Anak pemalu

Tadi, dalam sebuah grup wa, ada teman yg share terkait kasus yang terindikasi bermodus rencana penculikan anak di sebuah mall (Semoga anak2 kita dilindungi dari kejahatan2 seperti itu ya, ibu2).  Membaca ini, mengingat anak saya, tumbuh kesyukuran atas apa yang sebelumnya cukup saya khawatirkan.

Iya, sebelumnya saya agak khawatir dengan perkembangan  anak saya terkait jiwa sosialisasinya. Sejauh ini yang saya perhatikan, nafis cenderung lebih pemalu dibandingkan rekan2 sebayanya. Oke, memang tidak semestinya saya membanding2kan, tapi tetap saja ada sedikit kekhawatiran.

Dia membutuhkan waktu cukup banyak untuk bisa akrab bersama orang baru, bahkan kakekneneknya. Saat didekati orang baru, teman saya misalnya, dia seringnya menempel saya erat2, atau bersembunyi di balik saya.

Tapi skrg, saya bersyukur anak saya punya kehati2an lebih terhadap orang baru. Minimal saat mengingat banyaknya kasus penculikan. Memang seharusnya, saya mendidiknya sesuai fitrahnya, bukan memaksanya sesuai keinginan saya. Apalagi usianya masih sangat dini untuk dinilai seperti ini seperti itu. Atau toh bisa jadi, masa kecil saya dulu juga seperti itu ūüėÄ

berita-berita

belakangan, saya makin eneg tiap kali buka facebook. sebenernya udah dari dulu sih, tapi ga bisa move on juga :D. Iya sih, namanya status, ya suka-suka yang bikin. tapi kalo tidak mengharapkan dibaca orang ya disetting aja privasinya. Atau tulis di buku diary kan aman, haghag.

hujat menghujat, sindir menyindir, uh. suatu waktu tetiba banjir status ngeshare apaa gitu. beberapa saat kemudian berombongan pula yang nyindir itu beritanya bener tidak. begitu seterusnya berlanjut dari satu berita ke berita lain. ada yang tidak bisa menahan diri dari ngeshare berita sensitif, ada yang tidak bisa menahan diri untuk membuktikan lawannya ‘sembarangan comot berita’.

mereka-mereka yang tidak bisa menahan diri ini sebenarnya punya niat baik, mereka peduli dengan sesuatu (seringnya agama) dan ingin menjaganya dari musuh-musuhnya, atau mereka ingin berbagi suatu hikmah kebaikan. keimanan mereka sensitif, hati mereka cepat tergugah. konon katanya, orang-orang yang tidak segera peduli dengan permasalahan umat, imannya dipertanyakan. tetapi sayangnya, mereka yang peka ini banyak tidak mengecek kebenaran berita tersebut.

pun saat berbagi berita berhikmah. apakah hikmah kebaikan bisa disampaikan melalui berita yang direka-reka? ini pernah terjadi ketika orang beramai-ramai membagi status tentang restauran di Jerman yang mendenda pelanggan yang tidak menghabiskan makanannya. berita ini berhikmah, tapi tidak benar.

dan mereka-mereka yang berbuat sebaliknya, yang segera mencounter isu berita, saya berdoa semoga niat mereka benar, niat mereka ingin meluruskan, niat mereka adalah ingin menjaga kebaikan dari cara-cara yang tidak benar, bukan karena ingin menjatuhkan lawannya, bukan karena ingin membuktikan pihak yang notabene ‘lawannya’ salah dan dirinya benar, bukan untuk ingin mengatakan ‘tuh kan’.

sudahlah, saya memang tidak mengerti.

#ditulis masih sambil buka facebook

Cerita tentang toilet training

Rekan2 blogger yg budiman, mohon maaf kalo sekiranya postingan saya melulu tentang anak. Semata2 krn ingin mendokumentasikan perkembangan anak, tidak ada niatan sama sekali untuk menunjukkan diri, atau niat biar dibaca orang, atau biar dianggap bagaimana2, dan sebagainya.

Terhitung sejak 10an hari lalu, saya mulai mengajari anak ke toilet untuk menunaikan hajatnya (toilet training – lepas popok/diaper). Di usianya yg 17,5 bulan. Waktu yg tepat saya kira, krn saya lagi liburan kuliah jadi bisa fokus melatih dan saya rasa nafis sudah siap (sudah bisa diajak komunikasi 2 arah dg cukup jelas).
Sedikit keteteran krn kebetulan juga ART mudik, jadi saya mengerjakan pekerjaan rumahan sambil fokus melatih nafis yg awal2 masih sering kecolongan pipis/poop di celana. Saya mencoba mengajaknya ke kamar mandi tiap 1,5-2 jam sekali, memintanya pipis. Tapi yg ada dia meraung2 nangis, dan begitu keluar dr kamar mandi, dia pipiss. Atau misal dia pipis lebih cepat dr jadwal atau saya yg terlambat membawanya ke kamar mandi, udah pipis baru kemudian bilang “pipis”. Sabaar.. sabaar… Ngepel lagi dan cucian lagi.

