stuck for ideas

Selain iman, ternyata semangat menulis pun menanjak dan menurun. Menanjak karena waktu luang dan menurun karena kesibukan. Eh.  Apalagi ada instagram, dimana menceritakan gambar bisa lebih mudah dan simple untuk dilakukan. Namun bagaimanapun juga, bagi saya sendiri, kadang butuh ruang yang lebih sepi (sok merasa selebgram yang punya banyak follower :p) seperti di blog ini. ( Lah, kan harusnya ke Allah, lebih sunyi, lebih privasi). Hehe ya iya sih.

So, all i wanna say is i miss writing. Not for an audience, but just for myself. But again and again, i’m completely stuck for ideas, i really want to write but dont know what to write about.

Advertisements

[Book Review] Pengen Jadi Baik 3

IMG-20160825-WA0001

Judul                   : Pengen Jadi Baik 3

Penulis                 : Squ

Penerbit               : Self Publishing

Genre                  : Komik Islami

Tebal Halaman    : 160 hlm.

Tahun Terbit        : 2016

Saya menyelesaikan membaca Pengen Jadi Baik 1 (PJB 1) sekitar dua tahun yang lalu dan PJB2 kira-kira setengah tahun lalu. Dan, langsung menunggu-nunggu komik selanjutnya terbit. Tulisannya ringan tapi tepat ‘kena’ banget karena memang menceritakan kehidupan sehari-hari.

PJB 3, masih senada dengan dua pendahulunya,  menceritakan kehidupan sehari-hari Penulis (Abah –yang  sehari-hari bekerja di instansi pemerintah), istri nya (Mama K), dan putranya (K). Pesan yang disisipkan ke komik ini diantaranya mengenai sunnah-sunnah Rasul saw, bagaimana berperilaku dan berinteraksi dengan orang lain dalam ajaran Islam yang ditulis dengan bahasa yang ringan.Tidak ada penghakiman.  Tidak ada kesan menggurui. Sisi lucu lebih terasa dengan gambar yang ekspresif. Haha. Memang semua komik ekspresif kali ya (#jarangbacakomik). Yup, kekuatan visual. Anak saya (3 tahun) senang sekali membaca komik yang memang cocok untuk semua rentang usia ini. Ya tentunya definisi membaca-nya berbeda dengan definisi umumnya, haha.

Satu bagian favorit saya, yang saya berharap kelak akan mampu melakukannya, adalah

itu sebabnya bagi orangtua harus rajin bertanya tentang sholat anaknya. Misal si anak baru pulang diajak bepergian ama tantenya tanpa kita, atau baru pulang dari kemah jambore pramuka. Maka yang kita tanyakan dulu adalah “Gimana shalatnya tadi?”. Bukan tanya yang lain dulu :”Gimana acaranya tadi, seru gak? Rame gak?”

…Semoga bisa demikian. Aamiin.

Beberapa bagian dibuat sebagai selingan saja tanpa ada pesan yang disampaikan. Selain itu, bagian tentang ‘membunuh tikus’ agak boros halaman. Saya kira bagian itu bisa dipersingkat stripnya. Satu lagi, mungkin perlu dipertimbangkan menggunakan editor selain Penulis sendiri.

Overall, komik ini asik. I would definitely recommend it to you.

Etika kepada yang sudah berpasangan

Saya tidak mengatakan bahwa pacar itu pasangan loh ya. Maksud saya pasangan di sini adalah suami/isteri. Tulisan ini terinspirasi oleh sebuah ‘peristiwa’ di facebook. Peristiwa yang terjadi kepada ibu muda yang masih ada hubungan saudara dengan saya. (Maaf ya, say, kutulis disini). Awalnya si ibu muda mengupload beberapa fotonya yang dibikin fotogrid dengan caption kira-kira ‘emak satu anak’ (saya cek lagi postingan sudah dihapus). Sebenarnya itu adalah postingan biasa saja. Namun itulah buruknya media sosial. Postingan yang sebenarnya biasa, untuk sebagian orang lain mungkin tidak demikian. Sebagian kecil orang membaca postingan tersebut akan lain. Eh,  jangan-jangan saya yang terlalu baper membacanya.

Celakanya, postingan yang men-tag suami dari si ibu muda tersebut dikomentari oleh seseorang lelaki yang bukan- tidak-pernah memiliki hubungan dengan si ibu muda (please correct me if i’m wrong, dear my sista). “ehm”, “masih cantik, bu..”, demikian komentarnya.

