana, “dikejar malah lari, udah pasrah malah datang sendiri”. Dalam Al-Qur’an, hal rezeki ini dikemas dalam empat konsep.

  • Rezeki yang dijamin
  • Rezeki yang diusahakan
  • Rezeki yang digantung
  • Rezeki yang dijanjikan

Rezeki yang mana yang masing-masing kita dapatkan?

Selanjutnya, seperti yang saya katakan di awal, di hampir keseluruhan isi buku, Mas Saptuari menyajikan berbagai kisah perjuangan orang-orang yang ingin terbebas dari jeratan riba.

Jangan menanyakan masalah editing atau kaidah bahasa dalam penulisan buku ini. Tulisan sebanyak lebih dari 270 halaman ini ditulis dalam bahasa ‘bicara’ Mas Saptuari yang ringan (meskipun saya sendiri belum pernah melihatnya bicara) yang sepertinya tanpa melalui proses editing, hehe. Membacanya membuat saya membayangkan seperti mendengarkan seseorang dengan tubuh gendut (hehe, maaf, beliau sendiri yang bilang) sedang ngomong ceplas-ceplos muncu-muncu campur boso jowo sambil sesekali gebrak meja atau beraksi seperti seorang pesilat yang selesai menjatuhkan lawannya dengan jurus pamungkas terakhirnya.  Ciyaaaat, bletak! Sesuai dengan tujuannya untuk meledakkan semangat pembacanya.

Maka ringkasnya, empat kata untuk menggambarkan pesan yang ingin disampaikan Mas Saptuari dalam buku ini adalah : antiriba, taubat, usaha, sedekah.

Namun ada hal kecil yang agak mengusik saya. Sungguh ini saya harapkan sebagai pengingat diri saya bahwa ketika saya berniat bersungguh-sungguh meninggalkan riba, maka semata-mata karena ingin mendapatkan ridha Allah, takut Allah murka. Bukan karena ingin sekedar membuktikan janji-Nya, matematika-Nya. Banyak kisah dalam buku ini menceritakan mengenai orang yang bertaubat dari riba, kemudian memulai usahanya dari nol, dan kemudian menjadi sukses. Atau cerita mengenai orang yang sedekah, dan tiba-tiba ada rezeki yang datang dari arah yang tidak terduga. In my humble humble opinion, kalau mau meninggalkan riba, kalau mau sedekah, lakukan saja tanpa mengharap-harapkan balasanNya. Yakin Allah akan membalasnya. Tapi dalam bentuk apa, kita tak pernah tahu. Ini bukan masalah kisah yang ditulis dalam buku lo ya, tapi masalah interpretasi pembaca. Saya yakin, untuk bisa kembali survive (atau mendapatkan kebaikan) setelah meninggalkan riba, perjuangan yang dilakukan berdarah-darah. Tidak sesederhana apa yang terbaca oleh kita dari buku tersebut. Jadi jangan sampai kita kecewa kalau dengan riba yang kita tinggalkan, sedekah yang kita lakukan, kita belum mendapatkan yang kita inginkan.

Disclaimer : tulisan ini semata-mata ulasan atas buku. Penulis ulasan ini belum lepas dari hutang dan riba. Usaha yang dilakukan untuk terbebas dari riba juga belum nampak keras.

[sedikit riviu] And The Mountains Echoed

And the Mountains EchoedAnd the Mountains Echoed by Khaled Hosseini
My rating: 4 of 5 stars

mumpung cuti, mau ngeriviu secara singkat And the mountains echoed nya Khaled Hosseini. Ini buku ketiga Khaled setelah The Kite Runner dan A Thousand Splendid Suns. ceritanya saya dapet buku ini sebagai hadiah hiburan nominator reviewer The kite runner yg diadain humas kantor.

Dibandingkan dg buku kedua, saya lebih menyukai buku ketiga ini. bisajadi dibandingkan yg pertama ini juga lebih bagus. tp karena efek merasa something nya kena di yg pertama, jadi saya kasih rate nya lebih tinggi yg pertama.

buku ketiga ini kompleks, benar benar kompleks. saya tidak tau bagaimana Khaled bisa menyusun sesuatu yang besar dengan detil detil kecil yg terangkai sempurna. ketika baca saya sempat.berfikir ngapain bumbu bumbu gini didetailin. oo ternyata memang ada kaitannya dengan cerita selanjutnya. juga tokoh tokoh ceritanya diberi kesempatan menjadi naratornya, menjadi pengambil sudut pandang. ini saya suka sekali. dengan gaya alur majuuuu kemudian mundur sedikit, majuuu lagi mundur sedikit. dia menceritakan kehidupan sampai 3 generasi tanpa membuat saya bosan, tanpa membuat saya merasa dia melompati masa (walaupun sebenarnya ada yg melompat ). dan yang pasti, hubungan kakak adik Abdullah-pari sedemikian manisnya. emm saya agak sensitif isu ini *abaikan. pokoknya buku ini recommended. great! !!

View all my reviews

Reviu The Kite Runner

The Kite RunnerThe Kite Runner by Khaled Hosseini
My rating: 5 of 5 stars

Untukmu, keseribu kalinya. Kata-kata super ini selalu dibisikkan Hassan, si pengejar layang-layang berbibir sumbing, kepada Amir. Dari kalimat ini kita sudah bisa menyimpulkan garis besar isi novel ini yaitu tentang loyalitas. Dan dalam hal ini loyalitas kepada sahabat. Loyalitas Hassan si Hazara kepada Amir, sahabatnya, si Pashtun. Continue reading “Reviu The Kite Runner”

Ke IBF Tahun Ini, 2013

IBF, Islamic Book Fair, pada tahun ini digelar pada tanggal 1-10 Maret 2013. Saya menyempatkan datang kesana bersama suami di penghujung tanggalnya, seusai menghadiri walimah kawan. Kalau tahun lalu sebelum berangkat saya sudah menyiapkan list to buy-nya, tapi tahun ini tidak. Pun tidak sesemangat dulu menyusuri tiap stand. Kali ini datang, menyusup-nyusup di padatnya pengunjung, melihat satu dua buku yang menarik, membelinya, sebentar menyempatkan duduk di tribun mendengarkan sepatah dua patah kata di talk show sambil melepas lelah, kemudian pulang.

