Si Kakak dan Kehadiran Adik Bayi

Saya sempat beberapa saat terdiam ketika mendapati dua batita ini menangis. Satu bayi baru berusia beberapa hari menangis menunjukkan keinginan untuk menyusu sementara satu anak lain berusia 21 bulan tidak mau kalah mendapat perhatian, meminta dikipasin dan dibacain buku. Tengah malam dan saya tidak mendapati suami di tempatnya. Beliau sedang dinas keluar kota. Stres iya. Apalagi untuk ibu yang baru beberapa hari melahirkan. Saat badan belum terlalu fit, beradaptasi dengan ART baru (hal yg sulit untuk nafis), menghadapi malam-malam panjang dan pikiran masih dipenuhi lintasan-lintasan tidak penting. Hal ini sudah saya duga sebelumnya. Beberapa hari jelang melahirkan, saya sempat membaca sebuah artikel bagaimana seorang anak akan bertingkah aneh setelah kehadiran adik bayinya (disini). Meski tidak menyenangkan, tapi itu adalah hal yang normal. Begitupun yang terjadi pada Nafis. Terhitung sejak hari kelahiran adiknya, 18 Maret 2015, saya merasa dia berpaling dari saya dan mulai dekat dengan ayahnya. Apapun dia minta dengan ayahnya. Saya kira wajar. Dia mencari cinta yang menurutnya masih utuh untuknya. (Ooh cinta Bunda juga tetap utuh, Nak).

Tapi baiklah, setidaknya tidak ada tanda-tanda dia berminat melukai adiknya. Dia hanya meminta perhatian, hak yang tidak boleh saya kurangi, meski kadang harus tertunda karena prioritas. Setelah hak menyusu adiknya saya berikan, saya akan lebih memperhatikannya, lebih sering memeluknya, dan lebih sering menanyakan “engkau ingin apa, Nak?”.

Ya, ini adalah permulaan, dan tiap permulaan tidak mudah. Bagaimanapun segala sesuatu terus berjalan. Dan pada akhirnya, semua akan baik-baik saja. #merapal doa kuat-kuat

Karena itulah, Nak adik, kami memanggilmu dengan “nawang”. Agar kami tidak pernah mengeluh. Kalian adalah bagian dari bentuk dari keajaiban Allah yang terus kami syukuri.

nawang

nafis-nawang

18 Maret 2015

alhamdulillah. selamat datang, nak.

kami akan memanggilmu “nawang”. terilhami dari apa yang biasa orang jawa katakan, ” urip kuwi kudu sawang-sinawang”. agar tiap kali mengingatmu, kesyukuran kami bertambah. kesyukuran atas segala limpahan kasih sayangNya. agar kami tak lagi mengeluh. karena bisa jadi apa yang kami keluhkan merupakan keadaan yang diinginkan orang lain. juga agar kami tak tertipu dengan hijaunya rumput tetangga. bersyukur dan bersyukur. alhamdulillah.

Anak pemalu

Tadi, dalam sebuah grup wa, ada teman yg share terkait kasus yang terindikasi bermodus rencana penculikan anak di sebuah mall (Semoga anak2 kita dilindungi dari kejahatan2 seperti itu ya, ibu2).  Membaca ini, mengingat anak saya, tumbuh kesyukuran atas apa yang sebelumnya cukup saya khawatirkan.

Iya, sebelumnya saya agak khawatir dengan perkembangan  anak saya terkait jiwa sosialisasinya. Sejauh ini yang saya perhatikan, nafis cenderung lebih pemalu dibandingkan rekan2 sebayanya. Oke, memang tidak semestinya saya membanding2kan, tapi tetap saja ada sedikit kekhawatiran.

Dia membutuhkan waktu cukup banyak untuk bisa akrab bersama orang baru, bahkan kakekneneknya. Saat didekati orang baru, teman saya misalnya, dia seringnya menempel saya erat2, atau bersembunyi di balik saya.

