wong ndeso 2

Saya hanya tertawa nyengir ketika kemarin mendengar cerita guru SMP saya. “Mosok to, wingi ki ana murid sing gak mlebu ujian gara2 sunat (khitan, -te). Jare bapakke gak ana dino apik meneh. Ujian kok dikalahhne ‘hari baik’ ki yok opo…”
Karena geregetan, pak guru yang sekaligus wali kelas tersebut memberikan 4 mata pelajaran untuk 1 hari ujian susulan. *tertawa nyengir lagi
“aku ke wis bingung, nduk” lanjut beliau, “udah gak tau lagi bagaimana menghadapi wong-wong ndesomu” . (Loh kok nyalahin saya, pak?)
“kemaren ada anak yang pinter banget, olimpiade aja sering menang (fyi. untuk ukuran SMP di desa seperti ini, ini luar biasa). setelah lulus disuruh kerja sama orangtuanya. aku wis menawarkan segala bantuan mulai dari biaya sekolah sampai pemondokan, tetep aja gak boleh”. Saya hanya diam.

gambar Gunung Bayangkaki
Pola pikir, itu yang menghambat perkembangan desa ini. Pendidikan belum menjadi prioritas.Saya pernah menuliskan disini. Aktivitas warganya masih begitu monoton, yang generasi umur menengah keatas bertani (itupun sekedar untuk menghidupi keluarga tanpa berfikir untuk mengembangkannya) dan mengurus ternak. Yang muda mencari penghidupan ke kota. Ada yang jadi perawat, ada yang memilih ‘ngabdi’ di pondok. Itu sebagian kecil, mayoritas kerja ke kota sebagai PRT atau kuli. Tidak ada kegiatan keagamaan, tidak ada pengajian ibu-ibu, tidak ada karangtaruna, masjid sepi. Paling yang ada yasinan bapak-bapak tiap malam jum’at.

Apa yang bisa saya lakukan? Waktu SD saya sudah mengabiskan buku-buku cerita di perpustakaan tentang perjuangan seseorang dalam membangun desanya. Dan saya benar-benar terpengaruh hingga bermimpi bisa melakukan sesuatu untuk desa ini (saya izinkan kalian tertawa ). Cita-cita lugu seorang anak kecil. Utopis dan abstrak. Untuk tetap bertahan dalam keadaan seperti ini saja rasanya susah. Tidak mudah, kawan, untuk survive dalam masyarakat yang serba belum tertata seperti ini. Saya sempat memuntahkannya disini.
Apalagi sebentar lagi saya mesti kerja entah dimana… Lengkap sudah.

Advertisements

wong ndeso 1

tidak heran mengapa mbak vina histeris “wua, akhirnya ute bisa berhubungan dengan dunia luar…”, karena memang beliau tahu bahwa ponsel saya akan hampir 100% inactive selama di rumah. bukan karena rusak, tapi karena jaringan untuk provider indosat sangat lemah. sinyal paling satu atau dua biji doang. kalo telkomsel lumayanlah. tapi yang paling kuat itu sinyal smart, ya yang menyupport onlenisasi saya sekarang ini…
oh tidak, kawan…! jangan kasihan sama saya. kasihan saja sama orang2 yang mau bikin kolam renang di gedung DPR… mereka lebih pantas.
selain akses komunikasi, akses perhubungan juga masih sulit. desa saya terletak di lereng bukit (gak ada namanya) pojok selatan kabupaten ponorogo. jarang sekali ada angkutan umum dari kecamatan masuk desa saya. kalau ada hanya hari-hari tertentu, biasanya hari pasaran. itupun kebanyakan truk-truk yang mengangkut hasil pertanian atau sapi atau kambing. inilah salah satu penyebab anak-anak di desa saya jarang melanjutkan sekolah. susah cari angkutan. paling banter setingkat SMA. itupun terbatas anak-anak yang orangtuanya mempunyai kendaraan sendiri, misal motor.
seperti yang terjadi pada tetangga saya. dulu ia pernah masuk SMK di kecamatan. harusnya sekarang kelas 2. tapi ia tidak sanggup tiap hari mikir bagaimana cara berangkat dan pulang sekolah. akhirnya ia sekarang pergi ke surabaya, seperti kebanyakan teman-temannya yang lain, kerja.
ah, kalau kalian diberi nikmat tidak merasakan hal seperti ini, lafazhkan tahmid sekarang juga. ini nyata, kawan…
kalau saya, dulu kan ngekost. hehe…