mengkapital : jalan tergesa dan apa peduli saya

Satu hal yang saya pelajari dari Jakarta adalah bergerak… ” dia menerawang jalanan

“…Kita akan melihat sepanjang jalan ada orang dengan langkah-langkah cepat mengejar waktu, karena seberharganya waktu sampai satuan detik.. ” lanjutnya, dan beralih menatap saya.

Saya mengingat gambaran perbincangan ketika itu. Dan benar, sekarang (dari kemarin-kemarin juga sih) saya mengamini perkataannya. Pagi-sore jalanan berjubel aktivitas bergerak ini. Jalanan dipenuhi kuda-kuda besi. Trotoar, sisi-sisi jalan, koridor, lorong pun disesaki orang berjalan.

Demikan juga ketika suatu sore, saya dengan langkah terburu, seperti juga yang lainnya, dalam hati memaki mbak2 yang berjalan pelan bergandengan tangan dengan seorang lelaki, di sebuah jalan kecil. Terang saja, langkah saya dan orang-orang yang berada dibelakangnya, jadi benar2 terhambat. Padahal niatnya kan buru-buru biar cepat tiba di kos.

Meski ingin menggerutu, saya paksakan diri bersabar mengikuti langkah-langkah pelan dua orang itu. Hingga tiba di penghujungnya, hati saya yang hampir bersorak tertahan melihat si mbak membungkuk dan menyerahkan selembar uang (seribuan atau duaribuan, tidak terlalu jelas) kepada nenek-nenek yang biasa disana. Aaa, malu…

Memang, memberi itu pilihan. Tidak memberi itu juga pilihan. Pilihan kedua pun bisa dilakukan dengan niatan baik, tidak ingin membiasakan mereka ‘meminta’. Tapi, sepertinya belakangan, alasan saya melakukan pilihan yang kedua bukan karena itu, tetapi karena kepedulian yang semakin menipis.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s