Nafis Nawang Naufal

​Menjelang persalinan si ketiga, angka tiga ini tiba-tiba menyeret memori saya ke masa kecil dulu. Saya memiliki dua kerabat seumuran sekaligus sahabat sepermainan. Kami bertiga bersahabat dekat namun jarang bermain bertiga. Entah bagaimana kami lebih sering bermain berdua-dua secara bergantian. Selayaknya kombinasi dua dari tiga pada matematika.
Ehm, saya jadi berpikir, apakah sulit menjalin hubungan persahabatan 3 orang? Harusnya sih enggak ya.

Nah, sehubungan dengan datangnya naufal di kehidupan kami, saya mengira-ngira akan seperti apa penyikapan kedua kakaknya.
Si sulung, karena pernah mengalami babak memiliki adik sebelumnya, maka kehadiran naufal ini tidak begitu berpengaruh padanya. Dia mencintai adiknya dalam sunyi dengan – lebih pengertian, tidak berisik saat adiknya tidur, merelakan kehilangan kesempatan dibacakan buku karena adiknya menangis dll. 
Sedangkan si tengah, dia masih setengah memahami ada orang lain masuk dan mengambil perhatian orang di sekelilingnya, terutama ibunya. Merasa ‘kehilangan’ perhatian ibunya, dia mencari perhatian lain yang lebih utuh, yaitu perhatian budenya (pengasuhnya). Ini cukup menyembilu, tapi saya membesarkan hati dengan yakin suatu saat dia akan tau mana ibunya. Meski demikian, dia yang paling bersikap manis sama adiknya, ‘ih lucunyaa, comelnya’ kemudian dicium disentuh pipi kepala rambut. Dia juga yang paling usil sama adiknya. Saat adiknya tidur, dia sengaja berisik teriak kencang, loncat2, meniup muka adiknya, melewati atas adiknya dengan merangkak, mengganti panggilan adiknya dengan ‘dedek ompol’ dll. 
Tapi, bagaimanapun bentuk hubungan kalian bertiga, nak, pastikan itu adalah cinta. 

Advertisements