mengenal dan belajar

Belajar tanpa akhir. Aku ingat, kalimat ini dalam padanannya dalam bahasa Inggris, never ending learning, pernah kutemukan dalam tajuk (header) situs blog ifa, temenku.

Akan kuceritakan sekilas mengenai ‘sejarah’ karakter belajarku. Sebagai seorang yang (agak) suka membaca, maka pembelajaran autodidak menjadi hal yang lumayan mendominasi otakku. Meski begitu, aku tetap berprinsip untuk ‘belajar kepada guru, bukan cuma buku’. Dan tentu saja, teman, kau juga tahu, bahwa ‘guru’ yang kumaksud ini bukan ‘hanya’ guru yang mengajar di depan kelas, di tengah forum, atau di ruang2 diskusi. Semua orang yang kita jumpai dalam kehidupan ini bisa menjadi guru bagi kita. Temanku merangkum ini dalam kata-kata yang cantik ‘jika setiap tempat adalah sekolah, maka tiap orang adalah gurunya’.

Jurnal ini kutulis saat jam istirahat kantor, tanggal 27 Agustus 2012. Tiga bulan 9 hari 2 jam beberapa menit sekian detik setelah aku resmi berstatus sebagai seorang istri. Waktu yang, aku tidak menemukan kata yang tepat untuk menggambarkannya. Banyak sekali pembelajaran termampatkan dalam waktu singkat tersebut. Tapi aku juga mengakui, banyak juga hal menjadi tersisihkan karenanya. Kau tau maksudku? Ya, maksudku.. Aku merasa masih keteteran mengalokasikan waktuku untuk aktivitas2 membaca dan upgrading diri. Ah, alasan saja.

Oke. Kita fokus saja pada hal positifnya. Flashback sedikit tentang pernikahanku. Aku menikah dengan seorang yang sekarang menjadi suamiku, tidak lebih dari 4 bulan semenjak aku mendengar namanya, semenjak aku tau bahwa di dunia ini ada seseorang yang mempunyai nama itu. Itupun, sepuluh jariku masih tersisa jika kugunakan untuk menghitung jumlah pertemuan nyata kami (artinya bukan via hp, internet). Maka kau akan bisa menebak sesedikit apa kemengenalan antarkami. Bahkan teman kantorku tidak habis pikir dengan pola pikir dan keputusanku ini. Yaa, percaya lah bekalnya. Percaya padaNya yang tidak akan menyia-nyiakan niatan baik kami.

Sehubungan dengan hal tersebut (tsaaah, aku selalu menggunakan frase ini saat membuat surat dinas), otomatis banyak sekali hal yang sama2 baru saling kami ketahui antarkami. Aku banyak belajar darinya. Termasuk hal-hal yang nampak sepele, yang aku baru menyadarinya beberapa saat setelahnya bahwa aku mengikuti kebiasaannya. Meski tak bisa kupungkiri, aku engkau atau siapapun itu, pasti juga akan menemukan hal yang mungkin kurang berkenan dari pasangan.

Maka benar kata temanku (lagi) kalau masa pengenalan terhadap pasangan itu berlangsung seumur hidup. Tidak hanya di awal-awal saja. Karena kata Ust Cahyadi Takariawan dalam Wonderful Family, bahwa keluarga adalah organisme hidup yang akan terus tumbuh dan berkembang. Jangan pernah berhenti mengenal dan mempelajarinya.

Stefans -CEO of Multiply Indonesia- Letter

Hello. Stefan here, writing you from Multiply HQ in Jakarta, Indonesia.

As most of you are probably aware, Multiply’s mission has evolved over the past year and a half to become the biggest and most beloved ecommerce marketplace in two very exciting markets, Indonesia and the Philippines. As our focus has shifted, we have reviewed all of our operations, and made some decisions that will affect everyone here.

From December 1st, we will unfortunately no longer be able to support Multiply in its current form – notably we will be removing the social networking and content sharing part of Multiply (photos, videos, blogs, social messaging, etc.). We have decided to discontinue providing and hosting these services, as we have concluded that other Internet sites who are committed to social networking services will do a better job serving you than we can.
For our existing users of social networking features, we will be providing easy ways for you to either download your stuff (photos, blogs, content, etc), or migrate it to other online services. We’ll announce the precise details shortly. It will be your choice whether to download, migrate or just let your content lapse (and get deleted).
For our existing ecommerce users (both buyers and sellers) in Indonesia and the Philippines, there will be no action required.
Regarding any existing Multiply Premium subscriptions we will refund any unused balance, and apologize for any inconvenience this will cause. Please contact customer service to request a refund. Note that this is for Multiply Premium, not the ecommerce related Multiply Trust product.

I am aware of how disruptive this news may be, and understand the disappointment that it may cause. Ultimately this was a business decision, critical to our to success moving forward. Instead, we are excited to pursue our own mission to give the 350 million consumers in Indonesia and the Philippines a great way to buy and sell items online. Our singular focus now is for Multiply to retain its status as a vibrant e-commerce destination in Southeast Asia in the years ahead.

I suspect that many of you will not like this news, and am sorry to have to deliver it now. I hope that you will be able to understand the reasons for our decision and thank you for being a part of the Multiply community over the past eight years.

Stef