Tapi skrg, saya bersyukur anak saya punya kehati2an lebih terhadap orang baru. Minimal saat mengingat banyaknya kasus penculikan. Memang seharusnya, saya mendidiknya sesuai fitrahnya, bukan memaksanya sesuai keinginan saya. Apalagi usianya masih sangat dini untuk dinilai seperti ini seperti itu. Atau toh bisa jadi, masa kecil saya dulu juga seperti itu 😀

berita-berita

belakangan, saya makin eneg tiap kali buka facebook. sebenernya udah dari dulu sih, tapi ga bisa move on juga :D. Iya sih, namanya status, ya suka-suka yang bikin. tapi kalo tidak mengharapkan dibaca orang ya disetting aja privasinya. Atau tulis di buku diary kan aman, haghag.

hujat menghujat, sindir menyindir, uh. suatu waktu tetiba banjir status ngeshare apaa gitu. beberapa saat kemudian berombongan pula yang nyindir itu beritanya bener tidak. begitu seterusnya berlanjut dari satu berita ke berita lain. ada yang tidak bisa menahan diri dari ngeshare berita sensitif, ada yang tidak bisa menahan diri untuk membuktikan lawannya ‘sembarangan comot berita’.

mereka-mereka yang tidak bisa menahan diri ini sebenarnya punya niat baik, mereka peduli dengan sesuatu (seringnya agama) dan ingin menjaganya dari musuh-musuhnya, atau mereka ingin berbagi suatu hikmah kebaikan. keimanan mereka sensitif, hati mereka cepat tergugah. konon katanya, orang-orang yang tidak segera peduli dengan permasalahan umat, imannya dipertanyakan. tetapi sayangnya, mereka yang peka ini banyak tidak mengecek kebenaran berita tersebut.

pun saat berbagi berita berhikmah. apakah hikmah kebaikan bisa disampaikan melalui berita yang direka-reka? ini pernah terjadi ketika orang beramai-ramai membagi status tentang restauran di Jerman yang mendenda pelanggan yang tidak menghabiskan makanannya. berita ini berhikmah, tapi tidak benar.

dan mereka-mereka yang berbuat sebaliknya, yang segera mencounter isu berita, saya berdoa semoga niat mereka benar, niat mereka ingin meluruskan, niat mereka adalah ingin menjaga kebaikan dari cara-cara yang tidak benar, bukan karena ingin menjatuhkan lawannya, bukan karena ingin membuktikan pihak yang notabene ‘lawannya’ salah dan dirinya benar, bukan untuk ingin mengatakan ‘tuh kan’.

sudahlah, saya memang tidak mengerti.

#ditulis masih sambil buka facebook

Cerita tentang toilet training

Rekan2 blogger yg budiman, mohon maaf kalo sekiranya postingan saya melulu tentang anak. Semata2 krn ingin mendokumentasikan perkembangan anak, tidak ada niatan sama sekali untuk menunjukkan diri, atau niat biar dibaca orang, atau biar dianggap bagaimana2, dan sebagainya.

Terhitung sejak 10an hari lalu, saya mulai mengajari anak ke toilet untuk menunaikan hajatnya (toilet training – lepas popok/diaper). Di usianya yg 17,5 bulan. Waktu yg tepat saya kira, krn saya lagi liburan kuliah jadi bisa fokus melatih dan saya rasa nafis sudah siap (sudah bisa diajak komunikasi 2 arah dg cukup jelas).
Sedikit keteteran krn kebetulan juga ART mudik, jadi saya mengerjakan pekerjaan rumahan sambil fokus melatih nafis yg awal2 masih sering kecolongan pipis/poop di celana. Saya mencoba mengajaknya ke kamar mandi tiap 1,5-2 jam sekali, memintanya pipis. Tapi yg ada dia meraung2 nangis, dan begitu keluar dr kamar mandi, dia pipiss. Atau misal dia pipis lebih cepat dr jadwal atau saya yg terlambat membawanya ke kamar mandi, udah pipis baru kemudian bilang “pipis”. Sabaar.. sabaar… Ngepel lagi dan cucian lagi.

Dan hari ini, sudah masuk hari ke 11, alhamdulilllah mulai terlihat hasilnya. Dia sudah mengerti kalo diajak ke kamar mandi, sudah tau apa yg harus dia lakukan. Hihi, anak pinter..

