catatan ibukota 3 : mikrolet


Krempyang… sekeping uang logam tiba-tiba dilempar ke bagian belakang mikrolet…
e.. e… dikasih kok malah dilempar, gak sopan!” seorang ibu-ibu lantas menegur. Sementara yang ditegur, seorang bocah laki-laki kira-kira belum berusia 10 tahun, bukannya minta maaf malah marah-marah balik, serentetan kata2 makian dan serapah berhamburan dari mulutnya.
sombong… elo bukan orang paling cantik. elo kira guwa takut. beraninya ama anak jalanan. awas aja ya… dasar sombong lo. ,.. bla bla….
Kami seisi mikrolet biru 01A Kampung Melayu-Senen itu hanya diam dan saling pandang.

Kejadian itu bermula ketika dia mulai memaksa mengamen di mikrolet yang sudah penuh terisi 13 penumpang tersebut. Setelah selesai menyanyi, dan tidak ada tanda2 ada yang mau berbelas kasihan kepadanya, dia mulai merengek…
Minta dong, mbak…. mbak… minta doooong….

Demi mendengar suaranya yang mengiba, saya menjulurkan tangan dari belakang, menyodorkan sekeping bernilai 500 rupiah. Saya tidak tahu apakah anak tersebut marah-marah karena kecilnya nilai koin yang saya berikan, atau karena hanya 2 orang yang menyodorkan uang kepadanya. Tapi yang saya tahu, dia tidak ngomel2 ke arah saya, karena posisi saya yang memang tersembunyi di sudut belakang.

Makian. Akhir-akhir ini, telinga saya memang harus berdamai dengan kata ini. Beberapa hari lalu, ketika saya hunting kos di daerah Slipi untuk keperluan DTSD, seorang ibu-ibu setengah baya -spertinya berprofesi sebagai… (saya tidak tau istilah untuk seorang yang pekerjaannya mengatur alur, antrian, dan penumpang mikrolet untuk suatu trayek)- berteriak-teriak memaki seorang sopir mikrolet karena ‘dia gak segera jalan’. Teman saya bergidik mendengarnya sambil mengatakan, ” gak bisa membayangkan jika anak2 kita akan hidup di daerah seperti ini”. Saya dan teman yang lain berpandangan, mengisyaratkan pernyataan ‘mentang2 mau nikah‘.

Kembali ke cerita ‘anak2 memaki penumpang dalam mikrolet‘, meski jengkel, sejujurnya saya tak marah sama anak itu, atau anak-anak semacamnya. Jalanan lah yang membentuknya menjadi demikian. Jangankan anak kecil seusia dia, remaja2 lelaki tanggung yang mestinya bisa bekerja pun memilih ‘memalak’ di angkutan-angkutan umum..
Saya ingat sekali gaya mereka,
Permisi, Pakbu. Kami tidak hendak mencuri atau mencopet, Pakbu. Kami tahu itu tidak baik, pakbu. Kami hanya meminta dengan baik2, Pakbu. Ingat, pakbu.. harta gak dibawa mati, Pakbu… ” yang disambut dengan rekannya dengan, “iya…, Pakbu…

Ah, Jakarta…
gambar dari sini

Ahad, 28 Agustus 2011
Perjalanan menuju Stasiun Senen
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s