Syukur kuncinya

“Trus kemarin jadi ke dokter? Sama siapa? Gimana hasilnya? Sekarang udah mendingan?” aku memberondongnya dengan pertanyaan. Terdiam aku mendengarkannya menceritakan keadaannya. Ah, sahabatku.. Di usia mu yang masih belia ini, kamu sudah diuji dg ujian yg luar biasa..

Dan aku pun malu, selama ini, aku yg banyak mengeluhkan keadaanku kepadanya. Dan dia selalu menyediakan telinganya untuk mendengarku. Padahal dia sendiri sedang diuji dg cobaan yg jauh lebih berat daripada yg kukeluhkan kepadanya…

Ya Allah, sayangi dia.. jadikan sakit yg dideritanya sbg penggugur dosa2nya..

cerita kawan

“Soalnya beliau memintaku pake tas ini aja. Gak boleh lagi pake ransel” katanya yang lantas diiringi cie-cie kami.

“Trus trus??” seorang kawan makin penasaran.
“Beliau juga lebih suka kalo aku pake jilbab saja di rumah”. Kalimat ini mendapat tanggapan yang agak berbeda dari kalimat sebelumnya. Ada yang ber-ow, ada yang senyum-senyum.

“Apalagi apalagi??” kami semakin penasaran.
“Ehm, beliau juga meminta kalo bisa aku habis pulang kantor langsung ke rumah, pokoknya tidak ada aktivitas malam di luar”. Jawaban terakhir ini juga mendapat tanggapan yang berbeda dengan jawaban-jawaban sebelumnya. Sementara hampir semua diam, seseorang nyeletuk ber ‘subhanallah ya, sesuatu banget’.

“Wah… lalu bagaimana kamu menyikapinya?” si perempuan diberondong pertanyaan.
“Kalau aku sih, karena ridha suami itu sekarang lebih utama bahkan dari ridha orangtua, sepanjang itu tidak mengarah kepada kemungkaran, insyaallah ikhlas” jawabnya mantap yang disambut ‘subhanallah’ murni dari kami tanpa ‘sesuatu banget’

Aku memalingkan muka ke temen sebelahku, kami bertatapan seolah mengisyaratkan dan menyepakati sesuatu.
“Kalo kamu, kalo sudah menikah nanti, gimana?” tanyaku.
“Tar gw lobi dulu” jawabnya.
😀

***
(catatan : banyak kawan saya baru nikah bulan ini, jadi tidak perlu menebak-nebak siapa yang menjadi objek diatas :D. Semoga bermanfaat)

Jurangmangu, 10 September 2011

charger lagi

Sore ini, saya beli charger n*kia lagi. Ini adalah charger ke-4 yang saya beli untuk telepon seluler N*kia yang saya beli satu tahun lalu. @_@ Padahal harga hp nya tak seberapa. Hp Jadul. Tak apalah. Sementara kawan-kawan saya ‘berlomba-lomba’ membeli telepon seluler baru yang lagi ngetrend, android atau apalah, saya akan mencoba bertahan… *haiyah.

Saya dulu pernah menulis Jurnal “Perlu diruqyahkah saya?” gara-gara kejadian seperti ini. Sering merusakkan atau menghilangkan barang, terutama barang elektronik.

Termasuk HP, sejak awal kuliah, terhitung sudah berbuah-buah HP saya hilangkan. Empat. Aish…

Sudahlah, tak perlu saya ceritakan ulang kejadian-kejadian itu. Saya tidak ceroboh, hanya kurang hati-hati (nada mantap) @_# Oke?!