Hari Pajak : Pajak Bertilawah 


Saya pernah bertanya-tanya mengapa kata ‘makam’ didahului dengan kata ‘taman’.  “Biar ga serem,” jawab suami asal-asalan, seperti biasanya. 

Mungkin demikian-bertanya-tanya juga orang di luar sana ketika membaca kata ‘pajak’ yang diikuti kata ‘bertilawah’. 

Sebenarnya tidak ada yang aneh sih dengan gabungan kata ‘pajak bertilawah’ itu. Hanya mungkin kata ‘pajak’ terdengar berasosiasi negatif, baik bagi yang tidak mau berkontribusi untuk negara maupun bagi yang meragukan kehalalan pajak. 

Aduh, kok jadi berat. 

Ngomong yang ringan-ringan aja yaa.. 

Sesempit pergaulan saya, instansi pajak ini memang begitu kental nuansa keagamaan (islam) nya. 

“Kurang jauh sih jalan-jalannya, gaulnya sama Itu-itu mulu,” komentar sesuatu di kepala. 

Iya sii~ Tapi emang bener lo, kalau kau datang ke kantor pajak, kau akan temukan pegawai-pegawai (wanita) berbusana syar’i, masjid-masjid kantornya dipenuhi jamaah saat waktu shalat, pengajian-pengajian bergema selepas zhuhur dll. 

Alhamdulillah, betapa bersyukur mendapatkan teman-teman dan lingkungan seperti ini. Jika dengan nikmat seperti ini disebut ‘kurang luas bergaul dan kurang jauh jalan-jalannya’ pun, saya rela 😃. 

Advertisements

Serba Salah

Suatu ketika dalam rangka perpisahan teman-teman Subdit yang promosi jabatan, seperti biasa diadakan semacam farewell party, makan di luar. Begitu selesai makan, ada lebihan nasi banyak. Ada inisiatif untuk membungkusnya, tentu saja dari kaum perempuan. Sebenarnya kami juga tidak tahu nanti akan diapakan. Begitu tiba kembali ke kantor, akhirnya – saya yang kebetulan membawa bungkusan nasi, menyampaikan bungkusan itu ke pantry. Saat itu ada salah satu satpam sedang disana. 

“Pak, ini ada nasi tapi ga ada lauknya,” kata saya. 

“wah bisa buat nasi goreng tuh, mbak,” jawabnya. 

Dari jawaban itu saya asumsikan aman, ada yang mau nerima. 

Beberapa waktu kemudian, saya bertemu satpam satunya. Dia mengatakan, “mbak yang ngasih nasi ya? Sayang kurang satu, lauknya.”
“iya pak, katanya tadi Bisa buat nasi goreng,” kata saya. 

“kalau ada lauknya, pasti habis tu, mbak.”

Saya semakin tidak enak, apalagi bapaknya mengulang2 kata ‘sayang ga ada lauknya’. 

Pokoknya serba salah rasanya. Harusnya mbungkusin (belikan lagi) lauknya. Tapi OB CS dan satpam jumlahnya kan cukup banyak. Huhuhu. 

Oiya kemarin sempat bikin survey kecil-kecilan di instastory, apakah jika ada nasi berlebih seperti itu dibawa pulang atau tidak. 63% bilang iya, 37% tidak. Yang bilang tidak ada yang mengatakan, kalau lebihan nasinya ada di bakul, nanti akan digabung dengan nasi lain untuk disajikan lagi, bukan dibuang. Hoo gitu ya, kirain bakal dibuang makanya sayang kan kalo ga dibawa pulang.

Wisata Cilacap

 

Alhamdulillah, hari libur di idul fitri tahun ini (1439H / 2018 M) cukup banyak. Apalagi saya tambah cuti tahunan 2 hari jadi genap mendapat libur 2 pekan. Saya dan suami sudah sepakati bahwa lebaran ini kami hanya pulang kampung ke Cilacap, rumah orang tua dari suami. Sedangkan bapak ibu ponorogo akan datang ke Jakarta setelah syawalan (7 hari) syawal karena mereka tidak tega 3 cucunya melalui perjalanan jauh ke ponorogo. Saya sempat meyakinkan bahwa kami akan baik-baik saja di perjalanan namun mereka sudah dhawuh ya apa boleh buat.

