berburu buku murah

Im not a bookaholic and i know i dont need to buy book rite now, but what if IT’S ON SALE FOR 5K?

Dua hari ini, bos-bos dan rekan2 kantor ada acara workshop di luar kantor, jadi tinggal 3 orang saja di subdit. Jelang istirahat, teman saya mengajak ke Gramedia di Neo Soho Mall yang katanya sedang diskon menjadi 5 ribuan. Mengingat jarak yang sepertinya tidak begitu jauh, kami kesana. Setelah tiba disana dan plonga-plongo masuk mall baru, akhirnya kami temukan Gramedia yang ternyata tempatnya begitu kecil di dalam tempat mewah dan lega ini.

Rencananya, saya fokus mencari buku buat anak-anak. Sayangnya, buku anak yang nampak hanya sedikit, sudah kusam dan rusak. Mungkin  dulunya digunakan untuk display. Novel-novel cukup banyak meskipun saya banyak yang tidak familiar sama penulisnya (hihi, lagian gw tau sapa seh). Setelah cukup pusing memilih dan memilih, akhirnya hanya 5 buku dibawah ini saja yang dibawa (sebenarnya kurang worth it dibandingkan lelahnya, apalagi setelah nanti mengetahui bagaimana cerita balik ke kantornya. Tapi gakpapalah, pengalaman, ga usah kejar-kejar diskonan buku :D). And here they are :

img_20161130_155456_1480503223355

  1. Serendipity oleh Merry Maeta Sari Saya tertarik dari novel ini dari sinopsisnya. Dan sepertinya ini buku terpuas-yang-saya-beli disana. *riweuh ngomongnya
  2. Jendela oleh Joe Andrianus dkk, yang covernya menarik hati. Salahnya saya adalah, saya buka review2nya (yang rata-rata kurang puas) sekembali dari Gramedia dan sebelum saya baca bukunya. -_- kan jadi males baca.
  3. Mencari senyum sang Nabi oleh Miftah F. Rakhmat. Entahlah apa yang membuat saya mencomot buku ini, sepertinya karena sekilas sinopsisnya menyebut Persia dan Andalusia. Daaaan, saya baru sadar bahwa penulisnya ini adalah anaknya Jalaludin Rakhmat. #tepokjidat.#njukpiye #diwocora
  4. Pelihara rambutmu ala Rasul oleh Herlina S. Hanya ada satu buku yang saya temukan untuk jenis ini. Sayang sekali, padahal bagus.
  5. Planes, Fires and Rescue. Anak-anak pasti suka dengan gambar-gambarnya.

Sekian cerita tentang buku murah bulan ini. Semoga lain kali lebih rajin baca bukunya, bukan hanya belanja buku.

Advertisements

[Book Review] Pengen Jadi Baik 3

IMG-20160825-WA0001

Judul                   : Pengen Jadi Baik 3

Penulis                 : Squ

Penerbit               : Self Publishing

Genre                  : Komik Islami

Tebal Halaman    : 160 hlm.

Tahun Terbit        : 2016

Saya menyelesaikan membaca Pengen Jadi Baik 1 (PJB 1) sekitar dua tahun yang lalu dan PJB2 kira-kira setengah tahun lalu. Dan, langsung menunggu-nunggu komik selanjutnya terbit. Tulisannya ringan tapi tepat ‘kena’ banget karena memang menceritakan kehidupan sehari-hari.

PJB 3, masih senada dengan dua pendahulunya,  menceritakan kehidupan sehari-hari Penulis (Abah –yang  sehari-hari bekerja di instansi pemerintah), istri nya (Mama K), dan putranya (K). Pesan yang disisipkan ke komik ini diantaranya mengenai sunnah-sunnah Rasul saw, bagaimana berperilaku dan berinteraksi dengan orang lain dalam ajaran Islam yang ditulis dengan bahasa yang ringan.Tidak ada penghakiman.  Tidak ada kesan menggurui. Sisi lucu lebih terasa dengan gambar yang ekspresif. Haha. Memang semua komik ekspresif kali ya (#jarangbacakomik). Yup, kekuatan visual. Anak saya (3 tahun) senang sekali membaca komik yang memang cocok untuk semua rentang usia ini. Ya tentunya definisi membaca-nya berbeda dengan definisi umumnya, haha.

Satu bagian favorit saya, yang saya berharap kelak akan mampu melakukannya, adalah

itu sebabnya bagi orangtua harus rajin bertanya tentang sholat anaknya. Misal si anak baru pulang diajak bepergian ama tantenya tanpa kita, atau baru pulang dari kemah jambore pramuka. Maka yang kita tanyakan dulu adalah “Gimana shalatnya tadi?”. Bukan tanya yang lain dulu :”Gimana acaranya tadi, seru gak? Rame gak?”

…Semoga bisa demikian. Aamiin.

Beberapa bagian dibuat sebagai selingan saja tanpa ada pesan yang disampaikan. Selain itu, bagian tentang ‘membunuh tikus’ agak boros halaman. Saya kira bagian itu bisa dipersingkat stripnya. Satu lagi, mungkin perlu dipertimbangkan menggunakan editor selain Penulis sendiri.

