Ketentuan Allah dan Usaha Manusia

Dalam sebuah kesempatan blogwalking, saya sempat tertegun pada sebuah analogi yang ditulis zakiya disini.  Saya kutip beberapanya

Jika laki-laki adalah angka 3 dan wanita adalah angka 2,

kombinasi matematis keduanya bisa menjadi banyak hal

kita yang memilihnya

Menurut analogi teman saya ini, kombinasi terdahsyat terjadi jika 3 dipangkatkan 2, yang hasilnya 9. Sembilan ini perumpamaan jika terjadi lejitan potensi masing-masing. Dan ekstremnya jika 2 dikurangi 3, hasilnya negatif 1, artinya nilai hasil kombinasi lebih rendah daripada nilai masing-masing sebelumnya. Jodoh itu given. Kita tidak dimintai pertanggungjawaban atas ‘siapa jodoh kita’, tetapi kita akan ditanya tentang nilai hasil kombinasinya. Demikian kira-kira kesimpulan saya atas analogi teman saya.

Dalam kisah para nabi, kita diberi contoh tentang isteri-isteri yang baik dan yang buruk. Kita ingat nabi Luth, Allah menjadikan isterinya perumpamaan bagi orang-orang kafir. Jika ada keraguan dalam hati kita tentang hikmah atas setiap kehendak Allah (na’udzubillah), kita tentu tidak habis fikir bagaimana bisa manusia sekaliber Luth yang merupakan utusan Allah untuk mengajak ummat mentauhidkanNya, malah tidak bisa mengajak isterinya sendiri. Sebaliknya kita melihat manusia sekafir Firaun, memiliki isteri, Asiah yang oleh Allah dijadikan perumpamaan bagi orang-orang yang beriman. Asiah tidak mengikuti kekafiran Firaun.

Dalam rumah tangga, suami adalah pemimpin dan pembimbing bagi isteri dan anak-anaknya. Jika suami baik, keluarganya cenderung akan baik pula. Dan sebaliknya, jika suami buruk, keluarganya akan cenderung mengikutinya. Tapi tidak mutlak. Suami bukanlah satu-satunya jaminan keshalihahan dan kebaikan isterinya. Ia, si isteri sendirilah faktor utamanya. Maka bagi kita yang dianugerahi suami shalih yang membimbing kepada kebaikan, tentu itu adalah nikmat yang wajib disyukuri. Tapi jangan berpuas diri terlebih dahulu, suami yang shalih, giat berdakwah kemana-mana bukan jaminan istrinya akan shalihah. Pun jika suami berbuat hal yang tidak baik, tetaplah bersyukur karena suami adalah pemberian Allah – yang tentu bisa menjadi ujian.  Jangan khawatir, peribahasa ‘swargo manut, neraka katut‘ tidak benar-benar bisa dipercaya. Lihatlah dan contohlah Asiah yang berdoa “Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisiMU dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim” (Q.S.  At-Tahrim :11)

Wallahu a’lamu bish shawwab.

gambar diambil dari sini

Advertisements

5 thoughts on “Ketentuan Allah dan Usaha Manusia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s