Lupa : antara percaya diri dan ego tinggi

Aku merasa akhir2 ini aku menjadi sedemikian pelupa. Beberapa puluh menit lalu, dalam perjalanan menuju kemanggisan, aku sengaja mampir ke borobudur plaza untuk ‘numpang’ ashar di sana. Karena belum masuk waktu shalat, dan karena demikianlah sifat wanita, maka kumulai prosesi dengan belanja dulu :D. Tibalah waktu shalat, aku sangat percaya diri naik ke lantai atas dan yakin akan menemukan sesuatu yg akan menuntunku ke mushala. Karena ini bukan pertama kalinya aku shalat di sana. Tengok2, toleh2, tak ada tanda2 kukenali. Yg ada hanyalah pertanyaan ‘cari apa, kak?’ atau ‘mampir dulu, kak..’ dari para pedagang di counter2 handphone itu. Dan aku masih sedemikian pedenya mampu menemukan mushala tanpa bertanya atau menjawab pertanyaan mereka. Karena jawaban ‘mencari mushala’ sepertinya bukan jawaban yg mereka harapkan. Maka akhirnya aku terus berjalan sambil sesekali melempar senyum atau diam atas pertanyaan mereka, atau aku pura2 sibuk dengan ponselku, dan kadang berlagak seolah tengah mencari seseorang.

Tetap tidak menemukan mushala, dan menjadi pusat perhatian serta pertanyaan para pedagang di gerai2 hp bukan hal yg menyenangkan. Maka aku memutuskan menyingkir darisana dan memilih menunaikan shalat di masjid tidak jauh dari plaza itu.

Kejadian seperti ini juga kualami beberapa hari yg lalu. Ketika acara final seagames membuat rute perjalanan pulang kerjaku -yg melewati senayan- mau tidak mau sempurna menjadi sasaran macet. Demi mengejar waktu maghrib yg hampir habis, aku mampir dulu ke sebuah swalayan, untuk numpang shalat. Dan kejadiannya sama, aku demikian pedenya merasa pernah shalat di sana dan yakin akan menemukan mushala tanpa bertanya. Tapi endingnya sedikit beda, aku putus asa, menurunkan egoku, dan bertanya. Setelah mencapai mushala, aku menyimpulkan bahwa aku belum pernah shalat di sana sebelumnya.

(makanya jangan suka makan brutu, te! Eh?)

satu muharram empatbelas tigatiga

Hari ini, sabtu 26 November 2011, bertepatan dengan penghujung 1432 H. Jika saya masih hidup sampai esok hari, berarti, besok adalah 1 Muharram ke-24 dalam hidup saya, artinya sudah 23 tahun saya hidup di dunia ini, dalam hitungan kalender Qamariyah. Iya, kan. Satu Muharram pertama, saya berusia 0 hari. Bedanya jauh juga ya dengan perhitungan Syamsiyah yang menjatuhkan angka 22 tahun di Agustus kemarin. Selisih sekitar 8 bulan. Apalah entah itu, artinya Lo udah menuju tua, Te!

Yang mau mengucapkan selamat, yang mau mendoakan, silakan. Apalagi kalau mau kasih kado, dengan senang hati saya terima 😀

#ga penting banget sih

111111, yang ke-1

” i praise Allah for sending me you my love.. “

Lagu maher zein mengalun lirih dr musik yg disetel di sebelahku. Aku masih sibuk dg hp ku -tepatnya sengaja menyibukkan diri-, demi mengalihkan konsentrasiku dari selang yg mengalirkan darahku ke kantong itu. Hingga berganti lagu, sampai lagu kedua berakhir, mbak2 bermasker itu belum juga melepas selang dr lenganku. Orang2 di sebelahku, yg mulai setelahku, satu persatu bangkit, selesai. Aih, aku kemudian menatap mbak itu lagi mengisyaratkan pertanyaan ‘mbak, kok aku lama? Jangan2 darahku abis makanya gak ngalir lagi?’. Tapi si mbak nyantai saja tak menangkap kekhawatiranku. :/

Ya sudah, aku kembali menerawang. Ah, bahagianya.. Ini pengalaman pertamaku donor darah setelah 4 atau 5 kali ditolak. Katanya Hb ku rendah. Dan kali ini, aku sukses lolos meski tersaruk2 dibatas terbawah Hb yg diizinkan, Hb ‘belas… kasihan’ 😀

“eh, Te.. Lama banget. Berapa liter? Gara2 terlalu berat, kali.. badannya” temenku usil.

“eh, enak aja. Gw cuma lebih 2 kilo dari berat minimal tauk”

“berarti terlalu berat dosanya kali, mbak” bapak2 petugas di sebelah ikut menimpali.

“eh, mungkin, pak” jawabku, lantas diam menikmati alunan musik, sambil menunggu si jarum dan selang menyelesaikan tugasnya.

Pusdiklat Pajak, 11-11-11
*saat tidak ada ide untuk ditulis