Maafkan saya jika berlebihan, menganggap komentar itu kurang beretika. Ini lebih mudah dipahami ketika kita mencoba memposisikan diri sebagai pasangan dari si ibu muda.

Terlepas dari peristiwa di atas, saya jadi ingin mengingatkan diri sendiri untuk lebih berhati-hati dalam berinteraksi dengan lelaki yang bukan suami/mahram. Termasuk di dalamnya, berinteraksi dengan lelaki yang sudah beristri.

Tidak sampai ke masalah selingkuh pun, ada banyak hal yang bisa membuat pasangan itu cemburu, terutama isteri.  Oleh karena itu, saya akan mencoba mengumpulkan beberapa hal yang kiranya membuat hati pasangan bisa tersakiti atau setidaknya waswas. Dengan senang hati kalau ada yang memberikan tambahan. Semoga dengan membaca ini kita akan lebih berhati-hati.

  1. Sahabat dekat

Banyak orang berpendapat namanya sahabat ya sahabat. Entah belum menikah, entah sampai menikah, tidak akan ada yang berubah dari persahabatan. Jika persahabatan itu antarwanita atau antarlelaki, saya setuju. Namun jika persahabatan itu antara wanita dan lelaki, emm rasanya perlu dipikirkan kembali. Sesudah menikah, bukankah ada hati yang harus dijaga?

  1. Perhatian

Bentuk perhatian bisa macam-macam. Memberikan makanan ringan, hadiah, mengomentari penampilan dan lain-lain. Hadiah boleh saja, asal tidak dikhususkan ke lawan jenis yang sudah jadi pasangan orang ya.

  1. Pujian

Pujian semacam ‘ganteng’ atau ‘cantik’, menurut saya cukup sensitif. Apalagi jika diucapkan saat yang dipuji sedang ada masalah dengan pasangannya. Duh,

  1. Komunikasi kembali dengan mantan

Ini tergantung, sih. Beberapa merasa hal ini biasa saja. Namun disini saya hanya merangkum apa-apa yang kiranya bisa membuat seorang pasangan cemburu. Cemburu memang boleh, dan bagus. Tapi kalau sengaja membuat pasangan cemburu?

  1. Chatting pribadi

Sejauh pembicaraan adalah mengenai pekerjaan, mungkin tidak masalah. Namun tetap menjadi masalah ketika dilakukan di luar jam kantor dengan intensitas yang lumayan. Ya bayangkan saja, isteri yang hanya bertemu suami di malam hari dan akhir pekan, masa ya masih harus berbagi lagi dengan orang lain.

  1. Curhat

Saya rasa ini yang paling membahayakan. Apalagi yang dicurhatkan adalah masalah keluarga.

Nah, kepada orang yang sudah berpasangan saja kita harus menjaga etika, lebih-lebih lagi kepada pasangan sendiri.  insyaAllah postingannya menyusul ya. Saya juga baruuu mulai belajar ( empat taun ngapain aje kok baru belajar..)

Semoga kita bisa lebih berhati-hati menjaga hati-hati keluarga kita dan ‘membantu’ agar hati-hati keluarga lain juga terjaga.

belajarlah2betika2bberkomunikasi2bdengan2bpasangan

gambar dari sini

lintasan asa

Suatu sore, saya dan bude (pengasuh anak-anak) ngobrol ringan seputar tetangga depan yang hendak tugas belajar ke luar negeri, tentang tetangga lain yang cuti besar, juga tentang kawan saya (yang dikenal juga oleh bude) yang resign dari pekerjaannya. (niatnya) bukan ghibah, ya. Niatnya saya mengabarkan ke bude. Meskipun ternyata bude sudah tahu juga, hehe.

Kenapa ya, bun, udah jadi PNS kok malah keluar. Yang ga jadi PNS aja bayar mahal-mahal buat jadi PNS

Kalau misal aku, ya apalagi kalau bukan urusan anak-anak, bude” jawab saya.

saya dulu juga begitu, bun…

Sebelum bekerja disini, bude kerja di dealer motor.

