Bunda Penyayang

Kak Ros garang, Opah kita Opah penyayang…”

Suatu kali anak saya menyanyikan lagu tersebut dan menggelitik saya untuk bertanya kepadanya.

Kalo bunda, kayak kak Ros atau kayak opah?”

Kayak opah,” jawabnya yang melambungkan saya.

Tapi, cerita belum selesai.

Suatu saat saya ngomel-ngomel ke bocah ini. Dan kemudian apa katanya…

Bun, Opah kok marah-marah,

Ng. Duh.

Tahu kan maksudnya dia, bahwa ‘saya yang opah’ kok marah.

Bunda penyayang, dua suku kata yang terdengar fantastis oleh telinga saya. Lebih-lebih lagi untuk hati, lisan, dan laku saya. Karena saya masih jauh sekali dari kriteria itu. Tapi bukankah tercela sekali orang yang mengetahui sesuatu baik tapi tidak mau melakukannya, atau minimal belajar melakukannya. Dan sebaliknya, mengetahui sesuatu itu buruk tapi tidak mau meninggalkannya atau paling tidak belajar untuk menjauhinya.

Maka dengan ini saya ingin bersungguh-sungguh belajar menjadi bunda penyayang untuk anak-anak. Mereka adalah paket yang dititipkan Allah untuk saya jaga sebaik-baiknya. Alasan apa yang bisa saya katakan kepada Allah jika Dia menanyakanpertanggungjawaban ini.

Lantas bagaimana strategi yang akan saya lakukan untuk mengikuti pembelajaran ini mengingat – untuk menemani anak sepulang kerja saja saya sudah payah sekali?

Pertama, saya perlu menguatkan azzam untuk bersungguh-sungguh belajar.

Kedua, saya perlu mengalokasikan waktu tertentu. Semoga waktu sebelum shubuh menjadi saat yang tepat.

Ketiga, saya harus belajar mengelola emosi saya, agar tidak mudah marah. Saya harus lebih banyak bertanya kepada diri, apakah saya perlu marah.

Terakhir, saya perlu lebih banyak berbincang dengan suami. Entah itu menambah inspirasi dalam menyelesaikan tugas atau tidak, tapi berbicang bisa membuat banyak hal menjadi lebih baik.

Advertisements

Anak Leader vs Anak Follower

(Resume Kajian Parenting oleh Ustadz Bendri Jaisyurrahman)

Tanggung jawab orang tua menumbuhkan fitrah kepemimpinan seperti tujuan awal penciptaannya (Ust. Bendri Jaisyurrahman)

Beliau memulai kajian dengan kalimat di atas yang membuat saya agak kaget. Kaget karena sejauh saya mengenali anak-anak saya, mereka lebih banyak mengikut daripada memimpin, apalagi jika berada di luar rumah.

“Tujuan diciptakannya manusia adalah menjadi Khalifah fil ardh, pemimpin di bumi. Malaikat taat kepada Allah, tapi tidak dipilih menjadi pemimpin” beliau melanjutkan kalimatnya.
Lantas bagaimana cara orang tua menumbuhkan sifat kepemimpinan, diantaranya dengan menumbuhkan daya pikirnya.

  1. ‌ilmu

Yang akan menjadi pemimpin adalah mereka yang taat dan punya ilmu. Mereka yang punya kemampuan memutuskan. Sedari dini anak-anak sebaiknya dihadapkan dengan keputusan. Agar tidak menjadi anak alay, anak melayang, yang hanya mengikut saja.

Orang tua mesti biasa bertanya ke anak, melatih daya pikirnya, ditanya pendapat nya agar berani memutuskan.
Dengan memancing pertanyaan “Mau a atau B” juga boleh.
Kalau anak menjawab ‘terserah’, maka sampaikan ‘yaudah kalau demikian tidak jadi’.
Kemudian kalau anak sudah memilih, hargai, jangan dichallenge.

Konsep Allah membuat hamba berpikir yaitu bisa dilihat dari surat-surat dalam Al-Qur’an dimulai dengan pertanyaan. Bertanya bukan karena tidak tahu. ‘Bertanya’ ini juga bisa menjadi tips bagaimana berkisah ke anak. Tujuannya adalah agar tidak mati daya pikirnya dan kemudian tergantung temannya.

