Jangan sampai seperti Tibet 

​Pada tahun 1950-an, Tibet punya sistem pemerintahan tersendiri, dan terisolasi dari dunia luar. Dalai Lama berkuasa seperti raja merangkap dewa. Tibet masih hidup dalam abad pertengahan. Tak ada kendaraan bermotor, sekolah, bank. Mereka masih melakukan perdagangan barter dengan garam, kain, teh, mentega. Lalu datanglah orang China Han untuk “membebaskan Tibet secara damai”, melakukan perombakan total, menjanjikan modernisasi dan taraf kehidupan lebih tinggi. Tanah ini adalah bagian sah dari Republik rakyat Tiongkok, dengan nama resmi Daerah Otonom Tibet. Di Lhasa, suku pendatang mendominasi. Toko modern berjajar di jalan utama kebanyakan adalah milik pendatang, orang Han. (hlm. 97)

Perbedaan konsep kebahagiaan adalah perbedaan sudut pandang yang menyebabkan perbedaan memperlakukan hidup dan menjalani kehidupan. Banyak etnis Han berkata padaku, tak habis pikir mengapa orang Tibet masih tidak puas dengan semua ini,  padahal sudah dimanja dengan pembangunan luar biasa, mengapa mereka masih ingin merdeka. (hlm. 98)

“Kami kecewa datang ke Tibet, ” keluh sepasang turis Israel. 

Ya kecewa. Tibet mengecewakan, kata si lelaki. Lhasa sudah tidak ada bedanya dengan kota-kota lain di China, kata si perempuan, di mana-mana cuma ada orang China, semua orang gila uang. Tibet sudah komersil sekali. Duit, duit, cuma duit. 

Aku mengangguk. Aku bercerita betapa berat pekerjaan para kuli wanita Tibet yang kulihat di jalan menuju Shigatse, menggendong bongkah-bongkah batu, mengayunkan kapak, menggali lubang dengan cangkul, membangun jalan beraspal dan gedung bertingkat. Orang Tibet mesti berjuang supaya bisa tetap hidup di tengah persaingan ketat dengan para pendatang, kaum berpendidikan yang jauh lebih tangguh di berbagai bidang. (hlm 106)



*diambil dari buku Titik Nol, Makna sebuah perjalanan (Agustinus Wibowo/Xiao Weng) 

Sengaja saya ambil dari Novel Koh Agus, yang tidak akan di posisi menjelek2kan negeri leluhurnya sendiri, dan tentu sebagai jurnalis akan menulis dengan netral. 

____________________
Boleh tambah baca
http://www.rmol.co/read/2016/07/18/253492/Amir-Hamzah:-Waspada,-China-Bisa-Bikin-Indonesia-Seperti-Tibet-
https://tirto.id/cara-cina-lumpuhkan-tibet-dengan-megaproyek-bJEg

Advertisements

19 april 2017

19 april ini akan menjadi sejarah. Bagi warga jakarta, bagi warga indonesia, dan bagi umat muslim di dunia.

19 april ini akan menunjukkan siapa yang beriman dan siapa yang munafik.

19 april ini akan menjadi hari pembeda, siapa yang taat kepada Allah, Rasul dan para ulama; serta siapa yang taat kepada yang lainnya : idola, kerabat, kawan, harta, atau nafsu.

19 april ini akan menjadi ajang bagi siapa yang bersinergi tolong menolong dalam kebaikan, dan siapa yang berkomplot bersama-sama dalam kemungkaran.

Silakan memilih berada dalam golongan mana. Selamat memutuskan menjadi apa. Kita tentu telah bersiap dengan segala konsekuensinya.

Hasbunallah wa ni’mal wakiil, ni’mal maulaa wa ni’man nashiir.

*ps. alhamdulillah besok libur.

kisahku untukku

Pernah, sekitar setengah tahun lalu, dengan instruksi atasan, saya mengikuti sebuah acara bedah buku yang diselenggarakan oleh instansi sebelah yang masih dalam satu naungan kementerian. Buku yang dibedah dalam acara tersebut adalah Kisah Hidupku yang ditulis oleh ‘Kick’ Andy F. Noya, dengan –tentu saja- menghadirkan penulisnya. Sebagai tambahan informasi tidak penting, jika ada undangan acara hore-hore seperti ini, selalu, atau seringnya saya lah yang diutus datang. Yaa, setidaknya itu bisa menggambarkan bagaimana saya sebenarnya dalam dunia nyata. Hore-hore. -_-

Saya bukan ingin menceritakan tentang Bung Andy atau bukunya. Hanya, mau mencomot sedikit. Waktu itu Bung Andy mengatakan bahwa beliau sebenarnya gundah ketika menerbitkan buku tentang kisah hidupnya itu. Banyak aib masa lalunya yang sangat sedikit orang yang mengetahuinya, yang ia ceritakan dalam bukunya. Namun sebagai seorang jurnalis, ia berprinsip seorang jurnalis harus jujur.

Nah sebenarnya kegundahan ini juga terjadi pada saya (padahal sopo aku, wkwk). Yang saya tulis-tulis di blog selama ini tentu saja sudah saya filter dulu (pencitraan, :p). Namun sebenarnya ada keinginan untuk menuliskan semuanya, termasuk keburukan-keburukan saya, sebagai pengingat agar tidak sampai terulang keburukan yang sama. Hmms, tapi bukankah semestinya jika Allah sudah menutup aib kita, semestinya kita tidak mengumbarnya. Terdengar bisikan, yowis ditulis di buku diary aja, atau di simpan saja di komputer/storage dan dipassword atau visibiliti blognya dibuat password protected aja. Tapi,

Bisik-bisik

​“apabila kamu bertiga, maka janganlah dua orang di antara kamu saling berbisik-bisik tanpa mengajak yang lainnya, hingga mereka bercampur dengan orang-orang, karena hal tersebut akan menyakitinya.” (H.R. Muttafaq ‘Alaih).

Di masa dulu, saya pernah melakukan kekejian ini. Bukan berbisik-bisik sih. Malah ngobrol asik dengan beberapa orang sementara ada teman lain yang ‘tidak-ikutan-asik’. Ternyata ini menyakitkan baginya. Jahat sekali saya. Jika diizinkan berandai-andai, saya mengandaikan mengulang waktu itu dan menahan diri dari perilaku demikian.

Hari-hari ini, perasaan  semacam ini muncul kembali di tempat kerja, dari sudut rasa sebaliknya. Minoritas. Terdominasi. Satu kelompok dari kelompok lain.  Sungguh tidak nyaman.

Mau bicara apa sih,  abstrak. Haha. Begini, mungkin mengelola banyak perasaan lebih sulit dilakukan daripada mengelola banyak pekerjaan. 

Demikian. Selamat berlongweekend.