Etika kepada yang sudah berpasangan

Saya tidak mengatakan bahwa pacar itu pasangan loh ya. Maksud saya pasangan di sini adalah suami/isteri. Tulisan ini terinspirasi oleh sebuah ‘peristiwa’ di facebook. Peristiwa yang terjadi kepada ibu muda yang masih ada hubungan saudara dengan saya. (Maaf ya, say, kutulis disini). Awalnya si ibu muda mengupload beberapa fotonya yang dibikin fotogrid dengan caption kira-kira ‘emak satu anak’ (saya cek lagi postingan sudah dihapus). Sebenarnya itu adalah postingan biasa saja. Namun itulah buruknya media sosial. Postingan yang sebenarnya biasa, untuk sebagian orang lain mungkin tidak demikian. Sebagian kecil orang membaca postingan tersebut akan lain. Eh,  jangan-jangan saya yang terlalu baper membacanya.

Celakanya, postingan yang men-tag suami dari si ibu muda tersebut dikomentari oleh seseorang lelaki yang bukan- tidak-pernah memiliki hubungan dengan si ibu muda (please correct me if i’m wrong, dear my sista). “ehm”, “masih cantik, bu..”, demikian komentarnya.

Maafkan saya jika berlebihan, menganggap komentar itu kurang beretika. Ini lebih mudah dipahami ketika kita mencoba memposisikan diri sebagai pasangan dari si ibu muda.

Terlepas dari peristiwa di atas, saya jadi ingin mengingatkan diri sendiri untuk lebih berhati-hati dalam berinteraksi dengan lelaki yang bukan suami/mahram. Termasuk di dalamnya, berinteraksi dengan lelaki yang sudah beristri.

Tidak sampai ke masalah selingkuh pun, ada banyak hal yang bisa membuat pasangan itu cemburu, terutama isteri.  Oleh karena itu, saya akan mencoba mengumpulkan beberapa hal yang kiranya membuat hati pasangan bisa tersakiti atau setidaknya waswas. Dengan senang hati kalau ada yang memberikan tambahan. Semoga dengan membaca ini kita akan lebih berhati-hati.

  1. Sahabat dekat

Banyak orang berpendapat namanya sahabat ya sahabat. Entah belum menikah, entah sampai menikah, tidak akan ada yang berubah dari persahabatan. Jika persahabatan itu antarwanita atau antarlelaki, saya setuju. Namun jika persahabatan itu antara wanita dan lelaki, emm rasanya perlu dipikirkan kembali. Sesudah menikah, bukankah ada hati yang harus dijaga?

  1. Perhatian

Bentuk perhatian bisa macam-macam. Memberikan makanan ringan, hadiah, mengomentari penampilan dan lain-lain. Hadiah boleh saja, asal tidak dikhususkan ke lawan jenis yang sudah jadi pasangan orang ya.

  1. Pujian

Pujian semacam ‘ganteng’ atau ‘cantik’, menurut saya cukup sensitif. Apalagi jika diucapkan saat yang dipuji sedang ada masalah dengan pasangannya. Duh,

  1. Komunikasi kembali dengan mantan

Ini tergantung, sih. Beberapa merasa hal ini biasa saja. Namun disini saya hanya merangkum apa-apa yang kiranya bisa membuat seorang pasangan cemburu. Cemburu memang boleh, dan bagus. Tapi kalau sengaja membuat pasangan cemburu?

  1. Chatting pribadi

Sejauh pembicaraan adalah mengenai pekerjaan, mungkin tidak masalah. Namun tetap menjadi masalah ketika dilakukan di luar jam kantor dengan intensitas yang lumayan. Ya bayangkan saja, isteri yang hanya bertemu suami di malam hari dan akhir pekan, masa ya masih harus berbagi lagi dengan orang lain.

  1. Curhat

Saya rasa ini yang paling membahayakan. Apalagi yang dicurhatkan adalah masalah keluarga.

Nah, kepada orang yang sudah berpasangan saja kita harus menjaga etika, lebih-lebih lagi kepada pasangan sendiri.  insyaAllah postingannya menyusul ya. Saya juga baruuu mulai belajar ( empat taun ngapain aje kok baru belajar..)

Semoga kita bisa lebih berhati-hati menjaga hati-hati keluarga kita dan ‘membantu’ agar hati-hati keluarga lain juga terjaga.

belajarlah2betika2bberkomunikasi2bdengan2bpasangan

gambar dari sini

Advertisements

5 thoughts on “Etika kepada yang sudah berpasangan

  1. Tapi kayaknya memang ada satu poin yang meluntur ketika sudah menikah, mba. Yang dulunya masih gadis ga pernah majang foto sama sekali, PP isinya kalau ga kartun ya bunga. Sejak menikah tetiba jadi suka posting foto dimana-mana. Kadang jadi mikir, memang apa bedanya punya suami dan ga punya suami, toh media sosial sama-sama masih rentan fitnah juga. Buktinya ya cerita yang Mb Ute sampaikan itu. Perkara oranglain kadang kita tidakbisa menuntut dia harus komen apa dan gimana, ya harus kitanya yang jaga diri. Mungkin tulisan ini bisa ada sambungannya mba: etika ketika sudah menjadi istri, hehe.
    Afwan kalau kurang berkenan ya mba…

    1. sebenernya yang di sosmed itu trigger doang sih, dek. maksudku, aku beberapa kali denger cerita ga enak dari temen2 tentang orang di kantornya. ekstrim dan kasarnya :selingkuh. apalagi usia2 40-50 itu yang rawan. kalo masalah idealisme yang meluntur, hehe aku ga sanggup bahas itu.

    2. tapi bener juga sih. ga akan ada komentar jika ga ada postingan. makanya di bagian akhir aku nulis kapan2 nulis ‘etika kepada pasangan’ sendiri. makasih dek fira masukannya

  2. dan entah mengapa….. respect saya berkurang ketika melihat seorang perempuan yang sudah bersuami memajang fotonya sendiri dan juga video entah dalam rangka promosi barang dagangan atau yang lain 😀

    1. sebenarnya saya udah ada rencana mengingatkan, tapi ehm, blm tau bahasa yang tepat. belum lagi, saya juga bukan tidak pernah uplod foto sendiri meski bukan foto selfi -_-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s