Hari Pajak : Pajak Bertilawah 


Saya pernah bertanya-tanya mengapa kata ‘makam’ didahului dengan kata ‘taman’.  “Biar ga serem,” jawab suami asal-asalan, seperti biasanya. 

Mungkin demikian-bertanya-tanya juga orang di luar sana ketika membaca kata ‘pajak’ yang diikuti kata ‘bertilawah’. 

Sebenarnya tidak ada yang aneh sih dengan gabungan kata ‘pajak bertilawah’ itu. Hanya mungkin kata ‘pajak’ terdengar berasosiasi negatif, baik bagi yang tidak mau berkontribusi untuk negara maupun bagi yang meragukan kehalalan pajak. 

Aduh, kok jadi berat. 

Ngomong yang ringan-ringan aja yaa.. 

Sesempit pergaulan saya, instansi pajak ini memang begitu kental nuansa keagamaan (islam) nya. 

“Kurang jauh sih jalan-jalannya, gaulnya sama Itu-itu mulu,” komentar sesuatu di kepala. 

Iya sii~ Tapi emang bener lo, kalau kau datang ke kantor pajak, kau akan temukan pegawai-pegawai (wanita) berbusana syar’i, masjid-masjid kantornya dipenuhi jamaah saat waktu shalat, pengajian-pengajian bergema selepas zhuhur dll. 

Alhamdulillah, betapa bersyukur mendapatkan teman-teman dan lingkungan seperti ini. Jika dengan nikmat seperti ini disebut ‘kurang luas bergaul dan kurang jauh jalan-jalannya’ pun, saya rela 😃. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s