Kemudian dia melanjutkan “… dulu saya kerja pulang sore rasanya nelongso. Ya kepenginnya bisa lihat anak terus. Tapi trus karena keadaan, sekarang kerja jauh, jadi merasa harusnya dulu udah bersyukur masih bisa lihat anak tiap hari. Sekarang udah ga bisa tiap hari… ya nanti lama-lama juga gak gitu kok, bun (maksudnya lama-lama akan lebih ikhlas dan bersyukur)”

Saya hanya mengangguk senyum-senyum saja. Sebenarnya bukan masalah tidak ikhlas atau tidak bersyukur. Tapi bagaimana yaa… sering kali muncul keinginan untuk mendidik atau mengajari anak sesuai keinginan sendiri. Menerapkan prinsip-prinsip tertentu yang mungkin tidak dilakukan oleh pengasuh.  Jika Anda penganut prinsip ‘stay at home mother’, Anda akan punya banyak sekali alasan dan bisa menjelaskannya dengan lebih detil.

Namun keinginan yang muncul itu tidak jarang ditepis oleh kenyataan lain bahwa saya masih seringkali kalah menahan emosi saat menghadapi anak-anak. Ini  menimbulkan pikiran sepertinya mereka tidak lebih baik jika hanya bersama saya. Duh,

Baiklah, saya jalankan dulu peran seperti ini dengan syarat niat: saya bekerja di luar bukan untuk me time, bukan untuk ‘melepaskan’ diri dari kerempongan anak-anak. Bukan, bukan itu. Saya bekerja karena suami saya (saat ini) lebih ridha saya bekerja, meski tidak mengharuskan, orangtua saya juga demikian. Dan tentunya, karena hutang atas nama pendidikan saya ke negara belum tuntas saya tunaikan.  Semoga Allah juga ridha.

refleksi 27

Sering kali di perjalanan berangkat atau pulang kerja, suami dan saya yang berboncengan motor, didahului oleh entah teman saya atau teman suami. Wussh…

“Tenang, bun. Mereka berorientasi hasil, kita berorientasi kenyamanan.” katanya.

Saya ngikik di belakang.

“iya iya, gakpapa kok.” Jawab saya masih sambil terkekeh.

Bisa pergi kerja bersamanya saja syukur. Terlambat sedikit sungguh tidak menjadi masalah.

Lebih-lebih, kalau mau jujur, dalam beberapa kesempatan naik gojek, pernah sekali dapet driver gojek yang ‘ugal-ugalan’ mengendarai motornya yang membuat saya takut setengah mati. Sepanjang perjalanan ke stasiun sore itu, mulut saya tak lepas-lepas menggumamkan istighfar. Sungguh saya takut mati. Sungguh saya takut kesudahan mati. Dalam keadaan demikian saya langsung mengingat-ingat bahwa seharian ini masih sedikit baca Al-Qur’an, shalat rawatib pun tak terpegang. Kemarin, dan selama dua puluh tujuh tahun ini, ibadah hanya begitu-begitu saja. Kalau saya mati bagaimana… Saya tak peduli orang akan menertawakan muka saya waktu itu. Saking khawatirnya, hampir-hampir saya minta berhenti di jalan.

“Ada customer yang mengadu ke perusahaan, bu. Katanya saya ugal-ugalan” kata driver itu. Sungguh i feel you, wahai customer yang mengadu.

Begitu tiba di stasiun, ketakutan saya mereda, menghilang, dan saya lupa akan ibadah saya yang compang-camping itu. Duh…

Kejadian sore itu mengingatkan saya pada sebuah berita. Anda tahu Freddy Budiman, terpidana yang divonis hukuman mati karena kasus narkoba?

Apa yang terjadi pada Freddy? Si terpidana mati diketahui menjelang pelaksanaan hukumannya  lebih sering mendekatkan diri kepada Allah.

“Dari sisi fisik, dia sekarang rajin ibadah, pakaiannya juga lebih agamis, dia berjenggot. Kini Freddy selalu salat dan mengisi waktu luang dengan mengaji,” kata Kepala Humas Dirjen PAS Akbar Hadi pada Januari lalu. (berita detik)

Saya, sama dengan Freddy, takut mati. Bedanya, saya tidak tahu kapan dan dimana akan mati. Bisa jadi saat saya mati -yang karena tidak tahu kapan- jadi tidak lebih baik dari pak Freddy, naudzubillah…jangan ya Allah.

Allahmummar zuqnaa husnul khatiimah. ya Allah, anugerahilah kami akhir yang baik.

Sungguh kematian adalah sebaik-baik nasihat.

[Book Review] Mudah-Mudahan Jadi Baik

Judul                     : Mudah-mudahan Jadi Baik

Penulis                 : Tim Edubuku

Penerbit              : PT Vindra Sushantco Putra

Genre                   : Novel Komedi

Tebal halaman   : 172 hlm.