Kalo untuk urusan poop, bissanya masih sempet diangkut ke kamar mandi dulu (udah hapal ekspresinya :D, atau kadang dia bilang ‘pup’), kecuali kalo encer sehingga saya tak sempat berbuat apa2. Hehe, selamat ya, naak.

belajar dari para penghafal AL-Qur’an

liburan seusai ujian tengah semester ini saya isi dengan membaca buku, sedikit masak-memasak, men-toilet training– nafis, dan nonton video. kali ini saya mau bercerita sedikit mengenai kegiatan yang terakhir saya sebutkan tadi.

beberapa waktu sebelumnya, saya mendapatkan (membeli) sebuah dvd dari seorang kawan, judulnya Perjalanan bersama Al-Qur’an. Video ini merupakan video dokumenter, perjalanan Syaikh Fahad Salim Al Kandary dan timnya mengelilingi banyak negara, menjumpai para penghafal Al-Qur’an di negara-negara tersebut.

Masya’ Allah, saya tidak bisa berkata apa-apa. betapa Al-Quran itu memang keajaiban Allah. sesuai janji-Nya, Dia menciptakannya untuk dijadikan mudah. tidak mustahil bagi siapapun untuk menjadikan keseluruhan Al-Qur’an itu bersemayam dalam dirinya, dalam kehidupannya.

yang sudah sering kita lihat, karena banyak di-broadcast adalah video Syaikh Kandary bersama Muadz, seorang penghafal Al-Qur’an yang kehilangan penglihatannya di usia 4 tahun. saya tidak bisa tidak menangis tiap kali melihat video ini. saya sering menjadikannya motivasi ketika kehilangan semangat dengan Al-Qur’an. bagaimana ini tidak terngiang-ngiang diingatan ketika dia mengatakan -yang kurang lebih begini,
“dalam doaku, aku tidak meminta Allah mengembalikan penglihatanku. aku ingin ini menjadi hujjahku ketika di hadapan-Nya nanti”.

lalu apa hujjahku di akhirat nanti ketika aku ditanyai tentang sudah kujadikan apa Al-Quran?

ada lagi cerita tentang seorang yang (maaf) autis, yang ketika dites 2 + 4 berapa saja tidak mampu menjawab, tetapi dia penghafal Al-Quran. masya’ Allah

ada yang gagu, kesulitan berbicara, tetapi masya’ Allah, jangan tanya hafalan dan keilmuan Al-Qur’annya, surat apa, ayat berapa dari berapa, halaman berapa, bahkan qiraah sab’ah juga dikuasainya.

ada juga yang dengan cepat mampu membacakan ayat yang diminta, misal QS Yusuf ayat 42, dll, kemudian ayat di surat apa ayat berapa yang mirip, dengan cepat sekali, masya’ Allah.

ada yang perlu bepergian ribuan kilometer untuk bisa menghafal Al-Qur’an ini. masya’ Allah. karena menghafal Al-Qur’an itu sebaiknya didampingi syaikh atau guru. karena belajar/menghafal sendiri akan berisiko kesalahan.

ada seorang anak yang bisa hafal 4 juz Al-Quran dari usia 4 s.d. 7 tahun, dan menyelesaikan kurangnya (26 juz) dalam waktu TIGA BULAN saja. masya’ ALlah.

dan masya’ Allah sebagian besar hafal AL-Qurannya dalam waktu yang singkat dan semenjak kecil. bahkan seorang penghafal, mulai menghafal dari usia 9 tahun dan selesai di usia 11 tahun, merasa bahwa usia itu sebenarnya terlalu tua untuk menghafal.

umurku berapa?

hal lain yang tidak bisa saya pungkiri adalah, para penghafal Al-Qur’an itu wajahnya selalu cerah, setiap perkataannya selalu membuat hati tertegun, tidak nampak sedikitpun kesombongan. mereka selalu mengembalikan segala bentuk kebesaran kepada Allah, ‘atas izin Allah saya dimudahkan‘, ‘atas kehendak-Nya saya bisa‘, dan seterusnya.

saya baru menyelesaikan menonton 13 episode dari total 30 episode. sepertinya temen-temen bisa mendapatkan videonya di youtube.

Allahu akbar. tidak ada yang tidak mungkin. Dia menciptakan Al-Quran untuk dijadikan mudah. mudah. tetapi bagaimana bisa mudah jika saya sendiri tidak berkesungguhan di dalamnya, dan seringnya hanya memberikan waktu-waktu yang tersisa, untuknya.

padahal peraturannya adalah :

JANGAN MENUNDA MEMULAI

HILANGKAN KONTAMINASI KEDUNIAAN

Ya Allah, padahal keseharian saya masih bergelimang dengan urusan keduniaan.

semoga Allah memberikan kesadaran dan kemudahan bagi kita untuk selalu berdekatan dengan Al-Quran.

