Tentang rasa bersalah, edisi kehilangan.

“nduk, ojo ko’pikir abot2. ikhlasno. Kuwi artine durung rejeki. Gusti Allah paring maneh insyaallah”. Singkat. Pesan pembicaraan itu begitu singkat. Tapi mampu membuatku menangis tergugu dan tidak mampu berkata apa2 setelah sebelumnya aku hanya mematung dan tak meneteskan setitikpun airmata. Ah, selalu saja. Apapun jika berkaitan dengan orangtua, selalu dengan mudah menyentuh hati terdalam. Sedu. Tergugu. Bukan karena sedih. Tapi haru. Tentu saja.

Bagaimana tidak, orang yg sangat kau takuti untuk kau beritau tentang kecerobohanmu, justru mengkhawatirkanmu dan dengan mudahnya mengatakan ‘tidak apa2’. Padahal di hari yang sama, ketika aku melaporkan bahwa motor sudah di tangan, yaitu sekitar 10 jam sebelum raib, mereka mewanti2 untuk hati2, memintaku segera membelikan gembok, dan memastikan kosku aman2 saja. Dan itu belum kulakukan. Ah, adakah perasaan yg lebih membunuh daripada rasa bersalah??

Sudahlah, te.. Yang mestinya kau lakukan adalah menatap masa depan, dan segera menyelesaikan urusanmu dengan pak polisi dan juga lembaga finance. Meski urusan itu melelahkan. Lain kali akan kuceritakan tentang kisahku yang ini. Insyaallah.

Oh iya, tentang judulnya ‘kehilangan’, sepertinya kata ini tidak baik jika kugunakan. Karena kata mas sabrang, rasa kehilangan hanya akan ada jika kau pernah merasa memilikinya. Biar rasa kehilangannya tidak berlebihan, jangan merasa kau memiliki sesuatu. Anggap saja itu milik-Nya yang dipinjamkan untukmu.. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s