Terbit                    : Juni 2016

ISBN                      : 978-602-72896-1-1

CAM02500

Pertama kali mengetahui buku ini pikiran langsung tertuju pada komik Pengen Jadi Baik. Kok mirip ya. Jadi penasaran. Bedanya ini berbentuk novel. Novel komedi yang diselingi komik strip di antarbabnya. Dan ternyata penulis maupun penerbitnya juga beda, tidak ada sangkutpautnya.

Ada tiga tokoh yang diceritakan novel ini. Andri (yang digambarkan jorok dan pemalas), Zaki (si alim yang culun), dan Ustadz Aziz (ustadz gaul). Meskipun ketiga tokoh digambarkan memiliki karakter khas yang tajam, namun sayangnya mereka diwakili gaya berbahasa yang serupa dan selera humor yang senada  (Ya bisa jadi karena dekatnya hubungan mereka, sifat-sifatnya jadi nular, hehe).

Kocak, itu yang paling saya tangkap dari novel ini. Imaginatif sekali penulisnya. Saking imajinatifnya, kadang terasa agak berlebihan khayalannya. Novel banyak dibumbui imajinasi hiperbolis yang absurd (Yaiya, namanya juga imajinasi wajarlah kalau hiperbolis dan absurd). Asyik dan menyenangkan meski lama-lama jadi agak jenuh karena kenyang absurdnya. Namun jujur, saya berhasil dibuat beberapa kali tertawa.

Pesan-pesan yang ingin disampaikan lebih mengarah ke remaja dan tren yang terjadi masa kini. Nampak jelas dari temanya yang tidak jauh-jauh dari move on, galau, baper, sahabat, instagram, fenomena hijab syar’i dan lain-lain.

Zaki kemudian bergegas ke kamarnya, mengambil jas yang jarang sekali dia pakai. Jas pemberian ayahnya yang hanya dia pakai di acara-acara spesial. Terakhir dia memakainya ketika acara syukuran anak tetangga kos yang sudah bisa tengkurep.

Bagian ini, kesannya seperti melucu, tapi yang saya tangkap adalah sindiran. Hehe, maklum emak baper. #eh.

Secara penulisan, saya masih menemukan beberapa kesalahan. Seperti misalnya yang seharusnya ditulis Andri tapi ditulis Zaki, dan penggunaan tanda baca juga beberapa masih ada keluputan penyuntingan.

Untuk hiburan disaat jenuh, novel komedi ini pas.

[Ulasan] Kembali ke Titik Nol

Judul Buku : Kembali ke Titik Nol

Penulis : Saptuari Sugiharto

Penerbit : Delta SaputraCAM02395

Buku ini, seperti tag line-nya, berisi kisah-kisah inspiratif perjuangan para pengusaha membebaskan diri dari jeratan riba. Jika Anda bergabung di Grup Facebook Belajar Wirausaha Bareng Saptuari dan mengikuti update-nya, maka Anda mungkin telah membaca beberapa kisah yang  dituliskan dalam buku ini. Namun itu tidak membuat ‘membeli dan membaca’ buku ini tidak menjadi worth it lagi. Saya sendiri merasakan feel yang berbeda ketika membaca apa-apa di media sosial dengan membaca langsung di bukunya.

Mas Saptuari memulai bukunya dengan menjelaskan konsep rezeki melalui ilustrasi sederhana, “dikejar malah lari, udah pasrah malah datang sendiri”. Dalam Al-Qur’an, hal rezeki ini dikemas dalam empat konsep.

  • Rezeki yang dijamin
  • Rezeki yang diusahakan
  • Rezeki yang digantung
  • Rezeki yang dijanjikan

Rezeki yang mana yang masing-masing kita dapatkan?

Selanjutnya, seperti yang saya katakan di awal, di hampir keseluruhan isi buku, Mas Saptuari menyajikan berbagai kisah perjuangan orang-orang yang ingin terbebas dari jeratan riba.

Jangan menanyakan masalah editing atau kaidah bahasa dalam penulisan buku ini. Tulisan sebanyak lebih dari 270 halaman ini ditulis dalam bahasa ‘bicara’ Mas Saptuari yang ringan (meskipun saya sendiri belum pernah melihatnya bicara) yang sepertinya tanpa melalui proses editing, hehe. Membacanya membuat saya membayangkan seperti mendengarkan seseorang dengan tubuh gendut (hehe, maaf, beliau sendiri yang bilang) sedang ngomong ceplas-ceplos muncu-muncu campur boso jowo sambil sesekali gebrak meja atau beraksi seperti seorang pesilat yang selesai menjatuhkan lawannya dengan jurus pamungkas terakhirnya.  Ciyaaaat, bletak! Sesuai dengan tujuannya untuk meledakkan semangat pembacanya.