2. ‌otoritas diri / kemandirian tidak mudah dibujuk

Anak harus diajari mempertahankan diri / egonya. Jika tidak, Kelak akan menjadi orang sholeh tapi gampang dipengaruhi, tidak enakan.

Harta anak usia 0-7 tahun adalah egonya. Jangan merampas harta berharga ini dari anak-anak kita. Bahkan, kalau mau melakukan sesuatu terkait dia, mintalah Izin ke anak untuk mengangkat harga dirinya sehingga dia merasa punya peran. Seperti yang dilakukan Rasulullah yang meminta izin kepada anak kecil untuk memberikan minum dari Rasulullah kepada orang lain yang bahkan sudah dewasa.

Sebuah hadits yang diriwayatkan melalui shahabat Sahl bin Sa’id as-Sa’idi radhiyallahu ‘anhu.
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dihidangkan minuman. Lalu beliau pun meminumnya. Di sebelah kanan beliau ada seorang anak kecil dan di sebelah kiri beliau ada sekumpulan orang-orang tua. Lalu beliau bertanya kepada anak kecil tersebut, “Apakah Engkau mengizinkanku untuk memberikan sisa minumku ini kepada mereka yang di sana (para orang tua)?” Anak kecil tersebut menjawab, “Tidak, demi Allah. Aku tidak akan mendahulukan mereka atas sisa minumanmu yang sudah menjadi bagianku.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun meletakkan minuman tersebut ke tangan sang anak.” (HR. Al-Bukhari no. 5620 dan Muslim no. 2030)

Minggu Pagi di Bintaro Xchange Park

Salah satu alternatif taman untuk jogging di akhir pekan di sekitar Bintaro adalah taman Bintaro Xchange Mall (Bxc). Taman ini selalu ramai di pagi hari tiap akhir pekan.

Ketika pagi ini kami kesana, food court yang biasanya belum buka, sudah buka. Ternyata tanggal 1-5 Februari ini ada Oriental Festival, sepertinya dalam rangka tahun baru imlek. Saya membeli Sosis bakar yang kemudian kami nikmati di ‘pematang’ jogging track. Jangan khawatir tidak menemukan tempat duduk karena banyak lokasi yang sittable, maksudnya kau bisa duduk di banyak titik.

Yang pertama kali menarik perhatian anak-anak adalah kolam ikan hias dengan air yang jernih dan ikan hias besar warna warni.
Taman ini cukup luas. Sekali memutar, mungkin hampir mencapai 1 km. Sebagian besar orang memanfaatkan untuk jogging atau jalan santai saja. Sebagian lain ada yang taichi, futsal, badminton, main sepatu roda dll. Untuk yang hobi foto, banyak spot cukup instagramable.

Hal yang baru disini adalah Dino Park, terletak di dekat pintu masuk dari arah parkiran motor. Meski areanya kecil dan hanya ada 5 jenis miniatur dinosaurus, anak-anak sudah cukup senang.

Membangun Komunikasi Efektif Suami Istri

Siang ini keputrian kantor mengadakan kajian “Membangun Komunikasi Efektif Suami Istri” dengan pembicara Kisma Fawzia, seorang Konselor yang biasa dipanggil Mbak Zeezee.

Beliau memulai dengan menanyakan bagaimana komunikasi terakhir kita dengan pasangan, apakah berupa kata-kata positif atau negatif. Terus, apa yang kita lakukan saat berpamitan dengan suami hari ini. Apakah cium tangan, cium pipi, cium jidat, dan pelukan. Atau hanya dadabyebye aja. Hubungan dengan suami itu perlu dipupuk. Jangan malu untuk memulai memeluk terlebih dahulu. Tidak perlu gengsi.

Pertanyaan selanjutnya, siapakah diantara kita yang menikah untuk bahagia? Spontan saya mengacungkan tangan, beberapa peserta lain juga. Siapa sih yang tidak ingin bahagia dalam pernikahannya, batin saya. Tapi bukan demikian maksudnya. Jika tujuan menikah itu untuk bahagia, maka kita akan selalu berharap dibahagiakan. Ini yang berbahaya. Banyak yang gagal membina rumah tangga bukan karena gagal menyatunya dua manusia, tetapi karena gagal mengelola ekspektasi. Sejak awal menikah berekspektasi begini dan begitu.

