Ibu Bekerja dan Lepas Lebaran

Bagi Ibu bekerja, berakhirnya libur lebaran menjadi momok yang cukup menakutkan. Bukan hanya galau karena meninggalkan kenyamanan (bermalas-malas :p) bersama keluarga, namun juga galau apakah si mbak asisten rumah tangga kembali bekerja dengan kita atau tidak.

Demikian juga dengan saya.

Menjelang kepulangannya, si mbak mengatakan akan memberi kabar ke saya bagaimana kelanjutan hubungan kami *Zzzzz. Saya percaya padanya. Dari kesehariannya dia berlaku baik. Saya pegang janjinya untuk mengabari.

Satu pekan libur lebaran berakhir, tidak ada kabar, berarti aman!

Dua pekan hampir terlewati, kembali ke jakarta sudah tinggal menunggu jam, saya ingin memastikan keberbalikannya seraya mengucapkan selamat hari raya. Hanya melalui sms sih.

Sejam. Dua jam. Dua hari. Tidak ada balasan.

“Katanya si mbak ke Depok..” kabar yang saya dengar dari tetangga.

Kecewanya, bukan karena dia tidak kembali. Alih-alih mengabari, sms pun tak dibalasi. Baiklah, mungkin nomer hp nya ganti, dan nomer hp saya tidak tersimpan. Semoga mendapatkan tempat dan hidup yang lebih baik ya, mbak.

Advertisements

masih jauh

rasanya keberbuncahan saya beberapa waktu lalu terlalu prematur. waktu itu saya senang melihat kemampuan menghafal surat-surat al-Qur’an nafis cukup cepat. waktu itu kukira semua akan berlanjut mulus, baik-baik saja. kukira aku akan tetap membacakan surat-surat pendek untuknya, dia menyimak (ya menyimak ala anak-anak sih), dan ketika kuminta dia melafalkan dia mau.

ternyata tidak. kebiasaan membaca surat-surat pendek menjelang tidur sudah mulai digeser dengan buku. ya dia memilih dibacakan buku. merengek-rengek tidak mau mengaji, maunya baca buku saja. baiklah, apa boleh buat. baru ketika sudah lelah baca buku, saya bacakan satu dua surat pendek.

buruknya, sekarang bertambah lagi godaannya. dia sudah bisa buka-buka hape sendiri. setiap malam minta pinjam hp, dia buka sendiri. sejauh ini dia baru bisa buka foto atau video. saya sengaja tidak menginstal game apapun ataupun aplikasi youtube. namun bukankah itu cukup membuatnya enggan membaca buku, alih-alih mengaji.

di satu sisi, adakalanya saya terbantu ketika dia sudah pegang hp, maka kesempatan menidurkan adiknya akan lebih minim gangguan. duh, buruknya mengalihkan anak ke gadget…

mengukir cahaya

yahsabu anna ma yahuuu ah a dah

Saya tersentak dan mengamati ocehannya lamat-lamat. Meski lafadznya belum tepat benar, saya bisa menangkap bocah kecil 27 bulan ini mendengungkan potongan surat al-humazah sambil bermain lego. Rasanya seperti setitis air menyejuki rongga kalbu. Saya takjub, karena biasanya yang digumam ‘hanya’ potongan surat al-fatihah dan 3 surat pendek secara acak. Saya kemudian menjadi menyesali bahwa akhir-akhir ini menjadi sedikit berkurang intensitas membacakannya surat-surat pendek. Ini karena bocah ini akhir-akhir ini sering meminta dibacain buku ‘saja’ daripada diajak mengaji (membaca surat-surat pendek) sebelum tidur.

