Etika kepada yang sudah berpasangan

Saya tidak mengatakan bahwa pacar itu pasangan loh ya. Maksud saya pasangan di sini adalah suami/isteri. Tulisan ini terinspirasi oleh sebuah ‘peristiwa’ di facebook. Peristiwa yang terjadi kepada ibu muda yang masih ada hubungan saudara dengan saya. (Maaf ya, say, kutulis disini). Awalnya si ibu muda mengupload beberapa fotonya yang dibikin fotogrid dengan caption kira-kira ‘emak satu anak’ (saya cek lagi postingan sudah dihapus). Sebenarnya itu adalah postingan biasa saja. Namun itulah buruknya media sosial. Postingan yang sebenarnya biasa, untuk sebagian orang lain mungkin tidak demikian. Sebagian kecil orang membaca postingan tersebut akan lain. Eh,  jangan-jangan saya yang terlalu baper membacanya.

Celakanya, postingan yang men-tag suami dari si ibu muda tersebut dikomentari oleh seseorang lelaki yang bukan- tidak-pernah memiliki hubungan dengan si ibu muda (please correct me if i’m wrong, dear my sista). “ehm”, “masih cantik, bu..”, demikian komentarnya.

Maafkan saya jika berlebihan, menganggap komentar itu kurang beretika. Ini lebih mudah dipahami ketika kita mencoba memposisikan diri sebagai pasangan dari si ibu muda.

Terlepas dari peristiwa di atas, saya jadi ingin mengingatkan diri sendiri untuk lebih berhati-hati dalam berinteraksi dengan lelaki yang bukan suami/mahram. Termasuk di dalamnya, berinteraksi dengan lelaki yang sudah beristri.

Tidak sampai ke masalah selingkuh pun, ada banyak hal yang bisa membuat pasangan itu cemburu, terutama isteri.  Oleh karena itu, saya akan mencoba mengumpulkan beberapa hal yang kiranya membuat hati pasangan bisa tersakiti atau setidaknya waswas. Dengan senang hati kalau ada yang memberikan tambahan. Semoga dengan membaca ini kita akan lebih berhati-hati.

  1. Sahabat dekat

Banyak orang berpendapat namanya sahabat ya sahabat. Entah belum menikah, entah sampai menikah, tidak akan ada yang berubah dari persahabatan. Jika persahabatan itu antarwanita atau antarlelaki, saya setuju. Namun jika persahabatan itu antara wanita dan lelaki, emm rasanya perlu dipikirkan kembali. Sesudah menikah, bukankah ada hati yang harus dijaga?

  1. Perhatian

Bentuk perhatian bisa macam-macam. Memberikan makanan ringan, hadiah, mengomentari penampilan dan lain-lain. Hadiah boleh saja, asal tidak dikhususkan ke lawan jenis yang sudah jadi pasangan orang ya.

  1. Pujian

Pujian semacam ‘ganteng’ atau ‘cantik’, menurut saya cukup sensitif. Apalagi jika diucapkan saat yang dipuji sedang ada masalah dengan pasangannya. Duh,

  1. Komunikasi kembali dengan mantan

Ini tergantung, sih. Beberapa merasa hal ini biasa saja. Namun disini saya hanya merangkum apa-apa yang kiranya bisa membuat seorang pasangan cemburu. Cemburu memang boleh, dan bagus. Tapi kalau sengaja membuat pasangan cemburu?

  1. Chatting pribadi

Sejauh pembicaraan adalah mengenai pekerjaan, mungkin tidak masalah. Namun tetap menjadi masalah ketika dilakukan di luar jam kantor dengan intensitas yang lumayan. Ya bayangkan saja, isteri yang hanya bertemu suami di malam hari dan akhir pekan, masa ya masih harus berbagi lagi dengan orang lain.

  1. Curhat

Saya rasa ini yang paling membahayakan. Apalagi yang dicurhatkan adalah masalah keluarga.

