Menyusui dengan keras kepala

masih belum mau, te” katanya menjawab pertanyaanku sambil mengusap titik di sudut matanya.

Sebut saja namanya mbak R. Mbak R adalah partner in laktasiku. Putranya dua bulan lebih tua dari Nafis. Kebiasaan emak-emak yang pumping bareng adalah saling mencurhatkan anaknya. Menginjak putranya berusia 7 bulan, dia mengalami masalah di kesehatan mata yang mengharuskannya minum obat yang membuat ASI nya tidak boleh diberikan ke anaknya. Setiap hari dia harus minum 12 butir obat. Sehari saja terlewat minum, daya tahan tubuhnya terganggu. Dan jumlah butir obat yang harus diminum  ini berkurang satu butir  tiap dua minggu. Jadi untuk bisa sampe 0 butir obat, memerlukan waktu kurang lebih tiga bulan. Artinya selama itu ASI nya tidak boleh diberikan ke anaknya.

Tapi bagaimanapun juga, dia ingin tetap berusaha memberikan yang terbaik untuk anaknya. Dia menjaga agar produksi ASI nya tidak berhenti. Caranya adalah tetap dipompa, meskipun akhirnya ASI hasil pompaannya dibuang. Aaaa, aku tidak tahu bagaimana si mbak menguatkan dirinya melewati hari-hari untuk terus pumping kemudian membuangnya, mencuci peralatannya, dan sampai di rumah menjumpai anaknya minum susu formula. Begitu dan begitu setiap hari. Hiks (Stok ASIP nya hanya cukup untuk beberapa hari saja).

Hari yang ditunggu-tunggu sekaligus ditakutkannya pun tiba. Waktunya relaktasi. Coba disodori nenen, tapi anaknya menolak, memalingkan mukanya. Yasudah dikasih hasil perahan saja. Besoknya anaknya panas dan muncul bintik-bintik merah. Lantas dibawa ke bidan deket rumahnya.

“Ibu kasih ASI ya?”

“iya..”

“sabar dulu kenapa sih, bu. Kan sudah saya bilang kasih jeda dulu setelah berhenti minum obatnya.”

Dhar.. rasa bersalah menghantam. Padahal dia sudah mencari-cari informasi dan bertanya ke beberapa ahli apakah jika selesai minum obatnya sudah bisa diberikan ASInya. Dan semua menjawab boleh. Tetapi sekarang begini, dan suaminya  pun bahkan ikut menyalahkannya. Ah, betapa hancur hatinya. Tak bisa dibendung, ia menangis di depan bu bidan.

Beberapa hari berlalu sejak dari bidan. Si Mbak tidak masuk kantor. Obat alergi yang diberikan bidan pun sepertinya tidak bekerja. Akhirnya anaknya dibawa ke rumah sakit. Setelah diperiksa, ternyata kata DSA nya itu bukan alergi, melainkan flu Singapur. Dhueng,  dia terkejut khawatir. Tapi kelegaannya setingkat lebih besar dari kekhawatirannya.

Hingga saat ini, dia masih berusaha relaktasi. Mencari-cari info tentang relaktasi, konsultasi dengan konselor ASI, beli ASI booster, mencoba menyodorkan nenen meskipun tetap ditolak, dan tetap pumping di kantor meskipun hasilnya pernah hanya 20-30 ml sehari. T.T salut. Dan saya hanya bisa mendengarkan cerita-ceritanya tanpa membantu apa-apa.

Advertisements

8 thoughts on “Menyusui dengan keras kepala

  1. hiks….

    kirain organ tubuh perempuan itu sudah diset oleh Allah untuk menghasilkan ASI yang murni, bebas dari za-zat lain yang dimakan oleh ibunya… sudah disesuaikan dengan kebutuhan sang bayi.

    tapi anehnya… setelah diberi ASI bukan alergi yah… tapi flu.

    tambah bingung.

    1. tentang pengaruh makanan ibu ke ASI bisa dilihat disini, pak.. http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/Gizi+dan+Kesehatan/fakta.tentang.rasa.asi/001/001/863/1/4

      obat yg diminum si mbak itu metilprednisolone, memang tidak dianjurkan untuk ibu menyusui. apalagi dosis yg diperlukannya udah tinggi 12 butir @ 4 mg. tp kalo obatnya ga diminum bahaya buat kesehatannya.

      nah, sakit anaknya bukan karena diberi ASI. tp flu singapur itu virus, bulan2 kemarin lagi banyak menyebar dimana2, pak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s