Anak pemalu

Tadi, dalam sebuah grup wa, ada teman yg share terkait kasus yang terindikasi bermodus rencana penculikan anak di sebuah mall (Semoga anak2 kita dilindungi dari kejahatan2 seperti itu ya, ibu2).  Membaca ini, mengingat anak saya, tumbuh kesyukuran atas apa yang sebelumnya cukup saya khawatirkan.

Iya, sebelumnya saya agak khawatir dengan perkembangan  anak saya terkait jiwa sosialisasinya. Sejauh ini yang saya perhatikan, nafis cenderung lebih pemalu dibandingkan rekan2 sebayanya. Oke, memang tidak semestinya saya membanding2kan, tapi tetap saja ada sedikit kekhawatiran.

Dia membutuhkan waktu cukup banyak untuk bisa akrab bersama orang baru, bahkan kakekneneknya. Saat didekati orang baru, teman saya misalnya, dia seringnya menempel saya erat2, atau bersembunyi di balik saya.

Tapi skrg, saya bersyukur anak saya punya kehati2an lebih terhadap orang baru. Minimal saat mengingat banyaknya kasus penculikan. Memang seharusnya, saya mendidiknya sesuai fitrahnya, bukan memaksanya sesuai keinginan saya. Apalagi usianya masih sangat dini untuk dinilai seperti ini seperti itu. Atau toh bisa jadi, masa kecil saya dulu juga seperti itu 😀

Advertisements

14 thoughts on “Anak pemalu

  1. Betul, mbak, didik anak sesuai fitrahnya.
    Ternyata ada nilai-nilai positifnya nafis bersikap malu-malu (baca: hati-hati) seperti itu. Minimal mengurangi kekuatiran orang tuanya.

  2. IMO, meski pemalu, ajari juga anak untuk berteriak atau bilang “Tidak mau!”
    karena anak pemalu biasanya klo dipaksa malah diam saja, cenderung takut untuk berteriak…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s