(Day 6) Mengubah perintah menjadi pertanyaan kesiapan

Untuk Ibu dengan tiga anak-anak kecil, dan apalagi saya juga bersiap berangkat bekerja ke kantor, pagi selalu menjadi waktu yang hectic. Bertambah rumit ketika sulung mulai sekolah dan susah dibangunkan pagi-pagi. Ketika sudah bangun pun, dia belum mau langsung mandi. Dia memilih bermain, membaca buku, atau makan snack terlebih dahulu. Dia belum mau menerima pilihan ‘mandi dulu baru yang lain’, dan kalau saya paksa, moodnya akan buruk, dan efeknya panjang, dia tidak mau berangkat sekolah, atau di sekolah ogah-ogahan.

Maka saya menahan diri untuk bersikap atau berkata yang merusak mood paginya. Saya tidak bisa menyuruh dia mandi. Saya hanya bisa menanyakan dan menunggu kesiapannya.
“Mas, sudah siap mandi?” tanya saya.
“Belum.”
“Berapa menit lagi mainnya?”
Diam.
“Nanti saat jarum panjang di angka 12 siap mandi yaa..” saya memberikan arahan.

Hingga tiba waktunya.
“Mas, jamnya sudah di angka 12. Yuk mandi,” ajak saya.
Kali ini dia menurut. Alhamdulillah, meskipun tidak setiap hari trik ini berhasul. Ada kalanya dia masih mengatakan ‘belum siap’. Dan saya menyampaikan memberi waktu satu menit lagi, atau dua menit lagi. Meskipun mengorbankan banyak waktu untuk membujuknya, tapi dia mau mandi tanpa kehilangan mood itu lebih berharga.

Kaidah komunikasi produktif yang saya coba terapkan :

  • ‌mengendalikan Intonasi dan suara ramah
  • ‌mengganti perintah dengan kalimat pertanyaan kesiapan (sudah siap mandi?)

#day6
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang

Advertisements

(Day 4) Rapi Agar Nyaman

Saya, sebagaimana orang tua yang lain, menginginkan anak-anak mulai belajar bertanggung jawab. Misalnya merapikan mainan setelah dipakai bermain. Biasanya saya meminta mereka membereskan mainan yang mereka mainkan sendiri, “ini tadi yang mainan lego siapa yaa… Jangan lupa dibereskan yaa….”
Kadang mereka mau, tapi lebih sering tidak, dengan alasan : capek atau protes ‘kok aku terus yang ngrapiin’.
“Lha kan tadi yang mainan mas,” jawab saya dengan tujuan mereka mengerti tanggung jawabnya masing-masing.
Tapi ternyata mereka menjadi keliru memahami. Ketika saya meminta tolong mereka merapikan sesuatu, menutup pintu atau mematikan TV, mereka mengelak bahwa bukan mereka yang memberantakkan, membuka pintu, atau menyalakan TV. Duh mak! Salah saya.

Maka kemudian, ketika saya meminta tolong mereka melakukan ini itu, saya menekankan, bukan semata karena mengakhiri apa yang mereka mulai (bertanggung jawab), tapi karena membantu membenarkan/merapikan sesuatu agar benar/nyaman. Haha, apa sih maksudnya.

Seperti kemarin :
“Mas, setelah ini, kita bereskan mainan bersama, yuk. Kalo rapi kan nyaman, ” ajak saya saat dia berjalan meninggalkan mainannya yang berantakan. Tidak lupa saya menggunakan nada serendah mungkin, tersenyum, sambil berjongkok di depannya agar tinggi kami setara. Saya ingat kaidah 7-38-55, dimana konten hanya berperan 7% dalam komunikasi produktif, sementara intonasi dan gestur masing-masing memegang 38% dan 55%. Selain itu saya mencoba tidak bicara macam-macam : tangguh jawab lah, karena dia yang memberantakkan lah. Saya mencoba memberikan informasi sesingkat mungkin : merapikan agar nyaman.

Setelah saya menyampaikan itu kepada sulung, saya masih menyelesaikan satu urusan dengan adiknya, begitu selesai, saya terkesan, si mas sudah selesai merapikan mainannya. Padahal biasanya kalaupun dia mau merapikan, tidak lepas dari bantuan orang dewasa. Mungkin ini biasa saja dan saya berlebihan, tapi sekecil apapun perkembangan mereka, sangat saya syukuri.