Tidak sedikit diantara kita yang lebih ramah kepada temannya daripada kepada suaminya. Jleb! Itu yang kadang terjadi dengan saya. Karena menganggap suami itu orang yang paling dekat dengan kita, jadi saya tidak merasa sungkan atau canggung untuk ‘semaunya sendiri’. Hiks, naudzubillah.

Dalam komunikasi, konten itu penting, tetapi porsinya hanya 7%, sedangkan intonasi itu 38%, dan yang paling penting adalah gestur/body language (55%).

Beberapa hal yang BIG NO, terlarang dilakukan kepada suami adalah:

Menyalahkan.

Menyudutkan.

Mempertanyakan.

Meragukan.

Membandingkan.

Me-label

Meremehkan.

Melecehkan.

Merendahkan.

Mengabaikan.

Untuk poin terakhir, mengabaikan, beliau memperingatkan terutama untuk yang sudah punya anak. Wanita yang sudah punya anak cenderung lebih memperhatikan anak daripada suaminya. Ternyata suami itu bisa lo cemburu ke anaknya.

Suami kita punya kebutuhan. Dia tidak akan neko-neko di luar jika di rumah sudah kenyang, kebutuhannya sudah terpenuhi. Kebutuhannya apa, ingat Maslow’s hierachy of needs : mulai dari kebutuhan fisik, rasa aman, kasih sayang/cinta, penghargaan, dan aktualisasi diri. Berikan kebutuhan suami akan hal itu, niscaya dia tidak membutuhkan yang lain.

Salah satu kesalahan lain dalam komunikasi adalah listen to reply, yaitu kita mendengarkan untuk membalas ucapan bukan untuk memahami. Tahan diri untuk membalas ucapan orang yang sedang bicara.

Stres, capek, bosan, lelah, frustasi adalah rasa yang wajar. Ungkapkan saja seperti rasanya, bukan diungkapkan dalam bentuk marah. Beliau mengingatkan juga untuk kita yang memiliki anak laki-laki. Jika anak lelaki kita menangis, jangan disuruh diam dan mengatakan bahwa anak lelaki tidak boleh menangis. Lelaki boleh menangis. Menangis adalah ungkapan sedih. Jika dilarang menangis, maka kelak mereka akan mengungkapkan rasa sedih dengan cara yang buruk, misalnya marah.

Jadi, kalau benda mati seperti aplikasi saja perlu diupgrade, apalagi hubungan dengan suami.

Self Emotional Healing

“Efek workshop gini bertahan berapa lama ya, mbak?” sesembak sesama peserta bertanya kepadaku.
“Ya semoga seterusnya, mbak,” jawabku, yang lebih merefleksikan harapanku.

Dua hari tanggal 19-20 januari lalu saya mengikuti workshop self emotional healing oleh Ibu Safithrie Sutrisno founder roemah emak. Tujuan dari workshop tersebut seperti ini:
-Healing innerchild
-Menemukan jati diri sesungguhnya
-Kemampuan self healing
-Menjadi pribadi yang lebih positif

Diantara yang saya ingat dari workshop kemarin adalah : untuk menjadi positif, keluarkan dulu emosi negatif dan isi dengan emosi positif. ~Yaelah, konsep itu anak kecil juga tau, te~
✌️
Emosi negatif membajak kita hampir tanpa kita sadari (subconsciusmind). Sebagian besar emosi negatif tersebut berasal dari rekaman masa lalu yang di hari ini membentuk pola pikir, kebiasaan, dan perilaku kita.

Meskipun kita sudah berjanji untuk tidak melakukan suatu perbuatan buruk yang menyakitkan kita di masa lampau, namun perbuatan buruk itu bisa spontan kita lakukan. Ada anak kecil dalam jiwa kita yang perlu disembuhkan (innerchild).

Lalu bagaimana memprogram ulang?

– akui emosi tersebut. Namakan. Marah? Kesal? Kecewa? Tarik perasaan kita,
– buang jauh-jauh emosi negatif tersebut
– sebutkan keinginan kita (positif) dengan menyebut secara detail : personal (diri kita), waktunya sekarang, positif, dan passion. >>affirmasi
– visualisasikan.