Nah, kepada orang yang sudah berpasangan saja kita harus menjaga etika, lebih-lebih lagi kepada pasangan sendiri.  insyaAllah postingannya menyusul ya. Saya juga baruuu mulai belajar ( empat taun ngapain aje kok baru belajar..)

Semoga kita bisa lebih berhati-hati menjaga hati-hati keluarga kita dan ‘membantu’ agar hati-hati keluarga lain juga terjaga.

belajarlah2betika2bberkomunikasi2bdengan2bpasangan

gambar dari sini

Advertisements

lintasan asa

Suatu sore, saya dan bude (pengasuh anak-anak) ngobrol ringan seputar tetangga depan yang hendak tugas belajar ke luar negeri, tentang tetangga lain yang cuti besar, juga tentang kawan saya (yang dikenal juga oleh bude) yang resign dari pekerjaannya. (niatnya) bukan ghibah, ya. Niatnya saya mengabarkan ke bude. Meskipun ternyata bude sudah tahu juga, hehe.

Kenapa ya, bun, udah jadi PNS kok malah keluar. Yang ga jadi PNS aja bayar mahal-mahal buat jadi PNS

Kalau misal aku, ya apalagi kalau bukan urusan anak-anak, bude” jawab saya.

saya dulu juga begitu, bun…

Sebelum bekerja disini, bude kerja di dealer motor.

Kemudian dia melanjutkan “… dulu saya kerja pulang sore rasanya nelongso. Ya kepenginnya bisa lihat anak terus. Tapi trus karena keadaan, sekarang kerja jauh, jadi merasa harusnya dulu udah bersyukur masih bisa lihat anak tiap hari. Sekarang udah ga bisa tiap hari… ya nanti lama-lama juga gak gitu kok, bun (maksudnya lama-lama akan lebih ikhlas dan bersyukur)”

Saya hanya mengangguk senyum-senyum saja. Sebenarnya bukan masalah tidak ikhlas atau tidak bersyukur. Tapi bagaimana yaa… sering kali muncul keinginan untuk mendidik atau mengajari anak sesuai keinginan sendiri. Menerapkan prinsip-prinsip tertentu yang mungkin tidak dilakukan oleh pengasuh.  Jika Anda penganut prinsip ‘stay at home mother’, Anda akan punya banyak sekali alasan dan bisa menjelaskannya dengan lebih detil.

Namun keinginan yang muncul itu tidak jarang ditepis oleh kenyataan lain bahwa saya masih seringkali kalah menahan emosi saat menghadapi anak-anak. Ini  menimbulkan pikiran sepertinya mereka tidak lebih baik jika hanya bersama saya. Duh,

Baiklah, saya jalankan dulu peran seperti ini dengan syarat niat: saya bekerja di luar bukan untuk me time, bukan untuk ‘melepaskan’ diri dari kerempongan anak-anak. Bukan, bukan itu. Saya bekerja karena suami saya (saat ini) lebih ridha saya bekerja, meski tidak mengharuskan, orangtua saya juga demikian. Dan tentunya, karena hutang atas nama pendidikan saya ke negara belum tuntas saya tunaikan.  Semoga Allah juga ridha.

Ibu Bekerja dan Lepas Lebaran

Bagi Ibu bekerja, berakhirnya libur lebaran menjadi momok yang cukup menakutkan. Bukan hanya galau karena meninggalkan kenyamanan (bermalas-malas :p) bersama keluarga, namun juga galau apakah si mbak asisten rumah tangga kembali bekerja dengan kita atau tidak.

Demikian juga dengan saya.

Menjelang kepulangannya, si mbak mengatakan akan memberi kabar ke saya bagaimana kelanjutan hubungan kami *Zzzzz. Saya percaya padanya. Dari kesehariannya dia berlaku baik. Saya pegang janjinya untuk mengabari.

Satu pekan libur lebaran berakhir, tidak ada kabar, berarti aman!

Dua pekan hampir terlewati, kembali ke jakarta sudah tinggal menunggu jam, saya ingin memastikan keberbalikannya seraya mengucapkan selamat hari raya. Hanya melalui sms sih.