#day4
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang

Complicated Mamak

Akhir bulan Februari, kantor mengadakan workshop di Bandung dimana saya termasuk pegawai yang ditugaskan mengikutinya. Workshop ini tidak dibiayai APBN, tetapi mendapatkan pendanaan dari hibah negara donor. Demi memenuhi hak asi bayi, saya berencana mengajak si bungsu turut ke Bandung, dan ditemani suami yang mengambil cuti tahunan. Sedangkan sulung dan tengah tetap di rumah bersama Budenya.

Berhari-hari saya memikirkan bagaimana cara menyampaikan hal ini ke si sulung dan tengah. Hingga akhirnya, suami saya pelan-pelan menyampaikan rencana ini. Tebak, jawaban si sulung apa?
“Asyik, ga ada yang ngomel-ngomel lagi,”
Dugh. Sediih sekali. Sebegitunyakah saya di mata anak-anak. Saya memang masih sering salah mengejawantahkan pembentukan kedisiplinan, yang malah terwujud dalam omelan-omelan.

Urusan ke Bandung ini, saya mau mereka mau menerima keputusan tapi tidak ingin seperti itu jawabannya. Sedangkan si tengah, hanya diam dan ikut-ikutan masnya ber-asyikasyik, yang sebenarnya belum mengerti sepenuhnya apa yang akan terjadi.

Satu dua hari menjelang kepergian, mereka mulai merengek minta ikut. Senang tapi juga sedih. Senang karena sebenarnya mereka tidak senang saya tinggalkan beberapa hari. Sedih karena tidak memungkinkan saya untuk mengajak mereka semua. Mamak memang complicated.

Maka benar, pada hari H, sulung akhirnya menerima keputusan kami walaupun terlihat tidak ikhlas. Sementara tengah, dia minta mandi, dan terus saja menggeleng ketika saya berpamitan kepadanya. Pamitan lagi, masih menggeleng. Hingga berangkat, saya masih belum mendapatkan anggukannya. Hiks, maaf ya, Le. Kami usahakan segera pulang.

Bunda Penyayang

Kak Ros garang, Opah kita Opah penyayang…”

Suatu kali anak saya menyanyikan lagu tersebut dan menggelitik saya untuk bertanya kepadanya.

Kalo bunda, kayak kak Ros atau kayak opah?”

Kayak opah,” jawabnya yang melambungkan saya.

Tapi, cerita belum selesai.

Suatu saat saya ngomel-ngomel ke bocah ini. Dan kemudian apa katanya…

Bun, Opah kok marah-marah,

Ng. Duh.

Tahu kan maksudnya dia, bahwa ‘saya yang opah’ kok marah.

Bunda penyayang, dua suku kata yang terdengar fantastis oleh telinga saya. Lebih-lebih lagi untuk hati, lisan, dan laku saya. Karena saya masih jauh sekali dari kriteria itu. Tapi bukankah tercela sekali orang yang mengetahui sesuatu baik tapi tidak mau melakukannya, atau minimal belajar melakukannya. Dan sebaliknya, mengetahui sesuatu itu buruk tapi tidak mau meninggalkannya atau paling tidak belajar untuk menjauhinya.

Maka dengan ini saya ingin bersungguh-sungguh belajar menjadi bunda penyayang untuk anak-anak. Mereka adalah paket yang dititipkan Allah untuk saya jaga sebaik-baiknya. Alasan apa yang bisa saya katakan kepada Allah jika Dia menanyakanpertanggungjawaban ini.

Lantas bagaimana strategi yang akan saya lakukan untuk mengikuti pembelajaran ini mengingat – untuk menemani anak sepulang kerja saja saya sudah payah sekali?

Pertama, saya perlu menguatkan azzam untuk bersungguh-sungguh belajar.

Kedua, saya perlu mengalokasikan waktu tertentu. Semoga waktu sebelum shubuh menjadi saat yang tepat.

Ketiga, saya harus belajar mengelola emosi saya, agar tidak mudah marah. Saya harus lebih banyak bertanya kepada diri, apakah saya perlu marah.

Terakhir, saya perlu lebih banyak berbincang dengan suami. Entah itu menambah inspirasi dalam menyelesaikan tugas atau tidak, tapi berbicang bisa membuat banyak hal menjadi lebih baik.

