(Day 1) Fokus Pada Solusi, bukan pada Masalah

Bismillah. Saya tidak bermaksud membuka aib anak sendiri. Saya hanya ingin menjadikan ini sarana pembelajaran bagi kami.

Anak-anak kami memang sudah nampak sifat pemalunya sejak kecil. Si sulung, saat ini hampir selesai TK B, artinya sudah hampir 2 tahun sekolah, pun belum berhasil mengatasi sifat malunya. Saya sempat stres. Saya merasa tak kurang kurang memotivasinya untuk lebih berani, tapi yaa saya akhirnya lebih banyak menyandarkan pada doa, dan percaya bahwa dia hanya butuh waktu.

Misalnya untuk urusan BAK di sekolah. Dulu dia beberapa kali mengompol di sekolah, karena malu minta izin ke ibu guru ke kamar kecil. Saya sudah memberi trik agar dia ke kamar kecil saat bu guru tidak di kelas. Saya juga minta bantuan ibu guru untuk mengingatkannya untuk BAK. Beberapa saat, ini berhasil. Namun tidak selamanya dia mengikuti trik itu atau ada yang mengingatkan dia, seperti hari ini.

Dia awalnya bercerita: “Bun, tadi aku mau pulang sekolah, bude rami (penjemput) belum datang, aku main perosotan.”
“Waah seru banget dong, sama temen-temen juga?”

“Iya.” jawabnya.
“Emang nafis sudah pipis?”
“Belum sih. Ngicrit. Hihi.”
Ngicrit adalah istilah kami untuk terkencing sedikit di celana. Saya berekspresi datar saja, sudah menyiapkan hati sejak lama.
“Biar ga ngicrit, nafis harusnya ngapain?” tanya saya berusaha menggali solusi dari dirinya.
“Pipis di kamar mandi.”
“Betuuul. Trus besok gimana?”
“Aku bilang bu guru kalo mau pipis trus wuss lari ke kamar mandi.”
“Nah begitu dong. Besok begitu ya?”
“Iya.” jawabnya ringan.

Sebenarnya percakapan seperti ini sudah sering terjadi, dan ya, saya harus tetap mempersiapkan hati. Tidak apa-apa, saya tidak marah, tidak menyalahkannya, dia sebenarnya sudah tahu apa yang harus dia lakukan, dia hanya butuh waktu untuk berani dan mengatasi itu semua. Dengan begini, saya lebih tenang, dia juga tidak tertekan. Bagaimana hasilnya, saya terus berdoa.

#hari1
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang

Advertisements

[Buku] Muhammad#3 : Sang Pewaris Hujan

Buku Muhammad Sang Pewaris Hujan ini adalah buku ketiga dari tetralogi Muhammad karya Tasaro GK. Saat memutuskan untuk membeli buku ketiga ini, satu-satunya ingatan yang tersisa dari membaca buku pertama dan kedua adalah : bukunya keren. Sedangkan isi ceritanya, sama sekali lupa, karena sudah berlalu hampir sepuluh tahun dari saya membacanya.

Di buku ketiga ini, saya berjumpa dengan Kashva. Sepertinya tokoh yang sama seperti pada buku sebelumnya. Kashva ini adalah seorang Persia Penganut iman Zardust murni. Latar waktu pada buku ketiga ini digambarkan pada masa pemerintahan Khalifah ‘Umar yang membebaskan negara-negara Persia dan Romawi. Dua imperium raksasa yang tak berhenti bermusuhan. Kepercayaan di Persia dikenal sebagai penyembah api, sedangkan di Romawi sebagai pengiman Kristus.

Kisah Kashva sendiri, yang tentu saja fiksi, dilakonkan menempel pada sejarah tersebut, dengan tanpa mengganggu jalan sejarah. Beberapa orang mungkin keberatan dengan cara Tasaro menuliskan sejarah biografi Nabi Muhammad dan para sahabat disertai kisah-kisah fiksi. Namun saya sama sekali tidak terganggu.

Diceritakan, Kashva pengiman Zardust adalah seorang yang ingin tahu mengenai agama-agama di dunia, terutama dengan hadirnya Nabi baru dari Arab. Dia ingin mengetahui tentang peninggalan tertulis Pendeta Bahira, perihal nabi yang dijanjikan. Dia juga bertanya-tanya, bagaimana bisa Nabi dari tanah gersang tersebut menggerakkan kekuatan yang mengalahkan dua kekuatan raksasa dunia (Persia dan kemudian Romawi Byzantium) yang sudah maju peradabannya.

