mengukir cahaya

yahsabu anna ma yahuuu ah a dah

Saya tersentak dan mengamati ocehannya lamat-lamat. Meski lafadznya belum tepat benar, saya bisa menangkap bocah kecil 27 bulan ini mendengungkan potongan surat al-humazah sambil bermain lego. Rasanya seperti setitis air menyejuki rongga kalbu. Saya takjub, karena biasanya yang digumam ‘hanya’ potongan surat al-fatihah dan 3 surat pendek secara acak. Saya kemudian menjadi menyesali bahwa akhir-akhir ini menjadi sedikit berkurang intensitas membacakannya surat-surat pendek. Ini karena bocah ini akhir-akhir ini sering meminta dibacain buku ‘saja’ daripada diajak mengaji (membaca surat-surat pendek) sebelum tidur.

Saya mesti bersyukur dibalik keterbatasan saya memberikan hak asinya sampai 2 tahun, ada hikmah Allah dibaliknya. Sewaktu umurnya 13 bulan, Allah menganugerahkan rizki amanah baru di kandungan saya. Dan puncaknya di usia bocah itu 14 bulan, dia tidak mau lagi menyusu. Bagaimana lagi. Maka, ritual menidurkan dengan menyusu berubah menjadi membacakan surat-surat pendek sambil mengipasinya pelan serta menepuk-nepuk punggungnya perlahan. Dengan cara seperti memang butuh waktu jauh lebih lama untuk menidurkannya. Kira-kira setengah jam. Bahkan kadang lebih. Dan ini dilakukan sehari tiga kali karena waktu itu dia masih tidur siang dua kali. Dan alhamdulillah, ketika saya sedang tidak di rumah (kuliah), maka bude yang mengasuhnya pun cukup kooperatif dengan melakukan cara yang sama untuk menidurkannya, meski kadang diselingi lagu-lagu anak.

Saya tidak sedang berbangga dengan apa yang sudah saya lakukan. Siapalah saya yang hanya memiliki hafalan Quran sekelumit. Bahkan cara yang saya lakukan pun ‘hanya sambil’, sambil menidurkan, bukan program khusus dengan target tertentu. Namun saya hanya sedang mengingatkan diri bahwa mengukir ilmu pada anak itu seperti mengukir di atas batu. Memang akan lebih ringan bagi saya –setelah membacakan buku untuknya, kemudian hanya menepuk-nepuk perlahan punggungnya sambil terdiam sunyi. Ini membuatnya lebih cepat tidur daripada saya membacakan surat-surat pendek setelah membacakan buku. Akhir-akhir ini saya melakukan ini. Sungguh sayang. Tetapi dengan gumaman potongan surat al-humazah tadi seolah-olah kembali menyentak saya, mengingatkan saya bahwa cara sederhana yang saya lakukan tidak sia-sia. Dia merekam. Maka saya kembali yakin harus melakukannya dengan konsisten.

Semoga Allah memampukan kami.

nafis dan nawang

Advertisements

One thought on “mengukir cahaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s