keterlaluankah?

“sesekali jenguklah ibumu yang selalu menantikan kepulanganmu…
Jleb. Kalimat ini saya temukan ketika iseng buka-buka video yang berjudul ‘Ibu’.
Ini pekan ke-3 saya tidak pulang. Kalau akhir pekan depan saya pulang, artinya penuh 1 bulan terhitung sejak berangkat, saya tidak melihat wajah orangtua. Memang belum terlalu lama. Namun untuk ukuran jarak yang bisa ditempuh dengan 1,5 jam perjalanan, sepertinya keterlaluan. iyakah? Teman magang saya, yang sama-sama dari Ponorogo, pulang tiap akhir pekan.

Awalnya saya merasa ini biasa saja. Toh, saya tidak pulang karena ada yang saya lakukan di sini. Apalagi sekarang tak ada motor yang bisa membawa saya pulang sewaktu-waktu. Kalau naik bis, agak ribet. Tapi, kok rasanya keterlaluan ya… Iya gak sih? Iya gak?

Duh, Ibu…
Maafkan anakmu…

seharusnya muslim itu

seorang muslim itu… mestinya jika dipandang dari mana saja, kebaikanlah yang tampak padanya…
kita tidak membicarakan kesempurnaan, namun…
jika dia benar-benar ‘sungguh-sungguh’ dalam kemuslimannya, harusnya…
ah…
syari’at itu selalu terkait dengan akhlak
jika dia orang yang shalat, mestinya lakunya lebih baik daripada yang tidak shalat…
jika dia orang yang puasa, mestinya emosinya lebih baik daripada yang tidak puasa…
jika dia orang yang membaca al-Qur’an, mestinya tuturnya lebih baik daripada yang tidak membaca al-Qur’an
jika dia orang yang berdzikir, mestinya hatinya lebih tentram daripada yang tidak berdzikir…
jika dia orang yang bershadaqah, mestinya kebermanfaatannya dalam hal-hal lain juga lebih baik daripada yang tidak bershadaqah…

jika seorang muslim beribadah, namun nilai-nilai kebaikan tidak terinternalisasi dalam dirinya, akhlaknya tak lebih baik daripada yang tidak beribadah…
na’udzubillah… Ya Allah, lindungi kami dari hal yang demikian…

*renungan untuk diri sendiri