cerita idul fitri

satu bulan dua bulan, berapa bulan tepatnya ya blog ini tidak kukunjungi. sabar ya, ujian udah kelar kok. *elap kringet.sudah banyak hal terjadi, semuanya seperti berebut untuk diceritakan. giliran sekarang udah ada kesempatan, bingung mulai dari mana.

Idul fitri kali ini kami memutuskan untuk mudik ke satu kampung saja, ke ponorogo. dan direncanakan mudik ke cilacapnya akhir bulan agustus ini, setelah saya selesai UAS. Dua hari menjelang kepulangan, setelah bude nafis (pengasuh) mudik terlebih dahulu, nafis panas. Panas tinggi diatas 39 derajat dan rewel. Dua kondisi yang suda memerlukan bantuan paracetamol. Kalau anak panas, memang semestinya orang tua tidak perlu grusagrusu ke dokter dulu. Namun karena lusa mau mudik perjalanan jauh, akhirnya ke dsa.

Diagnosis dari dokter adalah radang tenggorokan. Saya ingat obat yang diberikan dua jenis : Obat batuk sama antibiotik (karena paracetamol nya sudah punya sendiri). Nah saya termasuk emak2 yang suka galau memberikan antibiotik untuk anak. Banyak membaca tulisan bebas di internet bahwa tidak semua radang disebabkan bakteri, dan tidak perlu antibiotik. Antibiotik tidak pilih2 membunuh bakteri, baik jahat maupun baik. Dan lama2, bakteri akan kebal dengan antibiotik. Penggunaan antibiotik tidak pas takaran juga meningkatkan resistansi bakteri. Akhirnya yang saya berikan hanya paracetamol saja ketika panas tinggi dan rewel. Karena panasnya naik turun.

Hingga akhirnya waktu mudik tiba, nafis masih panas naik turun. Sepanjang perjalanan rewel, digendong terus, itupun kalo sudah tidak nyaman nangis. Perjalanan panjang yang cukup berat. Karena setelah tiba di stasiun Madiun pun harus menempuh perjalanan yang tidak pendek untuk sampai ke rumah mbah nafis.

Singkat cerita, beberapa hari di rumah mbah, nafis masih panas naik turun. Tanggal 2 Syawal kami memutuskan ke dokter. Sedikit sekali opsi nya, selain karena masih lebaran banyak yang tutup, juga karena informasi mengenai dsa disana, di Ponorogo sangat sedikit. Dsa yang recommended, yang pro ASI, yang pro RUM (rational use of medicine).

RS yang kami datangi adalah RS Bersalin Griya Waluya (dulu namanya Panti Wanita) di Jl. Sultan Agung. Ditensi asisten dokter, dan terjadi dialog demikian:
Asisten : sudah pernah periksa sebelumnya?
Saya : Sudah
Asisten : Obat sudah habis?
Saya : Belum. SUdah lama masih belum sebuh, takut dokter salah diagnosis, trus dosis kebesaran.
Asisten : Dosis kan sudah diukur.

Dokter datang,
Dokter : Jadi sebelumnya sudah periksa?
Saya : Sudah, dok. Diberi obat ini ini dan ini.
Dokter : Kalau mau diuap saja.
Saya : Diuap?
Dokter : Belum tau diuap? dikeluarin dahaknya.
Saya : (diam mikir)
Dokter : Ga harus sekarang, silakan dipikirkan diluar.
Suami : Sebentar, dok, kira2 berapa lama, dok, diuap itu?
Dokter : Minimal dua kali datang. SUdah ya, silakan tunggu di luar.
Kami : (Bengong dan keluar)
Keluarnya dari ruangan saya bingung, ini dokter apa2an, tidak menjelaskan apa2. Minimal yang seharusnya diberikan itu : penjelasan sakitnya, nasihat, terapi non obat, obat. Lhah.. Dan ambil obat di apotek, yang diberikan dokter sama, penurun panas (malah jenis ibuprofen), antibiotik sama obat batuk. Sbenarnya semenjak awal saya ingin nafis dites darah, jadi biar jelas sakitnya, ada bakteri atau tidak. Selama beberapa kali nafis sakit, selama itu juga dokter salah diagnosis, baru jelas setelah tes darah.

Sepulang dari sana, karena dilanda kebingungan, saya minta mampir juga ke bidan. Ah, yang diberikan lebih tidak disarankan, obat puyer. Duh!
Sesampainya di rumah, sesuai diskusi dengan suami, akhirnya diberikan antibiotik nya. Tapi panas masih juga naik turun. Besok siangnya, hari ketiga Syawal, saya memutuskan membawa ke IGD RSUD Ponorogo, berhubung baru IGD yang buka. Dan benar, disana dites darah, dan nafis terbukti sel darah putih nya terinfeksi bakteri. Ah, kalau boleh berandai2, seandainya dari awal antibiotiknya diberikan, ahh.

Waktu itu sudah Rabu sore, sementara Sabtu sudah harus balik ke Jakarta, dan jarak rumah-RSUD tidak dekat. Meskipun tritmen RS bisa kami lakukan di rumah, karena pertimbangan2 diatas akhirnya kami sepakat rawat inap.
Pelajaran : jangan mudah terbawa arus informasi di internet. ‘Pelit’ obat itu memang perlu, asal jelas sakitnya dan memang belum memerlukan obat. Dan Jangan sampai menahan antibiotik padahal sudah dibutuhkan. Agar jelas, periksa darah!

nafis

#nafis di RS, kurus sekali, nak..