Sulam Pita

Baru-baru ini, selain tertarik dengan hal masak memasak, saya juga tertarik dengan sulam pita. Cantik sekali kelihatannya. Maka kemudian saya coba browsing, sepertinya tidak sulit. Alat dan bahan yang diperlukan bisa saya dapatkan di Omura, toko asesoris jahit menjahit yang terletak di seberang gerbang PJMI dari Ceger, diantaranya berupa:

  1. Jarum. Gunakan jarum yang besar, khusus jarum pita, ujungnya sedikit tumpul.
  2. Pemidangan
  3. Pita organdi
  4. Pita satin
  5. Benang sulam
  6. Manik manic
  7. Gunting
  8. Pensil, jarum pentul (sebagai alat bantu saja)

Untuk melancarkan ‘pepengenan’ tersebut, saya pun membeli sebuah buku panduan sulam pita dari internet.

Memang tidak terlalu sulit, tapi membutuhkan kesabaran dan ketelatenan. Dan saya, agak mulai bosan padahal baru dua  benda yang saya jadikan percobaan, yaitu jilbab. Haha, pepengennya hanya hangat-hangat t*hi ayam. Padahal sebelumnya saya sudah membayangkan akan memodifikasi jilbab, baju, dan tas-tas menjadi cantik >,<.

Dan ini dia, terereng……….. Setidaknya minimal dua jam dihabiskan untuk menyelesaikan masing-masingnya.. Haha.

DSC_0566

DSC_0577

 

Nasi Megono

Belum lebih dari hitungan bulan saya mendengar namanya, nasi megono. Kira-kira dua pekanan yang lalu lah. Waktu itu saya sedang belanja sayur-mayur dan bumbu-bumbu untuk dimasak. Iya, untuk dimasak. Kenapa terlihat kaget? 😀 Saya sendiri agak heran. Sejak saya mulai sedikit gak doyan makan, saya hanya merasa tertarik dengan masakan sendiri. Meskipun saya tau itu tidak lebih enak daripada makanan di luaran.

Oke, kembali ke ‘nasi megono’. Waktu belanja di Ponsaf itu, memperhitungkan kecepatan memasak saya yang tidak cukup mengimbangi kecepatan laparnya perut suami  :p, mata kemudian menumbuk ke arah sebuah gerobak yang kemudian saya perhatikan, menjual nasi. Begitulah awal mula perkenalan saya dengan nasi megono. Dan hari-hari berikutnya, setidaknya dalam 3 hari sekali, saya beli sarapan disana.

Nasi megono ini cukup unik. Nasinya sendiri tidak dimasak dengan penanak magis, tapi diliwet. Liwet itu cara memasak nasi dengan, ehm semacam direbus dengan membiarkan airnya sampai kering, diaduk sebentar saja, dengan api kecil sampai nasi tanak. Kadang-kadang ditambahin garam, daun salam, sama serai. Tapi yang di Ponsaf ini sepertinya tidak ditambah apa-apa. Sepertinya habis diliwet, ditanak, seperti dikukus soalnya bulirbulirnya terlihat nyata. *sok teu dan tak jelas mendeskripsi

Sedangkan sayurnya, rata-rata berupa urap. Kadang urap nangka, kadang urap genjer, kadang oncom. Oiya, mengenai urap genjer ini, awalnya saya kira urap kangkung. Tapi saya perhatikan, diujungnya ada kuncup-kuncup hijau membulat. Jangan-jangan eceng gondok, tapi.. mungkin temannya, genjer. Penasaran kemudian saya googling gambar genjer, eh ternyata benar.. Genjer genjer, neng ledokan pating keleler… Genjer genjer… Saya jadi inget tembang entu.

Satu lagi yang tak kalah menarik, sambelnya.. Wuuuhhh… bagi Anda penikmat pedas, luarrr biasa pedasnya, tapi enak. Dan disini, untuk mendapatkan seporsi nasi megono (nasi + urap + sambel) plus dua potong gorengan, Anda cukup membayar Rp 4000 saja. Murah bukan? Selamat mencoba.

Ini ada gambarnya yang saya ambil pas udah mau habis dimakan :p

Nasi Megono