DSC_0566

Ini dia buku-buku yang berhasil dibawa pulang:

1. Rinai – Sinta Yudisia. Sempat menimang-nimang ‘Rose’nya, tapi kemudian menjatuhkan pilihan ke ‘Rinai’ lantaran menangkap sepatah kata ‘Gaza’.

2. De Winst -Afifah Afra.

3. Sirah 60 Sahabat Rasulullah Saw -Khalid Muhammad Khalid

4. Suka duka Hidup di Australia (lupa pengarangnya). Yang ini pilihan suami. Satu langkah awal dalam rangka membuat keinginan beliau kuliah disana menjadi lebih nyata. 😀

Semoga buku-buku ini tidak bernasib sama seperti beberapa buku sebelumnya yang masih tergantung-gantung di daftar currently reading belum selesai-selesai 🙂

IMG-20130310-WA0000

Meskipun bacaannya sebagian besar masih bacaan fiksi, tapi tak apa lah… Semangaaatt membacaaa!!!

 

Sulam Pita

Baru-baru ini, selain tertarik dengan hal masak memasak, saya juga tertarik dengan sulam pita. Cantik sekali kelihatannya. Maka kemudian saya coba browsing, sepertinya tidak sulit. Alat dan bahan yang diperlukan bisa saya dapatkan di Omura, toko asesoris jahit menjahit yang terletak di seberang gerbang PJMI dari Ceger, diantaranya berupa:

  1. Jarum. Gunakan jarum yang besar, khusus jarum pita, ujungnya sedikit tumpul.
  2. Pemidangan
  3. Pita organdi
  4. Pita satin
  5. Benang sulam
  6. Manik manic
  7. Gunting
  8. Pensil, jarum pentul (sebagai alat bantu saja)

Untuk melancarkan ‘pepengenan’ tersebut, saya pun membeli sebuah buku panduan sulam pita dari internet.

Memang tidak terlalu sulit, tapi membutuhkan kesabaran dan ketelatenan. Dan saya, agak mulai bosan padahal baru dua  benda yang saya jadikan percobaan, yaitu jilbab. Haha, pepengennya hanya hangat-hangat t*hi ayam. Padahal sebelumnya saya sudah membayangkan akan memodifikasi jilbab, baju, dan tas-tas menjadi cantik >,<.

Dan ini dia, terereng……….. Setidaknya minimal dua jam dihabiskan untuk menyelesaikan masing-masingnya.. Haha.

DSC_0566

DSC_0577

 

Nasi Megono

Belum lebih dari hitungan bulan saya mendengar namanya, nasi megono. Kira-kira dua pekanan yang lalu lah. Waktu itu saya sedang belanja sayur-mayur dan bumbu-bumbu untuk dimasak. Iya, untuk dimasak. Kenapa terlihat kaget? 😀 Saya sendiri agak heran. Sejak saya mulai sedikit gak doyan makan, saya hanya merasa tertarik dengan masakan sendiri. Meskipun saya tau itu tidak lebih enak daripada makanan di luaran.

Oke, kembali ke ‘nasi megono’. Waktu belanja di Ponsaf itu, memperhitungkan kecepatan memasak saya yang tidak cukup mengimbangi kecepatan laparnya perut suami  :p, mata kemudian menumbuk ke arah sebuah gerobak yang kemudian saya perhatikan, menjual nasi. Begitulah awal mula perkenalan saya dengan nasi megono. Dan hari-hari berikutnya, setidaknya dalam 3 hari sekali, saya beli sarapan disana.

Nasi megono ini cukup unik. Nasinya sendiri tidak dimasak dengan penanak magis, tapi diliwet. Liwet itu cara memasak nasi dengan, ehm semacam direbus dengan membiarkan airnya sampai kering, diaduk sebentar saja, dengan api kecil sampai nasi tanak. Kadang-kadang ditambahin garam, daun salam, sama serai. Tapi yang di Ponsaf ini sepertinya tidak ditambah apa-apa. Sepertinya habis diliwet, ditanak, seperti dikukus soalnya bulirbulirnya terlihat nyata. *sok teu dan tak jelas mendeskripsi

Sedangkan sayurnya, rata-rata berupa urap. Kadang urap nangka, kadang urap genjer, kadang oncom. Oiya, mengenai urap genjer ini, awalnya saya kira urap kangkung. Tapi saya perhatikan, diujungnya ada kuncup-kuncup hijau membulat. Jangan-jangan eceng gondok, tapi.. mungkin temannya, genjer. Penasaran kemudian saya googling gambar genjer, eh ternyata benar.. Genjer genjer, neng ledokan pating keleler… Genjer genjer… Saya jadi inget tembang entu.

Satu lagi yang tak kalah menarik, sambelnya.. Wuuuhhh… bagi Anda penikmat pedas, luarrr biasa pedasnya, tapi enak. Dan disini, untuk mendapatkan seporsi nasi megono (nasi + urap + sambel) plus dua potong gorengan, Anda cukup membayar Rp 4000 saja. Murah bukan? Selamat mencoba.

Ini ada gambarnya yang saya ambil pas udah mau habis dimakan :p

Nasi Megono