Maka ringkasnya, empat kata untuk menggambarkan pesan yang ingin disampaikan Mas Saptuari dalam buku ini adalah : antiriba, taubat, usaha, sedekah.

Namun ada hal kecil yang agak mengusik saya. Sungguh ini saya harapkan sebagai pengingat diri saya bahwa ketika saya berniat bersungguh-sungguh meninggalkan riba, maka semata-mata karena ingin mendapatkan ridha Allah, takut Allah murka. Bukan karena ingin sekedar membuktikan janji-Nya, matematika-Nya. Banyak kisah dalam buku ini menceritakan mengenai orang yang bertaubat dari riba, kemudian memulai usahanya dari nol, dan kemudian menjadi sukses. Atau cerita mengenai orang yang sedekah, dan tiba-tiba ada rezeki yang datang dari arah yang tidak terduga. In my humble humble opinion, kalau mau meninggalkan riba, kalau mau sedekah, lakukan saja tanpa mengharap-harapkan balasanNya. Yakin Allah akan membalasnya. Tapi dalam bentuk apa, kita tak pernah tahu. Ini bukan masalah kisah yang ditulis dalam buku lo ya, tapi masalah interpretasi pembaca. Saya yakin, untuk bisa kembali survive (atau mendapatkan kebaikan) setelah meninggalkan riba, perjuangan yang dilakukan berdarah-darah. Tidak sesederhana apa yang terbaca oleh kita dari buku tersebut. Jadi jangan sampai kita kecewa kalau dengan riba yang kita tinggalkan, sedekah yang kita lakukan, kita belum mendapatkan yang kita inginkan.

Disclaimer : tulisan ini semata-mata ulasan atas buku. Penulis ulasan ini belum lepas dari hutang dan riba. Usaha yang dilakukan untuk terbebas dari riba juga belum nampak keras.

menghargai pertanyaan

Bagi orang yang masih belum memahami atau baru di suatu bidang/objek/materi, tidak bertanya bukan berarti karena tidak mau. Mereka memang tidak tahu apa yang harus ditanyakan. Karena memang belum mengerti. Kalaupun bertanya, kadang pertanyaannya agak aneh / kurang mengena pada permasalahan.

Saya mengenal dua orang dengan karakteristik yang sangat berlawanan dalam memperlakukan newbie yang bertanya.

Salah satu rekan saya, oh saya senang sekali mengenalnya, selalu menghargai pertanyaan saya, pun pertanyaan bodoh. Dia menjawab dengan menjelaskan semuanya, meskipun awalnya pertanyaan saya tidak nyambung. Dari hal-hal terkait pekerjaan, isu-isu global (yang saya ber- o o saja, wong ga ngerti, wkwk), sampai pokemon go. Kemarin iseng saya menanyakan bagaimana memainkan pokemon itu. Dia menjelaskan bahwa Pokemon go menggunakan peta dan data-data nyata dari para pemain game Ingress. Dia membukakan aplikasinya dan menjelaskan cara mainnya. Yes, pokoknya dia tidak membuat saya terlihat bodoh dengan pertanyaan saya.

Tapi ada lagi rekan lain yang ketika saya bertanya, dia berkali-kali, “Apa, te?”, “Maksudnya apa?” dan tidak menjelaskan apa-apa. Berada pada situasi ini, rasanya saya ingin menyublim ke udara karena nampak bodooh sekali. Kembali ke pembukaan, bahwa orang yang tidak mengerti kadang susah menerjemahkan pertanyaan. Tapi ayolah, jika anda yang ditanya, jelaskan saja yang anda mengerti. Tidak harus jelas pertanyaannya. Jelaskan saja secara umum. Pliiis, ini permohonan dari orang yang agak lama memahami suatu hal.

Ibu Bekerja dan Lepas Lebaran

Bagi Ibu bekerja, berakhirnya libur lebaran menjadi momok yang cukup menakutkan. Bukan hanya galau karena meninggalkan kenyamanan (bermalas-malas :p) bersama keluarga, namun juga galau apakah si mbak asisten rumah tangga kembali bekerja dengan kita atau tidak.

Demikian juga dengan saya.