Anak Leader vs Anak Follower

(Resume Kajian Parenting oleh Ustadz Bendri Jaisyurrahman)

Tanggung jawab orang tua menumbuhkan fitrah kepemimpinan seperti tujuan awal penciptaannya (Ust. Bendri Jaisyurrahman)

Beliau memulai kajian dengan kalimat di atas yang membuat saya agak kaget. Kaget karena sejauh saya mengenali anak-anak saya, mereka lebih banyak mengikut daripada memimpin, apalagi jika berada di luar rumah.

“Tujuan diciptakannya manusia adalah menjadi Khalifah fil ardh, pemimpin di bumi. Malaikat taat kepada Allah, tapi tidak dipilih menjadi pemimpin” beliau melanjutkan kalimatnya.
Lantas bagaimana cara orang tua menumbuhkan sifat kepemimpinan, diantaranya dengan menumbuhkan daya pikirnya.

  1. ‌ilmu

Yang akan menjadi pemimpin adalah mereka yang taat dan punya ilmu. Mereka yang punya kemampuan memutuskan. Sedari dini anak-anak sebaiknya dihadapkan dengan keputusan. Agar tidak menjadi anak alay, anak melayang, yang hanya mengikut saja.

Orang tua mesti biasa bertanya ke anak, melatih daya pikirnya, ditanya pendapat nya agar berani memutuskan.
Dengan memancing pertanyaan “Mau a atau B” juga boleh.
Kalau anak menjawab ‘terserah’, maka sampaikan ‘yaudah kalau demikian tidak jadi’.
Kemudian kalau anak sudah memilih, hargai, jangan dichallenge.

Konsep Allah membuat hamba berpikir yaitu bisa dilihat dari surat-surat dalam Al-Qur’an dimulai dengan pertanyaan. Bertanya bukan karena tidak tahu. ‘Bertanya’ ini juga bisa menjadi tips bagaimana berkisah ke anak. Tujuannya adalah agar tidak mati daya pikirnya dan kemudian tergantung temannya.

2. ‌otoritas diri / kemandirian tidak mudah dibujuk

Anak harus diajari mempertahankan diri / egonya. Jika tidak, Kelak akan menjadi orang sholeh tapi gampang dipengaruhi, tidak enakan.

Harta anak usia 0-7 tahun adalah egonya. Jangan merampas harta berharga ini dari anak-anak kita. Bahkan, kalau mau melakukan sesuatu terkait dia, mintalah Izin ke anak untuk mengangkat harga dirinya sehingga dia merasa punya peran. Seperti yang dilakukan Rasulullah yang meminta izin kepada anak kecil untuk memberikan minum dari Rasulullah kepada orang lain yang bahkan sudah dewasa.

Sebuah hadits yang diriwayatkan melalui shahabat Sahl bin Sa’id as-Sa’idi radhiyallahu ‘anhu.
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dihidangkan minuman. Lalu beliau pun meminumnya. Di sebelah kanan beliau ada seorang anak kecil dan di sebelah kiri beliau ada sekumpulan orang-orang tua. Lalu beliau bertanya kepada anak kecil tersebut, “Apakah Engkau mengizinkanku untuk memberikan sisa minumku ini kepada mereka yang di sana (para orang tua)?” Anak kecil tersebut menjawab, “Tidak, demi Allah. Aku tidak akan mendahulukan mereka atas sisa minumanmu yang sudah menjadi bagianku.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun meletakkan minuman tersebut ke tangan sang anak.” (HR. Al-Bukhari no. 5620 dan Muslim no. 2030)

Minggu Pagi di Bintaro Xchange Park

Salah satu alternatif taman untuk jogging di akhir pekan di sekitar Bintaro adalah taman Bintaro Xchange Mall (Bxc). Taman ini selalu ramai di pagi hari tiap akhir pekan.

Ketika pagi ini kami kesana, food court yang biasanya belum buka, sudah buka. Ternyata tanggal 1-5 Februari ini ada Oriental Festival, sepertinya dalam rangka tahun baru imlek. Saya membeli Sosis bakar yang kemudian kami nikmati di ‘pematang’ jogging track. Jangan khawatir tidak menemukan tempat duduk karena banyak lokasi yang sittable, maksudnya kau bisa duduk di banyak titik.