Nah, selama 2 minggu di cilacap, kami memanfaatkan waktu untuk mengunjungi tempat-tempat wisata di sana (meskipun sebagian sudah rutin dikunjungi sebelumnya, hehe). Apa saja yang kami kunjungi, ini dia.
  1. Pantai Teluk Penyu.
    Kami kesana pagi-pagi sekali dan petugas ticketing belum ada sehingga bisa masuk free. Kalau di jam operasi, harga tiket masuk saat weekend atau libur nasional adalah 7,5 ribu rupiah. Saat kami kesana, ombak sedang besar, laut sedang pasang sehingga anak-anak hanya kami izinkan di pinggiiir pantai dan harus selalu disertai orang dewasa.
    Nafis 5th sangat menyukai bermain di air, sedangkan nawang 3th masih takut-takut dan lebih banyak bermain pasir saja. Pantai ini cukup bersih namun area pepasirannya agak sempit, sudah mepet daratan.
    Area pantai ini cukup terkenal dengan kuliner seafood nya. Jika anda penyuka seafood, jangan ragu untuk mencoba salah satu dari jejeran kedai seafood ini. Selain itu juga anda bisa membawa oleh-oleh ikan asin besar-besar yang di jual di sepanjang jalan bibir pantai.

  2. Benteng Pendem.
    Di area Pantai Teluk Penyu juga ada objek wisata Benteng Pendem. Nah untuk masuk, ada tiket sendiri, tapi saya kurang tahu harganya. Saya pernah masuk kesana 6 tahun lalu dan belum pernah lagi.
  3. Hutan Payau
    Wisata Mangrove ini terletak di kota, dekat sekali dengan rumah mertua saya. Wisata ini diformat seperti jalan beton di tengah hutan bakau membujur dari pintu masuk wisata sampai bibir perairan laut dan dermaga. Kanan jalan beton dibentuk sedemikian rupa untuk penjual makanan dan wahana di atas akar-akar bakau. Tahun lalu ketika kami kesana, lokasi wisata ini sepi dan kurang terawat. Tahun ini sepertinya sudah dilakukan pemugaran.  Ada wahana-wahana baru seperti mandi bola, jaring-jaring dll. Dibangun juga petak-petak untuk disewakan kepada penjual makanan . Rata-rata yang dijual adalah lotek sayur (mirip pecel), tahu masak (tahu dan tauge dengan bumbu kacang), olahan mie-mie instan, mendoan, dan minuman-minuman ringan. Ada juga menara seperti miniatur monas di tengah-tengah jalan beton. Jika enggan berjalan menuju ujung perairan, jangan khawatir, anda bisa naik perahu dayung. Berikut harga-harganya:

    Htm : 6.5rb
    Wahana : bayar +- 5rb
    Perahu : 3rb
    Lotek : 6rb

    Mendoan : 2rb

    Murah kan? Sayangnya, pemugaran terlihat belum optimal. Wahana sepi, sampah masih terlihat di sekitar, dan saat itu ada segerombolan ABG seenaknya menyalakan petasan di perairan sepanjang mereka berjalan. Aduh,

     

  4.  Small world Purwokerto
    Objek wisata ini terletak di Baturraden, Purwokerto. Dari rumah mertua (Cilacap), lokasi ini berjarak sekitar 60km. Kami pergi dengan angkutan online (Go-car). Selama perjalanan, lalu lintas cukup lancar. Namun begitu mendekati lokasi, macet terjadi cukup parah.
    Begitu sampai disana, kami langsung mencari tempat makan berhubung sudah masuk jam makan siang. Warung-warung makan cukup banyak tersedia. Toilet dan mushala juga tersedia. Untuk masuk kesana, HTM dihargai sebesar  20rb untuk weekend/libur nasional.

