Reviu The Kite Runner

The Kite RunnerThe Kite Runner by Khaled Hosseini
My rating: 5 of 5 stars

Untukmu, keseribu kalinya. Kata-kata super ini selalu dibisikkan Hassan, si pengejar layang-layang berbibir sumbing, kepada Amir. Dari kalimat ini kita sudah bisa menyimpulkan garis besar isi novel ini yaitu tentang loyalitas. Dan dalam hal ini loyalitas kepada sahabat. Loyalitas Hassan si Hazara kepada Amir, sahabatnya, si Pashtun.

Dalam etnis di Afghanistan, kaum Hazara adalah kaum syiah yang minoritas ditengah dominasi kaum Pashtun yang sunni. Nasib mereka semakin buruk saat Taliban berkuasa. Dan sebagai Hazara, Hassan sering sekali mendapatkan pelecehan. “Kamu!Orang Hazara! Lihat kesini kalau aku mengajakmu berbicara!” prajurit itu berteriak. Dia menyerahkan rokoknya pada pria disebelahnya, lalu membuat lingkaran dengan jempol dan jari tengah salah satu tangannya. Dia menggerakkan jari tengahnya yang lain pada lingkaran itu. Keluar dan masuk. Keluar dan masuk. “Aku kenal ibumu, tahu itu? Aku kenal baik dengannya. Aku melakukan ini bersama ibumu di dekat sungai itu.

Diceritakan, Sanaubar, ibu Hassan adalah seorang perempuan buruk moral yang selalu mengolok-olok suaminya, Ali si Hazara, dan tak pernah sekalipun menutup-nutupi kejijikannya pada penampilan suaminya itu. “Lihat itu,” katanya. “Sekarang kamu punya anak idiotmu sendiri yang akan mewakilimu tersenyum!” dia menolak bahkan untuk menyentuh Hassan, dan hanya lima hari kemudian, dia meninggalkannya. Ah, hati siapa tak bergidik membayangkan Hassan yang malang.

Ali, ayah Hassan, adalah pembantu laki-laki Baba (ayah) Amir. Amir ini yang berperan sebagai narator. Amir merasa sama sekali tidak seperti Baba. Ia bangga tetapi juga takut kepada Baba. Dia malah merasa lebih dekat kepada sahabat Baba, Rahim Khan. Baba digambarkan sebagai seorang yang sangat berpengaruh dan dihormati di masyarakat. Seorang lelaki pemberani yang tegas. Dan kegemaran Amir akan syair dan membaca dianggap Baba bukan sifat seorang lelaki sejati. Bahkan Baba sempat mengatakan jika saja tidak melihat dengan mata kepala sendiri Amir yang keluar dari rahim istrinya, Baba tidak percaya Amir itu anaknya..

Ada persamaan hubungan antara Baba dengan Ali, dan Amir dengan Hassan. Mereka tumbuh bersama sebagai teman bermain tapi anehnya, baik Baba maupun Amir tidak merasa Ali dan Hassan adalah sahabatnya. Fakta yang membuat hati cukup ngilu adalah Amir suka mengolok-olok Hassan (meskipun kemudian menyesal dan memberikan baju usangnya untuk menebus penyesalannya), Amir hanya bermain dengan Hassan saat tak ada orang lain lagi untuk diajak bermain padahal Hassanlah yang selalu membelanya ketika diganggu teman-temannya yang jahat.

Setiap musim dingin, semua distrik di Kabul mengadakan turnamen adu layang-layang. Peristiwa yang terjadi saat turnamen inilah yang menjadi titik paling penting dalam hidup Amir. Adegan ini benar-benar membuat mata meremang. “Hassan!” panggilku, “kembalilah dengan layang-layang itu!” hassan telah membelok di tikungan, sepatu bot karetnya menendang salju. Dia berhenti, membalikkan badan. Kedua tangannya membentuk corong di sekitar mulutnya. “Untukmu, keseribu kalinya!” katanya.
….
Aku memiliki kesempatan terakhir untuk mengambil keputusan. Satu kesempatan terakhir yang memutuskan apa jadinya diriku. aku bisa melangkah memasuki ke gang itu, membela Hassan seperti yang selalu dilakukannya untukku dan menerima apapun yang mungkin terjadi padaku. Atau aku bisa melarikan diri. Akhirnya, aku melarikan diri.

Penyesalan akan sikap pengecutnya inilah yang terus menghantui kehidupan Amir. Pun setelah tinggal di Amerika -karena situasi Afghanistan yang sudah tidak aman-, penyesalan ini pulalah yang membawanya kembali ke negerinya untuk menebusnya dan mengungkap sebuah rahasia besar. Tentu saja sebelumnya kisahnya di Amerika telah diwarnai dengan beberapa hal terutama pernikahannya.

Kembalinya Amir ke Afghanistan berhasil menguak sebuah rahasia besar. Rahasia yang selama ini disembunyikan darinya dan dari Hassan. Bahwa sebenarnya Hassan adalah saudara seayah dengannya. Hal ini membuatnya semakin merasa bersalah ke Hassan. Lihatlah gaya penulis dalam mengimajinasikan reaksi Amir ketika mengetahui fakta tersebut. Aku merasa seperti sedang meluncur turun dari tebing yang tinggi, berusaha meraih semak-semak dan ranting-ranting perdu namun terus meluncur dengan tangan kosong. Ruangan itu berayun naik dan turun, ke kiri dan ke bawah.

Maka kemudian hal yang bisa dilakukan untuk menebus dosanya kepada Hassan adalah dengan mencari anak Hassan, Sohrab. Sampai disini cerita intinya saya kira sudah selesai. Selanjutnya adalah kisah bagaimana Amir menyelamatkan Sohrab dari kekejaman tentara Taliban sekaligus digambarkan bagaimana keadaan Afghanistan saat Taliban berkuasa.

Deskripsi yang digunakan begitu nyata dan hidup, pun diterjemahkan dengan sempurna hingga membacanya seolah merasa larut ke dalam cerita. Kita lihat dalam paragraf ini : Matahari hampir sepenuhnya tenggelam. Langit bermandikan warna lembayung dan merah. Aku menyusuri jalan sempit yang dipenuhi kesibukan, menjauhi bangunan tempta tinggal Rahim Khan. Segaris jalan yang berisik itu merupakan bagian dari labirin gang-gang sempit dimana pejalan kaki, pengemudi sepeda, dan becak berjejalan. Salah satu sudutnya dipenuhi dengan baliho-baliho yang mengiklankan Coca-cola dan rokok; poster-poster film Lollywood menampilkan aktris-aktris sensual yang sedang berdansa dengan pria-pria tampan berkulit cokelat di atas hamparan bunga marigold.

Hal yang membuat saya ingin terus membaca novel ini adalah karena gaya bahasa, pemilihan dan pemaduan kata-katanya yang sangat cerdas, segar, tidak membosankan, melebihi penasaran akan akhir ceritanya. Maka tidak tanggung-tanggung saya memberi 5 bintang untuk novel ini.

View all my reviews

(bacanya tahun 2011, baru direview, karena disertakan dalam lomba penulisan resensi Direktorat P2Humas :D)

Advertisements