TONGKAT CINTA, SELIPAN UANG dan FABEL AESOP

Belajar ilmu parenting, biar ga terbawa mainstream pendidikan masa kini yg ‘menolak’ bersikap keras kpd anak.

Journey of Sinta Yudisia

Selalu ada cerita menarik saat berbagi pengalaman, metode, plus minus dalam mendidik anak. 22 November 2014 , memperingati Hari Pahlawan, fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) menyelenggarakan acara bedah buku Sketsa Cinta Bunda karya Sinta Yudisia dan Sekolah Para Pencari Ilmu karya Hamdiyatur Rohmah Chalim. Dan, acara ini menjadi lebih spesial, dihadiri Yoon Sengui dari Korsel dan Begench Soyunov dari Turkmenistan.
Bu Sirikit Syah dan Dr. Andik Matulessy mencermati dua buku ini dari sisi ilmiah sementara pak Sengui dan pak Soyunov berbagi pengalaman seru seputar dunia pendidikan di negeri masing-masing.
Mau tahu?
yoon soyunov
TONGKAT CINTA
Kekerasan. Pukulan.
Kebiasaan ini sudah cukup lama ditinggalkan para orangtua mengingat kekhawatiran anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang terpecah saat hidup dalam situasi traumatis. Namun, di beberapa belahan bagian dunia, pukulan tetap menjadi cara orangtua mengungkapkan cinta.
Agaknya, kita jangan bersikap antipati dulu bila mendapati pola asuh dengan metode memukul. Bukankah Rasulullah Saw sendiri mengajarkan…

View original post 1,042 more words

cerita idul fitri

satu bulan dua bulan, berapa bulan tepatnya ya blog ini tidak kukunjungi. sabar ya, ujian udah kelar kok. *elap kringet.sudah banyak hal terjadi, semuanya seperti berebut untuk diceritakan. giliran sekarang udah ada kesempatan, bingung mulai dari mana.

Idul fitri kali ini kami memutuskan untuk mudik ke satu kampung saja, ke ponorogo. dan direncanakan mudik ke cilacapnya akhir bulan agustus ini, setelah saya selesai UAS. Dua hari menjelang kepulangan, setelah bude nafis (pengasuh) mudik terlebih dahulu, nafis panas. Panas tinggi diatas 39 derajat dan rewel. Dua kondisi yang suda memerlukan bantuan paracetamol. Kalau anak panas, memang semestinya orang tua tidak perlu grusagrusu ke dokter dulu. Namun karena lusa mau mudik perjalanan jauh, akhirnya ke dsa.

Diagnosis dari dokter adalah radang tenggorokan. Saya ingat obat yang diberikan dua jenis : Obat batuk sama antibiotik (karena paracetamol nya sudah punya sendiri). Nah saya termasuk emak2 yang suka galau memberikan antibiotik untuk anak. Banyak membaca tulisan bebas di internet bahwa tidak semua radang disebabkan bakteri, dan tidak perlu antibiotik. Antibiotik tidak pilih2 membunuh bakteri, baik jahat maupun baik. Dan lama2, bakteri akan kebal dengan antibiotik. Penggunaan antibiotik tidak pas takaran juga meningkatkan resistansi bakteri. Akhirnya yang saya berikan hanya paracetamol saja ketika panas tinggi dan rewel. Karena panasnya naik turun.

Hingga akhirnya waktu mudik tiba, nafis masih panas naik turun. Sepanjang perjalanan rewel, digendong terus, itupun kalo sudah tidak nyaman nangis. Perjalanan panjang yang cukup berat. Karena setelah tiba di stasiun Madiun pun harus menempuh perjalanan yang tidak pendek untuk sampai ke rumah mbah nafis.

Singkat cerita, beberapa hari di rumah mbah, nafis masih panas naik turun. Tanggal 2 Syawal kami memutuskan ke dokter. Sedikit sekali opsi nya, selain karena masih lebaran banyak yang tutup, juga karena informasi mengenai dsa disana, di Ponorogo sangat sedikit. Dsa yang recommended, yang pro ASI, yang pro RUM (rational use of medicine).