Yang pertama kali menarik perhatian anak-anak adalah kolam ikan hias dengan air yang jernih dan ikan hias besar warna warni.
Taman ini cukup luas. Sekali memutar, mungkin hampir mencapai 1 km. Sebagian besar orang memanfaatkan untuk jogging atau jalan santai saja. Sebagian lain ada yang taichi, futsal, badminton, main sepatu roda dll. Untuk yang hobi foto, banyak spot cukup instagramable.

Hal yang baru disini adalah Dino Park, terletak di dekat pintu masuk dari arah parkiran motor. Meski areanya kecil dan hanya ada 5 jenis miniatur dinosaurus, anak-anak sudah cukup senang.

Membangun Komunikasi Efektif Suami Istri

Siang ini keputrian kantor mengadakan kajian “Membangun Komunikasi Efektif Suami Istri” dengan pembicara Kisma Fawzia, seorang Konselor yang biasa dipanggil Mbak Zeezee.

Beliau memulai dengan menanyakan bagaimana komunikasi terakhir kita dengan pasangan, apakah berupa kata-kata positif atau negatif. Terus, apa yang kita lakukan saat berpamitan dengan suami hari ini. Apakah cium tangan, cium pipi, cium jidat, dan pelukan. Atau hanya dadabyebye aja. Hubungan dengan suami itu perlu dipupuk. Jangan malu untuk memulai memeluk terlebih dahulu. Tidak perlu gengsi.

Pertanyaan selanjutnya, siapakah diantara kita yang menikah untuk bahagia? Spontan saya mengacungkan tangan, beberapa peserta lain juga. Siapa sih yang tidak ingin bahagia dalam pernikahannya, batin saya. Tapi bukan demikian maksudnya. Jika tujuan menikah itu untuk bahagia, maka kita akan selalu berharap dibahagiakan. Ini yang berbahaya. Banyak yang gagal membina rumah tangga bukan karena gagal menyatunya dua manusia, tetapi karena gagal mengelola ekspektasi. Sejak awal menikah berekspektasi begini dan begitu.

Tidak sedikit diantara kita yang lebih ramah kepada temannya daripada kepada suaminya. Jleb! Itu yang kadang terjadi dengan saya. Karena menganggap suami itu orang yang paling dekat dengan kita, jadi saya tidak merasa sungkan atau canggung untuk ‘semaunya sendiri’. Hiks, naudzubillah.

Dalam komunikasi, konten itu penting, tetapi porsinya hanya 7%, sedangkan intonasi itu 38%, dan yang paling penting adalah gestur/body language (55%).

Beberapa hal yang BIG NO, terlarang dilakukan kepada suami adalah:

Menyalahkan.

Menyudutkan.

Mempertanyakan.

Meragukan.

Membandingkan.

Me-label

Meremehkan.

Melecehkan.

Merendahkan.

Mengabaikan.

Untuk poin terakhir, mengabaikan, beliau memperingatkan terutama untuk yang sudah punya anak. Wanita yang sudah punya anak cenderung lebih memperhatikan anak daripada suaminya. Ternyata suami itu bisa lo cemburu ke anaknya.

Suami kita punya kebutuhan. Dia tidak akan neko-neko di luar jika di rumah sudah kenyang, kebutuhannya sudah terpenuhi. Kebutuhannya apa, ingat Maslow’s hierachy of needs : mulai dari kebutuhan fisik, rasa aman, kasih sayang/cinta, penghargaan, dan aktualisasi diri. Berikan kebutuhan suami akan hal itu, niscaya dia tidak membutuhkan yang lain.

Salah satu kesalahan lain dalam komunikasi adalah listen to reply, yaitu kita mendengarkan untuk membalas ucapan bukan untuk memahami. Tahan diri untuk membalas ucapan orang yang sedang bicara.

Stres, capek, bosan, lelah, frustasi adalah rasa yang wajar. Ungkapkan saja seperti rasanya, bukan diungkapkan dalam bentuk marah. Beliau mengingatkan juga untuk kita yang memiliki anak laki-laki. Jika anak lelaki kita menangis, jangan disuruh diam dan mengatakan bahwa anak lelaki tidak boleh menangis. Lelaki boleh menangis. Menangis adalah ungkapan sedih. Jika dilarang menangis, maka kelak mereka akan mengungkapkan rasa sedih dengan cara yang buruk, misalnya marah.