Dan hari ini, sudah masuk hari ke 11, alhamdulilllah mulai terlihat hasilnya. Dia sudah mengerti kalo diajak ke kamar mandi, sudah tau apa yg harus dia lakukan. Hihi, anak pinter..

Kalo untuk urusan poop, bissanya masih sempet diangkut ke kamar mandi dulu (udah hapal ekspresinya :D, atau kadang dia bilang ‘pup’), kecuali kalo encer sehingga saya tak sempat berbuat apa2. Hehe, selamat ya, naak.

belajar dari para penghafal AL-Qur’an

liburan seusai ujian tengah semester ini saya isi dengan membaca buku, sedikit masak-memasak, men-toilet training– nafis, dan nonton video. kali ini saya mau bercerita sedikit mengenai kegiatan yang terakhir saya sebutkan tadi.

beberapa waktu sebelumnya, saya mendapatkan (membeli) sebuah dvd dari seorang kawan, judulnya Perjalanan bersama Al-Qur’an. Video ini merupakan video dokumenter, perjalanan Syaikh Fahad Salim Al Kandary dan timnya mengelilingi banyak negara, menjumpai para penghafal Al-Qur’an di negara-negara tersebut.

Masya’ Allah, saya tidak bisa berkata apa-apa. betapa Al-Quran itu memang keajaiban Allah. sesuai janji-Nya, Dia menciptakannya untuk dijadikan mudah. tidak mustahil bagi siapapun untuk menjadikan keseluruhan Al-Qur’an itu bersemayam dalam dirinya, dalam kehidupannya.

yang sudah sering kita lihat, karena banyak di-broadcast adalah video Syaikh Kandary bersama Muadz, seorang penghafal Al-Qur’an yang kehilangan penglihatannya di usia 4 tahun. saya tidak bisa tidak menangis tiap kali melihat video ini. saya sering menjadikannya motivasi ketika kehilangan semangat dengan Al-Qur’an. bagaimana ini tidak terngiang-ngiang diingatan ketika dia mengatakan -yang kurang lebih begini,
“dalam doaku, aku tidak meminta Allah mengembalikan penglihatanku. aku ingin ini menjadi hujjahku ketika di hadapan-Nya nanti”.

lalu apa hujjahku di akhirat nanti ketika aku ditanyai tentang sudah kujadikan apa Al-Quran?

ada lagi cerita tentang seorang yang (maaf) autis, yang ketika dites 2 + 4 berapa saja tidak mampu menjawab, tetapi dia penghafal Al-Quran. masya’ Allah

ada yang gagu, kesulitan berbicara, tetapi masya’ Allah, jangan tanya hafalan dan keilmuan Al-Qur’annya, surat apa, ayat berapa dari berapa, halaman berapa, bahkan qiraah sab’ah juga dikuasainya.

ada juga yang dengan cepat mampu membacakan ayat yang diminta, misal QS Yusuf ayat 42, dll, kemudian ayat di surat apa ayat berapa yang mirip, dengan cepat sekali, masya’ Allah.

ada yang perlu bepergian ribuan kilometer untuk bisa menghafal Al-Qur’an ini. masya’ Allah. karena menghafal Al-Qur’an itu sebaiknya didampingi syaikh atau guru. karena belajar/menghafal sendiri akan berisiko kesalahan.

ada seorang anak yang bisa hafal 4 juz Al-Quran dari usia 4 s.d. 7 tahun, dan menyelesaikan kurangnya (26 juz) dalam waktu TIGA BULAN saja. masya’ ALlah.

dan masya’ Allah sebagian besar hafal AL-Qurannya dalam waktu yang singkat dan semenjak kecil. bahkan seorang penghafal, mulai menghafal dari usia 9 tahun dan selesai di usia 11 tahun, merasa bahwa usia itu sebenarnya terlalu tua untuk menghafal.

umurku berapa?

hal lain yang tidak bisa saya pungkiri adalah, para penghafal Al-Qur’an itu wajahnya selalu cerah, setiap perkataannya selalu membuat hati tertegun, tidak nampak sedikitpun kesombongan. mereka selalu mengembalikan segala bentuk kebesaran kepada Allah, ‘atas izin Allah saya dimudahkan‘, ‘atas kehendak-Nya saya bisa‘, dan seterusnya.

saya baru menyelesaikan menonton 13 episode dari total 30 episode. sepertinya temen-temen bisa mendapatkan videonya di youtube.

Allahu akbar. tidak ada yang tidak mungkin. Dia menciptakan Al-Quran untuk dijadikan mudah. mudah. tetapi bagaimana bisa mudah jika saya sendiri tidak berkesungguhan di dalamnya, dan seringnya hanya memberikan waktu-waktu yang tersisa, untuknya.

padahal peraturannya adalah :

JANGAN MENUNDA MEMULAI

HILANGKAN KONTAMINASI KEDUNIAAN

Ya Allah, padahal keseharian saya masih bergelimang dengan urusan keduniaan.

semoga Allah memberikan kesadaran dan kemudahan bagi kita untuk selalu berdekatan dengan Al-Quran.