(none)

Hhhh...” beliau menghela nafas panjang. Aku menunggunya mengucapkan sesuatu.
“… mungkin sebenarnya orang-orang berkomentar biasa, tapi entah kenapa terasa menyakitkan” lanjutnya
Aku masih diam.
kemarin aku keceplosan kek orang marah2 menanggapi komentar seorang saudara
emang beliau bilang apa, mbak?” kali ini aku membuka suara
nek udah waktunya, mbok ya jangan ditunda. masa’ mau ngumpulin harta terus” beliau menirukan kalimat orang.
Aku yang gantian menghela nafas.
Ehmm, satu tahun ya, mbak… Baru satu tahun ini…. ” kataku.
Iya, dek. Satu tahun lebih dikit lah. Tapi itu lo yang menyakitkan, masa’ katanya aku ‘nunda’, malah2 katanya demi ngumpulin harta...”
Trus sampeyan jawab gimana, mbak?
Aku jawab gini ‘Jenengan itu apa sudah tidak percaya lagi sama Gusti Pangeran??? Kehendak dan keputusan itu ada di tangan-Nya‘ gitu. Sampe semua orang di ruangan itu langsung terdiam” matanya berkaca-kaca.
Ah, speechless. Aku berharap ada kata-kata penghibur keluar dari mulutku, atau minimal rangkulan kecil. Tapi tak ada yang terjadi, aku hanya diam dan lagi-lagi menghela nafas. Ah,

Advertisements

berisik gak asik

masing-masing orang itu unik ya…“. Saya masih mengingat kata2nya senja itu. Melepas penat sepulang dari kantor sambil menunggu adzan maghrib biasa kami manfaatkan untuk makan sambil ngobrol.
…..ute juga unik. dia itu gak pernah bisa marah. istilahnya dianiaya pun gak bakalan marah. ngalah. anehnya kalo ngomong itu suka mbantah, eh pokoknya nyaut sana nyaut sini
jdarrr!!
Meski kalimatnya mengena tepat di ulu hati, tapi saya berusaha menjaga ekspresi muka sewajar mungkin, lantas beralasan, “itu kan karena terlalu ekspresif dan bersemangat” sambil ber-hehe ria.

Ah, saya sulit membiarkan orang bicara lantas dicuekin. Ketidaktegaan berlebihan ini membuat saya ingin menunjukkan antusiasme itu dengan langsung ‘nyaut’ kalimatnya yang seringkali belum tuntas. Astaghfirullah….

spontan dan berisik, itu judulnya. Terlalu cepat terpancing untuk berkomentar, itu inti permasalahannya. Ingin menunjukkan eksistensi diri, apakah itu penyakitnya??? Astaghfirullahal ‘adzim….

Lagi-lagi masalah lisan. Beberapa pekan lalu saya sempat melo sekali karena menyadari bahwa program unggulan saya gagal. Taukah kalian apa program unggulan saya itu? ya, benar, berhemat kata. Dahsyat, bukan, untuk ukuran ute yang berisik???!
Namun lagi2, komitmen perbaikan itu yang dipertanyakan.
reminder menjaga lisan’ sudah saya tulis besar2 di dinding kamar, bahkan saya tempel juga dengan ‘post-it!’ di tepian monitor komputer kantor yang biasa saya pakai. tapi….

Sesekali saya ‘berhasil’ diam, pegawai seruangan menanyakan kesehatan saya. Ah…
Ayolah, te… kamu harus lebih serius lagi, berusaha lebih keras lagi…..

Ya Allah, jika ada orang yang pernah tersakiti oleh saya, berikanlah kebaikan kepadanya karena kesalahan saya itu.