Hitung dan timbang; tentang perempuan

Sepertinya, sesekali, saya harus belajar untuk tidak mempertanyakan efektivitas. Mengacuhkan kerisauan akan minimnya hasil dibandingkan pengorbanan yg dirasa lebih. Dan menonaktifkan kalkulasi otomatis tentang kesebandingan untung rugi sesuatu hal dilakukan. Karena terlalu banyak pertimbangan tidak jarang hanya membuat hal yg semestinya bisa dilakukan, jadi batal dilakukan.

Ah, dasar perempuan, terlalu banyak mikir, menimbang dan menghitung. Mungkin, Sesekali perlu berprinsip ‘ya udahlah, jalan..’. Hmm, pantesan pemimpin itu dilekatkan kepada sosok lelaki. Karena memang mereka lebih cepat membuat keputusan. Karena bukankah, keputusan2 besar biasanya diambil dalam waktu singkat..
Mmm.. *mikir (lhah..!)

bintaro, 28 oktober 2011

Advertisements

Pi el ei wai bi ow wai

dia nanya mbak, kok malam minggu ga pergi sama pacar..

Oh itu terjemahan dari kata2 seorang anak perempuan kecil yg tiba2 memberondongku ketika aku baru mau pesan makan di warung tenda itu. Sepertinya dia mengatakannya dalam bahasa sunda.

Aku masih bengong. Ngucek2 mata memastikan aku sudah turun dari kopaja P 16 ciledug-kemanggisan. Sepanjang perjalanan aku tidur. Jangan2 ini mimpi.

mbak.. !” dia mengagetkanku. Oh, bukan mimpi.

lha ini baru pulang” jawabku sekenanya. Maksudnya baru pulang dr maen sama temen2.

eh, mbak namanya siapa.. Bla bla bla.. Ibunya sudah meninggal ya bla bla.. Mbak yg jualan pulsa bla bla.. ” (muka gw emang mirip counter apa)

Heran. Ini anak kecil hiperaktif banget.

kalian udah sekolah belum? Kok nanya2 pacar..?” tanyaku membalas.

dia nih, mbak. Stres baru ditinggal pacarnya

Eh? Aku nyengir.

udah dong, mbak. Aku kelas 4, dia ini kelas 3

kalo udah sekolah coba baca itu” aku menunjuk tulisan berejaan bahasa orang barat di kaos salah satu dr mereka.

to… emm.. semit….you..emm..“.
Dari caranya membaca, saya menebak paling banter mereka kelas 1 SD.

Dan tiba-tiba,
mbak itu sebenarnya kurus. Tapi lebar ke samping. Bajunya sih kegedean“.

Aku nyengir lagi. Kehabisan ekspresi.

eh, mbak. Coba tangannya diginiin” mereka menunjukkan punggung tangannya. Awalnya aku ragu melakukannya, tapi ya sudahlah, kulakukan.

tuh kan, putih aku.. Haha ” mereka tertawa.

Aku buru2 narik tanganku sambil nyengir kuda (lagi). Dasar, gw dikerjain bocah2 kecil.

pi el ei wai.. Bi ou wai bi ow wai” tiba2 mereka kompak nyanyi sambil niruin gerakan2 ababil.

Ya, ampun..
eh, coba2.. Pi el ei wai bi ow wai nulisnya gmana? Katanya udah kelas empat” tantangku.

p..

trus?

l..

trus?

e..

salah..! ” aku tertawa penuh kemenangan.

Mereka ribut. Dan aku masih bertahan dg tawaku. Tawa yang aneh.

Kemanggisan, 22 Oktober 2011

Catatan diklat

“Memakaikan terompah di kaki itu lebih mudah dan realistis daripada menggelar karpet di seluruh permukaan bumi”

Masih dengan gaya coolnya, dia mengucapkan kalimat yg membuatku mlongo ga ngerti itu..

“Maksudnya maksudnya?” Saya tidak mengerti.

