Menampakkan Nikmat

“dan terhadap nikmat Rabbmu, maka tampakkanlah” (Q.S. Adh-Dhuha:11)

Salah satu tanda kita berterimakasih kepada orang yang telah memberikan sesuatu untuk kita adalah dengan menunjukkan kepada orang lain “ini loo aku dikasih ini sama si anu” (dengan catatan kalo yg ngasih ga keberatan pemberiannya disebut2). Demikian juga salah satu cara bersyukur atas nikmat Allah yang diberikan kepada kita adalah dengan menampakkannya. Menampakkan nikmat ini dilakukan dengan lisan, misal dengan mengucapkan “alhamdulillah, saya baik, dan dilimpahi kebaikan yang banyak”

Atau dengan perbuatan. Kalo punya nikmat sehat, menampakkanlah muka berseri-seri, riang, ceria, bukan lemes ogah-ogahan bermalas-malasan. Kalo punya nikmat rizki cukup, berpakaian yang rapih pantas, makan makanan sehat bergizi. Kalo punya suami/istri yang tampan/cantik, apa yaa.. masa dikenal-kenalkan. Hehe

Ya tapi ya tapi, menampakkan nikmat itu beda lo dengan pamer atau menyebut-nyebutnya secara berlebihan dan terus menerus  yang bisa membuat orang lain iri dengki atau membuat orang yang melihat jadi sedih dan berkurang kesyukurannya .

Meskipun jika orang menjadi kufur nikmat itu adalah urusan pribadinya dengan Tuhannya, tapi kita gak mau kan jadi pemicunya?

Advertisements

Menyusui dengan keras kepala

masih belum mau, te” katanya menjawab pertanyaanku sambil mengusap titik di sudut matanya.

Sebut saja namanya mbak R. Mbak R adalah partner in laktasiku. Putranya dua bulan lebih tua dari Nafis. Kebiasaan emak-emak yang pumping bareng adalah saling mencurhatkan anaknya. Menginjak putranya berusia 7 bulan, dia mengalami masalah di kesehatan mata yang mengharuskannya minum obat yang membuat ASI nya tidak boleh diberikan ke anaknya. Setiap hari dia harus minum 12 butir obat. Sehari saja terlewat minum, daya tahan tubuhnya terganggu. Dan jumlah butir obat yang harus diminum  ini berkurang satu butir  tiap dua minggu. Jadi untuk bisa sampe 0 butir obat, memerlukan waktu kurang lebih tiga bulan. Artinya selama itu ASI nya tidak boleh diberikan ke anaknya.

Tapi bagaimanapun juga, dia ingin tetap berusaha memberikan yang terbaik untuk anaknya. Dia menjaga agar produksi ASI nya tidak berhenti. Caranya adalah tetap dipompa, meskipun akhirnya ASI hasil pompaannya dibuang. Aaaa, aku tidak tahu bagaimana si mbak menguatkan dirinya melewati hari-hari untuk terus pumping kemudian membuangnya, mencuci peralatannya, dan sampai di rumah menjumpai anaknya minum susu formula. Begitu dan begitu setiap hari. Hiks (Stok ASIP nya hanya cukup untuk beberapa hari saja).

Hari yang ditunggu-tunggu sekaligus ditakutkannya pun tiba. Waktunya relaktasi. Coba disodori nenen, tapi anaknya menolak, memalingkan mukanya. Yasudah dikasih hasil perahan saja. Besoknya anaknya panas dan muncul bintik-bintik merah. Lantas dibawa ke bidan deket rumahnya.

“Ibu kasih ASI ya?”

“iya..”

“sabar dulu kenapa sih, bu. Kan sudah saya bilang kasih jeda dulu setelah berhenti minum obatnya.”

Dhar.. rasa bersalah menghantam. Padahal dia sudah mencari-cari informasi dan bertanya ke beberapa ahli apakah jika selesai minum obatnya sudah bisa diberikan ASInya. Dan semua menjawab boleh. Tetapi sekarang begini, dan suaminya  pun bahkan ikut menyalahkannya. Ah, betapa hancur hatinya. Tak bisa dibendung, ia menangis di depan bu bidan.

Beberapa hari berlalu sejak dari bidan. Si Mbak tidak masuk kantor. Obat alergi yang diberikan bidan pun sepertinya tidak bekerja. Akhirnya anaknya dibawa ke rumah sakit. Setelah diperiksa, ternyata kata DSA nya itu bukan alergi, melainkan flu Singapur. Dhueng,  dia terkejut khawatir. Tapi kelegaannya setingkat lebih besar dari kekhawatirannya.

Hingga saat ini, dia masih berusaha relaktasi. Mencari-cari info tentang relaktasi, konsultasi dengan konselor ASI, beli ASI booster, mencoba menyodorkan nenen meskipun tetap ditolak, dan tetap pumping di kantor meskipun hasilnya pernah hanya 20-30 ml sehari. T.T salut. Dan saya hanya bisa mendengarkan cerita-ceritanya tanpa membantu apa-apa.