(none)

Hhhh...” beliau menghela nafas panjang. Aku menunggunya mengucapkan sesuatu.
“… mungkin sebenarnya orang-orang berkomentar biasa, tapi entah kenapa terasa menyakitkan” lanjutnya
Aku masih diam.
kemarin aku keceplosan kek orang marah2 menanggapi komentar seorang saudara
emang beliau bilang apa, mbak?” kali ini aku membuka suara
nek udah waktunya, mbok ya jangan ditunda. masa’ mau ngumpulin harta terus” beliau menirukan kalimat orang.
Aku yang gantian menghela nafas.
Ehmm, satu tahun ya, mbak… Baru satu tahun ini…. ” kataku.
Iya, dek. Satu tahun lebih dikit lah. Tapi itu lo yang menyakitkan, masa’ katanya aku ‘nunda’, malah2 katanya demi ngumpulin harta...”
Trus sampeyan jawab gimana, mbak?
Aku jawab gini ‘Jenengan itu apa sudah tidak percaya lagi sama Gusti Pangeran??? Kehendak dan keputusan itu ada di tangan-Nya‘ gitu. Sampe semua orang di ruangan itu langsung terdiam” matanya berkaca-kaca.
Ah, speechless. Aku berharap ada kata-kata penghibur keluar dari mulutku, atau minimal rangkulan kecil. Tapi tak ada yang terjadi, aku hanya diam dan lagi-lagi menghela nafas. Ah,

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s