    Begitu masuk, kami disambut terik matahari yang cukup menyengat. Ini dimanfaatkan oleh pengelola wisata untuk menawarkan jasa penyewaaan payung. Meskipun kami pergi dengan tiga balita, kami tidak menyewa payung karena males bawa-bawa, hehehe. Kesalahan saya adalah saya tidak menyiapkan sunblock baik untuk saya sendiri, dan juga untuk anak-anak. Hufh, untuk pelajaran di kesempatan berikutnya.
    Yang ‘dijual’ objek wisata ini adalah spot-spot yang dibuat instagramable. Lokasi di lereng bukit mendukung landscape objek wisata. Objek utama disana adalah miniatur bangunan-bangunan di dunia, seperti tembok cina, menara eiffel, taj mahal dll, sakura dan tulip (yang sayangnya sintetis), dll. Selain itu ada spot-spot bebungaan yang vintage.
    Kesimpulannya, Objek ini sebenarnya hanya cocok untuk orang-orang yang suka berfoto, bukan untuk orang yang ingin menikmati berwisata.

    IMG_20180618_145426

  5.  Pantai Sodong
 Pantai Sodong terletak di Kecamatan Adipala, cukup jauh dari kota. Pantai ini juga dekat dengan objek wisata lain yaitu Bukit Selok,  yaitu bisa melihat view dari ketinggian. Areal pantai di sini lebih luas daripada Teluk Penyu yang sudah mepet daratan. Htm sangat terjangkau, hanya 5 ribu rupiah. Jika ingin menyewa gubuk untuk berteduh, cukup membayar 10 ribu rupiah. Lapar? jangan khawatir. Warung-warung berjajar di bibir pantai, demikian juga penjaja makanan banyak berkeliling menawarkan makanan. Untuk yang enggan ke pantai namun ingin air, juga ada kolam renang kolam renang di sekitar pantai.

Bawa anak ke kantor, yay or nay? 

​Beberapa waktu lalu, bude yang jagain anak2 mendadak pulang kampung karena ada musibah. Yang artinya, saya perlu memutar otak mengatur strategi untuk 5 hari kerja selanjutnya.

Opsi yang akhirnya dipilih :

Hari 1 : ajak 2 anak ke kantor. Bayi di rumah dengan asisten yang pulang pergi. Kebetulan semua atasan di kantor plus sebagian besar pegawai sedang konsinyering, sehingga saya kira kehadiran 2 bocah ini tidak akan begitu mengganggu.

Hari 2-5: lihat bagaimana hari 1.

Dijalankanlah rencana. Daaan, di akhir hari pertama, saya memutuskan bahwa opsi ini tidak akan saya pilih lagi karena….

Capek, maaak.

Pagi-pagi memasak, memandikan, mempersiapkan anak2, menemani sarapan anak2, menyiapkan bekal, baju ganti, mempersiapkan kebutuhan bayi di rumah dst.

Sampai kantor menyiapkan ‘tempat’ dan mainan buat anak-anak.  Dan baru satu jam berlalu, bocah bosan minta pulang, belum lagi makannya, ke kamar mandinya dll. Baru lima menit di depan pc untuk bekerja, bocah merengek begini begitu minta ini minta itu.  Masih berlanjut, sorenya perjalanan pulang yang melelahkan, sampai rumah belum beres semua, belum mandi belum ada makanan, bayi di rumah juga saatnya diambil alih. Subhanallah… 

Akhirnya esoknya memutuskan di rumah saja, izin dan cuti 3 hari. Biarlah cuti habis. 

Jadi bawa anak ke kantor, buat saya big no! 

Calistung

Sejak kecil, kegemaran nafis dengan baca tulis sudah terlihat menonjol, agak berkebalikan dengan kepercayaan dirinya. 