Untuk menjadi pribadi positif, dapat dilakukan sendiri untuk emosi dari masa lalu maupun masa sekarang (self coaching). Caranya :
– kenali, namakan, dan akui emosi tersebut. Kenali penyebabnya dan apa respon kita
– alirkan emosi tersebut
– melatih bicara kepada diri sendiri
– menyembuhkan diri sendiri.

Tulis dan ucapkan pada diri sendiri.

Untuk menjadi positif, pastikan : you are the master of your minds and your feelings.

Maafkan penyampaian yang tidak utuh dan runtut. Ilmu psikologi tiada, pemahaman juga tak seberapa~

Trus kowe wis berhasil, te?
Ya berproses. Seperti proyek jangka panjang yang hasilnya mungkin baru nampak bertahun-tahun kemudian~
Doain yee gaes.

Catatan na-1

Bismillah,

Saya menulis catatan ini tanpa bermaksud membuka aib atau mempermalukan anak/diri sendiri. Ini hanya dimaksudkan untuk keperluan mendokumentasikan dan memantau perkembangan anak.

***

Anak pertama kami waktu berusia sekitar 1, 5 an tahun, mulai menunjukkan tanda-tanda dia pemalu. Atau apa tepatnya ya. Dia tidak bisa bersikap santai jika ada orang asing di dekatnya. Cenderung diam, hanya mengamati orang, menjaga jarak, dan tidak membaur. Introvert? Tapi sepertinya bukan, dia suka berteman, malah too excited sampai salah tingkah jika ada teman, hanya malu untuk membaur.

Saya pernah berpikir, apakah ini karena cara kami mendidiknya. Kami kemudian mengevaluasi cara kami mendidiknya. Tapi kami merasa biasa saja. Kami juga tidak jarang mengajaknya ke tempat-tempat umum seperti playground, taman, masjid, pengajian pekanan (liqo’), dsb.

Begitu dia punya adik, ternyata sifat malu ini juga muncul di adiknya, meskipun karakter mereka berbeda. Apakah semata-mata karena adiknya ini meniru apa yang dilakukan kakaknya, atau karena sifat yang dia bawa? Saya masih bertanya-tanya.

Kadang kami slow saja karena berpikir ini hanya masalah waktu, suatu saat mereka akan mampu mengatasi masalah ini. Tapi kadang, tidak semudah itu. Perbedaan mereka dengan teman-teman mereka terlalu mencolok. Misalnya ketika bermain di playground. Dia hanya akan bermain jika sudah tidak ada lagi anak lain yang bermain disana. Ketika ditanya orang, belum berani menjawab. Ketika disapa teman, diam saja. Ketika teman-temannya asyik bermain, belum berani bergabung, hanya mengamati saja. Padahal saya tahu, mereka sungguh ingin bergabung bermain, hanya belum berani.

Dan beberapa kali, sifat malu yang berlebihan ini menjadi masalah. Ketika di sekolah, dia (na-1) belum berani menyampaikan kebutuhannya untuk ke toilet, baik untuk bak maupun bab. Dan, bisa ditebak kan akibatnya?

Tapi alhamdulillah, belakangan saat di sekolah, dia (na-1, 5.5y) sudah mau ke toilet sendiri, meskipun tanpa menyampaikan izin ke ibu guru. Tidak apa-apa. Pelan-pelan ya, nak.

Sifat malu berlebihan anak-anak ini cukup membebani pikiran saya. Duuh, apa karena kami salah mendidik yaa… Duuh, apa karena ‘salah’ kami jika ternyata kami mempunyai sifat malu yang kemudian diturunkan yaa… dll. Saya sadari, saya sendiri tidak memiliki kepercayaan diri yang oke, tapi masih taraf wajar. Atau jangan-jangan waktu saya kecil begitu juga?

Liburan ke Situ Gintung?

Setelah sekian lama tidak mendatangi situ gintung, saya penasaran bagaimana kondisinya sekarang.

Awalnya terpikir untuk ke waterpark nya, karena anak-anak pasti senang. tapi begitu membaca ulasan di google, banyak yang mengeluhkan tentang mahal dan tidak pastinya htm sementara kualitas biasa saja. Saya kemudian berubah pikiran. Akhirnya kami memutuskan untuk jalan-jalan di pinggir danau saja.