Jadi, kalau benda mati seperti aplikasi saja perlu diupgrade, apalagi hubungan dengan suami.

Self Emotional Healing

“Efek workshop gini bertahan berapa lama ya, mbak?” sesembak sesama peserta bertanya kepadaku.
“Ya semoga seterusnya, mbak,” jawabku, yang lebih merefleksikan harapanku.

Dua hari tanggal 19-20 januari lalu saya mengikuti workshop self emotional healing oleh Ibu Safithrie Sutrisno founder roemah emak. Tujuan dari workshop tersebut seperti ini:
-Healing innerchild
-Menemukan jati diri sesungguhnya
-Kemampuan self healing
-Menjadi pribadi yang lebih positif

Diantara yang saya ingat dari workshop kemarin adalah : untuk menjadi positif, keluarkan dulu emosi negatif dan isi dengan emosi positif. ~Yaelah, konsep itu anak kecil juga tau, te~
✌️
Emosi negatif membajak kita hampir tanpa kita sadari (subconsciusmind). Sebagian besar emosi negatif tersebut berasal dari rekaman masa lalu yang di hari ini membentuk pola pikir, kebiasaan, dan perilaku kita.

Meskipun kita sudah berjanji untuk tidak melakukan suatu perbuatan buruk yang menyakitkan kita di masa lampau, namun perbuatan buruk itu bisa spontan kita lakukan. Ada anak kecil dalam jiwa kita yang perlu disembuhkan (innerchild).

Lalu bagaimana memprogram ulang?

– akui emosi tersebut. Namakan. Marah? Kesal? Kecewa? Tarik perasaan kita,
– buang jauh-jauh emosi negatif tersebut
– sebutkan keinginan kita (positif) dengan menyebut secara detail : personal (diri kita), waktunya sekarang, positif, dan passion. >>affirmasi
– visualisasikan.

Untuk menjadi pribadi positif, dapat dilakukan sendiri untuk emosi dari masa lalu maupun masa sekarang (self coaching). Caranya :
– kenali, namakan, dan akui emosi tersebut. Kenali penyebabnya dan apa respon kita
– alirkan emosi tersebut
– melatih bicara kepada diri sendiri
– menyembuhkan diri sendiri.

Tulis dan ucapkan pada diri sendiri.

Untuk menjadi positif, pastikan : you are the master of your minds and your feelings.

Maafkan penyampaian yang tidak utuh dan runtut. Ilmu psikologi tiada, pemahaman juga tak seberapa~

Trus kowe wis berhasil, te?
Ya berproses. Seperti proyek jangka panjang yang hasilnya mungkin baru nampak bertahun-tahun kemudian~
Doain yee gaes.

Catatan na-1

Bismillah,

Saya menulis catatan ini tanpa bermaksud membuka aib atau mempermalukan anak/diri sendiri. Ini hanya dimaksudkan untuk keperluan mendokumentasikan dan memantau perkembangan anak.

***

Anak pertama kami waktu berusia sekitar 1, 5 an tahun, mulai menunjukkan tanda-tanda dia pemalu. Atau apa tepatnya ya. Dia tidak bisa bersikap santai jika ada orang asing di dekatnya. Cenderung diam, hanya mengamati orang, menjaga jarak, dan tidak membaur. Introvert? Tapi sepertinya bukan, dia suka berteman, malah too excited sampai salah tingkah jika ada teman, hanya malu untuk membaur.

Saya pernah berpikir, apakah ini karena cara kami mendidiknya. Kami kemudian mengevaluasi cara kami mendidiknya. Tapi kami merasa biasa saja. Kami juga tidak jarang mengajaknya ke tempat-tempat umum seperti playground, taman, masjid, pengajian pekanan (liqo’), dsb.

Begitu dia punya adik, ternyata sifat malu ini juga muncul di adiknya, meskipun karakter mereka berbeda. Apakah semata-mata karena adiknya ini meniru apa yang dilakukan kakaknya, atau karena sifat yang dia bawa? Saya masih bertanya-tanya.