Kashva pergi dari Persia bersama Xerxes (anak dari perempuan yang dicintainya, Astu) dan Mashya (Paman Xerxes). Namun entah bagaimana, Xerxes terpisah. Setelah mencari Xerxes dan belum menemukannya, Kashva pergi ke Biara di Busra (Suriah). Dia merasa pergi kesana bersama Elyas. Yang kemudian disadari adalah tidak pernah ada Elyas. Elyas adalah satu teman imajiner Kashva diantara teman-teman imajiner lain.

Di Biara Busra, Kashva disadarkan akan hal tersebut oleh Bar Nasha (Penjaga Biara). Kashva pun berencana kembali ke Persia, dan Bar Nasha hendak ke Antiokhia untuk mencari pengganti pendeta di Biaranya.

Antiokhia pun telah menyerah kepada pasukan Islam. Sebagian besar orang memilih menyerah kepada pasukan Islam karena Pasukan Islam berjanji tidak akan merusak gereja, dan tidak memaksa mereka untuk berpindah agama. Mereka hanya diminta membayar jizyah (pajak) atas keamanan. Lebih lagi, hidup di bawah keuasaan Romawi juga menyengsarakan mereka.

Setelah menguasai Antiokhia, Pasukan Islam di bawah pimpinan Amr bin Ash akan membawa pasukannya ke Palestina (Jerussalem). Maka, Kahva dan Bar Nasha pun mengurungkan niat untuk kembali ke Persia, dan memilih menuju Palestina. Palestina yang merupakan tanah dimana Kristus menjalani‘penderitaan’, menyentuh perasaan yang mendalam untuk iman Bar Nasha. Palestina pun akhirnya menyerah dengan damai dengan syarat tentara Romawi diizinkan menyelamatkan diri ke Mesir dan khalifah ‘Umar datang sendiri untuk menerima kunci negara. Persyaratan yang diterima oleh pasukan Islam.

Membaca adegan ‘Umar datang ke Palestina dengan unta/keledai, dengan pakaian sangat sederhana, dan hanya disertai seorang tua yang membimbing tunggangannya, tanpa hingar bingar dan kemewahan layaknya seorang raja penguasa, membawa keharuan teramat sangat. ‘Umar kemudian tidak mau shalat di gereja Makam Kristus, tempat Kristus disalib (yang dibangun oleh Ratu Helena, Ibu Kaisar Konstanstinus untuk mengenang Kristus) karena takut umat Islam akan menjadikan gereja tersebut masjid. ‘Umar kemudian menanyakan dimana reruntuhan Haikal Sulaiman berada dan akhirnya shalat disana.

Setelah melihat hal tersebut, kuat keinginan Kashva untuk ke Madinah, melihat kota yang menggerakkan kekuatan begitu besar. Bar Nasha tentu saja menyertai. Di Madinah, mereka tinggal di rumah Abdul Masih (Paman dari Bar Nasha yang merawat Bar sejak kecil). Disinilah Kashva bertemu dengan anak dari Abdul Masih yang memiliki nama sama (Abdul Masih bin Abdul Masih), yang ternyata sudah memeluk agama baru dan berganti nama menjadi Abdul Aziz tanpa sepengetahuan ayahnya, Abdul Masih.

Kashva juga bertemu (kembali) dengan Hurmuzan, tawanan perang dari Persia yang secara lisan mengucapkan keimanan atas kenabian baru. Hurmuzan kemudian dipermalukan dalam perang syair oleh Kashva.

Selain Hurmuzan, orang Persia yang bertemu dengan Kashva adalah seorang budak bernama Abu Lu’luah. Dia yang masih mempertahankan keyakinan Persianya, sangat membenci orang arab. Dia merasa, dahulu orang Persia lebih tinggi derajatnya dibandingkan orang arab, sekarang menjadi budak. Terutama sangat benci kepada Umar, karena tidak mau menurunkan pajak yang diambil tuan Abu Lu’luah atas dirinya. Pada akhirnya nanti kita akan tahu, Abu Lu’luah ini lah yang akan menikam ‘Umar saat sedang mengimami shalat.