Sejam. Dua jam. Dua hari. Tidak ada balasan.

“Katanya si mbak ke Depok..” kabar yang saya dengar dari tetangga.

Kecewanya, bukan karena dia tidak kembali. Alih-alih mengabari, sms pun tak dibalasi. Baiklah, mungkin nomer hp nya ganti, dan nomer hp saya tidak tersimpan. Semoga mendapatkan tempat dan hidup yang lebih baik ya, mbak.

Lelaki Perempuan

“Yah, tadi makan apa?” tanyaku mematuhi rutinitas dialog yang kami lakukan di perjalanan pulang kantor.

“cendol” jawabnya singkat.

“Itu doang? Kok ga makan nasi?”

“Tadi ayah keluar…”

“Keluar? Kemana? Ngapain sampe ga sempet makan?”

Tidak ada sahutan.

“Tadi makan apa, bun?” tanyanya balik.

Aku diam saja.

“Kok diem, ngantuk yaa..” godanya

“Tadi ditanya keluar kemana ga dijawab.” kataku,  sambil bersungut-sungut.

“Tadi ayah keluar, buuuuun…”

Hening. Kira-kira kemana ya dia pergi. Kenapa tidak bilang. Sampai tidak sempat makan siang. Apa sedang bisnis apa. Apa ketemu teman lama. Atau ada tugas dari atasannya yang harus dilakukan diluar kantor. Ah, kutepis berbagai lintasan kira-kiraku. Sepanjang perjalanan dia mencoba mencairkan suasana, mengomentari ini itu yang ditemui di jalan. Namun rasa-rasanya aku masih enggan berkomentar pun senyum. Pertanyaan kenapa dia tidak cerita apa-apa, terus berkecamuk dalam pikiranku.

Malam ini, kejadian sepulang kantor tadi tak lagi menjadi pikiranku. Besok ada acara konsinyering dan ada pekerjaan yang harus kuselesaikan sebelumnya. Selama beberapa tahun bekerja, baru kali ini namaku tercantum dalam surat tugas untuk mengikuti konsinyering. Kebetulan lokasinya di hotel dekat dengan rumah. Kabar baik sekaligus buruk untukku –seorang ibu dengan dua batita (bayi  bawah tiga tahun).  Baiknya, aku bisa berangkat lebih siang daripada hari-hari biasa, aku bisa pulang sejenak di jeda kegiatan. Buruknya, konsinyering selesai jam sembilan malam tiap harinya.

Beberapa hari menjelang konsinyering ini aku cukup uring-uringan. Pasalnya, motor yang sebelumnya biasa kupakai, starternya mati. Dengan ‘standar ganda’ yang sudah tidak ori ini, aku kesulitan ‘nyetandarkan’ motor untuk diselah (kick starter). Yaaah, gimana dong pergi ke hotelnya, dengusku. Masa minta tolong orang terus buat nyetandarin. Kalo mogok di lampu merah gimana, pikiranku melayang-layang.

“Yaaah, tolong panasin dong motornya.” pagi-pagi kuminta suamiku menyalakan motor.

Namun dia tidak beranjak dari tempatnya.

Kira-kira jam setengah tujuh, suami siap-siap berangkat kerja.

“Yaah, tolong motornyaa…” rengekku lagi.

“Ya ayuk diajarin.”

Aku menyerahkan kunci  motor kepadanya.

“Yaudah dicoba.” katanya.

Huh.

Aku pun menuruti sarannya, menekan starter tangan setengah hati.

Ckbreeeeem….

Kaget.” Loh kok bisa?” Aku menatapnya tak percaya. Dia senyum-senyum, “kemarin ayah keluar… bawa motor ke bengkel.”

Cless! Aku tak bisa membayangkan betapa anehnya wajahku saat itu.

