cerita kawan

“Soalnya beliau memintaku pake tas ini aja. Gak boleh lagi pake ransel” katanya yang lantas diiringi cie-cie kami.

“Trus trus??” seorang kawan makin penasaran.
“Beliau juga lebih suka kalo aku pake jilbab saja di rumah”. Kalimat ini mendapat tanggapan yang agak berbeda dari kalimat sebelumnya. Ada yang ber-ow, ada yang senyum-senyum.

“Apalagi apalagi??” kami semakin penasaran.
“Ehm, beliau juga meminta kalo bisa aku habis pulang kantor langsung ke rumah, pokoknya tidak ada aktivitas malam di luar”. Jawaban terakhir ini juga mendapat tanggapan yang berbeda dengan jawaban-jawaban sebelumnya. Sementara hampir semua diam, seseorang nyeletuk ber ‘subhanallah ya, sesuatu banget’.

“Wah… lalu bagaimana kamu menyikapinya?” si perempuan diberondong pertanyaan.
“Kalau aku sih, karena ridha suami itu sekarang lebih utama bahkan dari ridha orangtua, sepanjang itu tidak mengarah kepada kemungkaran, insyaallah ikhlas” jawabnya mantap yang disambut ‘subhanallah’ murni dari kami tanpa ‘sesuatu banget’

Aku memalingkan muka ke temen sebelahku, kami bertatapan seolah mengisyaratkan dan menyepakati sesuatu.
“Kalo kamu, kalo sudah menikah nanti, gimana?” tanyaku.
“Tar gw lobi dulu” jawabnya.
😀

***
(catatan : banyak kawan saya baru nikah bulan ini, jadi tidak perlu menebak-nebak siapa yang menjadi objek diatas :D. Semoga bermanfaat)

Jurangmangu, 10 September 2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s