Setelah berbulan-bulan di Madinah, Kashva berencana melanjutkan perjalanan ke Persia. Bar telah lebih dahulu kembali ke Suriah. Di perjalanan menuju Persia, Kashva diserang oleh sekelompok orang, yang menyebabkan dia kritis dan begitu dia sadar, dia telah berada di Mesir, diselamatkan oleh Tabib Boutros dan Bapa Benyamin. Begitu sadar, Kashva tidak mengingat apapun dari masa lalunya, dan satu-satunya yang diingat adalah nama Elyas.

Maka sejak saat itu, Kashva kembali bernama Elyas. Dia bersama Maria (anak Tabib Boutros) kemudian pergi menemui Bapa Benyamin untuk mencari tahu apa yang terjadi kepadanya ketika ditemukan dalam keadaan terluka. Di perjalanan itu akhirnya Elyas tahu bahwa Maria dan ayahnya adalah penganut Kristen Koptik, kristen yang dilarang di Mesir. Mesir memaksakan penduduk untuk menganut Kristen Konstatinus, dan mengusir para penganut Koptik. Maria ayahnya masih bisa tinggal di Alexandria karena menyembunyikan keimanannya. Para penganut Kristen Koptik ini mempunyai rencana, salah satunya yang dilakukan oleh Tabib Boutros dan Bapa Benyamin dengan pergi ke Madinah, yang kemudian menemukan Elyas sekarat di padang pasir.

Setelah menaklukkan Palestina, Amr bin Ash meminta izin kepada Khalifah Umar untuk melanjutkan penaklukan ke Mesir. Umar dan pada sahabat telah berunding. Para sahabat mengusulkan untuk menunda karena kekuatan Romawi di Mesir begitu besar, benteng-benteng yang kuat dan ratusan ribu pasukan. ‘Umar membalas surat kepada Amr dengan jawaban bercabang : jika surat tersebut dibaca sebelum memasuki wilayah Mesir, maka mundur, jika sudah memasuki, maka maju. Amr sengaja mengulur waktu membuka surat tersebut dan baru dibuka saat memasuki Mesir.

Benteng yang pertama ditaklukkan tentara Islam adalah benteng Farma. Disinilah Tabib Boutros kemudian bertemu tentara Islam dan kemudian menyampaikan surat penjaminan keamanan Panglima Islam, Amr bin Ash, kepada para Koptik dimana Bapa Benyamin dan Elyas berada. Tabib Boutros pergi ditemani Muhammad, lelaki muda pendekar padang pasir yang bidikan panahnya tidak pernah meleset, yang kemudian bersahabat dengan Elyas.

Setelah menaklukkan benteng Farma, yang akan ditaklukkan tentara Islam untuk sampai ke Alexandria adalah Bilbis. Untuk menaklukkannya itu, Khalifah mengirimkan bantuan 4000 pasukan yang dipimpin oleh Zubair bin Awwam, Miqdad, Ubadah bin Shamit, dan Maslamah bin Makhlad. Elyas ikut bertempur bersama Muhammad, alasannya adalah untuk membalas kebaikan keluarga Tabib Boutros. Amr bin Ash berhasil membunuh Panglima Byzantium, Atrabun, karena dengan demikian menurunkan semangat bertempur pasukan Romawi. Namun, jumlah pasukan Romawi yang begitu banyak membuat perang seperti tidak berakhir. Hingga akhirnya saat pasukan Romawi kelelahan, Amr bin Ash mengeluarkan tentara-tentara yang baru yang masih utuh tenaganya. Hingga akhirnya takbir kemenangan membahana.

Setelah menaklukkan Bilbis, Benteng untuk selanjutnya ditaklukkan adalah Babilonia. Strategi yang dilakukan pasukan Islam adalah dengan mengirimkan beberapa orang yang dipimpin Zubair bin Awwam untuk melompati benteng dan membuka benteng dari dalam. Dengan begitu, pasukan Islam lebih mudah mengalahkan pasukan Byzantium.

Uskup Agung Alexandria, Muqawqis gundah, kemudian mengirimkan surat kepada Amr bin Ash, menyerah. Heraklius (Kaisar Konstantine) yang menjalankan kekuasaan Romawi (Roma Timur/ Byzantium) dari Konstantine, marah dan mengirimkan ratusan ribu tentara dari Konstantinopel ke Alexandria.