Saya mesti bersyukur dibalik keterbatasan saya memberikan hak asinya sampai 2 tahun, ada hikmah Allah dibaliknya. Sewaktu umurnya 13 bulan, Allah menganugerahkan rizki amanah baru di kandungan saya. Dan puncaknya di usia bocah itu 14 bulan, dia tidak mau lagi menyusu. Bagaimana lagi. Maka, ritual menidurkan dengan menyusu berubah menjadi membacakan surat-surat pendek sambil mengipasinya pelan serta menepuk-nepuk punggungnya perlahan. Dengan cara seperti memang butuh waktu jauh lebih lama untuk menidurkannya. Kira-kira setengah jam. Bahkan kadang lebih. Dan ini dilakukan sehari tiga kali karena waktu itu dia masih tidur siang dua kali. Dan alhamdulillah, ketika saya sedang tidak di rumah (kuliah), maka bude yang mengasuhnya pun cukup kooperatif dengan melakukan cara yang sama untuk menidurkannya, meski kadang diselingi lagu-lagu anak.

Saya tidak sedang berbangga dengan apa yang sudah saya lakukan. Siapalah saya yang hanya memiliki hafalan Quran sekelumit. Bahkan cara yang saya lakukan pun ‘hanya sambil’, sambil menidurkan, bukan program khusus dengan target tertentu. Namun saya hanya sedang mengingatkan diri bahwa mengukir ilmu pada anak itu seperti mengukir di atas batu. Memang akan lebih ringan bagi saya –setelah membacakan buku untuknya, kemudian hanya menepuk-nepuk perlahan punggungnya sambil terdiam sunyi. Ini membuatnya lebih cepat tidur daripada saya membacakan surat-surat pendek setelah membacakan buku. Akhir-akhir ini saya melakukan ini. Sungguh sayang. Tetapi dengan gumaman potongan surat al-humazah tadi seolah-olah kembali menyentak saya, mengingatkan saya bahwa cara sederhana yang saya lakukan tidak sia-sia. Dia merekam. Maka saya kembali yakin harus melakukannya dengan konsisten.

Semoga Allah memampukan kami.

nafis dan nawang

Baik hati atau mempertahankan hak milik

Siang tadi nafis menangis. Sudah hal yang biasa sebenarnya, mainannya dipakai temannya. Dia menangis sambil merebut mainannya yang kemudian direbut lagi oleh temannya dengan kasar sambil mendorong nafis. Nafis pun menangis makin keras dan lari menuju saya. Saya memeluknya dan mengatakan, “gakpapa, nak. Itu mainannya kan dipinjem x. Biasanya nafis juga pinjem mainan x kan”. Di titik ini sebenarnya saya mulai ragu apakah yang saya lakukan benar. Di satu sisi, saya ingin anak saya bisa berbagi, bermain bersama-sama temannya, dan tidak pelit tentunya. Tetapi, jika saya seperti itu dan memintanya ‘legawa’, artinya saya membenarkan tindakan temannya yang merebut mainannya. Dia akan berpikir tidak apa-apa merebut milik orang. Mungkin dia suatu ketika merebut mainan temannya dan saya kasih tahu bahwa itu tidak boleh, dia akan bingung, ibunya tidak konsisten.

Di sisi lain, ada kegundahan saat melihatnya seperti ini, tidak melawan, hanya menangis. Saya khawatir dia tidak survive nantinya. Maka, sebenarnya melihat ini, meski mulut saya menyuruhnya untuk legawa, hati saya berteriak menyuruhnya melawan. Agar dia belajar mempertahankan miliknya. Dan kemudian saya sadari, selain fisiknya yang hampir sepenuhnya mirip dengan saya, ternyata sifat saya juga banyak menurun padanya. Cengeng. Memang dalam titik-titik kehidupan yang saya jalani, saya lebih banyak di posisi bertahan daripada menyerang. Maafkan ibumu nak yang mewariskan sifat kurang baik ini.

Nah kembali ke nafis, pada akhirnya saya hanya mampu memintanya legawa, menjelaskan bahwa kita harus berbagi. Jajan dimakan bareng. Mainan dipakai bersama. Tentunya sambil disampaikan ‘tetapi tidak boleh dengan merebut, kalau pinjam baik-baik ya’

.CAM00892[1]

Catatan Penggenap 24

Saya bukan seorang yang suka mensakralkan momen tanggal lahir, tetapi catatan ini sekedar merangkum beberapa momen menujunya dan semoga akan menjadi pelajaran yang menumbuhkan dan mendewasakan. Bismillah, semoga tidak mengganggu keikhlasan.