Dari usia kira-kira 1.5 tahun, tiap saat dia minta dibacakan buku. Pernah suatu ketika dia demam, di tengah malam terbangun, dia minta dibacakan buku hingga tidur, terbangun lagi minta dibacakan lagi dst. Dia juga senang menulis, berhitung, menggambar, tapi tidak terlalu suka mewarnai. Kemampuan motorik halusnya memang masih kurang terasah sehingga ketika mewarnai masih jauh dari rapi.

Kira-kira sejak masuk TK, dia sering sekali minta didikte,

“namanya (cara nulis) kereta gimana, bun?”

“ka e er e te a”

Begitu terus dia menanyakan cara menulis benda-benda yang menarik baginya. Saya, terus terang, jarang mengajarinya calistung (baca tulis hitung) secara khusus. 

“Bun, bukunya ada 7”

Dia menghitung barang-barang di sekelilingnya. 

Hingga di usia 5 tahun kurang 2 bulan, saya takjub, bocah ini sudah bisa membaca dan menulis (tentu bukan kata yang kompleks) serta melakukan penjumlahan bilangan sederhana. Masyaallah, le, barakallahu fiik. 

Bergerak itu berkah 

Merantaulah…

Orang berilmu dan beradab tidak diam beristirahat di kampung halaman.
Tinggalkan negerimu dan hidup asing  (di negeri orang).

Merantaulah…

Kau akan dapatkan pengganti dari orang-orang yang engkau tinggalkan (kerabat dan kawan).
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan..
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, akan keruh menggenang.

Singa jika tak tinggalkan sarang, tak akan dapat mangsa..
Anak panah jika tak tinggalkan busur, tak akam kena sasaran.

Jika matahari di orbitnya tak bergerak dan terus berdiam..
tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang.

Bijih emas tak ada bedanya dengan tanah biasa di tempatnya (sebelum ditambang).
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan.

Jika gaharu itu keluar dari hutan, ia menjadi parfum yang tinggi nilainya.
Jika bijih memisahkan diri (dari tanah), barulah ia dihargai sebagai emas murni. 


Merantaulah…

Orang berilmu dan beradab tidak diam beristirahat di kampung halaman.
Tinggalkan negerimu dan hidup asing  (di negeri orang) 

(Imam Syafi’i) 

“Hujan itu indah bukan karena air yang turun, tapi atas apa yang akan ditumbuhkannya.

Mutasi/promosi bukan tentang siapa dimana, tapi apa yang akan ‘ditumbuhkannya’,”(anonim) 

Selamat mengemban amanah untuk Bpk Kepala Seksi, yang tak lelah memotivasi kami, yang tak henti mengasihi kami. Barakallahu fiik. 

Nafis Nawang Naufal

​Menjelang persalinan si ketiga, angka tiga ini tiba-tiba menyeret memori saya ke masa kecil dulu. Saya memiliki dua kerabat seumuran sekaligus sahabat sepermainan. Kami bertiga bersahabat dekat namun jarang bermain bertiga. Entah bagaimana kami lebih sering bermain berdua-dua secara bergantian. Selayaknya kombinasi dua dari tiga pada matematika.
Ehm, saya jadi berpikir, apakah sulit menjalin hubungan persahabatan 3 orang? Harusnya sih enggak ya.

