Tujuan bermedsos. Kamu yang mana?

Ora usah ngeluh neng medsos, netijen ki cuma kepo tok, ora bakal jadi solusi,”

Ndonga kok neng medsos, Gusti Allah ora medsosan,”

Pernah baca orang menulis demikian? Iya sih, mereka benar. Tapi yang mengeluh di medsos, berdoa di medsos, itu juga tidak salah. Maksudku begini. Tujuan orang menulis atau memposting apapun itu tergantung tujuan mereka.

Ada yang menulis untuk tujuan memberi informasi kepada orang lain, bagus!

Ada yang bertujuan memberikan inspirasi, keren!

Ada yang bertujuan mengingatkan akan kebaikan, joss!

Ada yang bertujuan mendokumentasikan memori, sah!

Ada yang bertujuan melatih kemampuan menulis, oke!

Ada yang bertujuan mempengaruhi, boleh!

Ada yang bertujuan untuk komunikasi dan membangun jaringan, sip!

Jika tujuannya demikian, memang penting untuk dibaca dan mendapat komentar / feed back dari pembaca.

Tapi ada juga yang bertujuan untuk self healing atau untuk menjaga kewarasannya sendiri. Dia tidak bertujuan agar orang membaca tulisannya. Dia menulis untuk dirinya sendiri. Lha kenapa kok dipublish untuk umum? Lha biar gampang kalau suatu saat lupa User login dan ingin bernostalgia dengan masa lalu. Masa’ yang seperti ini dibilang tidak bijak dalam bermedsos. Trus awakmu komentar, lha ngopo nek ngeluh kok ora marang Gusti Allah wae. Ndonga iku pasti, tapi mengusahakan cara lain juga boleh kan.

Tapi emang netijen itu sifat dasarnya memang julid sih. Yang penting ndak usah gampang baper jika dinyinyiri.

Advertisements

Curhat : Urusan Gigi (2)

Monmaap curhat lagi ya. Sila diskip saja.

Sekira sebulan setelah pencabutan dan scaling gigi, ternyata masalah belum berakhir. Tetiba saya merasakan ada yang rompal di permukaan samping gigi yang ‘berbatasan’ dengan gusi. Seperti keropos dari samping. Awalnya ini tidak terlalu mengganggu tapi lama kelamaan terasa ngilu apalagi kalau terkena yang dingin-dingin. Minuman makanan dingin, kumur air, bahkan kena udara dingin pun ngilu.

Baiklah, sore hari sepulang kerja saya langsung ke Klinik DK lagi. Subhanallah antrian dokter gigi itu luamanya melebihi antri dokter spog. Lha apalagi ini menggunakan fasilitas Bpjs. Sing sabar wae. Haha.

Jam 21.an akhirnya saya baru dipanggil sebagai pasien terakhir. Wis sepi. Dokter akhirnya menambal gigi keropos tadi. Gigi ngilu disebabkan bagian sensitif gigi sudah tidak terlindungi, dokter menjelaskan. Tidak lupa saya dibawakan sampel pasta gigi sensitif dan untuk selanjutnya saya disarankan menggunakan pasta gigi sensitif.

Dua hari kemudian, saat sarapan, saya merasakan ada sesuatu yang keras dalam makanan saya. Setelah saya lihat ternyata tambalan gigi saya lepas 😰. Makanya kalau urusan gigi jangan pakai bpjs, seloroh teman saya. Akhirnya pada hari itu juga saya menuju klinik gigi di kantor untuk menambal kembali. Alhamdulillah sampai sekarang masih baik-baik saja.

Btw, setelah saya sedikit demi sedikit menyelesaikan masalah gigi ini, migrain yang dulunya menghantui saya hampir tiap siang, alhamdulillah sudah juarang sekali saya rasakan. Alhamdulillah Ya Allah, ternyata..

Curhat : Urusan Gigi

Merawat gigi terkadang nampak seperti aktivitas sederhana. Tapi jika lalai, urusan gigi tidak lagi menjadi masalah sepele.

Sejak kecil saya punya masalah gigi.

Ketika SD, saat kamu menjadi juara kelas, maka bapak/ibu gurumu biasanya akan memberikan hadiah. Itu yang terjadi pada saya. Suatu ketika saat kelas 4 SD, hadiah yang saya terima adalah beberapa buku tulis dengan sebuah sikat gigi. Saya agak kaget. Biasanya buku tulis dengan pensil atau pulpen. Perlu waktu lama bagi seorang bocah kelas 4 SD seperti saya untuk memahami maksud bu guru tersebut. Baru setelah saya menyadari, saya protes ke orang tua saya. Entah bagaimana pola pikir waktu itu. Saya protes karena kenapa saya tidak diajari sikat gigi. Dan saya ingat jawaban orang tua saya : ga diajari piye, kowe sing males. Begitu kira-kira jawabnya.

Hufh.

Waktu kecil saya suka makan jambu biji. Suatu ketika, ada satu biji, literally satu bijinya jambu biji, yang masuk ke gigi berlubang. Saya tidak sadar waktu biji itu masuk, saya sadarnya malah pas keluar. Sepertinya dia menetap disitu cukup lama. Hueks. Akibatnya, lubang gigi makin besaar.

