Seringkali kita…

Saya tidak tahu harus memulainya dari mana…
Saya mendapat link komik muslimah ini dari seorang teman.

Rasanya badan ini bukan hanya disentil, tapi seperti dipukul, ditonjok, ditendang, hingga terjerembab dan terjatuh terjungkal-jungkal. Terserah mau bilang lebay, tapi sungguh, saya tidak sedang bergurau.

Saya cuplikkan beberapanya. Semua sumbernya dari sini
***

Kuliah aja ontime apalagi shalat. Kerja aja ontime, apalagi shalat… T.T Continue reading “Seringkali kita…”

Advertisements

Catatan Hati Seorang Istri (Buku)

“Jika pasangan hidupmu berbuat khilaf dan berbuat salah, maka rangkullah dan segera maafkan. Jadikan dirimu tempat belahan jiwamu selalu rindu pulang, karena tahu bahwa dia akan selalu diterima dengan hati lapang”

Saya benar-benar berhenti membaca ketika mata menumbuk pada kalimat ini. Speechless. Dont know what to say. Maka benar ketika Allah menjanjikan surga bagi keridhaan tak terbatas seorang istri memaafkan kesalahan suami, yang berbakti, yang mengabdi. Saya belum lagi menyelesaikan setengah dari keseluruhan halaman buku, Catatan Hati Seorang Istri- Asma Nadia- ini, kekaguman luar biasa pada sosok-sosok bernama istri seketika menjalar ke seluruh tubuh saya. Continue reading “Catatan Hati Seorang Istri (Buku)”

18 September Pagi

Engkau yg tinggal di Jakarta dan sekitarnya, pasti sudah tidak asing lagi dengan macet. Seperti sy yg tinggal di pinggiran ibukota, tiap pagi dan petang menyusuri jalanan ceger-gatot subroto. Dan seperti biasa pagi ini kami berangkat sekitar pukul 6.40. Jarak 15-17 km itu kami tempuh minimal dalam waktu 40 menit. Nahasnya, kami terjebak macet di rel Bintaro Permai. Setidaknya 15 menit kami berdiam disana. Akhirnya pasrahlah, bisa dipastikan kami telat. Continue reading “18 September Pagi”

Hei,

Hei,
Kenapa kau lancang sekali?
Kenapa kau begitu mudahnya memanasi bolanya, mengembuni lensanya, membutir keluar, menetes dan mengalir deras – tanpa seizinku?

(percakapan selintas angan, jakarta 12 september 2012)

sumber danbo dari sini

si perfectionist

Berurusan dengan orang perfectionist itu, cukup katakan ‘ya’, kalau tidak urusanmu akan panjang.

Aku ingat pernah menuliskan quick note seperti ini di multiply. Dan hari ini aku kembali merasakannya… merasakan seluruh aktivitasku, bagaimana aku mengerjakan pekerjaan-pekerjaanku, mana yang harus didahulukan, bagaimana caranya.. semuanya diatur. Apakah memang seorang perfectionist itu selalu merasa caranya lah yang paling benar?

Positif thinkingnya, ya mungkin benar, aku masih butuh bimbingan, arahan dan petunjuk dalam mengerjakan apa2. Tapi kan bukan dengan didikte 123 atau 321, tanpa bisa diinterupsi gini.

Akhirnya, ku kembali memilih senjataku untuk ber’iya’ saja, walaupun dalam hati aaa… sampai terfikir ide kertas2 ini mau kuemot saja…

Haha.. Jangan dipikirkan!

Memekai tanda Kebesaran-Nya

“Subhanallah” dia menggumam lirih, sepersekian detik setelah mendengar cerita kehidupan sesorang. Aku tak heran, aku sering ‘menangkapnya’ melakukan hal serupa, sertamerta bertasbih tiap kali mendengar atau membaca sesuatu, yang bahkan kadang menurutku sesuatu itu biasa-biasa saja.

Mungkin inilah yang disebut getar iman. Getar yang sangat sensitif menginderai setiap percik yang menunjukkan kebesaran-Nya. Senantiasa bertasbih memuji kebesaranNya tatkala banyak orang (termasuk saya) masih seringkali bergumam, “wajarlah seseorang itu hebat, karena memang latarbelakangnya bla bla..” atau “wajarlah dia bisa jadi hafizh, lha wong bla bla..”

Seringnya kita (saya) menggumamkan pewajaran (otomatis pemakluman atas ketidakmampuan kita) seperti itu. Bukankah sebenarnya itu adalah bentuk kecil dari kesombongan? Kesombongan untuk agak menahan diri dari memuji-Nya? Na’udzubillah. Semoga kita semua terhindar dari penghalang kebenaran ini.

pict taken from here