[Ulasan] Kembali ke Titik Nol

Judul Buku : Kembali ke Titik Nol

Penulis : Saptuari Sugiharto

Penerbit : Delta SaputraCAM02395

Buku ini, seperti tag line-nya, berisi kisah-kisah inspiratif perjuangan para pengusaha membebaskan diri dari jeratan riba. Jika Anda bergabung di Grup Facebook Belajar Wirausaha Bareng Saptuari dan mengikuti update-nya, maka Anda mungkin telah membaca beberapa kisah yang  dituliskan dalam buku ini. Namun itu tidak membuat ‘membeli dan membaca’ buku ini tidak menjadi worth it lagi. Saya sendiri merasakan feel yang berbeda ketika membaca apa-apa di media sosial dengan membaca langsung di bukunya.

Mas Saptuari memulai bukunya dengan menjelaskan konsep rezeki melalui ilustrasi sederhana, “dikejar malah lari, udah pasrah malah datang sendiri”. Dalam Al-Qur’an, hal rezeki ini dikemas dalam empat konsep.

  • Rezeki yang dijamin
  • Rezeki yang diusahakan
  • Rezeki yang digantung
  • Rezeki yang dijanjikan

Rezeki yang mana yang masing-masing kita dapatkan?

Selanjutnya, seperti yang saya katakan di awal, di hampir keseluruhan isi buku, Mas Saptuari menyajikan berbagai kisah perjuangan orang-orang yang ingin terbebas dari jeratan riba.

Jangan menanyakan masalah editing atau kaidah bahasa dalam penulisan buku ini. Tulisan sebanyak lebih dari 270 halaman ini ditulis dalam bahasa ‘bicara’ Mas Saptuari yang ringan (meskipun saya sendiri belum pernah melihatnya bicara) yang sepertinya tanpa melalui proses editing, hehe. Membacanya membuat saya membayangkan seperti mendengarkan seseorang dengan tubuh gendut (hehe, maaf, beliau sendiri yang bilang) sedang ngomong ceplas-ceplos muncu-muncu campur boso jowo sambil sesekali gebrak meja atau beraksi seperti seorang pesilat yang selesai menjatuhkan lawannya dengan jurus pamungkas terakhirnya.  Ciyaaaat, bletak! Sesuai dengan tujuannya untuk meledakkan semangat pembacanya.

Maka ringkasnya, empat kata untuk menggambarkan pesan yang ingin disampaikan Mas Saptuari dalam buku ini adalah : antiriba, taubat, usaha, sedekah.

Namun ada hal kecil yang agak mengusik saya. Sungguh ini saya harapkan sebagai pengingat diri saya bahwa ketika saya berniat bersungguh-sungguh meninggalkan riba, maka semata-mata karena ingin mendapatkan ridha Allah, takut Allah murka. Bukan karena ingin sekedar membuktikan janji-Nya, matematika-Nya. Banyak kisah dalam buku ini menceritakan mengenai orang yang bertaubat dari riba, kemudian memulai usahanya dari nol, dan kemudian menjadi sukses. Atau cerita mengenai orang yang sedekah, dan tiba-tiba ada rezeki yang datang dari arah yang tidak terduga. In my humble humble opinion, kalau mau meninggalkan riba, kalau mau sedekah, lakukan saja tanpa mengharap-harapkan balasanNya. Yakin Allah akan membalasnya. Tapi dalam bentuk apa, kita tak pernah tahu. Ini bukan masalah kisah yang ditulis dalam buku lo ya, tapi masalah interpretasi pembaca. Saya yakin, untuk bisa kembali survive (atau mendapatkan kebaikan) setelah meninggalkan riba, perjuangan yang dilakukan berdarah-darah. Tidak sesederhana apa yang terbaca oleh kita dari buku tersebut. Jadi jangan sampai kita kecewa kalau dengan riba yang kita tinggalkan, sedekah yang kita lakukan, kita belum mendapatkan yang kita inginkan.

Disclaimer : tulisan ini semata-mata ulasan atas buku. Penulis ulasan ini belum lepas dari hutang dan riba. Usaha yang dilakukan untuk terbebas dari riba juga belum nampak keras.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s