catatan penghujung 2011

Setahun ini, kualitasku rasanya memburuk dari tahun sebelumnya. Kualitas, pun kuantitas amal dan ilmu. Semangat beribadah tak sebagus dulu. Aaa, tidak bijak jika aku mengambinghitamkan pekerjaanku, mengatakan bahwa pekerjaanku menyita waktu dan energiku, cuih!. Aku semestinya berkaca pada orang-orang hebat diluar sana. Dengan agenda yang superpadat… Toh tak mengurangi kualitas waktu mereka. Menyedikitkan waktu tidur mereka lakukan… Sementara aku? Sehabis pulang kantor, dengan alasan capek, aku memaafkan diriku mentolerir mengurangi ibadah ini-itu. Astaghfirullah…
Perencanaan hidup pun kacau. Detik-menit-jam berlalu begitu saja tanpa perhitungan. Uang pun terbelanjakan begitu saja tanpa manajemen…
Aaaaa…
Harus berubah!
Ya Allah, mudahkan aku untuk semakin mendekat kepada-Mu… Teguhkan hatiku di jalan-Mu…..
2012, aku menantangmuuuuu

Advertisements

balada newbie

Aku tak menyebut diriku seorang yang sudah dewasa. Aku tahu, aku masih kekanak-kanakan. Mulai dari sikap perilaku (attitude), sampai ke penyikapan sesuatu. Tapi setidaknya, aku mau mengakui kalau aku punya kesalahan, aku mau belajar, aku bersedia meminta maaf..
Dan bukankah wajar jika seorang yang baru dalam pekerjaannya akan melakukan sesekali duakali kesalahan? Hei, kenapa aku diperlakukan seperti ini karena kesalahanku? Apakah kesalahanku tak termaafkan? Kenapa urusan pekerjaan dibawa ke hati? Kenapa kesalahan dalam urusan pekerjaan menyebabkan hubungan personal menjadi rusak seperti ini?
Ayolaah…
Apakah karena satu kesalahan, orang kemudian dianggap akan terus salah di pekerjaan selanjutnya, dipandang sebelah mata, dan dianggap tidak pecus bekerja?
Aaa… ini bukan urusan besar…
Ayolaah… Aku ingin hubungan ini kembali menghangat..
null

ibuku, tak seperti itu

Hari ini membanjir postingan tentang ibu, mama, mom, mother, emak, mamak, sampai biyung. Karena hari ini, 22 Desember didaulat sebagai hari Ibu. Entah dulu siapa yang punya ide mengambil tanggal ini.
Ada salah satu status facebook yang membuat hati gerimis… begini tulisannya:
……………………..
Ibuk pernah bertanya sama saya
“Nduk, nek dibandingin ibu2nya temenmu, ibuk ki piye? Galak ra? Pelit ra?”
“mendingan ibuk no..”
“hoiya, kamu punyane ibuk ya Cuma aku ding ya, gak pernah ngerasain jadi anak ibuk e temenmu”
Dan saya pun ngakak
Dan saya pun bilang “ mendingan ibuk ke mana2 lah. Ibuk sms bejibun kalau maghrib aku belum nyampe rumah. Ibuk inget kapan aku ujian. Ngecek aku belajar po ga. Ibuk nelpon aku tiap hari pas ngekos, walau Cuma buat rumpi. Ibuk marahin aku pas aku salah”
YOU ARE THE BEST, MOM
……………………..
Spontan, aku ingat ibuku. Ibuku jarang ngobrol santai dan becanda seperti ini denganku. Ibuku sedikit sekali bicara. Lebih banyak diam. Mungkin karena terlalu banyak menanggung beban hidup.

Ibuku tidak pernah meng-sms ku karena setauku, ibuku belum tau cara meng-sms, hanya tau cara mengangkat kalo ada telpon.

Ibuku tidak tahu kapan aku ujian karena tidak terlalu paham dan peduli dengan sistem perkuliahan dan tetek bengeknya. Memastikan tahun ini aku kuliah, tahun depan aku bekerja, itu cukup. Biasanya aku yang menyampaikan kalo aku mau ujian. Dan beliau akan mendo’a “mugo2 lancar”. Itu saja.

Ibuku jarang sekali menelpon. Kalau bukan bapak, ya aku yang menelpon… karena beliau selalu kehabisan kata2. Bingung apa yang hendak diperbincangkan. Karena sekali lagi, beliau tidak banyak bercakap.

Ibuku jarang marah. Kalaupun sesekali marah, beliau lebih memilih diam.

Begitulah ibuku. Tidak muluk-muluk. Perempuan desa yang sederhana. Namun, bagaimanapun keadaan ibuku, aku mencintainya…

mengkapital : jalan tergesa dan apa peduli saya

Satu hal yang saya pelajari dari Jakarta adalah bergerak… ” dia menerawang jalanan

“…Kita akan melihat sepanjang jalan ada orang dengan langkah-langkah cepat mengejar waktu, karena seberharganya waktu sampai satuan detik.. ” lanjutnya, dan beralih menatap saya.

Saya mengingat gambaran perbincangan ketika itu. Dan benar, sekarang (dari kemarin-kemarin juga sih) saya mengamini perkataannya. Pagi-sore jalanan berjubel aktivitas bergerak ini. Jalanan dipenuhi kuda-kuda besi. Trotoar, sisi-sisi jalan, koridor, lorong pun disesaki orang berjalan.

Demikan juga ketika suatu sore, saya dengan langkah terburu, seperti juga yang lainnya, dalam hati memaki mbak2 yang berjalan pelan bergandengan tangan dengan seorang lelaki, di sebuah jalan kecil. Terang saja, langkah saya dan orang-orang yang berada dibelakangnya, jadi benar2 terhambat. Padahal niatnya kan buru-buru biar cepat tiba di kos.