RS yang kami datangi adalah RS Bersalin Griya Waluya (dulu namanya Panti Wanita) di Jl. Sultan Agung. Ditensi asisten dokter, dan terjadi dialog demikian:
Asisten : sudah pernah periksa sebelumnya?
Saya : Sudah
Asisten : Obat sudah habis?
Saya : Belum. SUdah lama masih belum sebuh, takut dokter salah diagnosis, trus dosis kebesaran.
Asisten : Dosis kan sudah diukur.

Dokter datang,
Dokter : Jadi sebelumnya sudah periksa?
Saya : Sudah, dok. Diberi obat ini ini dan ini.
Dokter : Kalau mau diuap saja.
Saya : Diuap?
Dokter : Belum tau diuap? dikeluarin dahaknya.
Saya : (diam mikir)
Dokter : Ga harus sekarang, silakan dipikirkan diluar.
Suami : Sebentar, dok, kira2 berapa lama, dok, diuap itu?
Dokter : Minimal dua kali datang. SUdah ya, silakan tunggu di luar.
Kami : (Bengong dan keluar)
Keluarnya dari ruangan saya bingung, ini dokter apa2an, tidak menjelaskan apa2. Minimal yang seharusnya diberikan itu : penjelasan sakitnya, nasihat, terapi non obat, obat. Lhah.. Dan ambil obat di apotek, yang diberikan dokter sama, penurun panas (malah jenis ibuprofen), antibiotik sama obat batuk. Sbenarnya semenjak awal saya ingin nafis dites darah, jadi biar jelas sakitnya, ada bakteri atau tidak. Selama beberapa kali nafis sakit, selama itu juga dokter salah diagnosis, baru jelas setelah tes darah.

Sepulang dari sana, karena dilanda kebingungan, saya minta mampir juga ke bidan. Ah, yang diberikan lebih tidak disarankan, obat puyer. Duh!
Sesampainya di rumah, sesuai diskusi dengan suami, akhirnya diberikan antibiotik nya. Tapi panas masih juga naik turun. Besok siangnya, hari ketiga Syawal, saya memutuskan membawa ke IGD RSUD Ponorogo, berhubung baru IGD yang buka. Dan benar, disana dites darah, dan nafis terbukti sel darah putih nya terinfeksi bakteri. Ah, kalau boleh berandai2, seandainya dari awal antibiotiknya diberikan, ahh.

Waktu itu sudah Rabu sore, sementara Sabtu sudah harus balik ke Jakarta, dan jarak rumah-RSUD tidak dekat. Meskipun tritmen RS bisa kami lakukan di rumah, karena pertimbangan2 diatas akhirnya kami sepakat rawat inap.
Pelajaran : jangan mudah terbawa arus informasi di internet. ‘Pelit’ obat itu memang perlu, asal jelas sakitnya dan memang belum memerlukan obat. Dan Jangan sampai menahan antibiotik padahal sudah dibutuhkan. Agar jelas, periksa darah!

nafis

#nafis di RS, kurus sekali, nak..

Mesin Harapan Petani Made in Mlilir

mlilir? wah cedhak

Catatan Dahlan Iskan

Senin, 19 Mei 2014
Manufacturing Hope 128

Saya sampai harus belajar dari buaya. Itu kata Agus Zamroni, pengusaha kecil dari Desa Mlilir, Ponorogo. Dia seorang sarjana hukum. Bukan sarjana teknik. Juga bukan sarjana pertanian. Tapi, kegigihannya menciptakan mesin pemanen padi tidak ada duanya.

Sebagai orang desa, Agus hidup dari pertanian. Khususnya padi. Sebagai petani besar, Agus merasakan sulitnya mencari tenaga untuk panen. Kian tahun kian sangat sulitnya. Kesulitan yang sama sebenarnya juga dialami petani tebu: kian sulit cari tenaga penebang tebu.

Sebagai generasi muda, Agus terus mempelajari mesin-mesin panen buatan Jepang dan Tiongkok. “Masak bikin begini saja tidak bisa,” pikirnya.

Agus terus mencoba dan mencoba. Saya menyemangatinya dengan iming-iming bahwa mesinnya itu, kalau sudah jadi, akan dibeli BUMN. Saya yakin dia sangat serius. Usaha taninya serius.

Usahanya sebagai penyalur pupuk juga serius. Orang yang sudah membuktikan bisa serius dalam menangani satu bidang juga akan serius di bidang berikutnya. Karena itu…

View original post 496 more words