Kebenaran sebagai dasar pertimbangan

Suatu cerita.
Abu Lukman dalam hendak mengajarkan anaknya tentang kehidupan. Sudatu hari ia mengajak anaknya ke pasar. Untuk itu ia meminta anaknya menyiapkan seekor keledai kemudian berangkat. Abu Lukman menaiki keledainya dan anaknya berjalan di samping keledainya. Beberapa saat kemudian mereka berpapasan dengan beberapa musafir yang berkata, “dasar orang tua enaknya sendiri, anaknya disuruh jalan, dia enak naik keledai.”

Mendengar itu, dia segera turun dan meminta anaknya naik keledai. Beberapa saat kemudian, mereka bertemu lagi dengan rombongan orang yang kemudian berkata, “dasar anak tidak tahu diri. Ayahnya disuruh jalan, dia enak naik keledai.”

Mendengar itu, Abu Lukman ikut naik keledai bersama anaknya. Dan tak lama kemudian bertemu orang-orang menggunjing, “dasar tidak punya belas kasihan, keledai begitu dinaiki berdua.”
Mendengar itu, Abu Lukman turun dan meminta anaknya juga turun dari keledai, lalu menuntun keledai mereka. Tak lama kemudian mereka bertemu orang-orang yang berkata, “lihat, dasar orang-orang yang bodoh, membawa keledai tapi tidak dinaiki.”

Mendengar itu, Abu Lukman berkata kepada anaknya, “sesungguhnya tidak akan terlepas seseorang itu dari perbincangan manusia. Maka orang yang berakal, tidaklah ia mengambil pertimbangan melainkan kepada Allah. Barang siapa mengenal kebenaran, maka itulah yang menjadi pertimbangannya dalam segala hal.”
(dicomot dari kisah berseliweran di Internet dan ditulis ulang dengan bahasa seingetnya).

Advertisements

Catatan na-1

Bismillah,

Saya menulis catatan ini tanpa bermaksud membuka aib atau mempermalukan anak/diri sendiri. Ini hanya dimaksudkan untuk keperluan mendokumentasikan dan memantau perkembangan anak.

***

Anak pertama kami waktu berusia sekitar 1, 5 an tahun, mulai menunjukkan tanda-tanda dia pemalu. Atau apa tepatnya ya. Dia tidak bisa bersikap santai jika ada orang asing di dekatnya. Cenderung diam, hanya mengamati orang, menjaga jarak, dan tidak membaur. Introvert? Tapi sepertinya bukan, dia suka berteman, malah too excited sampai salah tingkah jika ada teman, hanya malu untuk membaur.

Saya pernah berpikir, apakah ini karena cara kami mendidiknya. Kami kemudian mengevaluasi cara kami mendidiknya. Tapi kami merasa biasa saja. Kami juga tidak jarang mengajaknya ke tempat-tempat umum seperti playground, taman, masjid, pengajian pekanan (liqo’), dsb.

Begitu dia punya adik, ternyata sifat malu ini juga muncul di adiknya, meskipun karakter mereka berbeda. Apakah semata-mata karena adiknya ini meniru apa yang dilakukan kakaknya, atau karena sifat yang dia bawa? Saya masih bertanya-tanya.

Kadang kami slow saja karena berpikir ini hanya masalah waktu, suatu saat mereka akan mampu mengatasi masalah ini. Tapi kadang, tidak semudah itu. Perbedaan mereka dengan teman-teman mereka terlalu mencolok. Misalnya ketika bermain di playground. Dia hanya akan bermain jika sudah tidak ada lagi anak lain yang bermain disana. Ketika ditanya orang, belum berani menjawab. Ketika disapa teman, diam saja. Ketika teman-temannya asyik bermain, belum berani bergabung, hanya mengamati saja. Padahal saya tahu, mereka sungguh ingin bergabung bermain, hanya belum berani.

Dan beberapa kali, sifat malu yang berlebihan ini menjadi masalah. Ketika di sekolah, dia (na-1) belum berani menyampaikan kebutuhannya untuk ke toilet, baik untuk bak maupun bab. Dan, bisa ditebak kan akibatnya?

Tapi alhamdulillah, belakangan saat di sekolah, dia (na-1, 5.5y) sudah mau ke toilet sendiri, meskipun tanpa menyampaikan izin ke ibu guru. Tidak apa-apa. Pelan-pelan ya, nak.

Sifat malu berlebihan anak-anak ini cukup membebani pikiran saya. Duuh, apa karena kami salah mendidik yaa… Duuh, apa karena ‘salah’ kami jika ternyata kami mempunyai sifat malu yang kemudian diturunkan yaa… dll. Saya sadari, saya sendiri tidak memiliki kepercayaan diri yang oke, tapi masih taraf wajar. Atau jangan-jangan waktu saya kecil begitu juga?