“Berangkat ya, bun. Assalamu’alaikum.” katanya meninggalkanku yang masih terbengong-bengong.

banner

(Tulisan ini diikutsertakan dalam mini giveaway pengalaman yang menyentuh dalam rumah tangga)

Likulukalaku

bagiku, tidak ada yang lebih membahagiakan lebih dari melihat orang yang kita cintai berubah ke arah kebaikan.

lelaki itu, empat tahun lalu mengajakku membeli sepetak tanah dengan pinjaman dari bank. maju-mundur tarik-ulur. aku bimbang. dia meyakinkanku, mumpung ada yang menarik nih, katanya. keputusan pun dibuat. menyesal? tentu saja. mana mungkin terjerat riba dan bahagia. namun, aku tak mungkin melimpahkan kesalahan padanya saja. apa yang kami lakukan adalah keputusan kami berdua.

hari-hari berlalu, mekanisme bank terus berjalan. sekitar satu tahun lalu, facebook memperkenalkan lelaki itu pada Saptuari Sugiharto, pengusaha humoris yang getol mengkampanyekan anti riba. dia tertarik dengan konsep-konsep yang dibawa kang Saptu : konsep bisnisnya, konsep sedekahnya, konsep antiribanya; juga rajin membaca update di grup pengusaha tanpa riba hingga membeli buku-bukunya.

tapi ternyata, itu semua belum cukup membuat kami berhenti. ketika dihadapkan pada pilihan memperpanjang kontrak rumah atau membangun rumah di atas tanah yang kami beli (dengan pinjaman yang masih berjalan) tadi, kami kembali kalah. kami memutuskan pada pilihan kedua dengan konsekuensi menambah pinjaman.

rasanya antara sedih dan marah pada diri sendiri. adakah yang lebih buruk dari mengetahui bahwa sesuatu itu salah namun tetap melakukannya?

beberapa bulan lalu, qadarullah di kantor, lelaki itu dipindahkan ke bagian lain yang menyebabkan beban kerjanya menurun. dengan load pekerjaan yang sedikit itu, dia jadi mempunyai lebih waktu untuk membaca-baca artikel, mencari-cari peluang bisnis sampingan, dan memulai usaha kecil-kecilan. memang masih terlalu dini dan belum seberapa jika dikatakan semua ini dilakukan dalam semangat melunasi utang. namun, saya bahagia melihat ada nyala kecil dalam dirinya yang ia jaga dan semakin terasa hangatnya. apalagi setelah pagi ini dia mengatakan akan mendaftar KOBAR (komunitas bebas riba), komunitas yang dibentuk rekan-rekan instansi yang bertujuan saling bantu-membantu dalam pelunasan utang riba. entah perannya disana sebagai apa,  akan kubantu dia menjaga nyalanya.

masih jauh

rasanya keberbuncahan saya beberapa waktu lalu terlalu prematur. waktu itu saya senang melihat kemampuan menghafal surat-surat al-Qur’an nafis cukup cepat. waktu itu kukira semua akan berlanjut mulus, baik-baik saja. kukira aku akan tetap membacakan surat-surat pendek untuknya, dia menyimak (ya menyimak ala anak-anak sih), dan ketika kuminta dia melafalkan dia mau.

ternyata tidak. kebiasaan membaca surat-surat pendek menjelang tidur sudah mulai digeser dengan buku. ya dia memilih dibacakan buku. merengek-rengek tidak mau mengaji, maunya baca buku saja. baiklah, apa boleh buat. baru ketika sudah lelah baca buku, saya bacakan satu dua surat pendek.

buruknya, sekarang bertambah lagi godaannya. dia sudah bisa buka-buka hape sendiri. setiap malam minta pinjam hp, dia buka sendiri. sejauh ini dia baru bisa buka foto atau video. saya sengaja tidak menginstal game apapun ataupun aplikasi youtube. namun bukankah itu cukup membuatnya enggan membaca buku, alih-alih mengaji.

di satu sisi, adakalanya saya terbantu ketika dia sudah pegang hp, maka kesempatan menidurkan adiknya akan lebih minim gangguan. duh, buruknya mengalihkan anak ke gadget…

pilihan

hai wordpress, lima bulan tidak menulisimu, bukan berarti aku tidak peduli ya. aku selalu mengunjungimu. untuk apa? ya biar ada kekuatan untuk menulis lagi. keinginan sih ada, tapi, oh Tuhaan, susaah sekali memulai. beberapa ide berseliweran, namun akhirnya menguap entah kemana.