“tujuan kamu pake sandal apa?”

“biar kaki gak kotor”

“nah, itu. Bukankah pake sandal itu lebih mudah dan memungkinkan daripada menggelari seluruh permukaan bumi, jika tujuannya sama, biar kaki ga kotor?”

Saya meng-owh-kan pertanyaannya yg memang tidak membutuhkan jawaban.

“Jadi, intinya.. Ketika kita tidak nyaman atau tidak sreg atau tidak suka dengan orang lain atau sesuatu di luar kita.. Mungkin bisa jadi, mindset kita sendiri yg perlu diubah.. Jadi bukan memaksakan orang atau sesuatu diluar kita agar sesuai dengan kehendak kita”

Saya manggut-manggut.

Kamis, 20 oktober 2011

Aku lupa

“… Allah tidak suka orang sombong dan membangga2kan diri” (4:36)

Deg!
Terasa seperti aliran darah membentur sesuatu. Tersendat beberapa saat. Seketika hal2 yg ku alami belakangan ini berkelebatan satu per satu.

Tentang mendengar. Bahwa telinga itu berbilang lebih daripada mulut. Beberapa hari ini aku melupakan teori ini.

Tentang kesombongan. Bahwa ia menghalangi hati dari kebenaran. Bukan, bukan sombong atas kebaikan, tapi juga keburukan. Kenapa bangga dengan hal yg tak baik? Aku lupa belum menjawab pertanyaan ini.

Dan tentang ‘aku’. Aku kadang ‘benci’ mendengar kata ini disebut banyak2. Tapi aku lupa, saat itu, aku juga sedang mengucapnya..

ashabiyah dan free rider

Mencintai diri sendiri, kelompok, dan membanggakan segala sesuatu yg ada kaitannya dengan diri sendiri sepertinya sudah memang tabiat dasar manusia. Sebut saja ketika kau melihat foto banyak orang dimana kau menjadi salah satu diantaranya. Siapa yg akan pertama kali kau lihat? Dirimu sendiri, bukan. Dan sertamerta kau akan mengatakan foto itu bagus ketika tangkapan bayanganmu disana terlihat menarik.

Begitu cintanya kita pada diri sendiri, termasuk segala sesuatu yg menyangkut diri. Katakanlah, kelompok. Dan kadang kau tiba2 akan merasakan kecintaan berlebihan kepada kelompokmu itu tatkala dihadapkan dengan kelompok lain. Tiba2 kau merasa harga diri kelompok menjadi sesuatu banget yg perlu kau taruh di atas kepala. Bolehlah kita mencontohkan diri kita sendiri sebagai orang indonesia yg begitu sensitif jika berhubungan dg negara tetangga. Kau akan cepat sekali merasa seolah harga dirimu diinjak2 ketika mereka menyentil sedikit saja tentang negaramu. Atau pendukung klub persebaya ‘bonek’ yg begitu loyal melakukan apa saja untuk kelompoknya terlebih ketika ada orang lain yg mengusiknya sedikit saja.

Ah, hari ini saya kembali terjebak dalam suasana itu. Aroma kotak2 yg begitu tercium dalam sebuah kelas gabungan. Persaingan dingin, dimana dalam beberapa hal memang kelas saya lebih banyak mencuri perhatian dosen.

“kelas * anaknya baik2 ya, gak kayak kelas kita yg gila2. Haha” kawan saya mengucapkannya disela2 makan siang kami yg tentu makna bawaan yg sebenarnya ingin ia ungkapkan adalah betapa bangganya ia akan kelasnya. Dan kawan2 saya menimpali dg kalimat2 yg semakna. Jyah, saya nyengir aneh.

Ah, ketika kau berada pada sebuah komunitas yang, katakanlah keren., bukankah belum tentu kau juga keren. Lantas, kenapa kau begitu bangga berada disana? Bisa jadi kau hanya penumpang gelap di gerbongnya.. Ya.. free rider..

#catatan kacau 6 okt 2011