Katakan : yang inipun akan berlalu

Pernah dalam suatu pekan, pekerjaan kantor saya banyak sekali. Karena memang menumpuk sejak pekan sebelumnya. Saat itu, berangkat ke kantor rasanya malas sekali, membayangkan bejibunnya kerjaan sementara kondisi badan tidak sangat fit. Waktu berjalan, dan ya… pekan melelahkan itu akhirnya terlewati.

Sepekan sebelum saya pulang, mudik, ke rumah orangtua, hari-harinya terasa begitu lama seolah saya tak sabar menunggu hari itu. Waktu berjalan, saya sudah pulang dan hari ini saya sudah kembali lagi disini.

Pekan selanjutnya adalah momen kawan saya melangsungkan akad nikah. Hari-hari menjelangnya adalah hari-hari menunggu datangnya saat itu (*lebay, siapa yang menikah siapa yang menunggu2 :0). Dan hari ini, momen itu juga sudah terlewati.

Pikiran saya kemudian menerawang..

Waktu saya masih duduk di bangku SD, saya suka memperhatikan anak-anak SMP dan membayangkan enaknya menjadi mereka, tidak dianggap anak kecil lagi. Waktu berjalan, dan tibalah saya memasuki jenjang sekolah menengah. Perasaan berkecamuk, campur aduk, deg-degan, bahagia, takut. Dan kemudian, semua itu berlalu…

Saat sudah memakai seragam biru, saya membayangkan seragam abu-abu itu keren.. dan hari-hari menunggu masuk sekolah menengah atas pun menjadi hari yang mendebarkan. Bukan cuma deg-degan, semrawut tak karuan perasaan. Dan kemudian, itupun terlewati….

Lama-lama, berseragam itu terasa membosankan. Saya memperhatikan para mahasiswa yang bebas, tapi masih rapi, pakaiannya. Sepertinya menyenangkan, bisik benak saya. Apalagi sebutan ‘mahasiswa’ itu terdengar keren sekali. Tapi tidak sesederhana itu. Pemilihan jurusan, universitas, biaya dan segala pernak-perniknya.. kekhawatiran akan kemampuan belajar dan bersosialisasi di perguruan tinggi membuat bayangan keren itu terpudarkan oleh ketakutan. Tapi lagi-lagi, semua itu terlalui.

Saat sudah menjadi mahasiswa, membayangkan orang yang sudah bekerja, ‘bisa pegang uang sendiri’ itu terlihat menyenangkan. Bayangan menyenangkan yang tentu saja diikuti was-was. Pun ketika tiba saat menghadapi masa untuk menikah, bayangan-bayangan kebahagiaan itu berduel dengan kekhawatiran. Tapi sekarang saya bisa mengatakan: saya sudah bekerja dan juga sudah menikah 😀

Haha, rasanya tidak selesai-selesai jika saya tulis satu per satu.

Ternyata waktu berjalan begitu cepat. Bahagia, sedih, berharap, cemas, takut, semua sudah menjadi bagian dari hidup manusia.. dan yakinlah, akan terlewati. Tidak ada yang kekal di dunia ini. Kebahagiaan, di dunia ini, akan ada waktu berakhirnya. Demikian pula kesedihan. Kesenangan, ujian, hadapi saja! semua akan berlalu.

Advertisements

Ketentuan Allah dan Usaha Manusia

Dalam sebuah kesempatan blogwalking, saya sempat tertegun pada sebuah analogi yang ditulis zakiya disini.  Saya kutip beberapanya

Jika laki-laki adalah angka 3 dan wanita adalah angka 2,

kombinasi matematis keduanya bisa menjadi banyak hal

kita yang memilihnya

Menurut analogi teman saya ini, kombinasi terdahsyat terjadi jika 3 dipangkatkan 2, yang hasilnya 9. Sembilan ini perumpamaan jika terjadi lejitan potensi masing-masing. Dan ekstremnya jika 2 dikurangi 3, hasilnya negatif 1, artinya nilai hasil kombinasi lebih rendah daripada nilai masing-masing sebelumnya. Jodoh itu given. Kita tidak dimintai pertanggungjawaban atas ‘siapa jodoh kita’, tetapi kita akan ditanya tentang nilai hasil kombinasinya. Demikian kira-kira kesimpulan saya atas analogi teman saya.
Continue reading “Ketentuan Allah dan Usaha Manusia”