Nah, sehubungan dengan datangnya naufal di kehidupan kami, saya mengira-ngira akan seperti apa penyikapan kedua kakaknya.
Si sulung, karena pernah mengalami babak memiliki adik sebelumnya, maka kehadiran naufal ini tidak begitu berpengaruh padanya. Dia mencintai adiknya dalam sunyi dengan – lebih pengertian, tidak berisik saat adiknya tidur, merelakan kehilangan kesempatan dibacakan buku karena adiknya menangis dll. 
Sedangkan si tengah, dia masih setengah memahami ada orang lain masuk dan mengambil perhatian orang di sekelilingnya, terutama ibunya. Merasa ‘kehilangan’ perhatian ibunya, dia mencari perhatian lain yang lebih utuh, yaitu perhatian budenya (pengasuhnya). Ini cukup menyembilu, tapi saya membesarkan hati dengan yakin suatu saat dia akan tau mana ibunya. Meski demikian, dia yang paling bersikap manis sama adiknya, ‘ih lucunyaa, comelnya’ kemudian dicium disentuh pipi kepala rambut. Dia juga yang paling usil sama adiknya. Saat adiknya tidur, dia sengaja berisik teriak kencang, loncat2, meniup muka adiknya, melewati atas adiknya dengan merangkak, mengganti panggilan adiknya dengan ‘dedek ompol’ dll. 
Tapi, bagaimanapun bentuk hubungan kalian bertiga, nak, pastikan itu adalah cinta. 

Kamu sudah cukup baik , mak

​”Bentar lagi ya, kak. Adiknya mau disuntik dulu.” seorang Ibu yang menggendong bayi berusia kisaran 3 bulan menghibur seorang anak lelaki kira-kira berusia 3 tahun yang sudah gelisah dan merengek minta pulang. 

Saya merasa ada yang aneh. Saya dan si Ibu sama-sama sedang mengantri pemberian vaksin MR, dimana vaksin itu diberikan untuk anak usia 9 bulan –  15 tahun. Tapi kenapa adiknya yang akan disuntik. 

Ceritanya pagi ini saya ke Puskesmas Pondok Betung untuk keperluan Imunisasi MR (Measles Rubella) Nawang. Menurut informasi, 28 september ini adalah hari terakhir pemberian vaksin MR di Puskesmas (sebagaimana kita ketahui bulan Agustus dan September ini adalah bulan kampanye Imunisasi Campak Rubela fase 1, dan jadwal pemberian vaksin di Puskesmas adalah selasa kamis). 

Sebelum berangkat kerja suami menyempatkan diri untuk mengambil nomor antrian terlebih dahulu demi – saya tidak perlu meninggalkan bayi 2 minggu terlalu lama. Setelah dapat nomor, suami berangkat kerja dan saya siap-siap berangkat ke Puskesmas bersama nawang. Tiba disana, sayangnya nomor antrian kami sudah terlewat dan harus mengambil nomor antrian baru. Hehe, bagus sih sebenarnya biar orang (seperti kami) tidak semena-mena. 

Karena ini adalah hari terakhir, bisa dibayangkan banyaknya antrian disana. Ada yang anaknya sudah merengek minta pulang, ada yang anaknya gelisah karena mengantuk, bosan dsb. Untuk menghibur dan mengatasi kebosanan dan kegelisahan si anak, rerata oleh si orang tua : si anak dipegangin hp, dikasih permen, dibeliin balon, diiming akan dibelikan es krim nanti. Ada pula yang dibohongi, 

“ssst kucingnya mana kucingnya mana, oh kucingnya disuntik disana ya.. ” kata seorang Ibu ke anaknya. 

“iya saya juga bilangnya tadi buat nganterin bla bla, bukan buat disuntik.” timpal seseibu paruh baya yang saya tebak adalah nenek dari anak di dekatnya. 

Saya kemudian bersyukur tidak perlu bersusah payah melakukan hal-hal diatas. 

“nawang nanti disuntik yaa, imunisasi, ga sakit kok, sakit sedikiit aja” 

Meskipun anaknya melawan saat masuk ruangan dan menangis saat disuntik, tapi setelah itu selesai kan. 

Saya, yang sebelumnya begitu merasa bersalah dan baper ketika baca-baca buku atau artikel parenting, jadi sedikit lebih percaya diri jadi mamak. Eh. Apa ya nama yang tepat untuk penyakit dimana hati akan lega ketika merasa ada yang tidak lebih baik dari kita? Astaga saya tahu ini tak baik ,  tapi diri lagi butuh sekali bisikan “kamu sudah cukup baik , mak.”