Harapannya bisa bersantai mengelilingi jalan sepanjang danau. Tapi pas tiba disana, yang dijumpai hanya kelompok-kelompok anak sekolah yang sedang berkemah dan Outbound. Bahkan tidak dijumpai pintu masuk ke pinggir danau, dipagari. Kemudian, begitu menemukan celah, kami langsung menuju danau. Tapi, di jalan pinggiran danau hanya ada motor-motor yang seliweran, seperti ojek. Ini menyebabkan keadaan tidak cukup nyaman untuk pejalan kaki.

Yaudah lah, akhirnya memutuskan keluar saja dari area Outbound dan danau. Oiya, yang saya baru tahu juga, ternyata kebun kumara, klub petani kota yang terkenal di Instagram itu, ada di area Outbound ini juga.

Begitu keluar dari area, kami memutuskan makan siang di bakso boedjangan. Tapi sulit sekali mendapatkan gocar. Mungkin karena lalu lintas di sekitar situ macet sekali. Akhirnya, kami putuskan pakai 2 gojek. Panas-panas. Sabar ya, anak-anak.

Seusai makan siang, kami pesan gocar. Karena kondisi macet, bapak driver meminta kami menuju titik tertentu, yang ternyata itu TIDAK DEKAT. Tengah hari yang terik berjalan di pinggir jalanan macet yang tidak ada trotoarnya, bersama tiga bocah, adalah ujian.

Begitu sampai di titik kesepakatan, si mobil driver malah ternampak di maps menjauh dari titik situ. Walah! Ini berujung pada pembatalan transaksi. – _-. Sabar ya anak-anak.

Begitu mencoba pesan gocar lagi, tidak ada yang mau ambil karena kondisi daerah situ (sekitar UIN Syahid) yang macet cukup parah. Menit-menit berlalu. Demi tersolusikan masalah, kami nekat menggunakan jasa gojek lagi. Dua gojek. Panas-panas. Macet. Dengan jarak yang tidak dekat untuk sampai rumah. Tapi apa boleh buat.

Diantara kami berlima, saya yang paling merasa bersalah. Karena ide bepergian ini berasal dari saya, yang menyebabkan mereka harus berlibur yang

tidak sesuai ekspektasi, dan malah berlelah-lelah seperti ini.

But, ternyata anak-anak itu tidak demikian. Mereka enjoy aja tuh. Hahaha. Masyaallah, barakallahu lakum, Le. Jadilah anak-anak yang kuat mental, fisik, dan terutama iman yaa. ❤️❤️❤️

Nice home work (NHW) #1 Jurusan dalam Universitas Kehidupan

Nice home work (NHW) yang pertama dari mengikuti perkuliahan di IIP berjudul : Jurusan ilmu yang ingin ditekuni dalam universitas kehidupan. Walah, saya cukup ragu untuk mengarahkan jawaban, apakah yang masih abstrak atau sudah konkret. Mestinya sih sudah konkret ya, dan mungkin turunan dari tugas pembukanya yang ‘I have a dream’.

Salah satu atasan di kantor saya sering mengajak mengobrol stafnya tema parenting. Inti dari pesan beliau adalah : kenali passion anak sedini mungkin. Lalu saya menimpali : Lha passion saya sendiri aja belum saya temukan, pak, sambil cengengesan. Jika dilogika, mestinya peran orang tua saya juga berpengaruh. Tapi sudahlah, tidak perlu mencari-cari kambing hitam apalagi orang tua sendiri. Saya hanya perlu memperbaiki saya sendiri agar anak-anak jauh lebih baik dari saya.

Sejauh ini, hal yang ingin saya tekuni adalah berkebun, bercocok tanam, termasuk di dalamnya menjaga lingkungan (mengolah sampah, membuat lubang resapan air tanah dll).

Alasan yang membuat saya ingin menekuninya adalah karena saya bahagia melakukannya. Hehe, kan passion. Dan alhamdulillah passion saya positif untuk lingkungan. Karena kita tahu, bumi semakin tercemar dan rusak. Manusia yang berbuat kerusakan di darat dan di laut. Paling tidak, saya berusaha meminimalisir peran merusak yang saya lakukan, hiks.