Overall, komik ini asik. I would definitely recommend it to you.

[Book Review] Mudah-Mudahan Jadi Baik

Judul                     : Mudah-mudahan Jadi Baik

Penulis                 : Tim Edubuku

Penerbit              : PT Vindra Sushantco Putra

Genre                   : Novel Komedi

Tebal halaman   : 172 hlm.

Terbit                    : Juni 2016

ISBN                      : 978-602-72896-1-1

CAM02500

Pertama kali mengetahui buku ini pikiran langsung tertuju pada komik Pengen Jadi Baik. Kok mirip ya. Jadi penasaran. Bedanya ini berbentuk novel. Novel komedi yang diselingi komik strip di antarbabnya. Dan ternyata penulis maupun penerbitnya juga beda, tidak ada sangkutpautnya.

Ada tiga tokoh yang diceritakan novel ini. Andri (yang digambarkan jorok dan pemalas), Zaki (si alim yang culun), dan Ustadz Aziz (ustadz gaul). Meskipun ketiga tokoh digambarkan memiliki karakter khas yang tajam, namun sayangnya mereka diwakili gaya berbahasa yang serupa dan selera humor yang senada  (Ya bisa jadi karena dekatnya hubungan mereka, sifat-sifatnya jadi nular, hehe).

Kocak, itu yang paling saya tangkap dari novel ini. Imaginatif sekali penulisnya. Saking imajinatifnya, kadang terasa agak berlebihan khayalannya. Novel banyak dibumbui imajinasi hiperbolis yang absurd (Yaiya, namanya juga imajinasi wajarlah kalau hiperbolis dan absurd). Asyik dan menyenangkan meski lama-lama jadi agak jenuh karena kenyang absurdnya. Namun jujur, saya berhasil dibuat beberapa kali tertawa.

Pesan-pesan yang ingin disampaikan lebih mengarah ke remaja dan tren yang terjadi masa kini. Nampak jelas dari temanya yang tidak jauh-jauh dari move on, galau, baper, sahabat, instagram, fenomena hijab syar’i dan lain-lain.

Zaki kemudian bergegas ke kamarnya, mengambil jas yang jarang sekali dia pakai. Jas pemberian ayahnya yang hanya dia pakai di acara-acara spesial. Terakhir dia memakainya ketika acara syukuran anak tetangga kos yang sudah bisa tengkurep.

Bagian ini, kesannya seperti melucu, tapi yang saya tangkap adalah sindiran. Hehe, maklum emak baper. #eh.

Secara penulisan, saya masih menemukan beberapa kesalahan. Seperti misalnya yang seharusnya ditulis Andri tapi ditulis Zaki, dan penggunaan tanda baca juga beberapa masih ada keluputan penyuntingan.

Untuk hiburan disaat jenuh, novel komedi ini pas.

[Ulasan] Kembali ke Titik Nol

Judul Buku : Kembali ke Titik Nol

Penulis : Saptuari Sugiharto

Penerbit : Delta SaputraCAM02395

Buku ini, seperti tag line-nya, berisi kisah-kisah inspiratif perjuangan para pengusaha membebaskan diri dari jeratan riba. Jika Anda bergabung di Grup Facebook Belajar Wirausaha Bareng Saptuari dan mengikuti update-nya, maka Anda mungkin telah membaca beberapa kisah yang  dituliskan dalam buku ini. Namun itu tidak membuat ‘membeli dan membaca’ buku ini tidak menjadi worth it lagi. Saya sendiri merasakan feel yang berbeda ketika membaca apa-apa di media sosial dengan membaca langsung di bukunya.

Mas Saptuari memulai bukunya dengan menjelaskan konsep rezeki melalui ilustrasi sederhana, “dikejar malah lari, udah pasrah malah datang sendiri”. Dalam Al-Qur’an, hal rezeki ini dikemas dalam empat konsep.

  • Rezeki yang dijamin
  • Rezeki yang diusahakan
  • Rezeki yang digantung
  • Rezeki yang dijanjikan

Rezeki yang mana yang masing-masing kita dapatkan?

Selanjutnya, seperti yang saya katakan di awal, di hampir keseluruhan isi buku, Mas Saptuari menyajikan berbagai kisah perjuangan orang-orang yang ingin terbebas dari jeratan riba.

Jangan menanyakan masalah editing atau kaidah bahasa dalam penulisan buku ini. Tulisan sebanyak lebih dari 270 halaman ini ditulis dalam bahasa ‘bicara’ Mas Saptuari yang ringan (meskipun saya sendiri belum pernah melihatnya bicara) yang sepertinya tanpa melalui proses editing, hehe. Membacanya membuat saya membayangkan seperti mendengarkan seseorang dengan tubuh gendut (hehe, maaf, beliau sendiri yang bilang) sedang ngomong ceplas-ceplos muncu-muncu campur boso jowo sambil sesekali gebrak meja atau beraksi seperti seorang pesilat yang selesai menjatuhkan lawannya dengan jurus pamungkas terakhirnya.  Ciyaaaat, bletak! Sesuai dengan tujuannya untuk meledakkan semangat pembacanya.

