Likulukalaku

bagiku, tidak ada yang lebih membahagiakan lebih dari melihat orang yang kita cintai berubah ke arah kebaikan.

lelaki itu, empat tahun lalu mengajakku membeli sepetak tanah dengan pinjaman dari bank. maju-mundur tarik-ulur. aku bimbang. dia meyakinkanku, mumpung ada yang menarik nih, katanya. keputusan pun dibuat. menyesal? tentu saja. mana mungkin terjerat riba dan bahagia. namun, aku tak mungkin melimpahkan kesalahan padanya saja. apa yang kami lakukan adalah keputusan kami berdua.

hari-hari berlalu, mekanisme bank terus berjalan. sekitar satu tahun lalu, facebook memperkenalkan lelaki itu pada Saptuari Sugiharto, pengusaha humoris yang getol mengkampanyekan anti riba. dia tertarik dengan konsep-konsep yang dibawa kang Saptu : konsep bisnisnya, konsep sedekahnya, konsep antiribanya; juga rajin membaca update di grup pengusaha tanpa riba hingga membeli buku-bukunya.

tapi ternyata, itu semua belum cukup membuat kami berhenti. ketika dihadapkan pada pilihan memperpanjang kontrak rumah atau membangun rumah di atas tanah yang kami beli (dengan pinjaman yang masih berjalan) tadi, kami kembali kalah. kami memutuskan pada pilihan kedua dengan konsekuensi menambah pinjaman.

rasanya antara sedih dan marah pada diri sendiri. adakah yang lebih buruk dari mengetahui bahwa sesuatu itu salah namun tetap melakukannya?

beberapa bulan lalu, qadarullah di kantor, lelaki itu dipindahkan ke bagian lain yang menyebabkan beban kerjanya menurun. dengan load pekerjaan yang sedikit itu, dia jadi mempunyai lebih waktu untuk membaca-baca artikel, mencari-cari peluang bisnis sampingan, dan memulai usaha kecil-kecilan. memang masih terlalu dini dan belum seberapa jika dikatakan semua ini dilakukan dalam semangat melunasi utang. namun, saya bahagia melihat ada nyala kecil dalam dirinya yang ia jaga dan semakin terasa hangatnya. apalagi setelah pagi ini dia mengatakan akan mendaftar KOBAR (komunitas bebas riba), komunitas yang dibentuk rekan-rekan instansi yang bertujuan saling bantu-membantu dalam pelunasan utang riba. entah perannya disana sebagai apa,  akan kubantu dia menjaga nyalanya.

Advertisements

3 thoughts on “Likulukalaku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s