Perjuangan terakhir pasukan Islam untuk menaklukkan Mesir adalah menaklukkan Benteng Alexandria. Pasukan Islam akan mencoba cara yang sama seperti ketika menaklukkan Babilonia, yaitu dengan memanjat dinding benteng dan membuka gerbangnya. Lagi, Muhammad akan ikut serta. Dan Elyas, pun mengikuti.

Muhammad lah alasan Elyas tetap ikut berperang.

“Kalau suatu hari, Muhammad, kauterbangun dengan sejumput memori yang tertinggal, dan kau begitu khawatir akan masa depan yang hendak engkau jalani engkau akan berpegangan pada seseorang yang engkau percaya dia didak akan mengkhianatimu,”

Namun ternyata, Pasukan Byzantium telah belajar dari pengalaman. Mereka telah bersiap di atas benteng dan melukai semua pemanjat dinding benteng. Syukur, Muhammad masih bisa diselamatkan oleh Elyas.

Elyas lah yang kemudian merawat Muhammad. Namun setiap kali mereka bicara, Elyas semakin membenci kenyataan bahwa dia sama sekali tak punya kesempatan untuk berdiri sebagai orang yang lebih dewasa dibanding Muhammad, kecuali dalam bilangan usia. Pemikiran anak muda itu sungguh-sungguh tak tertancap pada dunia. Itu membuatnya sulit disentuh oleh emosi manusiawi.

“Mengapa harus berdoa, Muhammad? Bukankah Dia tahu kebutuhan kita,”

“Agar manusia menjadi rendah hati. Tahu diri siapa hamba siapa Tuhannya,”

Selama berbulan-bulan pasukan Islam mengepung Alexandria. Pasokan makanan di dalam Alexandria menjadi menipis. Maria kemudian meminta izin kepada Augustalis (pengganti Muqawqis) untuk mengambil makanan ke luar kota. Setelah diizinkan, Maria kemudian menghadap Pasukan Islam dan menyampaikan rencana untuk membaca pasukan Islam dalam gerobaknya.

Begitu beberapa tentara Islam berhasil masuk, mereka membuka gerbang dan pasukan Islam lain masuk menyerbu ke dalam. Tentara Byzantium keluar dari Alexandria dan menuju kapal. Beberapa pasukan Islam mengejar mereka. Namun ternyata itu jebakan. Mereka kembali melabuh dan menyerang pasukan Islam yang terjebak. Maria segera mengambil kesempatan untuk menuju Menara Alexandria untuk menggerakkan cermin yang jika diposisikan sedemikian rupa dapat mengarahkan sinar matahari untuk membakar kapal Byzantium. Seketika kapal dimana Elyas dan Muhammad berada terbakar, Muhammad tak bisa diselamatkan.

Sementara di sebuah tempat lain, diceritakan Astu, membuka usaha pengiriman barang. Hingga suatu hari seorang menggunakan jasanya untuk mengirim surat kepada Hurmuzan, seseorang yang dikenal Astu dimasa lalu. Ternyata surat itu menyampaikan rencana pembunuhan khalifah ‘Umar. Saat Astu menyampaikan surat tersebut ke Madinah, Madinah sedang dilanda kekeringan dan kekurangan makanan. Penduduk memiliki banyak uang namun tidak memiliki makanan. Maka Umar mengajak untuk menunaikan shalat istisqa dan akhirnya hujan turun dengan derasnya.

Umar kemudian berniat mengunjungi sahabatnya, Abu Ubaidah di Suriah. Namun begitu sampai di jalan, terdapat kabar bahwa Suriah sedang dilanda wabah Thaun yang mematikan. Umar pun berniat membatalkan perjalannya, namun beberapa sahabat menganggap itu adalah perbuatan lari dari takdir Allah. Hingga Abdurrahman bin Auf menyampaikan hadits : Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda, jika kalian mendengar sebuah berita bahwa penyakit menular terdapat disuatu tempat, janganlah memasuki wilayah itu. Namun jika kalian berada di wilayah tersebut, jangan keluar untuk menghindarinya. Akhirnya rombongan Khalifah kembali ke Madinah.

Astu akhirnya mengetahui rencana Hurmuzan, namun sudah terlambat, Abu Lu’luah sudah membunuh Khalifah saat mengimami shalat. Ubaidillah, putra Umar begitu mengetahui tentang desas desus mengenai persekongkolan Hurmuzan, Jufainah dan Abu Lu’luah yang mencurigakan, langsung mendatangi Hurmuzan dan Jufainah dan membunuhnya. Dendam telah menutupi mata batinnya, dia kemudian juga membunuh anak Abu Lu’luah dan semua wajah non Arab yang ditemukannya di jalan.

