(tjurhaat) utang piutang

Masalah utang piutang sangat berpotensi menimbulkan konflik apabila ada kemacetan/kendala dalam pelunasannya. Apalagi jika terjadi antar saudara.

Itu juga yang terjadi dengan saya. Curhat boleh yaaa…  Ada saudara dekat yang cukup sering meminjam uang. Rata-rata 2 bulan sekali dengan nominal mencapai 6 digit. Duh, saya tau dia butuh uang dan saya ada, tapiii…rasanya gimanaaa gitu. Susaaah mau ikhlas kalau terjadi terus-terusan sementara belum pernah sekalipun dia mengembalikan.

  • Sering pinjam
  • Jumlah tidak sedikit
  • Belum pernah mengembalikan
  • Keluarga muda yang sehat wal afiat suami istri dan anak2nya
  • Belum nampak serius ikhtiar menjemput rizqinya
  • Ibadah masih entah.., bahkan Sholatnya pun jarang, hiks
  • Secara jalur kekeluargaan dekat, tapi secara emosional jauuh. Hampir tidak pernah berkomunikasi. dia menghubungi hanya kalau mau pinjam uang. Itu pun to the point, tidak pernah menanyakan kabar. Bahkan berterima kasih pun hampir tak pernah.

Astahgfirullah… bukannya ngarep di’terima kasih’ i, tapii…

Piutang terdahulu sudah diikhlaskan sih, tapi kalo lagi dan lagi ya sepet juga di hati.

Urusan utang piutang ini memang mesti kita waspadai, gengs. Awalnya memang mubah, tapi bisa mencelakakan, apalagi kalau ada unsur ribanya. Naudzubillaah.

Advertisements

kisahku untukku

Pernah, sekitar setengah tahun lalu, dengan instruksi atasan, saya mengikuti sebuah acara bedah buku yang diselenggarakan oleh instansi sebelah yang masih dalam satu naungan kementerian. Buku yang dibedah dalam acara tersebut adalah Kisah Hidupku yang ditulis oleh ‘Kick’ Andy F. Noya, dengan –tentu saja- menghadirkan penulisnya. Sebagai tambahan informasi tidak penting, jika ada undangan acara hore-hore seperti ini, selalu, atau seringnya saya lah yang diutus datang. Yaa, setidaknya itu bisa menggambarkan bagaimana saya sebenarnya dalam dunia nyata. Hore-hore. -_-

Saya bukan ingin menceritakan tentang Bung Andy atau bukunya. Hanya, mau mencomot sedikit. Waktu itu Bung Andy mengatakan bahwa beliau sebenarnya gundah ketika menerbitkan buku tentang kisah hidupnya itu. Banyak aib masa lalunya yang sangat sedikit orang yang mengetahuinya, yang ia ceritakan dalam bukunya. Namun sebagai seorang jurnalis, ia berprinsip seorang jurnalis harus jujur.

Nah sebenarnya kegundahan ini juga terjadi pada saya (padahal sopo aku, wkwk). Yang saya tulis-tulis di blog selama ini tentu saja sudah saya filter dulu (pencitraan, :p). Namun sebenarnya ada keinginan untuk menuliskan semuanya, termasuk keburukan-keburukan saya, sebagai pengingat agar tidak sampai terulang keburukan yang sama. Hmms, tapi bukankah semestinya jika Allah sudah menutup aib kita, semestinya kita tidak mengumbarnya. Terdengar bisikan, yowis ditulis di buku diary aja, atau di simpan saja di komputer/storage dan dipassword atau visibiliti blognya dibuat password protected aja. Tapi,