Kadang kami slow saja karena berpikir ini hanya masalah waktu, suatu saat mereka akan mampu mengatasi masalah ini. Tapi kadang, tidak semudah itu. Perbedaan mereka dengan teman-teman mereka terlalu mencolok. Misalnya ketika bermain di playground. Dia hanya akan bermain jika sudah tidak ada lagi anak lain yang bermain disana. Ketika ditanya orang, belum berani menjawab. Ketika disapa teman, diam saja. Ketika teman-temannya asyik bermain, belum berani bergabung, hanya mengamati saja. Padahal saya tahu, mereka sungguh ingin bergabung bermain, hanya belum berani.

Dan beberapa kali, sifat malu yang berlebihan ini menjadi masalah. Ketika di sekolah, dia (na-1) belum berani menyampaikan kebutuhannya untuk ke toilet, baik untuk bak maupun bab. Dan, bisa ditebak kan akibatnya?

Tapi alhamdulillah, belakangan saat di sekolah, dia (na-1, 5.5y) sudah mau ke toilet sendiri, meskipun tanpa menyampaikan izin ke ibu guru. Tidak apa-apa. Pelan-pelan ya, nak.

Sifat malu berlebihan anak-anak ini cukup membebani pikiran saya. Duuh, apa karena kami salah mendidik yaa… Duuh, apa karena ‘salah’ kami jika ternyata kami mempunyai sifat malu yang kemudian diturunkan yaa… dll. Saya sadari, saya sendiri tidak memiliki kepercayaan diri yang oke, tapi masih taraf wajar. Atau jangan-jangan waktu saya kecil begitu juga?

Liburan ke Situ Gintung?

Setelah sekian lama tidak mendatangi situ gintung, saya penasaran bagaimana kondisinya sekarang.

Awalnya terpikir untuk ke waterpark nya, karena anak-anak pasti senang. tapi begitu membaca ulasan di google, banyak yang mengeluhkan tentang mahal dan tidak pastinya htm sementara kualitas biasa saja. Saya kemudian berubah pikiran. Akhirnya kami memutuskan untuk jalan-jalan di pinggir danau saja.

Harapannya bisa bersantai mengelilingi jalan sepanjang danau. Tapi pas tiba disana, yang dijumpai hanya kelompok-kelompok anak sekolah yang sedang berkemah dan Outbound. Bahkan tidak dijumpai pintu masuk ke pinggir danau, dipagari. Kemudian, begitu menemukan celah, kami langsung menuju danau. Tapi, di jalan pinggiran danau hanya ada motor-motor yang seliweran, seperti ojek. Ini menyebabkan keadaan tidak cukup nyaman untuk pejalan kaki.

Yaudah lah, akhirnya memutuskan keluar saja dari area Outbound dan danau. Oiya, yang saya baru tahu juga, ternyata kebun kumara, klub petani kota yang terkenal di Instagram itu, ada di area Outbound ini juga.

Begitu keluar dari area, kami memutuskan makan siang di bakso boedjangan. Tapi sulit sekali mendapatkan gocar. Mungkin karena lalu lintas di sekitar situ macet sekali. Akhirnya, kami putuskan pakai 2 gojek. Panas-panas. Sabar ya, anak-anak.

Seusai makan siang, kami pesan gocar. Karena kondisi macet, bapak driver meminta kami menuju titik tertentu, yang ternyata itu TIDAK DEKAT. Tengah hari yang terik berjalan di pinggir jalanan macet yang tidak ada trotoarnya, bersama tiga bocah, adalah ujian.

Begitu sampai di titik kesepakatan, si mobil driver malah ternampak di maps menjauh dari titik situ. Walah! Ini berujung pada pembatalan transaksi. – _-. Sabar ya anak-anak.

Begitu mencoba pesan gocar lagi, tidak ada yang mau ambil karena kondisi daerah situ (sekitar UIN Syahid) yang macet cukup parah. Menit-menit berlalu. Demi tersolusikan masalah, kami nekat menggunakan jasa gojek lagi. Dua gojek. Panas-panas. Macet. Dengan jarak yang tidak dekat untuk sampai rumah. Tapi apa boleh buat.

Diantara kami berlima, saya yang paling merasa bersalah. Karena ide bepergian ini berasal dari saya, yang menyebabkan mereka harus berlibur yang

tidak sesuai ekspektasi, dan malah berlelah-lelah seperti ini.

But, ternyata anak-anak itu tidak demikian. Mereka enjoy aja tuh. Hahaha. Masyaallah, barakallahu lakum, Le. Jadilah anak-anak yang kuat mental, fisik, dan terutama iman yaa. ❤️❤️❤️