akhirnya sekarang kuberanikan diri menulis disini lagi. ehm, menulis apa aja lah, yang penting bisa jadi pancingan tulisan-tulisan berikutnya. hehe.

btw, sudah lebih dari lima bulan aku masuk kembali ke kantor. oh, berarti sejak itu pula aku berhenti tidak menulis apapun. eit, tapi jangan berpikir aku ga menulis karena sibuk yaa. sama sekali tidak. kerjaanku disini sedikit. ssst, tapi jangan bilang-bilang orang yah, hehe.  itu yang sebenarnya membuatku merasa beraaaat meninggalkan anak-anak di rumah. apa yang kulakukan disini sungguh sedikit, tidak sebanding dengan apa yang kutinggalkan di rumah. hiks. makanya beberapa bulan terakhir keinginan untuk re**** kembali menggebu.

jujur, aku mengkhawatirkan anak-anak yang di rumah dengan dua pengasuh. bukan khawatir tidak terawat, malah sebaliknya. aku khawatir anak-anak jadi kurang mandiri. satu anak dijaga satu pengasuh. apa-apa jadi minta dibantuin. minta minum, minta ini itu, ditinggal sebentar saja nangis (yang kecil). hufh, bagaimana mereka bisa mandiri.

namun apalah daya. keuangan keluarga sedang seret karena pengeluaran (boleh disebut investasi lah ya) yang begitu besar akhir-akhir ini. jadi pilihan untuk re**** kembali menjauh. doakan aku ya, wordy.

mengukir cahaya

yahsabu anna ma yahuuu ah a dah

Saya tersentak dan mengamati ocehannya lamat-lamat. Meski lafadznya belum tepat benar, saya bisa menangkap bocah kecil 27 bulan ini mendengungkan potongan surat al-humazah sambil bermain lego. Rasanya seperti setitis air menyejuki rongga kalbu. Saya takjub, karena biasanya yang digumam ‘hanya’ potongan surat al-fatihah dan 3 surat pendek secara acak. Saya kemudian menjadi menyesali bahwa akhir-akhir ini menjadi sedikit berkurang intensitas membacakannya surat-surat pendek. Ini karena bocah ini akhir-akhir ini sering meminta dibacain buku ‘saja’ daripada diajak mengaji (membaca surat-surat pendek) sebelum tidur.

Saya mesti bersyukur dibalik keterbatasan saya memberikan hak asinya sampai 2 tahun, ada hikmah Allah dibaliknya. Sewaktu umurnya 13 bulan, Allah menganugerahkan rizki amanah baru di kandungan saya. Dan puncaknya di usia bocah itu 14 bulan, dia tidak mau lagi menyusu. Bagaimana lagi. Maka, ritual menidurkan dengan menyusu berubah menjadi membacakan surat-surat pendek sambil mengipasinya pelan serta menepuk-nepuk punggungnya perlahan. Dengan cara seperti memang butuh waktu jauh lebih lama untuk menidurkannya. Kira-kira setengah jam. Bahkan kadang lebih. Dan ini dilakukan sehari tiga kali karena waktu itu dia masih tidur siang dua kali. Dan alhamdulillah, ketika saya sedang tidak di rumah (kuliah), maka bude yang mengasuhnya pun cukup kooperatif dengan melakukan cara yang sama untuk menidurkannya, meski kadang diselingi lagu-lagu anak.