Saat pemilihan Khalifah baru, terdapat dua kandidat yang pamornya paling besar, Utsman dan Ali. Utsman adalah jalur keturunan Muawiyah, sedangkan Ali adalah dari jalur keturunan Hasyim. Hasyim dan Umayah, keduanya adalah keturunan Abdi Manaf, Anak Qusay, yang menguasai Mekah dan wilayah lain di Hijaz, mempersatukan semua anak turun Quraisy dan mengelola Ka’bah.

Di akhir pertanyaan untuk Ali, Abdurrahman menanyakan apakah jika Ali menjadi khalifah mau dipandu oleh Alquran, Sunnah, dan dua khalifah sebelumnya?

Ali hanya mencukupkan Alquran dan Sunnah sebagai pemandunya, karena dia adalah gerbang ilmu dimana Rasulullah sebagai kotanya.

Sedangkan Utsman, bersedia menjadikan Alquran, Sunnah dan dua khalifah sebelumnya sebagai pemandu. Maka dengan jawaban itu, ‘Utsman yang terpilih menjadi khalifah. Meskipun berat, Ali akhirnya ikut membaiat ‘Utsman.

Setelah Utsman dibaiat sebagai khalifah pengganti Umar, dia merasakan beban yang sungguh berat. Pertama adalah tentang negara-negara yang sudah ditaklukkan hanya takut kepada Umar, maka besar kemungkinan mereka akan memberontak. Dan beban berat yang didepan mata, adalah bagaimana mengadili Ubaidillah, putra Khalifah yang terbunuh.

Ali dengan lantang menyuarakan bahwa Ubaidillah harus dihukum mati atas perbuatannya. Sementara sahabat lain menolaknya. Akhirnya Utsman mewajibkan diyat kepada Ubaidillah dan Utsman sendiri yang menanggung diyatnya. Ali walaupun tidak menyetujui putusan itu, tetap menjaga baiatnya, maka keluarga besarnya pun akan tetap juga.

Vakshur, pegawai Astu, telah merasa bersalah karena tidak menemukan Xerxes, maka dia pun berniat akan mencari Kashva. Dia pergi ke Biara Busra, dan disana, akhirnya dia tahu, bahwa Kashva dan Bar (penjaga Biara Busra) adalah orang yang sama yang datang ke Abdul Masih, orang yang selama ini menerimanya ketika di Madinah. Dia ingin mengabari Astu tentang hal itu, tapi dia ingat dengan janjinya yang tidak akan kembali sebelum membaca Kashva bersamanya.

End.

Dengan selesainya membaca buku ketiga ini, saya tak sabar untuk membaca buku keempat.

F.o.k.e.s

“Kowe nek tolah toleh terus tak kon nganggo kocomoto jaran, lho,” kata Pak guru SD memperingatkan saya waktu itu.

Saya terhenyak kemudian mengikuti peringatan beliau. Di zaman 90 an itu, mana ada pemahaman mengenai toleransi untuk sikap-sikap tertentu anak yang dianggap kurang disiplin. Saya pernah dilempar penghapus papan tulis blackboard gara-gara garuk-garuk kepala saat pelajaran. Tapi ya sudah, saya tidak sakit hati, orang tua juga menghormati hak bapak ibu guru dalam mendidik anak-anaknya. Dan sekarang, mengingatnya adalah tentang pengalaman untuk diceritakan.

Btw, kembali ke ‘kocomoto jaran/kacamata kuda’. Terus terang, saya waktu itu tidak paham kenapa biar diam disuruh pakai kacamata kuda. Ya karena di desa tidak ada kuda, sehingga tidak tahu fungsi dari kacamata kuda. Bertahun-tahun kemudian, ketika melihat kuda, baru ‘ooalaah ngono kuwi to’. Ternyata biar fokus, lurus menghadap depan.

Kalau dipikir-pikir, dengan fokus, banyak sekali manfaat yang bisa didapatkan :

– Selalu ingat dengan tujuan.

– Lebih cepat mencapai tujuan.

– Tidak terpedaya oleh hal tidak penting.

– Lebih mudah bersyukur dan bahagia.