Meski ingin menggerutu, saya paksakan diri bersabar mengikuti langkah-langkah pelan dua orang itu. Hingga tiba di penghujungnya, hati saya yang hampir bersorak tertahan melihat si mbak membungkuk dan menyerahkan selembar uang (seribuan atau duaribuan, tidak terlalu jelas) kepada nenek-nenek yang biasa disana. Aaa, malu…

Memang, memberi itu pilihan. Tidak memberi itu juga pilihan. Pilihan kedua pun bisa dilakukan dengan niatan baik, tidak ingin membiasakan mereka ‘meminta’. Tapi, sepertinya belakangan, alasan saya melakukan pilihan yang kedua bukan karena itu, tetapi karena kepedulian yang semakin menipis.

personality +

dalam penilaian seorang sanguin, orang melankolis itu gak asyik. ‘Ah, loe aja yang lebay’ balas si melankolis mengomentari si sanguin…

Ilustrasi di atas digambarkan oleh seorang motivator dalam sebuah acara, sebutlah, training motivasi. Beliau mengupas tentang empat tipe kepribadian yang selama ini banyak dibahas para ahli psikologi, personality plus.

Yaaa, dalam perjalanan pertemanan dua orang yang berbeda kepribadian, niscaya akan ada ketidakcocokan atau ketersinggungan yang bisa menyebabkan kerapuhan dalam hubungan. Jangankan yang banyak-perbedaan, yang punya banyak-kesamaan aja tidak akan terlepas dari konflik. Namun membenarkan kerapuhan dengan sertamerta mengambinghitamkan perbedaan kepribadian sepertinya bukan pilihan sikap yang bijak. Yang perlu diperiksa adalah kondisi iman. Imannya lah yang mungkin rombeng, demikian kata ustadz Salim.

“wajar kami gak cocok, beda kepribadian sih”

Ceracau#1

Beberapa hari terakhir, saya sudah menulis beberapa ‘ceracauan’ yang akhirnya harus rela saya jadikan draft penghias journal saja. Tiap kali hendak saya klik ‘click here to publish it’, selalu saya urungkan kembali. Entahlah, di satu sisi, saya ingin menjadi orang yg merdeka. Ingin posting ya posting saja. Selesai. Tapi ketakutan saya menghalanginya. Takut tentang adanya ‘kepentingan-kepentingan’ pribadi di balik postingan. Bisa saja, kan.. Saya menulis begini begitu yang jika orang membacanya akan mendapatkan kesan bahwa saya (penulisnya) seperti ini demikian itu. Padahal kenyataannya tidak. Aktivitas harian ‘menunggu-mati saya’ hanya terisi berangkat kerja- kerja – pulang kerja- tidur. Begitu berulang2 tiap harinya. Lantas, kebohongan tentang kebaikan seperti apa yg hendak saya publikasikan..

catatan 9 desember

“Gimana urusan surat-surat di Polsek? Udah beres?” suara sepupuku terdengar di seberang sana.
“Belum..”
“Kata masmu diperumit ya..?”
“mmm.. sedikit…”
“Dia bilang ke aku kalo bisa bantu-bantu. Kalo ada masalah, bilang aja ya…”
Aissh..
“ok. Insyaallah bisa kuselesaikan” jawabku.

Entahlah, pikiranku terlalu sensitif menerjemahkan istilah ‘bantu-bantu’ disini. Bisa jadi maksudnya membantu menyelesaikan secara normal sesuai prosedur. Tapi otakku terlalu lebay mungkin mengingat dia bekerja di Polri, eh bukan, di rumah sakitnya, Rumah Sakit Polri.


sumber gambar disini

selamat hari anti korupsi

Tentang rasa bersalah, edisi kehilangan.

“nduk, ojo ko’pikir abot2. ikhlasno. Kuwi artine durung rejeki. Gusti Allah paring maneh insyaallah”. Singkat. Pesan pembicaraan itu begitu singkat. Tapi mampu membuatku menangis tergugu dan tidak mampu berkata apa2 setelah sebelumnya aku hanya mematung dan tak meneteskan setitikpun airmata. Ah, selalu saja. Apapun jika berkaitan dengan orangtua, selalu dengan mudah menyentuh hati terdalam. Sedu. Tergugu. Bukan karena sedih. Tapi haru. Tentu saja.

Bagaimana tidak, orang yg sangat kau takuti untuk kau beritau tentang kecerobohanmu, justru mengkhawatirkanmu dan dengan mudahnya mengatakan ‘tidak apa2’. Padahal di hari yang sama, ketika aku melaporkan bahwa motor sudah di tangan, yaitu sekitar 10 jam sebelum raib, mereka mewanti2 untuk hati2, memintaku segera membelikan gembok, dan memastikan kosku aman2 saja. Dan itu belum kulakukan. Ah, adakah perasaan yg lebih membunuh daripada rasa bersalah??

Sudahlah, te.. Yang mestinya kau lakukan adalah menatap masa depan, dan segera menyelesaikan urusanmu dengan pak polisi dan juga lembaga finance. Meski urusan itu melelahkan. Lain kali akan kuceritakan tentang kisahku yang ini. Insyaallah.

Oh iya, tentang judulnya ‘kehilangan’, sepertinya kata ini tidak baik jika kugunakan. Karena kata mas sabrang, rasa kehilangan hanya akan ada jika kau pernah merasa memilikinya. Biar rasa kehilangannya tidak berlebihan, jangan merasa kau memiliki sesuatu. Anggap saja itu milik-Nya yang dipinjamkan untukmu.. 🙂