Menjelang kepulangannya, si mbak mengatakan akan memberi kabar ke saya bagaimana kelanjutan hubungan kami *Zzzzz. Saya percaya padanya. Dari kesehariannya dia berlaku baik. Saya pegang janjinya untuk mengabari.

Satu pekan libur lebaran berakhir, tidak ada kabar, berarti aman!

Dua pekan hampir terlewati, kembali ke jakarta sudah tinggal menunggu jam, saya ingin memastikan keberbalikannya seraya mengucapkan selamat hari raya. Hanya melalui sms sih.

Sejam. Dua jam. Dua hari. Tidak ada balasan.

“Katanya si mbak ke Depok..” kabar yang saya dengar dari tetangga.

Kecewanya, bukan karena dia tidak kembali. Alih-alih mengabari, sms pun tak dibalasi. Baiklah, mungkin nomer hp nya ganti, dan nomer hp saya tidak tersimpan. Semoga mendapatkan tempat dan hidup yang lebih baik ya, mbak.

Lelaki Perempuan

“Yah, tadi makan apa?” tanyaku mematuhi rutinitas dialog yang kami lakukan di perjalanan pulang kantor.

“cendol” jawabnya singkat.

“Itu doang? Kok ga makan nasi?”

“Tadi ayah keluar…”

“Keluar? Kemana? Ngapain sampe ga sempet makan?”

Tidak ada sahutan.

“Tadi makan apa, bun?” tanyanya balik.

Aku diam saja.

“Kok diem, ngantuk yaa..” godanya

“Tadi ditanya keluar kemana ga dijawab.” kataku,  sambil bersungut-sungut.

“Tadi ayah keluar, buuuuun…”

Hening. Kira-kira kemana ya dia pergi. Kenapa tidak bilang. Sampai tidak sempat makan siang. Apa sedang bisnis apa. Apa ketemu teman lama. Atau ada tugas dari atasannya yang harus dilakukan diluar kantor. Ah, kutepis berbagai lintasan kira-kiraku. Sepanjang perjalanan dia mencoba mencairkan suasana, mengomentari ini itu yang ditemui di jalan. Namun rasa-rasanya aku masih enggan berkomentar pun senyum. Pertanyaan kenapa dia tidak cerita apa-apa, terus berkecamuk dalam pikiranku.

Malam ini, kejadian sepulang kantor tadi tak lagi menjadi pikiranku. Besok ada acara konsinyering dan ada pekerjaan yang harus kuselesaikan sebelumnya. Selama beberapa tahun bekerja, baru kali ini namaku tercantum dalam surat tugas untuk mengikuti konsinyering. Kebetulan lokasinya di hotel dekat dengan rumah. Kabar baik sekaligus buruk untukku –seorang ibu dengan dua batita (bayi  bawah tiga tahun).  Baiknya, aku bisa berangkat lebih siang daripada hari-hari biasa, aku bisa pulang sejenak di jeda kegiatan. Buruknya, konsinyering selesai jam sembilan malam tiap harinya.

Beberapa hari menjelang konsinyering ini aku cukup uring-uringan. Pasalnya, motor yang sebelumnya biasa kupakai, starternya mati. Dengan ‘standar ganda’ yang sudah tidak ori ini, aku kesulitan ‘nyetandarkan’ motor untuk diselah (kick starter). Yaaah, gimana dong pergi ke hotelnya, dengusku. Masa minta tolong orang terus buat nyetandarin. Kalo mogok di lampu merah gimana, pikiranku melayang-layang.

“Yaaah, tolong panasin dong motornya.” pagi-pagi kuminta suamiku menyalakan motor.

Namun dia tidak beranjak dari tempatnya.

Kira-kira jam setengah tujuh, suami siap-siap berangkat kerja.

“Yaah, tolong motornyaa…” rengekku lagi.

“Ya ayuk diajarin.”

Aku menyerahkan kunci  motor kepadanya.

“Yaudah dicoba.” katanya.

Huh.

Aku pun menuruti sarannya, menekan starter tangan setengah hati.

Ckbreeeeem….

Kaget.” Loh kok bisa?” Aku menatapnya tak percaya. Dia senyum-senyum, “kemarin ayah keluar… bawa motor ke bengkel.”

Cless! Aku tak bisa membayangkan betapa anehnya wajahku saat itu.

“Berangkat ya, bun. Assalamu’alaikum.” katanya meninggalkanku yang masih terbengong-bengong.

banner

(Tulisan ini diikutsertakan dalam mini giveaway pengalaman yang menyentuh dalam rumah tangga)