23 Juni menjadi momen besar bagi saya pribadi. Karena hari itu mengubah status saya menjadi seorang ibu. Kehadiran si kecil ini sangat mempengaruhi saya baik secara fisik maupun emosi. Memutuskan untuk melahirkan anak pertama di perantauan, tidak di rumah orangtua, bagi saya awalnya ringan saja. Tetapi ternyata, krn mungkin persiapan mental saya sendiri yang kurang, itu tidak mudah. Meski dari luar terkesan baik2 saja,  toh orangtua dan mertua kesini juga,  tapi ah.. fisik lelah dan lintasan lintasan pikiran banyak sekali mengganggu. Mungkin ini yang didefinisikan ilmiah dengan baby blues syndrome .  Bismillah selanjutnya saya berusaha positifkan pikiran. Alhamdulillah makin lama pikiran negatif berkurang.  Saya menikmati momen momen bersama si kecil dan selalu berdoa untuk menguatkan keyakinan bahwa kami akan mampu menjadi orangtua yang baik. Berdoa memohon kekuatan dan petunjuk dari Allah.

Dan kemudian mungkin memang kami sedang ditegur Allah. 1 agustus ayah si kecil jatuh dari motor yang dikendarainya dalam perjalanan menuju kantor. Tidak ada luka serius kecuali ada sedikit retak pergelangan tangan kanan.  Dan saya sendiri tidak menyangka luka ini selanjutnya mesti dioperasi (meski operasi itu pilihan kami juga). Shock, jujur saya iya. Ini terjadi disaat saya sangat sedang butuh dukungan suami untuk merawat si kecil, saat jauh dari orangtua, saat hari raya tidak mudik, saat sebelumnya saya begitu mengandalkannya membantu ini itu. ..tapi kemudian Astaghfirullah, bukankah kita hanya boleh bergantung kepada Allah? Yakin. Yakin. Ikhlas ikhlas. Semoga semua ini akan menjadi penghapus dosa dosa kami.

Dan hei, bukankah ini ramadhan? Apa yang saya ragukan dari kemuliaan bulan ini? Musim kebaikan, musim dimana dijanjikan pahala dan ampunan berlipat. Ahh.. alhamdulillah.

Nafis Ayyash Handoyo

Allah, Dia yang menghidupkan dan mematikan, Yang Maha Kuasa, Maha Berkehendak atas segala sesuatu. Segala puji bagi-Nya. Hari ini, Kamis 4 Juli 2013 genap duabelas hari, dia masuk ke kehidupanku (‘ku’? terdengar egois. Haha. Biarlah). Si kecil mungil yang kemudian mengambil duniaku. Pagiku siangku malamku. Tentu saja ini bukan keluhan. Ini ungkapan syukur bahagia. Bahagia yang bercampur dengan beragam perasaan yang tak terdefinisi.

Dia yang kemudian kami beri nama Nafis Ayyash Handoyo . Cukup lama waktu yang kami perlukan untuk satu kesepakatan ini. Kalo bukan deadline dari Bidan untuk persyaratan pembuatan akte, mungkin lebih lama lagi :D.

Nafis, ini nama yang dikekeuhkan si ayah. Nafis yang berasal dari kata nafasa. Yang lazimnya untuk nama tersusun dari nun, fa, ya (sukun), sin menjadi nafiis dalam ejaan arabnya yang berarti berharga/bernilai.

Ayyash, ini adalah murni obsesiku :p.

Engkau tau, nak, siapa Yahya Ayyash? Bunda ingin engkau meniru semangat jihadnya meski dengan cara tak serupa.

Handoyo, memanggilmu demikian karena engkau adalah anak ayahmu.

Menjadi apapun engkau kelak, nak, ayahbunda akan mendukungmu. Asalkan engkau mencintai Allah dan RasulNya diatas yang lain.

Maafkan ayahbunda yang mestinya mempersiapkan kedatanganmu jauh hari, bahkan sebelum kami saling mengenal, tapi iman kami masih begitu rapuh . Sekarang belum terlambat kan, nak? Bantu ayahbunda agar, setiap kali melihatmu, maka Allah dan semangat kebaikan lah yang teringat.

Image