membincang passion 

​Suatu ketika, dalam suatu kesempatan pagi santai, seorang kepala seksi di tempat saya bekerja membicarakan  tentang passion. 

“Tidak sedikit orang-orang di Indonesia memilih jenjang pendidikan untuk menyenangkan orangtuanya, bukan karena passionnya di bidang itu”.

Lantas saya nyeletuk, bagaimana kalau orang tidak menemukan passion, pak? 

“Ah tidak mungkin. Setiap yang terlahir, setiap yang diciptakan didunia ini pasti sudah dibekali sesuatu dari sononya. Masalahnya orang yang dibekali itu sadar atau tidak dengan bekalnya, dibuka tidak bekalnya”. 

Saya masih merenung. Entahlah, hidup sudah setua ini, saya malah seperti lupa memikirkan passion saya. Gemar ini itu sekedarnya saja. Pun jika ditanya keterampilan atau keahlian, saya tidak menemukan jawaban. Saya sungguh merasa hanya seperti buih yang bertebaran di lautan. Halah. Lebih-lebih, si bocah-bocah kecil sangat cukup menyita ruang perenungan daripada passion saya sendiri. 

“Ya kalau sampai saat ini masih gagal menemukan passion, paling tidak anak-anak nya dikenali dari kecil, kecenderungannya apa dan diarahkan,” lanjut beliau seperti membaca lamunan saya.