Persyaratan awal sebelum bisa menjadi orang fokus dalam hidup adalah adanya tujuan/visi misi hidup. Visi misi hidupmu, opo?

Kuliah online melalui Google Classroom

Akhirnya saya memutuskan mengikuti kuliah online matrikulasi Institut Ibu Professional. Sebenarnya saya sudah lama mendengar (membaca) tentang ini dari tulisan-tulisan teman di timeline yang berseliweran di media sosial, namun baru sekarang tergerak untuk ikut.
Saya bergabung pada Batch 6 wilayah Tangerang Selatan. Pembelajaran dilakukan dengan Google Classroom. Saya cukup takjub ternyata Google sangat powerful mengembangkan berbagai fungsionalitas melalui satu akun Google, termasuk Google Classroom ini.
Ini pertama kalinya saya menggunakan Google Classroom. Pada kelas online yang sebelumnya saya ikuti, pada umumnya menggunakan chat group (seperti whatssap). Materi disampaikan di grup, dan evaluasi disubmit di Web khusus. Google Classroom ini menarik karena diskusi maupun task submit bisa dilakukan disana. Selain itu pasti ada fitur-fitur lain yang belum saya ketahui. Bismillah, semoga lancar…

Lima

Baru seumur jagung.
Pernah suatu ketika ART ku (sebelum yang sekarang) berkomentar, “kok bisa ya mba ute dan mas jani itu baik-baik terus. Ga pernah ribut. Perasaan bos-bosku yang dulu adaa aja ribut-ribut.”

“Alhamdulillah.” Jawabku sambil tersenyum, namun tertawa  dalam hati.

Sebenarnya tidak demikian juga. Konflik pasti ada, tapi tidak untuk ditampakkan ke orang lain kan. Hanya aku, suami, Allah, dan malaikat yang tahu. 

Tentu ada saat kami bersilang pendapat, berbeda pandangan, beradu isi kepala. Ada saat dimana aku bertingkah begitu menyebalkan, kekanak-kanakan. Ada saat dimana dia juga bersikap menjengkelkan. 

Namun selalu saja, waktu tak memihak pada rasa tak baik. Udara pun seperti bersekongkol dengan detik untuk segera menguapkan kesal di hati.

Mungkin beginilah isyarat hati . 

berburu buku murah

Im not a bookaholic and i know i dont need to buy book rite now, but what if IT’S ON SALE FOR 5K?

Dua hari ini, bos-bos dan rekan2 kantor ada acara workshop di luar kantor, jadi tinggal 3 orang saja di subdit. Jelang istirahat, teman saya mengajak ke Gramedia di Neo Soho Mall yang katanya sedang diskon menjadi 5 ribuan. Mengingat jarak yang sepertinya tidak begitu jauh, kami kesana. Setelah tiba disana dan plonga-plongo masuk mall baru, akhirnya kami temukan Gramedia yang ternyata tempatnya begitu kecil di dalam tempat mewah dan lega ini.

Rencananya, saya fokus mencari buku buat anak-anak. Sayangnya, buku anak yang nampak hanya sedikit, sudah kusam dan rusak. Mungkin  dulunya digunakan untuk display. Novel-novel cukup banyak meskipun saya banyak yang tidak familiar sama penulisnya (hihi, lagian gw tau sapa seh). Setelah cukup pusing memilih dan memilih, akhirnya hanya 5 buku dibawah ini saja yang dibawa (sebenarnya kurang worth it dibandingkan lelahnya, apalagi setelah nanti mengetahui bagaimana cerita balik ke kantornya. Tapi gakpapalah, pengalaman, ga usah kejar-kejar diskonan buku :D). And here they are :

img_20161130_155456_1480503223355

  1. Serendipity oleh Merry Maeta Sari Saya tertarik dari novel ini dari sinopsisnya. Dan sepertinya ini buku terpuas-yang-saya-beli disana. *riweuh ngomongnya
  2. Jendela oleh Joe Andrianus dkk, yang covernya menarik hati. Salahnya saya adalah, saya buka review2nya (yang rata-rata kurang puas) sekembali dari Gramedia dan sebelum saya baca bukunya. -_- kan jadi males baca.
  3. Mencari senyum sang Nabi oleh Miftah F. Rakhmat. Entahlah apa yang membuat saya mencomot buku ini, sepertinya karena sekilas sinopsisnya menyebut Persia dan Andalusia. Daaaan, saya baru sadar bahwa penulisnya ini adalah anaknya Jalaludin Rakhmat. #tepokjidat.#njukpiye #diwocora
  4. Pelihara rambutmu ala Rasul oleh Herlina S. Hanya ada satu buku yang saya temukan untuk jenis ini. Sayang sekali, padahal bagus.
  5. Planes, Fires and Rescue. Anak-anak pasti suka dengan gambar-gambarnya.

