(Day 10) Mengakui Perasaan

Malam ini begitu pulang belanja, si abang seperti biasa segera meminta jajan yang baru saja saya belikan. Sepertinya, tangannya terkena ujung bungkus snack yang agak lancip yang menyebabkan ada sedikit luka. Dia menangis mengeluh ‘sakit.. Sakit’ tapi tidak mau dilihat oleh budenya. Saya masih cuek. Budenya menyerah dan meninggalkannya. Akhirnya saya dekati.

“Coba sini dilihat abang,”
“Gak mau. Sakit.. Sakit.”
“Sini dikasih propolis,” kata saya mengambilkan propolis. Dia masih menolak dan meraung-raung.
“Sini bunda lihat dulu,” saya agak memaksanya karena mulai kesal, kemudian mengoleskan propolis, pada luka, yang entah bisa disebut luka atau tidak, keciiil sekali hampir tidak terlihat. Bisa dibayangkan, wong hanya terkena ujung bungkus Snack. Dia masih merengek-rengek bilang sakit, saya berusaha menahan emosi.

“Sakit ya,bang?” saya mengeluarkan jurus empati.
“Iyaa, sakit.”
“Sakitnya ilang gak kalo abang nangis?”
“enggak,” katanya masih sambil menangis.
“oke. Bunda dan ayah tahu kalau tangannya abang sakit. Abang masih mau menangis?”
Diam.
Alhamdulillah. Ternyata dia hanya ingin diakui kalau dia merasakan sakit.

#day10
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s