Lima

Baru seumur jagung.
Pernah suatu ketika ART ku (sebelum yang sekarang) berkomentar, “kok bisa ya mba ute dan mas jani itu baik-baik terus. Ga pernah ribut. Perasaan bos-bosku yang dulu adaa aja ribut-ribut.”

“Alhamdulillah.” Jawabku sambil tersenyum, namun tertawa  dalam hati.

Sebenarnya tidak demikian juga. Konflik pasti ada, tapi tidak untuk ditampakkan ke orang lain kan. Hanya aku, suami, Allah, dan malaikat yang tahu. 

Tentu ada saat kami bersilang pendapat, berbeda pandangan, beradu isi kepala. Ada saat dimana aku bertingkah begitu menyebalkan, kekanak-kanakan. Ada saat dimana dia juga bersikap menjengkelkan. 

Namun selalu saja, waktu tak memihak pada rasa tak baik. Udara pun seperti bersekongkol dengan detik untuk segera menguapkan kesal di hati.

Mungkin beginilah isyarat hati . 

Jangan sampai seperti Tibet 

​Pada tahun 1950-an, Tibet punya sistem pemerintahan tersendiri, dan terisolasi dari dunia luar. Dalai Lama berkuasa seperti raja merangkap dewa. Tibet masih hidup dalam abad pertengahan. Tak ada kendaraan bermotor, sekolah, bank. Mereka masih melakukan perdagangan barter dengan garam, kain, teh, mentega. Lalu datanglah orang China Han untuk “membebaskan Tibet secara damai”, melakukan perombakan total, menjanjikan modernisasi dan taraf kehidupan lebih tinggi. Tanah ini adalah bagian sah dari Republik rakyat Tiongkok, dengan nama resmi Daerah Otonom Tibet. Di Lhasa, suku pendatang mendominasi. Toko modern berjajar di jalan utama kebanyakan adalah milik pendatang, orang Han. (hlm. 97)

Perbedaan konsep kebahagiaan adalah perbedaan sudut pandang yang menyebabkan perbedaan memperlakukan hidup dan menjalani kehidupan. Banyak etnis Han berkata padaku, tak habis pikir mengapa orang Tibet masih tidak puas dengan semua ini,  padahal sudah dimanja dengan pembangunan luar biasa, mengapa mereka masih ingin merdeka. (hlm. 98)

“Kami kecewa datang ke Tibet, ” keluh sepasang turis Israel. 

Ya kecewa. Tibet mengecewakan, kata si lelaki. Lhasa sudah tidak ada bedanya dengan kota-kota lain di China, kata si perempuan, di mana-mana cuma ada orang China, semua orang gila uang. Tibet sudah komersil sekali. Duit, duit, cuma duit. 

Aku mengangguk. Aku bercerita betapa berat pekerjaan para kuli wanita Tibet yang kulihat di jalan menuju Shigatse, menggendong bongkah-bongkah batu, mengayunkan kapak, menggali lubang dengan cangkul, membangun jalan beraspal dan gedung bertingkat. Orang Tibet mesti berjuang supaya bisa tetap hidup di tengah persaingan ketat dengan para pendatang, kaum berpendidikan yang jauh lebih tangguh di berbagai bidang. (hlm 106)



*diambil dari buku Titik Nol, Makna sebuah perjalanan (Agustinus Wibowo/Xiao Weng) 

Sengaja saya ambil dari Novel Koh Agus, yang tidak akan di posisi menjelek2kan negeri leluhurnya sendiri, dan tentu sebagai jurnalis akan menulis dengan netral. 

____________________
Boleh tambah baca
http://www.rmol.co/read/2016/07/18/253492/Amir-Hamzah:-Waspada,-China-Bisa-Bikin-Indonesia-Seperti-Tibet-
https://tirto.id/cara-cina-lumpuhkan-tibet-dengan-megaproyek-bJEg