Sekian cerita tentang buku murah bulan ini. Semoga lain kali lebih rajin baca bukunya, bukan hanya belanja buku.

Lelaki Perempuan

“Yah, tadi makan apa?” tanyaku mematuhi rutinitas dialog yang kami lakukan di perjalanan pulang kantor.

“cendol” jawabnya singkat.

“Itu doang? Kok ga makan nasi?”

“Tadi ayah keluar…”

“Keluar? Kemana? Ngapain sampe ga sempet makan?”

Tidak ada sahutan.

“Tadi makan apa, bun?” tanyanya balik.

Aku diam saja.

“Kok diem, ngantuk yaa..” godanya

“Tadi ditanya keluar kemana ga dijawab.” kataku,  sambil bersungut-sungut.

“Tadi ayah keluar, buuuuun…”

Hening. Kira-kira kemana ya dia pergi. Kenapa tidak bilang. Sampai tidak sempat makan siang. Apa sedang bisnis apa. Apa ketemu teman lama. Atau ada tugas dari atasannya yang harus dilakukan diluar kantor. Ah, kutepis berbagai lintasan kira-kiraku. Sepanjang perjalanan dia mencoba mencairkan suasana, mengomentari ini itu yang ditemui di jalan. Namun rasa-rasanya aku masih enggan berkomentar pun senyum. Pertanyaan kenapa dia tidak cerita apa-apa, terus berkecamuk dalam pikiranku.

Malam ini, kejadian sepulang kantor tadi tak lagi menjadi pikiranku. Besok ada acara konsinyering dan ada pekerjaan yang harus kuselesaikan sebelumnya. Selama beberapa tahun bekerja, baru kali ini namaku tercantum dalam surat tugas untuk mengikuti konsinyering. Kebetulan lokasinya di hotel dekat dengan rumah. Kabar baik sekaligus buruk untukku –seorang ibu dengan dua batita (bayi  bawah tiga tahun).  Baiknya, aku bisa berangkat lebih siang daripada hari-hari biasa, aku bisa pulang sejenak di jeda kegiatan. Buruknya, konsinyering selesai jam sembilan malam tiap harinya.

Beberapa hari menjelang konsinyering ini aku cukup uring-uringan. Pasalnya, motor yang sebelumnya biasa kupakai, starternya mati. Dengan ‘standar ganda’ yang sudah tidak ori ini, aku kesulitan ‘nyetandarkan’ motor untuk diselah (kick starter). Yaaah, gimana dong pergi ke hotelnya, dengusku. Masa minta tolong orang terus buat nyetandarin. Kalo mogok di lampu merah gimana, pikiranku melayang-layang.

“Yaaah, tolong panasin dong motornya.” pagi-pagi kuminta suamiku menyalakan motor.

Namun dia tidak beranjak dari tempatnya.

Kira-kira jam setengah tujuh, suami siap-siap berangkat kerja.

“Yaah, tolong motornyaa…” rengekku lagi.

“Ya ayuk diajarin.”

Aku menyerahkan kunci  motor kepadanya.

“Yaudah dicoba.” katanya.

Huh.

Aku pun menuruti sarannya, menekan starter tangan setengah hati.

Ckbreeeeem….

Kaget.” Loh kok bisa?” Aku menatapnya tak percaya. Dia senyum-senyum, “kemarin ayah keluar… bawa motor ke bengkel.”

Cless! Aku tak bisa membayangkan betapa anehnya wajahku saat itu.