Strategi yang saya lakukan sependek ini baru mulai berkebun sekedarnya di secuplik tanah yang tersisa di rumah, mulai mengkomposkan sampah organik, dan bergabung di chat group zero waste. Tapi sejujurnya saya hampir belum melangkah. Saya belum bisa fokus dan serius melakukannya karena keterbatasan waktu dan ilmu yang saya miliki. Pekerjaan saya sebagai pns kementerian dengan jam kerja senin-jumat 07.30-17.00, apalagi di Jakarta yang saya mesti mengalokasikan waktu perjalanan cukup banyak, membuat saya lebih banyak menghabiskan waktu selainnya untuk bermain-main dengan tiga balita saya. Ok, jadi strategi saya sementara hanya : untuk lebih serius lagi dalam belajar dan mempraktikkannya.

Bagaimana adab dalam mendalami ilmu tersebut. Yang pasti saya harus sabar, bersungguh-sungguh, dan menghargai ilmu yang datang dari mana saja (namun harus tetap selektif dalam mempercayai dan mengamalkannya).

Iman anak kita

Anak-anak sehat dan pintar dan nantinya sukses, tentu itu yang kita harapkan. Tapi sungguh, kewajiban kita tidak hanya sampai di situ. Ada tanggung jawab menumbuhkan iman di dada mereka. Dan iman mestinya kita tumbuhkan sedini mungkin. Jangan sampai kita terlena, terlalu santai dalam mendidik anak, membiarkan saja seperti air mengalir. Tidak.

Meskipun itu sungguh tidak mudah.

#

Halo, saya kembali lagi untuk curhat. Apalah daya, uneg-uneg perlu dituntaskan. Dan saya kira media WordPress ini cukup aman buat saya nulis karena cukup jauh dari hiruk pikuk.

Ya, seperti paragraf pembukanya, mengenai anak-anak. Malam-malam begini, melihat mereka lelap itu menyisakan rasa bersalah. Rasa bersalah belum mampu menjadi ibu yang baik bagi mereka.

Ceritanya, saya lagi baper gara-gara si sulung (5 th +) agak sulit diajak shalat. Males lah, bosan lah, begitu alasannya. Huhu…

Menumbuhkan kecintaan dan kebersyukuran kepada Allah sungguh tidak mudah. Oh jangankan itu, saya tidak yakin sudah bisa mengenalkan Allah kepadanya. Terkadang bingung harus bersikap apa kepada anak saat seperti ini. Mmm.. Sepertinya bekal saya jadi orang tua masih sangat kurang. Sedikit sedikit bingung 😭

Wisata Cilacap

 

Alhamdulillah, hari libur di idul fitri tahun ini (1439H / 2018 M) cukup banyak. Apalagi saya tambah cuti tahunan 2 hari jadi genap mendapat libur 2 pekan. Saya dan suami sudah sepakati bahwa lebaran ini kami hanya pulang kampung ke Cilacap, rumah orang tua dari suami. Sedangkan bapak ibu ponorogo akan datang ke Jakarta setelah syawalan (7 hari) syawal karena mereka tidak tega 3 cucunya melalui perjalanan jauh ke ponorogo. Saya sempat meyakinkan bahwa kami akan baik-baik saja di perjalanan namun mereka sudah dhawuh ya apa boleh buat.

Nah, selama 2 minggu di cilacap, kami memanfaatkan waktu untuk mengunjungi tempat-tempat wisata di sana (meskipun sebagian sudah rutin dikunjungi sebelumnya, hehe). Apa saja yang kami kunjungi, ini dia.
  1. Pantai Teluk Penyu.
    Kami kesana pagi-pagi sekali dan petugas ticketing belum ada sehingga bisa masuk free. Kalau di jam operasi, harga tiket masuk saat weekend atau libur nasional adalah 7,5 ribu rupiah. Saat kami kesana, ombak sedang besar, laut sedang pasang sehingga anak-anak hanya kami izinkan di pinggiiir pantai dan harus selalu disertai orang dewasa.
    Nafis 5th sangat menyukai bermain di air, sedangkan nawang 3th masih takut-takut dan lebih banyak bermain pasir saja. Pantai ini cukup bersih namun area pepasirannya agak sempit, sudah mepet daratan.
    Area pantai ini cukup terkenal dengan kuliner seafood nya. Jika anda penyuka seafood, jangan ragu untuk mencoba salah satu dari jejeran kedai seafood ini. Selain itu juga anda bisa membawa oleh-oleh ikan asin besar-besar yang di jual di sepanjang jalan bibir pantai.