Akibat gigi tersebut berlubang, aktivitas makan berpindah ke sisi gigi lainnya. Ini terjadi bertahun-tahun (((bertahun-tahun loh))) SAMPAI SAYA PUNYA TIGA ANAK. Artinya, sampai beberapa saat lalu.

Kenapa?

Satu, karena awareness saya kurang. Tidak ada pun yang mendorong saya untuk melakukan perawatan khusus untuk gigi berlubang itu.

Dua, karena dulu tidak ada alokasi uang untuk ke dokter gigi. Hiks

Tiga, enggan sama dokter gigi. Ya malu lah, risih lah kalau dibuka-buka mulutnya. Apakah hanya saya yang begini?

Empat, karena estafet hamil menyusui selama 6 tahun. Hihi, padahal tidak semua urusan dengan dokter gigi itu dilarang waktu hamil/menyusui.

Akhirnya baru beberapa bulan lalu saya beranikan diri, memulai hidup baru, hayah, mencari tahu tentang klinik gigi.

Searching-searching, goegling, instagring, kemudian menemukan beberapa rekomendasi klinik gigi di sekitar bintaro. Diantaranya: Identistree dental clinic. Lokasinya di Graha Raya Bintaro. Waktu itu ada promo jumat berkah diskon 50%. saya kemudian menanyakan ke teman yang menggunakan fasilitas itu. Dia kesana menambalkan gigi anak. Setelah diskon 50%, masih harus membayar 400rb per gigi nya. Wah masih mahal. Oke cari yang lain.

Setelah mencari-cari informasi, rata-rata ‘biaya gigi’ itu memang tidak murah. Akhirnya, keputusan finalnya : ke Klinik DK Ceger yang bisa BPJS! Haha.

Pertama, saya scaling karang gigi. Ini pertama kalinya saya scaling selama hidup. Haha. Terbayang lah ya. Scaling ini karena bukan termasuk pengobatan, maka tidak tercover BPJS. Biaya scaling di Klinik DK sebesar 400rb.

Selain itu saya memutuskan untuk mencabut gigi berlubang yang menghantui sejak kecil tadi. Kenapa dicabut kok tidak dirawat saja? Karena sepertinya sudah tidak memungkinkan. Dokternya heran kok saya tidak merasa sakit saat dicabut. Mungkin karena saya sudah terlalu lama memendam keinginan mencabut gigi ini tapi baru terlaksana sekarang. Hehe alhamdulillah.

Waktu itu saya berpikir mencabut satu gigi saja diantara belasan gigi lain tidak akan berefek apa-apa. Ternyata saya salah. Sekarang saat saya makan, saya mendadak membayangkan almarhumah mbah saya saat gigi beliau ompong – sedang makan. Oh ternyata seperti ini rasanya, seperti mengunyah tapi tidak kunjung halus. Hehe, tapi tidak apa-apa, alhamdulillah.

Self Emotional Healing

“Efek workshop gini bertahan berapa lama ya, mbak?” sesembak sesama peserta bertanya kepadaku.
“Ya semoga seterusnya, mbak,” jawabku, yang lebih merefleksikan harapanku.

Dua hari tanggal 19-20 januari lalu saya mengikuti workshop self emotional healing oleh Ibu Safithrie Sutrisno founder roemah emak. Tujuan dari workshop tersebut seperti ini:
-Healing innerchild
-Menemukan jati diri sesungguhnya
-Kemampuan self healing
-Menjadi pribadi yang lebih positif

Diantara yang saya ingat dari workshop kemarin adalah : untuk menjadi positif, keluarkan dulu emosi negatif dan isi dengan emosi positif. ~Yaelah, konsep itu anak kecil juga tau, te~
✌️
Emosi negatif membajak kita hampir tanpa kita sadari (subconsciusmind). Sebagian besar emosi negatif tersebut berasal dari rekaman masa lalu yang di hari ini membentuk pola pikir, kebiasaan, dan perilaku kita.

Meskipun kita sudah berjanji untuk tidak melakukan suatu perbuatan buruk yang menyakitkan kita di masa lampau, namun perbuatan buruk itu bisa spontan kita lakukan. Ada anak kecil dalam jiwa kita yang perlu disembuhkan (innerchild).

Lalu bagaimana memprogram ulang?

– akui emosi tersebut. Namakan. Marah? Kesal? Kecewa? Tarik perasaan kita,
– buang jauh-jauh emosi negatif tersebut
– sebutkan keinginan kita (positif) dengan menyebut secara detail : personal (diri kita), waktunya sekarang, positif, dan passion. >>affirmasi
– visualisasikan.

Untuk menjadi pribadi positif, dapat dilakukan sendiri untuk emosi dari masa lalu maupun masa sekarang (self coaching). Caranya :
– kenali, namakan, dan akui emosi tersebut. Kenali penyebabnya dan apa respon kita
– alirkan emosi tersebut
– melatih bicara kepada diri sendiri
– menyembuhkan diri sendiri.

Tulis dan ucapkan pada diri sendiri.

Untuk menjadi positif, pastikan : you are the master of your minds and your feelings.

Maafkan penyampaian yang tidak utuh dan runtut. Ilmu psikologi tiada, pemahaman juga tak seberapa~

Trus kowe wis berhasil, te?
Ya berproses. Seperti proyek jangka panjang yang hasilnya mungkin baru nampak bertahun-tahun kemudian~
Doain yee gaes.