“Berangkat ya, bun. Assalamu’alaikum.” katanya meninggalkanku yang masih terbengong-bengong.

banner

(Tulisan ini diikutsertakan dalam mini giveaway pengalaman yang menyentuh dalam rumah tangga)

Likulukalaku

bagiku, tidak ada yang lebih membahagiakan lebih dari melihat orang yang kita cintai berubah ke arah kebaikan.

lelaki itu, empat tahun lalu mengajakku membeli sepetak tanah dengan pinjaman dari bank. maju-mundur tarik-ulur. aku bimbang. dia meyakinkanku, mumpung ada yang menarik nih, katanya. keputusan pun dibuat. menyesal? tentu saja. mana mungkin terjerat riba dan bahagia. namun, aku tak mungkin melimpahkan kesalahan padanya saja. apa yang kami lakukan adalah keputusan kami berdua.

hari-hari berlalu, mekanisme bank terus berjalan. sekitar satu tahun lalu, facebook memperkenalkan lelaki itu pada Saptuari Sugiharto, pengusaha humoris yang getol mengkampanyekan anti riba. dia tertarik dengan konsep-konsep yang dibawa kang Saptu : konsep bisnisnya, konsep sedekahnya, konsep antiribanya; juga rajin membaca update di grup pengusaha tanpa riba hingga membeli buku-bukunya.

tapi ternyata, itu semua belum cukup membuat kami berhenti. ketika dihadapkan pada pilihan memperpanjang kontrak rumah atau membangun rumah di atas tanah yang kami beli (dengan pinjaman yang masih berjalan) tadi, kami kembali kalah. kami memutuskan pada pilihan kedua dengan konsekuensi menambah pinjaman.

rasanya antara sedih dan marah pada diri sendiri. adakah yang lebih buruk dari mengetahui bahwa sesuatu itu salah namun tetap melakukannya?

beberapa bulan lalu, qadarullah di kantor, lelaki itu dipindahkan ke bagian lain yang menyebabkan beban kerjanya menurun. dengan load pekerjaan yang sedikit itu, dia jadi mempunyai lebih waktu untuk membaca-baca artikel, mencari-cari peluang bisnis sampingan, dan memulai usaha kecil-kecilan. memang masih terlalu dini dan belum seberapa jika dikatakan semua ini dilakukan dalam semangat melunasi utang. namun, saya bahagia melihat ada nyala kecil dalam dirinya yang ia jaga dan semakin terasa hangatnya. apalagi setelah pagi ini dia mengatakan akan mendaftar KOBAR (komunitas bebas riba), komunitas yang dibentuk rekan-rekan instansi yang bertujuan saling bantu-membantu dalam pelunasan utang riba. entah perannya disana sebagai apa,  akan kubantu dia menjaga nyalanya.

Empat

Aku baru sadar bahwa waktu empat tahun itu terlalu sebentar untuk mengenal seseorang. Maka kulangitkan do’a agar kesempatan untuk mengenalmu dipanjangkan hingga saat semua, kecuali yang tiga,  itu tak lagi berguna.

image

pilihan

hai wordpress, lima bulan tidak menulisimu, bukan berarti aku tidak peduli ya. aku selalu mengunjungimu. untuk apa? ya biar ada kekuatan untuk menulis lagi. keinginan sih ada, tapi, oh Tuhaan, susaah sekali memulai. beberapa ide berseliweran, namun akhirnya menguap entah kemana.

akhirnya sekarang kuberanikan diri menulis disini lagi. ehm, menulis apa aja lah, yang penting bisa jadi pancingan tulisan-tulisan berikutnya. hehe.

btw, sudah lebih dari lima bulan aku masuk kembali ke kantor. oh, berarti sejak itu pula aku berhenti tidak menulis apapun. eit, tapi jangan berpikir aku ga menulis karena sibuk yaa. sama sekali tidak. kerjaanku disini sedikit. ssst, tapi jangan bilang-bilang orang yah, hehe.  itu yang sebenarnya membuatku merasa beraaaat meninggalkan anak-anak di rumah. apa yang kulakukan disini sungguh sedikit, tidak sebanding dengan apa yang kutinggalkan di rumah. hiks. makanya beberapa bulan terakhir keinginan untuk re**** kembali menggebu.

jujur, aku mengkhawatirkan anak-anak yang di rumah dengan dua pengasuh. bukan khawatir tidak terawat, malah sebaliknya. aku khawatir anak-anak jadi kurang mandiri. satu anak dijaga satu pengasuh. apa-apa jadi minta dibantuin. minta minum, minta ini itu, ditinggal sebentar saja nangis (yang kecil). hufh, bagaimana mereka bisa mandiri.

namun apalah daya. keuangan keluarga sedang seret karena pengeluaran (boleh disebut investasi lah ya) yang begitu besar akhir-akhir ini. jadi pilihan untuk re**** kembali menjauh. doakan aku ya, wordy.