Maka ringkasnya, empat kata untuk menggambarkan pesan yang ingin disampaikan Mas Saptuari dalam buku ini adalah : antiriba, taubat, usaha, sedekah.

Namun ada hal kecil yang agak mengusik saya. Sungguh ini saya harapkan sebagai pengingat diri saya bahwa ketika saya berniat bersungguh-sungguh meninggalkan riba, maka semata-mata karena ingin mendapatkan ridha Allah, takut Allah murka. Bukan karena ingin sekedar membuktikan janji-Nya, matematika-Nya. Banyak kisah dalam buku ini menceritakan mengenai orang yang bertaubat dari riba, kemudian memulai usahanya dari nol, dan kemudian menjadi sukses. Atau cerita mengenai orang yang sedekah, dan tiba-tiba ada rezeki yang datang dari arah yang tidak terduga. In my humble humble opinion, kalau mau meninggalkan riba, kalau mau sedekah, lakukan saja tanpa mengharap-harapkan balasanNya. Yakin Allah akan membalasnya. Tapi dalam bentuk apa, kita tak pernah tahu. Ini bukan masalah kisah yang ditulis dalam buku lo ya, tapi masalah interpretasi pembaca. Saya yakin, untuk bisa kembali survive (atau mendapatkan kebaikan) setelah meninggalkan riba, perjuangan yang dilakukan berdarah-darah. Tidak sesederhana apa yang terbaca oleh kita dari buku tersebut. Jadi jangan sampai kita kecewa kalau dengan riba yang kita tinggalkan, sedekah yang kita lakukan, kita belum mendapatkan yang kita inginkan.

Disclaimer : tulisan ini semata-mata ulasan atas buku. Penulis ulasan ini belum lepas dari hutang dan riba. Usaha yang dilakukan untuk terbebas dari riba juga belum nampak keras.

masih jauh

rasanya keberbuncahan saya beberapa waktu lalu terlalu prematur. waktu itu saya senang melihat kemampuan menghafal surat-surat al-Qur’an nafis cukup cepat. waktu itu kukira semua akan berlanjut mulus, baik-baik saja. kukira aku akan tetap membacakan surat-surat pendek untuknya, dia menyimak (ya menyimak ala anak-anak sih), dan ketika kuminta dia melafalkan dia mau.

ternyata tidak. kebiasaan membaca surat-surat pendek menjelang tidur sudah mulai digeser dengan buku. ya dia memilih dibacakan buku. merengek-rengek tidak mau mengaji, maunya baca buku saja. baiklah, apa boleh buat. baru ketika sudah lelah baca buku, saya bacakan satu dua surat pendek.

buruknya, sekarang bertambah lagi godaannya. dia sudah bisa buka-buka hape sendiri. setiap malam minta pinjam hp, dia buka sendiri. sejauh ini dia baru bisa buka foto atau video. saya sengaja tidak menginstal game apapun ataupun aplikasi youtube. namun bukankah itu cukup membuatnya enggan membaca buku, alih-alih mengaji.

di satu sisi, adakalanya saya terbantu ketika dia sudah pegang hp, maka kesempatan menidurkan adiknya akan lebih minim gangguan. duh, buruknya mengalihkan anak ke gadget…

Reviu The Kite Runner

The Kite RunnerThe Kite Runner by Khaled Hosseini
My rating: 5 of 5 stars

Untukmu, keseribu kalinya. Kata-kata super ini selalu dibisikkan Hassan, si pengejar layang-layang berbibir sumbing, kepada Amir. Dari kalimat ini kita sudah bisa menyimpulkan garis besar isi novel ini yaitu tentang loyalitas. Dan dalam hal ini loyalitas kepada sahabat. Loyalitas Hassan si Hazara kepada Amir, sahabatnya, si Pashtun. Continue reading “Reviu The Kite Runner”

Catatan Hati Seorang Istri (Buku)

“Jika pasangan hidupmu berbuat khilaf dan berbuat salah, maka rangkullah dan segera maafkan. Jadikan dirimu tempat belahan jiwamu selalu rindu pulang, karena tahu bahwa dia akan selalu diterima dengan hati lapang”

Saya benar-benar berhenti membaca ketika mata menumbuk pada kalimat ini. Speechless. Dont know what to say. Maka benar ketika Allah menjanjikan surga bagi keridhaan tak terbatas seorang istri memaafkan kesalahan suami, yang berbakti, yang mengabdi. Saya belum lagi menyelesaikan setengah dari keseluruhan halaman buku, Catatan Hati Seorang Istri- Asma Nadia- ini, kekaguman luar biasa pada sosok-sosok bernama istri seketika menjalar ke seluruh tubuh saya. Continue reading “Catatan Hati Seorang Istri (Buku)”