Saya tidak sedang berbangga dengan apa yang sudah saya lakukan. Siapalah saya yang hanya memiliki hafalan Quran sekelumit. Bahkan cara yang saya lakukan pun ‘hanya sambil’, sambil menidurkan, bukan program khusus dengan target tertentu. Namun saya hanya sedang mengingatkan diri bahwa mengukir ilmu pada anak itu seperti mengukir di atas batu. Memang akan lebih ringan bagi saya –setelah membacakan buku untuknya, kemudian hanya menepuk-nepuk perlahan punggungnya sambil terdiam sunyi. Ini membuatnya lebih cepat tidur daripada saya membacakan surat-surat pendek setelah membacakan buku. Akhir-akhir ini saya melakukan ini. Sungguh sayang. Tetapi dengan gumaman potongan surat al-humazah tadi seolah-olah kembali menyentak saya, mengingatkan saya bahwa cara sederhana yang saya lakukan tidak sia-sia. Dia merekam. Maka saya kembali yakin harus melakukannya dengan konsisten.

Semoga Allah memampukan kami.

nafis dan nawang

Baik hati atau mempertahankan hak milik

Siang tadi nafis menangis. Sudah hal yang biasa sebenarnya, mainannya dipakai temannya. Dia menangis sambil merebut mainannya yang kemudian direbut lagi oleh temannya dengan kasar sambil mendorong nafis. Nafis pun menangis makin keras dan lari menuju saya. Saya memeluknya dan mengatakan, “gakpapa, nak. Itu mainannya kan dipinjem x. Biasanya nafis juga pinjem mainan x kan”. Di titik ini sebenarnya saya mulai ragu apakah yang saya lakukan benar. Di satu sisi, saya ingin anak saya bisa berbagi, bermain bersama-sama temannya, dan tidak pelit tentunya. Tetapi, jika saya seperti itu dan memintanya ‘legawa’, artinya saya membenarkan tindakan temannya yang merebut mainannya. Dia akan berpikir tidak apa-apa merebut milik orang. Mungkin dia suatu ketika merebut mainan temannya dan saya kasih tahu bahwa itu tidak boleh, dia akan bingung, ibunya tidak konsisten.

Di sisi lain, ada kegundahan saat melihatnya seperti ini, tidak melawan, hanya menangis. Saya khawatir dia tidak survive nantinya. Maka, sebenarnya melihat ini, meski mulut saya menyuruhnya untuk legawa, hati saya berteriak menyuruhnya melawan. Agar dia belajar mempertahankan miliknya. Dan kemudian saya sadari, selain fisiknya yang hampir sepenuhnya mirip dengan saya, ternyata sifat saya juga banyak menurun padanya. Cengeng. Memang dalam titik-titik kehidupan yang saya jalani, saya lebih banyak di posisi bertahan daripada menyerang. Maafkan ibumu nak yang mewariskan sifat kurang baik ini.

Nah kembali ke nafis, pada akhirnya saya hanya mampu memintanya legawa, menjelaskan bahwa kita harus berbagi. Jajan dimakan bareng. Mainan dipakai bersama. Tentunya sambil disampaikan ‘tetapi tidak boleh dengan merebut, kalau pinjam baik-baik ya’

.CAM00892[1]

tentang nafis sampaidengan 7 bulan

alhamdulillah, hari ini nafis udah berusia 7 bulan 5 hari. saya hendak merangkum beberapa hal yang terjadi pada nafis yang juga dialami bayi2 lain, semua atau sebagiannya. kalau dibilang untuk berbagi, ehm saya rasa tidak. udah banyak sekali para supermom yang berbagi problematika dan saran terkait tumbuhkembang putraputri mereka di tulisan tulisan . kini para ibu semakin terdidik. kita akan dengan mudah menemukan segala informasi mengenai kehamilan dan kelanjutannya di internet. search, dan sepersekian detik akan muncul tulisan tulisan terkait. grup grup ibu-anak yang bertebaran di dunia maya, terutama fb; offline maupun online baby shop menjamur. alhamdulillah, semoga kecerdasan para ibu menumbuhkembangkan putra putrinya tak melalaikan untuk menyertakan bekal iman.