  2. Benteng Pendem.
    Di area Pantai Teluk Penyu juga ada objek wisata Benteng Pendem. Nah untuk masuk, ada tiket sendiri, tapi saya kurang tahu harganya. Saya pernah masuk kesana 6 tahun lalu dan belum pernah lagi.
  3. Hutan Payau
    Wisata Mangrove ini terletak di kota, dekat sekali dengan rumah mertua saya. Wisata ini diformat seperti jalan beton di tengah hutan bakau membujur dari pintu masuk wisata sampai bibir perairan laut dan dermaga. Kanan jalan beton dibentuk sedemikian rupa untuk penjual makanan dan wahana di atas akar-akar bakau. Tahun lalu ketika kami kesana, lokasi wisata ini sepi dan kurang terawat. Tahun ini sepertinya sudah dilakukan pemugaran.  Ada wahana-wahana baru seperti mandi bola, jaring-jaring dll. Dibangun juga petak-petak untuk disewakan kepada penjual makanan . Rata-rata yang dijual adalah lotek sayur (mirip pecel), tahu masak (tahu dan tauge dengan bumbu kacang), olahan mie-mie instan, mendoan, dan minuman-minuman ringan. Ada juga menara seperti miniatur monas di tengah-tengah jalan beton. Jika enggan berjalan menuju ujung perairan, jangan khawatir, anda bisa naik perahu dayung. Berikut harga-harganya:

    Htm : 6.5rb
    Wahana : bayar +- 5rb
    Perahu : 3rb
    Lotek : 6rb

    Mendoan : 2rb

    Murah kan? Sayangnya, pemugaran terlihat belum optimal. Wahana sepi, sampah masih terlihat di sekitar, dan saat itu ada segerombolan ABG seenaknya menyalakan petasan di perairan sepanjang mereka berjalan. Aduh,

     

  4.  Small world Purwokerto
    Objek wisata ini terletak di Baturraden, Purwokerto. Dari rumah mertua (Cilacap), lokasi ini berjarak sekitar 60km. Kami pergi dengan angkutan online (Go-car). Selama perjalanan, lalu lintas cukup lancar. Namun begitu mendekati lokasi, macet terjadi cukup parah.
    Begitu sampai disana, kami langsung mencari tempat makan berhubung sudah masuk jam makan siang. Warung-warung makan cukup banyak tersedia. Toilet dan mushala juga tersedia. Untuk masuk kesana, HTM dihargai sebesar  20rb untuk weekend/libur nasional.

    Begitu masuk, kami disambut terik matahari yang cukup menyengat. Ini dimanfaatkan oleh pengelola wisata untuk menawarkan jasa penyewaaan payung. Meskipun kami pergi dengan tiga balita, kami tidak menyewa payung karena males bawa-bawa, hehehe. Kesalahan saya adalah saya tidak menyiapkan sunblock baik untuk saya sendiri, dan juga untuk anak-anak. Hufh, untuk pelajaran di kesempatan berikutnya.
    Yang ‘dijual’ objek wisata ini adalah spot-spot yang dibuat instagramable. Lokasi di lereng bukit mendukung landscape objek wisata. Objek utama disana adalah miniatur bangunan-bangunan di dunia, seperti tembok cina, menara eiffel, taj mahal dll, sakura dan tulip (yang sayangnya sintetis), dll. Selain itu ada spot-spot bebungaan yang vintage.
    Kesimpulannya, Objek ini sebenarnya hanya cocok untuk orang-orang yang suka berfoto, bukan untuk orang yang ingin menikmati berwisata.

    IMG_20180618_145426

  5.  Pantai Sodong
 Pantai Sodong terletak di Kecamatan Adipala, cukup jauh dari kota. Pantai ini juga dekat dengan objek wisata lain yaitu Bukit Selok,  yaitu bisa melihat view dari ketinggian. Areal pantai di sini lebih luas daripada Teluk Penyu yang sudah mepet daratan. Htm sangat terjangkau, hanya 5 ribu rupiah. Jika ingin menyewa gubuk untuk berteduh, cukup membayar 10 ribu rupiah. Lapar? jangan khawatir. Warung-warung berjajar di bibir pantai, demikian juga penjaja makanan banyak berkeliling menawarkan makanan. Untuk yang enggan ke pantai namun ingin air, juga ada kolam renang kolam renang di sekitar pantai.