1. nursing strike
hal yang saya takutkan sejak pertama kali membeli botol dot untuk nafis benar benar terjadi, tepat ketika nafis 5 bulan. berawal ketika dia mulai enggan menyusu, sebentar sebentar dilepas. kemudian hingga benar benar tidak mau, baru dideketin udah nangis kejer. aih, tak karuan rasanya ditolak anak. dia hanya baru mau ketika mulai sliyep sliyep tertidur atau ketika udah tidur. itupun sebentar sebentar.

nursing strike ini istilah jika bayi enggan menyusu. nursing strike bisa disebabkan beberapa hal : trauma ketika menyusu ibunya pernah teriak, menjerit, atau bicara keras keras; karena aroma parfum ibu yg mengganggu; karena bayi hendak tumbuh gigi; karena nipple confusion akibat penggunaan dot yg frekuensinya lebih banyak daripada menyusu langsung. kasusnya nafis kemungkinan terjadi dg penyebab yg terakhir saya sebut. inilah mengapa para konselor dan ahli tidak menyarankan penggunaan dot, tetapi cup feeder atau sendok. tp sayanya yg dari awal khawatir akan merepotkan pengasuhnya, tetap kekeuh pake dot.

kalau sudah begini apa yg harus saya lakukan? saya mulai coba menggunakan sendok, tapi buurrr burrr disembur sembur. tepat sebulan kemudian, dia mulai mau menyusu tanpa nangisberontak. dengan pelan pelan dihibur dulu dibujuk dirayu dibuat swnang lah. saya tidak tahu pasti alasan apa yg sejatinya menyembuhkannya. alhamdulillah sampai saat ini udah ga menolak lagi.

2. gendongan bayi
uhh, entah bagaimana sampai nafis berumur sekian bulan ini, saya masih blm bisa menggendongnya dg nyaman. sejauh ini hanya sekedar mengangkat memindahkannya dari kamar ke depan atau sebaliknya. berasa menjadi ibu yg menyedihkan. searching searching tentang gendongan, saya baru tau kalo ada yg harganya mencapai dua jeti. oh maak. sebelumnya di rumah saya udah ada beberapa gendongan sling, carrier, dan wrap. tp masih blm nyaman. akhirnya saya memutuskan membeli carrier merk lokal Neo CMC (Neo cuddle me carrier ) secara online Rp 370 rebu, sepertiga harga carrier import ori. sejauh ini cukup tidak membuat pundak pegel karena beban ditumpukan pada pinggang, seperti rasa saat hamil. maaf tidak menyertakan gambar.

3. MPASI dan sembelit
menginjak 6 bulan, nafis mulai saya perkenalkan dengan mpasi, makanan pendukung asi. beberapa peralatan yg saya siapkan: hand blender (saya pake oxone ), feeding set, saringan kawat, buku superlengkap makanan bati sehat alami pak wied,apa lagi ya. . haha. untuk ukuran ibu masa kini, saya termasuk agak santai (untuk tidak mengatakan ga mau repot ). saya tidak membuat menu harian, beberapa peralatan nafis masih memakai peralatan orangdewasa seperti pisau panci, seringnya cuma saya kasih pisang yg ga repot. -_-parah. jadi kalau saya rangkum apa apa yg udah saya suapkan ke nafis selain asi adl: pisang, pepaya, apel, jeruk, belakangan kentang, jambu biji, gasol.

nah tiga hari terakhir ini nafis ga pup, saya jadi khawatir. dan benar, pagi ini selesai subuh dia ngejan sambil nangis kenceng banget. aaak, pupnya keras. kami urut urut perutnya sambil ditenangkan. pupnya berdarah saya rasanya mau ikut nangis. selesai, dia saya tidurkan. sebangunnya ternyata masih berlanjut. aaaa. alhamdulillahnya hari ini saya cuti.
saya blm tau makanan apa penyebabnya, bisa jadi kwntang, gasol, atau jambu. jd sementara stop dulu yang itu ya,nak.

sekian dulu rangkuman tentang nafis. sebenarnya tak ingin latah dg menulis apa apa tentang tumbuhkembang anak. tp ini benar benar sekedar utk mendokumentasikan, untuk mengikat ingatan saya yg temporer. .maaf ejaan agak kacau karena nulis pake hp.